Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
"Bayi laki-laki itu adalah putranya Reka." Kini Leon telah kembali ke perusahaan setelah mengantarkan Georgina kembali ke rumah sakit tempat wanita itu bekerja, duduk bersandar pada kursi kebesarannya. Namun, ucapan Georgina di restoran tadi masih saja memenuhi pikiran Leon.
Leon menekan panggilan intercom yang menghubungkan pada sekretarisnya.
"Katakan pada nona Reka untuk datang ke ruangan saya sekarang!." Begitu panggilan tersambung, Leon langsung memberi perintah pada sekretarisnya.
"Baik, tuan."
"Tok....tok...tok...."Tak lama berselang, terdengar suara ketukan dari balik pintu ruangannya.
"Masuk...!." Leon lantas mempersilahkan seseorang yang berada di balik pintu untuk segera memasuki ruangannya.
"Permisi tuan..." Mengingat saat ini mereka masih berada di lingkungan kerja dan jam kerja pun masih berlangsung, Reka lantas memanggil Leon dengan sebutan tuan. Reka kembali mengayunkan langkah kemudian berhenti tepat di depan meja kerja bosnya itu.
"Saya ingin kamu memeriksa kembali laporan yang kamu serahkan kemarin!." Leon menyodorkan berkas ke hadapan Reka.
"Baik, tuan." Walaupun ia yakin bahwa laporan yang dibuatnya sudah benar, namun Reka tetap meraih berkas tersebut dan hendak memeriksanya kembali sesuai dengan perintah Leon.
"Kamu mau pergi ke mana?." Tanya Leon melihat Reka berbalik badan hendak berlalu.
"Bukankah tadi anda meminta saya untuk memeriksa kembali laporan ini, tuan?."
"Lakukan di ruangan ini?."
"Tapi tuan_."
"Gunakan laptop saya jika diperlukan!." Potong Leon seolah paham dengan isi kepala Reka.
"Baik, tuan." Reka hanya bisa pasrah, kini ia tidak punya alasan lagi untuk menolak. Reka lantas menempati kursi yang berada di depan meja kerja Leon, dan mulai membuka setiap lembar laporan yang diserahkannya kemarin tersebut.
"Reka...."
"Iya tuan." Seruan Leon mampu mengalihkan perhatian Reka dari berkas dihadapannya dan beralih pada pria itu.
"Bukankah dulu kamu sempat mengemban pendidikan ilmu hukum?." Pertanyaan Leon dijawab Reka dengan anggukan kepala.
"Boleh saya menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan hukum? Saya kurang paham dengan hukum soalnya." Untuk kedua kalinya Reka mengangguk atas pertanyaan Leon.
"Menurut pandangan hukum, apakah seorang mantan suaminya bisa menuntut mantan istrinya yang telah menyembunyikan kebenaran tentang keberadaan anak mereka dari si mantan suami?."
Deg
Reka menelan ludahnya dengan susah payah mendengar pertanyaan Leon.
"Ini adalah kasus yang terjadi pada teman saya. Kebetulan baru-baru ini beliau mengetahui kebenaran bahwa ternyata mantan istrinya telah melahirkan seorang anak dari pernikahan mereka dahulu." Sambung Leon dengan tatapan tak terbaca, hingga membuat Reka gugup seketika.
"Ma_maaf tuan, kalau untuk masalah seperti itu sebaiknya anda menanyakannya langsung kepada pihak yang lebih mengerti sepenuhnya dengan hukum!." Setahunya, Leon bukanlah tipikal pria yang suka ikut campur dalam urusan pribadi orang lain, sekalipun itu adalah teman dekatnya. Apa mungkin Leon telah mengetahui kebenaran tentang putranya? Reka mulai tak tenang. Setiap tulisan yang tercetak di lembaran kertas laporan kini terlihat seperti barisan semut di mata Reka, saking tak fokusnya.
Menyadari kegugupan di wajah Reka membuat Leon semakin meyakini bahwa bayi yang telah dilahirkan oleh mantan istrinya itu adalah miliknya, dar-ah dagingnya yang selama ini sengaja disembunyikan oleh Reka darinya.
"Dulu kita bahkan pernah berbagi tempat tidur, tapi sekarang nampaknya kamu justru tidak nyaman berada didekatku." Leon menarik sudut bibirnya saat mengucapkan kalimat itu.
"Please mas....Jangan membahas apapun tentang masa lalu, aku tidak mau sampai orang lain mendengarnya, terutama Georgina!." Reka memasang wajah memelas dan kali ini ia tak lagi memanggil Leon dengan sebutan 'tuan', melainkan 'mas', dengan harapan Leon bisa mengerti.
"Maaf sudah membuatmu tidak nyaman, Sekarang kembalilah ke meja kerjamu!." Balas Leon. Tak ada gurat penyesalan di wajah pria itu. Seolah permintaan maafnya hanyalah sebuah kosa kata tak bermakna apa-apa.
Reka lantas berpamitan pada Leon, kemudian berlalu dari ruangan tersebut dengan segera.
Beberapa saat kemudian, asisten Kiran nampak memasuki ruangan tuannya.
"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku!." Tutur Leon pada asisten pribadi sekaligus sahabat baiknya itu.
"Katakan saja, apa yang harus saya lakukan untuk anda, tuan!." Sekalipun mereka bersahabat, namun pria yang akrab di sapa asisten Kiran tersebut tetap menghormati Leon sebagai tuannya, terutama di jam kerja.
Leon lantas mengatakan tugas yang harus dilakukan oleh asisten Kiran untuknya. Walaupun tugas tersebut sedikit mengherankan baginya, asisten Kiran tetap saja mematuhinya. Setelah mengetahui tugas barunya, asisten Kiran pamit undur diri untuk segera memulai tugas yang diberikan padanya.
Leon berusaha memfokuskan diri pada pekerjaannya, akan tetapi semua itu berakhir sia-sia karena Leon tetap saja tak bisa fokus. Seumur-umur, baru kali ini Leon merasakan hal seperti ini.
"Sepertinya aku memang harus ke sana." Gumam Leon. Pria itu bangkit dari duduknya, menyambar kunci mobilnya dari atas meja kemudian berlalu meninggalkan ruangannya.
*
"Leon...."
Baru satu jam yang lalu pria itu mengantarkan nya kembali ke rumah sakit, kini Leon kembali lagi.
"Apa kamu lagi kurang enak badan?." Georgina mendekat pada Leon yang baru saja memasuki ruangan prakteknya, lalu menempelkan punggung tangannya pada dahi pria itu. Georgina berpikir Leon sedang kurang enak badan sehingga kembali mendatangi rumah sakit.
"Aku baik-baik saja. Aku ke sini hanya untuk menjemputmu, karena kebetulan hari ini aku ingin pulang lebih awal."
Georgina langsung tersenyum senang.
"Tapi tunggu sebentar ya, karena sebelum pulang, aku harus melakukan visit terlebih dahulu pada kondisi Richard! Kalau kamu mau, kamu bisa ikut bersamaku, tapi kalau kamu tidak berkenan maka kamu bisa menungguku di sini!."
"Aku akan ikut bersamamu." Mana mungkin Leon menolak, sementara tujuan sebenarnya hingga pria itu mendatangi rumah sakit adalah ingin bertemu dengan bayi laki-laki yang diakui Georgina sebagai putranya Reka.
"Kalau begitu, ayo...!." Georgina tersenyum senang.
Leon dan Georgina lantas meninggalkan ruang poli anak, melintasi salah satu koridor gedung hendak menuju kamar perawatan yang di tempati oleh Richard.
"Assalamualaikum sayangnya Aunty....." Mendengar suara Georgina, Richard pun sontak menoleh ke sumber suara. Bayi mungil itu tersenyum girang.
Deg.
Jantung Leon berdegup lebih kencang dari biasanya saat melihat senyuman manis bayi laki-laki tampan dihadapannya itu.
"Boleh aku menggendongnya?." Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Leon.
"Tentu saja, tuan." Balas pegawai dari yayasan penitipan anak yang ditugaskan untuk menjaga Richard di rumah sakit. Wanita paruh baya tersebut menyerahkan Richard ke gendongan Leon. Jantung Leon semakin berdegup kencang tatkala tangan mungil itu menyentuh wajahnya.
"Ya Tuhan....Aku yakin bayi ini pasti adalah putraku."Batin Leon. Jika tidak dengan cepat mengontrol perasaannya, sudut mata Leon pasti sudah dibasahi oleh air mata bahagia bercampur haru. Jujur, tanpa melakukan tes DNA sekalipun, Leon sudah sangat yakin bahwa bayi itu adalah putranya. Akan tetapi, Leon tetap akan melanjutkan rencananya, dengan mengambil beberapa helai rambut bayi laki-laki tersebut untuk dijadikan sampel guna kepentingan pemeriksaan tes DNA. Tentunya Leon memiliki alasan tersendiri hingga melakukannya, walaupun hati kecilnya telah meyakini bayi itu sebagai dar-ah dagingnya.
Ibnu lebih gila lagi...
ngakak aku nya...