NovelToon NovelToon
SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

SUAMIKU, KETUA OSIS YANG PALING KUBENCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — AKU TIDAK MAU KEHILANGANMU

Awal pekan di SMA Garuda Bangsa dibuka dengan sisa-sisa eforia kesuksesan festival sekolah. Namun bagi Naya, hari Senin ini membawa riak masalah baru yang tidak disangka-sangka.

Di jam istirahat pertama, suasana di koridor kelas 12 IPS 2 mendadak ramai oleh bisik-bisik siswa. Reno tampak berdiri di dekat tangga dengan raut wajah gusar, dikerumuni oleh beberapa anak cowok. Rupanya, sebuah berkas inventaris alat musik pinjaman yang dipegang Reno mengalami kerusakan pada bagian stempel pengesahan, dan pihak penyewa mengancam akan mengenakan denda ganti rugi yang cukup besar.

Naya yang baru saja keluar dari kelasnya langsung menghampiri Reno tanpa ragu.

"Ren, ada apa? Kok heboh banget?" tanya Naya cemas, melihat wajah teman masa kecilnya yang pucat.

"Ini, Nay... berkas sewa alat musik kemarin katanya ada yang sobek di bagian stempel," terang Reno panik, mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Pihak vendor nggak mau terima dan minta denda ganti rugi lima ratus ribu. Mana uang kas kelas kita lagi menipis."

Naya yang memiliki jiwa kawan yang kuat langsung memegang pundak Reno untuk menenangankannya. "Tenang, Ren. Jangan panik dulu. Coba kita cek bukti tanda terima di sekretariat panitia. Siapa tahu ada salinan stempel yang asli dari sekolah."

"Beneran bisa, Nay?" mata Reno berbinar lega.

"Bisa! Ayo gue anterin ke sekretariat sekarang!" ajak Naya bersemangat, menarik lembut lengan jaket Reno agar cowok itu mengikutinya.

Namun, baru saja mereka berbalik hendak menuju ruang OSIS, Arka berdiri di ujung lorong koridor.

Laki-laki itu melangkah mendekat dengan tenang. Jas OSIS-nya terpasang rapi, papan jalan kayu di tangannya tergenggam erat. Mata hitamnya menyapu pemandangan tangan Naya yang memegang lengan jaket Reno, lalu berpindah menatap wajah cemas Reno.

Biasanya, melihat pemandangan seperti itu, Arka akan langsung memasang wajah sedingin es, mengeluarkan alasan aturan kedisiplinan, atau menyindir sinis dengan nada kaku.

Namun kali ini, tidak ada amarah meledak-ledak. Tidak ada kalimat sindiran tajam tentang pasal OSIS.

Arka menghentikan langkahnya satu meter di hadapan mereka. Ia menghembuskan napas panjang—sebuah helaan napas yang membuang seluruh gengsi dan tameng perlawanan yang selama ini membentengi dadanya. Arka memilih untuk jujur pada dirinya sendiri. Ia memang membenci melihat Naya berada terlalu dekat dengan laki-laki lain. Rasa cemburu itu nyata, tetapi kali ini Arka tidak ingin mengemasnya dalam bentuk kemarahan yang akan melukai perasaan Naya lagi.

"Ada masalah dengan berkas vendor musik?" tanya Arka pelan. Nadanya teratur, datar, namun ada kehangatan tersembunyi yang nyata.

Reno tersentak kaget, buru-buru melepaskan pegangan tangan Naya dari jaketnya. "E—eh, Kak Arka. Iya ini, ada salah paham soal stempel sewa alat."

Arka mengambil lembar berkas yang sobek di tangan Reno, mengamatinya sejenak. "Ini kesalahan dari pihak sekretariat yang salah menempelkan klip, bukan kesalahan kamu, Reno. Saya yang menandatangani izin penyerahannya kemarin."

Naya dan Reno membelalakkan mata kaget.

"B—beneran, Kak?" tanya Reno tak percaya.

"Iya," Arka merapikan lembar itu di papan jalannya. "Nanti sore biar saya yang bicara langsung ke pihak vendor dan mengurus ganti rugi suratnya menggunakan stempel cadangan OSIS. Kamu tidak perlu bayar denda apa pun."

Reno bernapas lega luar biasa, membungkukkan badannya berkali-kali pada Arka. "Wah! Terima kasih banyak, Kak Arka! Bener-bener penyelemat banget! Makasih ya, Kak!"

"Sama-sama. Kembali ke kelas kamu," ujar Arka singkat.

Reno mengangguk cepat, lalu berlari gembira menuju teman-temannya di kelas IPS, meninggalkan Naya dan Arka berdiri berduaan di koridor yang mulai sepi.

Naya menatap Arka dengan pandangan takjub sekaligus heran. Ini pertama kalinya Naya melihat Arka menyelesaikan masalah Reno tanpa ada drama cemburu, tanpa sindiran pedas, dan dengan sikap yang teramat dewasa.

Naya melangkah satu jengkal lebih dekat, menatap mata hitam Arka yang jernih. "Arka... makasih ya. Lo tumben... penolong banget sama Reno?"

Arka menatap Naya lurus-lurus. Tatapan matanya begitu pekat, hangat, dan menyimpan kejujuran yang meruntuhkan seluruh pertahanan Naya dalam sekejap.

"Saya tidak membantu Reno," kata Arka pelan, nadanya jujur dan serak. "Saya cuma tidak mau melihat kamu cemas dan kepikiran urusan orang lain seharian."

Deg.

Jantung Naya melompat liar tak terkendali. Pipinya merona merah hangat dalam hitungan detik. Kehangatan di dada Naya membuncah begitu dahsyat, menyadarkan dirinya bahwa perasaan yang ia miliki untuk Ketua OSIS di hadapannya ini bukan lagi sekadar kekesalan atau rasa cemburu biasa—melainkan cinta yang sudah berakar teramat dalam.

Malam harinya di kediaman keluarga Pradipta, hujan gerimis tipis menyiram kaca jendela kamar tidur mereka di lantai dua. Suasana di dalam rumah sangat tenang. Tante Elena dan Om Adrian sudah beristirahat di kamar bawah.

Di dalam kamar yang temaram, Arka duduk di tepi tempat tidur, sementara Naya berdiri di dekat meja belajar usai mengembalikan buku ceritanya ke dalam rak.

Atmosfer di antara mereka malam ini terasa begitu hangat, tanpa ada sisa kecanggungan atau benteng kaku yang memisahkan.

Naya berjalan mendekati tempat tidur, berniat merebahkan diri di sisinya seperti biasa. "Arka, besok pagi lo ada rapat OSIS subuh nggak? Gue mau—"

Kalimat Naya terputus saat Arka tiba-tiba meraih pergelangan tangan kanannya secara halus.

Genggaman jemari Arka hangat, kokoh, dan lembut. Arka mendongak, menatap Naya yang berdiri di sampingnya dengan manik mata hitam yang terpancar penuh kejujuran dan rasa takut yang teramat pasrah.

Naya menahan napasnya, terpaku di tempat. "Arka...?"

Arka menghembuskan napas pelan, mengusap punggung tangan Naya dengan ibu jarinya secara perlahan—sebuah gerakan kasih sayang yang teramat tulus.

"Naya..." suara Arka merendah, bernada teramat serak dan dalam yang menggetarkan seluruh rongga dada Naya. "...soal pembicaraan kita kemarin malam tentang masa depan pernikahan ini."

Jantung Naya berdetak kencang bagaikan drum. "Iya... kenapa?"

Arka menatap mata bulat Naya tanpa ada sedikit pun jarak atau kepura-puraan lagi. Seluruh gengsi sebagai Ketua OSIS, seluruh pasal aturan kaku, dan seluruh ketakutan akan rahasia mereka seolah menguap tak berbekas.

"Aku sudah memikirkannya seharian ini," kata Arka pelan, untuk pertama kalinya mengungkapkan isi hatinya secara utuh. "Aku tidak peduli bagaimana awal pernikahan kita dimulai. Aku tidak peduli kalau dulu kita saling membenci di sekolah. Dan aku tidak peduli dengan surat perjanjian konyol yang pernah kita buat."

Naya menelan ludah yang terasa hangat, matanya mulai berkaca-kaca oleh emosi yang membuncah.

Arka menarik pelan tangan Naya, membuat Naya melangkah satu jengkal lebih dekat hingga berdiri tepat di depan lutut Arka. Arka mendongak, menatap Naya dengan kedalaman rasa yang teramat jujur.

"Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini ada..." bisik Arka pelan, setiap katanya dijatuhkan dengan kejujuran yang menggetarkan jiwa, "...tapi aku tidak mau kehilangan kamu, Naya. Aku tidak mau pernikahan ini berakhir setelah kita lulus sekolah."

Aku tidak mau kehilangan kamu.

Kalimat sederhana nan dahsyat itu meluncur mulus dari bibir sang Ketua OSIS, bergema indah di dalam keheningan kamar yang temaram.

Naya terpaku seribu bahasa. Lidahnya kelu total, air mata kebahagiaan yang tak sanggup ditahannya lagi perlahan meletup dan menetes membasahi pipinya yang merona hangat.

Naya tidak sanggup menjawab dengan kata-kata. Karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam... ia menyadari bahwa diam-diam, dirinya merasakan hal yang persis sama. Bahwa cewek yang dulu bersumpah paling membenci Arka Pradipta ini... kini telah menyerahkan seluruh hatinya kepada sang Ketua OSIS.

Naya menggenggam balik jemari Arka dengan erat, menyunggingkan sebuah senyum manis nan tulus di antara sisa tangis bahagianya—sebuah jawaban tanpa bersuara bahwa perjalanan cinta rahasia mereka baru saja resmi dimulai.

1
Adinda
bukannya nama orang tuanya naya Raka thor,pengusaha juga seperti Orangtuanya Arka
Lolita Febiyanti
kak ini tayang setiap hari apa kak??
Secret A: iya dong kak pasti, di setiap harinya selalu ada bab baru yakk 😚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!