Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Tamparan
"Yang cacat itu?"
Kalimat Tiffany jatuh di tengah set seperti puntung rokok menyala.
Tidak ada yang langsung bicara. Kru yang tadi berbisik berhenti. Pak Leo menurunkan headset dari telinga. Jess menatap Tiffany dengan wajah tegang, sementara Livia berdiri beberapa langkah di belakang, pipinya masih merah bekas tamparan adegan.
Keira tidak bergerak.
Ia hanya melihat Reynard.
Reynard mengangkat kepala dari Rubik. Wajahnya tidak marah. Justru terlalu tenang. Mata bening yang biasa ia pakai di depan Keira menatap Tiffany dari atas ke bawah dengan rasa ingin tahu yang hampir polos.
Lalu ia berkata, "Jelek."
Satu kata.
Pendek.
Sunyi set pecah oleh suara seseorang menahan tawa.
Tiffany membeku. "Apa?"
Reynard menunduk lagi ke Rubik. "Jelek."
Wajah Tiffany memerah sampai leher. "Dasar orang bodoh. Kamu tahu aku siapa?"
Reynard memutar Rubik satu klik. "Berisik."
Kali ini beberapa kru benar-benar menunduk untuk menyembunyikan tawa. Bahkan Pak Leo menekan bibir. Hanya Keira yang tidak tertawa. Matanya berhenti pada tangan Tiffany yang mulai terangkat.
Sebelum perempuan itu sempat mendekat ke Reynard, Keira bergerak.
Plak.
Tamparan itu lebih keras daripada tamparan Tiffany pada Livia.
Kepala Tiffany terlempar ke samping. Antingnya bergoyang, rambutnya jatuh menutupi pipi. Seluruh set membeku untuk kedua kalinya, tetapi kali ini diamnya berbeda. Ada rasa lega yang disembunyikan di balik napas tertahan.
Keira berdiri tepat di depan Tiffany.
"Siapa pun boleh menghina aku," katanya pelan, setiap kata jelas. "Tapi kalau kau berani menghina suamiku, aku pastikan kau menyesal."
Tiffany menatapnya dengan mata melebar. Tangannya menyentuh pipi yang memerah. "Kamu menamparku?"
"Kau juga bisa menghitung. Bagus."
"Kamu sudah gila!"
"Belum. Kalau aku gila, kau tidak masih berdiri."
Jess menarik napas tajam. Pak Leo memalingkan wajah, kali ini jelas menahan senyum. Livia menatap Keira seperti melihat seseorang yang melakukan hal yang selama ini hanya berani ia bayangkan.
Tiffany gemetar karena marah. "Kamu tahu berapa harga kontrakku? Kamu tahu siapa yang membawaku ke proyek ini?"
"Aku tidak tertarik."
"Pacarku Evan Lim."
Nama itu membuat beberapa kru kembali tegang. Evan Lim bukan sekadar anak kaya. Ia investor yang bisa membuat sebuah proyek mendapat dana atau kehilangan sponsor dalam satu malam. Selama beberapa bulan, nama Evan dipakai Tiffany seperti kartu sakti.
Keira hanya mengangkat alis. "Lalu?"
"Aku akan menyuruhnya menghancurkanmu."
"Silakan."
Tiffany seperti tidak percaya pada telinganya. "Kamu pikir aku bercanda?"
"Tidak. Aku pikir kamu terbiasa mengancam orang yang takut kehilangan pekerjaan." Keira melirik Livia sebentar. "Sayangnya aku bukan karyawanmu."
Tiffany mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar. Ia menekan nomor, sengaja mengaktifkan speaker agar semua orang mendengar.
"Sayang!" suaranya langsung berubah manja begitu panggilan tersambung. "Aku di studio. Ada perempuan gila menamparku."
Di seberang terdengar suara laki-laki malas. "Siapa?"
"Keira Hartono. Yang skandal nikah itu. Dia bawa suaminya yang cacat dan sok berkuasa di sini."
Keira melihat Rubik di tangan Reynard berhenti lagi.
Suara Evan di ponsel berubah. "Siapa yang kau hina?"
Tiffany tidak menangkap perubahan nada itu. "Suaminya. Kenapa? Dia memang cacat, kan? Kamu cepat ke sini. Aku mau dia minta maaf di depan semua orang."
Ada jeda.
Lalu suara Evan terdengar sangat pelan. "Tunggu di sana."
Panggilan terputus.
Tiffany tersenyum menang. "Kalian dengar? Evan akan datang."
Keira berjalan kembali ke sisi Reynard dan memeriksa wajahnya. "Kamu baik-baik saja?"
Reynard mengangguk, lalu menatap pipi Tiffany. "Merah."
"Iya."
"Kei sakit tangan?"
Pertanyaan itu membuat kemarahan Keira turun setengah derajat. Ia melihat telapak tangannya sendiri. Memang agak perih.
"Sedikit."
Reynard mengulurkan tangan, memegang jari Keira, lalu meniupnya pelan. "Tiup."
Set yang tadi tegang mendadak lebih sunyi karena alasan berbeda.
Keira hampir menarik tangan, tetapi Reynard menatapnya dengan wajah terlalu serius. Pada akhirnya ia membiarkan satu hembusan singkat itu terjadi.
"Sudah," bisiknya.
"Masih merah."
"Itu karena aku menampar orang."
"Jangan sakit."
Nada polos itu membuat dada Keira melembut, tetapi ia tidak sempat menjawab karena suara mobil berhenti mendadak terdengar dari luar studio.
Evan Lim masuk kurang dari sepuluh menit kemudian.
Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, rambut sedikit berantakan seperti benar-benar berlari dari tempat lain. Biasanya wajahnya membawa senyum malas khas anak kaya yang tidak pernah dikejar masalah. Hari itu senyum itu hilang bahkan sebelum ia mencapai monitor.
"Evan!" Tiffany langsung berlari mendekat. "Lihat pipiku. Dia menamparku!"
Evan tidak melihat pipinya.
Matanya berhenti pada Reynard.
Untuk satu detik, seluruh tubuh Evan kaku.
Reynard duduk di kursi roda, Rubik di pangkuan, wajah polos. Namun tatapannya kepada Evan tidak polos sama sekali. Hanya sekilas, tetapi cukup membuat punggung Evan dingin.
Evan menelan ludah.
"Bro..."
Reynard memiringkan kepala sedikit.
Kata berikutnya mati di tenggorokan Evan.
Tiffany menarik lengannya. "Sayang, kamu dengar tidak? Perempuan itu harus minta maaf. Kalau perlu, usir dia dari studio ini. Pak Leo juga harus tahu siapa yang mendanai proyek ini."
Evan akhirnya menoleh kepada Tiffany.
Wajahnya berubah dari panik menjadi sangat lelah.
"Kamu menghina dia?"
"Dia yang menamparku!"
"Kamu menghina suaminya?"
Tiffany terdiam setengah detik. "Aku hanya mengatakan fakta."
Evan memejamkan mata sebentar, seperti sedang menghitung kerugian. Ketika membukanya lagi, suaranya dingin.
"Minta maaf."
Tiffany tersentak. "Apa?"
"Minta maaf pada Keira dan suaminya."
"Evan!"
"Sekarang."
Semua orang menatap. Tiffany melihat ke sekeliling, wajahnya berubah dari marah menjadi malu. "Kamu membelanya? Aku pacarmu."
"Mulai detik ini, bukan."
Kalimat itu lebih keras daripada tamparan.
Tiffany mundur satu langkah. "Kamu memutuskan aku di depan orang-orang ini?"
"Kamu mempermalukan dirimu sendiri di depan orang-orang ini." Evan menahan rahang. "Aku tidak pernah menyuruhmu memakai namaku untuk menindas kru, menampar aktor, atau menghina orang. Jangan seret aku ke kebodohanmu."
Tiffany menatapnya, mata mulai berkaca-kaca. "Kamu akan menyesal."
"Kemungkinan besar tidak."
Ia menunjuk Keira tanpa menoleh dari Tiffany. "Minta maaf."
Tiffany menggertakkan gigi. Bibirnya bergetar. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia menoleh pada Keira.
"Maaf."
Keira tidak menjawab.
Evan berkata, "Yang benar."
Tiffany hampir meledak, tetapi sesuatu di wajah Evan membuatnya menelan amarah. Ia menatap Keira, lalu Reynard, suaranya kaku.
"Maaf karena sudah menghina kalian."
Reynard menatapnya, lalu berkata, "Jelek."
Kali ini tidak ada yang berani tertawa keras, tetapi bahu beberapa kru jelas bergetar.
Tiffany berbalik dan berjalan keluar set dengan langkah cepat. Asistennya buru-buru mengikuti, membawa tas mahal dan ekspresi pucat. Dalam beberapa detik, perempuan yang tadi memegang seluruh set dengan ancaman nama Evan Lim itu hilang dari ruangan.
Pak Leo menghela napas panjang. "Baik. Istirahat lima belas menit."
Kru menyebar, tetapi pandangan mereka pada Keira berubah. Livia berjalan pelan mendekat.
"Mbak Keira," ucapnya ragu. "Terima kasih."
Keira menatap pipinya. "Kompres dengan es. Kalau ada luka, minta visum klinik produksi. Jangan biarkan orang menyebut kekerasan sebagai akting."
Mata Livia memerah, tetapi ia mengangguk kuat. "Baik."
Jess memegang bahu Keira. "Kamu selalu tahu cara membuat hari kerja lebih dramatis."
"Aku hanya datang rapat."
"Rapatmu menampar sponsor."
"Mantan pacar sponsor," koreksi Keira.
Di dekat mereka, Evan akhirnya berani mendekat. Ia memasang senyum yang terlalu kaku.
"Keira, maaf soal Tiffany. Aku benar-benar tidak tahu dia berbuat seperti itu di lokasi."
"Aku percaya kamu tidak tahu semuanya," jawab Keira. "Tapi kamu pasti tahu dia memakai namamu."
Evan mengusap wajah. "Ya. Itu salahku."
Keira menatapnya beberapa detik, lalu melirik Reynard. "Kamu mengenal suamiku?"
Evan berhenti bernapas sebentar.
Reynard menunduk, memutar Rubik dengan santai. Sudut bibirnya naik tipis, seolah menunggu jawaban yang akan menentukan nasib seseorang.
Evan tertawa pendek, canggung. "Eh... bisa dibilang begitu."
"Begitu bagaimana?"
"Keluarga jauh," kata Evan cepat. "Ya, semacam saudara jauh. Dunia keluarga Tionghoa kan kecil, Kei. Semua orang kenal semua orang."
Keira tidak langsung percaya. "Kamu terlihat sangat takut pada saudara jauhmu."
Evan batuk. "Aku menghormati kondisi kesehatannya."
Reynard mengangkat kepala. "Van baik."
Evan hampir tersedak.
Keira menatap mereka bergantian. Kecurigaannya belum hilang, tetapi lokasi syuting bukan tempat untuk membongkar semua hal. Ia menyimpan pertanyaan itu.
Evan cepat-cepat berkata, "Untuk menebus kekacauan hari ini, izinkan aku mentraktir kalian makan. Sekalian kita bicara soal rencana perusahaan hiburan yang kemarin sempat disinggung Naomi."
Keira menyipit. "Naomi sudah bicara?"
"Sedikit."
"Cepat sekali."
"Aku orang yang responsif kalau ada peluang bagus."
Reynard menunduk lagi ke Rubik, senyumnya hampir tidak terlihat.
Keira melihat senyum itu sekilas.
Dan entah kenapa, ia merasa peluang bagus yang dimaksud Evan mungkin sudah disiapkan bahkan sebelum ia menghubungi siapa pun.