NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
​Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Tiga Utusan Bayangan dan Sisik Terbalik Sang Naga

​Pukul 21.00 malam. Gedung Pusat Grup Kosmetik Su tampak sepi. Sebagian besar karyawan telah pulang, meninggalkan hanya beberapa lampu menyala di lantai eksekutif.

​Su Ruoxue memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia baru saja menyelesaikan rapat virtual dengan para distributor dari luar provinsi. Sejak peluncuran Embun Surgawi, beban kerjanya berlipat ganda. Namun, ia tidak mengeluh. Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga bisa berdiri di puncak dunia bisnis tanpa dibayangi ancaman Keluarga Zhao.

​"Presiden Su, mobil sudah siap di basement," suara asistennya terdengar dari interkom.

​"Baik, aku turun sekarang." Su Ruoxue merapikan jasnya, meraih tas tangan, dan berjalan menuju lift khusus eksekutif.

​Di tempat parkir bawah tanah (basement), udara terasa tidak wajar. Biasanya, area ini terasa sedikit hangat karena sirkulasi udara dan mesin mobil, namun malam ini, suhunya turun drastis hingga napas bisa membentuk uap putih.

​Dua pengawal elit yang disewa Su Ruoxue berdiri siaga di dekat pintu Mercedes-Benz. Mereka adalah pensiunan pasukan khusus, terlatih untuk menghadapi bahaya.

​Ting.

​Pintu lift terbuka. Su Ruoxue melangkah keluar dengan sepatu hak tingginya yang bergema memecah keheningan basement.

​"Selamat malam, Nona," sapa salah satu pengawal sambil membukakan pintu mobil.

​Namun, sebelum Su Ruoxue sempat melangkah masuk, seluruh lampu pijar di basement itu tiba-tiba berkedip hebat dan... BLAAAARRR!

​Lampu-lampu itu meledak secara serentak, menghujankan serpihan kaca ke lantai. Basement seketika tenggelam dalam kegelapan total, hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang remang-remang.

​"Lindungi Nona Su!" teriak sang kapten pengawal, langsung mencabut pistol dari balik jasnya dan berdiri melindungi Su Ruoxue.

​Su Ruoxue menahan napas. Jantungnya berdetak kencang. Ia teringat akan peringatan Lin Chen tentang musuh yang mungkin akan datang membalas dendam.

​"Hee hee hee... pengawal dunia sekuler? Mainan logam bodoh itu tidak akan menyelamatkan kalian."

​Sebuah tawa melengking yang membuat bulu kuduk berdiri bergema dari segala penjuru, seolah suara itu berasal dari hantu yang mengelilingi mereka.

​Dari balik bayang-bayang pilar beton, tiga sosok berjubah hitam melangkah keluar. Pria buta di tengah, pria raksasa dengan kapak, dan wanita berbibir hitam dengan kuku-kuku panjang berwarna ungu beracun.

​Mereka adalah Tiga Utusan Bayangan dari Sekte Gunung Hitam.

​"S-Siapa kalian?!" bentak kapten pengawal, mengarahkan pistolnya ke pria raksasa di depan. "Mundur, atau aku tembak!"

​Pria raksasa itu menyeringai, memperlihatkan giginya yang kotor. "Tembaklah, cacing kecil."

​DOR! DOR!

​Dua peluru melesat tajam. Namun, bukannya menembus dada pria raksasa itu, peluru-peluru itu justru terpental saat menabrak lapisan udara tipis berwarna hitam (Perisai Qi) yang menyelimuti tubuhnya, jatuh ke lantai berdenting layaknya kacang goreng.

​Kapten pengawal membelalakkan matanya. "M-Monster!"

​"Sekarang giliranku." Pria raksasa itu mengayunkan tangan kosongnya. Sebuah gelombang angin yang luar biasa tajam melesat menyapu udara.

​TRASH!

​Kedua pengawal elit itu bahkan tidak sempat berteriak. Tubuh mereka terpental menghantam dinding beton dengan tulang dada yang hancur berkeping-keping. Mereka tewas seketika, menyemburkan darah segar yang menodai lantai.

​"TIDAK!" Su Ruoxue memekik ngeri, tubuhnya gemetar hebat hingga ia terhuyung bersandar pada mobilnya. Ia wanita yang tangguh di meja perundingan, namun di hadapan pembunuhan supernatural yang brutal ini, ia hanyalah manusia biasa.

​Wanita beracun dari Utusan Bayangan melangkah maju. Gerakannya meliuk-liuk seperti ular. Ia menatap Su Ruoxue dari ujung kepala hingga ujung kaki, matanya memancarkan rasa iri yang mendalam.

​"Ckckck... cantik sekali," desis wanita beracun itu, mengangkat tangannya. Kuku-kukunya yang panjang dan berwarna ungu kehitaman berjarak hanya beberapa sentimeter dari pipi mulus Su Ruoxue. "Kakak Buta, bolehkah aku mengiris sedikit wajahnya? Hanya sedikit. Aku benci melihat wanita yang lebih cantik dariku."

​"Jangan membunuhnya, Adik Mei," tegur sang pria buta dengan suara parau. "Guru Sekte menginginkannya hidup-hidup untuk memancing pembunuh Tetua Gu. Tapi jika kau hanya ingin memberinya beberapa 'hiasan', lakukanlah. Jeritan penderitaannya akan menjadi melodi yang indah."

​Wanita bernama Mei itu tertawa kegirangan. "Terima kasih, Kakak!"

​Ia kembali menatap Su Ruoxue yang wajahnya kini sepucat kertas. Su Ruoxue menggigit bibirnya, mencoba mempertahankan martabat terakhirnya, menolak untuk memohon ampun pada iblis-iblis ini. Dalam benaknya, hanya ada satu nama yang terlintas. Lin Chen... jika kau tidak datang, kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.

​"Jangan menangis, Sayang. Ini hanya akan terasa seperti digigit ribuan kelabang," bisik Mei, mengayunkan kuku beracunnya ke arah wajah Su Ruoxue.

​Tiga Menit Sebelumnya.

​Di dalam kamar kediaman Keluarga Su, Lin Chen sedang duduk bersila, matanya terpejam. Tangan kanannya menggenggam Pecahan Giok Penelan Surga.

​Gelombang energi alam yang tak terlihat terus-menerus disedot dari udara sekitar, disaring oleh giok tersebut menjadi Qi murni, lalu dialirkan masuk ke dalam Dantian Lin Chen. Kapasitas Qi-nya yang awalnya sebesar genangan air, kini mulai mengembang menjadi sebesar danau kecil. Perasaannya sangat luar biasa.

​Tiba-tiba, suara mekanis sistem yang berwarna merah peringatan meledak di benaknya.

​[PERINGATAN DARURAT!]

[Target Lindungan: Su Ruoxue (Istri Host) sedang menghadapi ancaman kematian fatal dari praktisi bela diri Kelas Fana Puncak!]

[Lokasi: Basement Gedung Pusat Grup Su. Jarak: 5 Kilometer.]

[Misi Darurat: Lindungi Sisik Terbalik Sang Naga! Bunuh semua Utusan Sekte Gunung Hitam!]

​Mata Lin Chen terbuka seketika. Sebuah niat membunuh yang begitu purba, begitu gelap dan mengerikan meledak dari tubuhnya. Jendela kamarnya hancur berkeping-keping akibat tekanan aura yang bocor keluar.

​Naga memiliki sisik terbalik di lehernya. Siapa pun yang berani menyentuhnya, pasti akan binasa.

​WUSSH!

​Lin Chen menghilang dari kamarnya, melompat keluar melalui jendela lantai dua.

​"Langkah Bayangan Naga: Mode Overdrive!" batin Lin Chen.

​Jika dulu ia ragu menggunakan kekuatan maksimal karena takut kehabisan Qi, sekarang, dengan giok kuno di tangannya, energinya disuplai tanpa henti!

​Di bawah langit malam Kota Donghai, penduduk kota hanya merasakan embusan angin puting beliung yang sangat kencang melesat di atas atap-atap gedung, meninggalkan jejak cahaya biru redup. Kecepatan Lin Chen telah menembus batas nalar manusia; lima kilometer ditempuh hanya dalam waktu kurang dari seratus detik!

​Kembali ke basement.

​Kuku beracun Mei tinggal setengah inci lagi merobek kulit wajah Su Ruoxue. Su Ruoxue telah menutup matanya, bersiap menerima rasa sakit yang tak terbayangkan.

​Namun, di detik yang sama...

​BUMMM!

​Langit-langit beton basement yang terhubung dengan lantai dasar tiba-tiba hancur berantakan! Potongan beton seberat ratusan kilogram berjatuhan seperti hujan meteor.

​Bersamaan dengan debu yang mengepul, sebuah bayangan hitam melesat turun dengan kecepatan kilat, mendarat tepat di antara Su Ruoxue dan Mei.

​Guncangan dari pendaratan itu menciptakan kawah kecil di lantai basement, dan gelombang kejutnya menyapu segala arah, memaksa ketiga Utusan Bayangan mundur beberapa langkah karena terkejut.

​Mei membelalakkan matanya. "Siapa?!"

​Asap perlahan menipis, menampakkan sosok pemuda tegap berpakaian kasual, dengan sepasang mata yang memancarkan cahaya sedingin es dari kutub utara.

​Su Ruoxue membuka matanya. Melihat punggung lebar yang berdiri di hadapannya, lututnya yang sedari tadi tegang akhirnya lemas. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah seketika.

​"L-Lin Chen..." panggilnya dengan suara serak bercampur isak tangis.

​Lin Chen menoleh sedikit. Ia tidak tersenyum, tapi nada suaranya selembut belaian angin musim semi saat berbicara pada Su Ruoxue. "Maaf aku terlambat. Tutup matamu sebentar, ini akan sedikit berdarah."

​Setelah memastikan istrinya aman, Lin Chen kembali memutar kepalanya menatap ketiga Utusan Bayangan. Kelembutan di wajahnya sirna, digantikan oleh aura tiran penakluk dunia.

​Pria buta itu mengendus udara, keningnya berkerut. "Qi ini... kau! Kau yang membunuh Tetua Gu!"

​Pria raksasa itu mengayunkan kapaknya dengan tawa buas. "Hahaha! Kami baru saja ingin mencarimu, dan kau datang mengantarkan nyawamu sendiri! Bagus! Aku akan membelahmu menjadi dua!"

​"Kalian menyentuh istriku," ucap Lin Chen pelan, setiap suku katanya dipenuhi dengan tekanan mematikan yang membuat udara di basement itu terasa seperti membeku.

​Lin Chen mengangkat tangan kanannya perlahan. "Hari ini, bahkan jika dewa dari langit turun untuk menyelamatkan kalian... kalian bertiga tetap harus mati."

​"Bocah sombong!" teriak Mei, sang wanita beracun. Kecepatannya melesat maju, sepuluh jari tangannya membidik titik-titik vital Lin Chen. "Mati kau di bawah Cakar Ular Berbisaku!"

​Lin Chen tidak repot-repot menghindar. Ia membiarkan Mei mendekat. Saat kuku beracun itu nyaris menyentuh lehernya, tangan Lin Chen bergerak dengan kecepatan yang tak bisa ditangkap oleh mata Mei.

​Grep!

​Lin Chen mencengkeram leher Mei dengan satu tangan, mengangkat tubuh wanita itu dari lantai seolah ia hanya boneka jerami. Cakar beracun Mei menggores pergelangan tangan Lin Chen, namun anehnya, racun ungu yang mematikan itu mendesis dan menguap begitu menyentuh kulit Lin Chen yang telah dilapisi Tulang Giok Naga.

​"R-Racunku... tidak mempan?!" Mei tersedak, matanya melotot ngeri saat ia meronta di udara.

​"Racun sampah," desis Lin Chen. "Tinju Penghancur Bintang."

​Tanpa ampun sedikit pun, Lin Chen memusatkan Qi pada tangan kirinya dan meninju perut wanita itu!

​BOOOM!

​Sebuah ledakan Qi menembus punggung Mei. Dantian, tulang belakang, dan seluruh organ dalamnya hancur berkeping-keping dalam satu pukulan. Lin Chen melempar mayat wanita itu ke sudut basement seperti membuang sampah.

​Hanya butuh tiga detik! Satu Utusan Bayangan tewas!

​Pria buta dan pria raksasa itu terkesiap hebat. Kesombongan mereka hancur dalam sekejap.

​"A-Adik Mei!" teriak pria raksasa itu dengan murka. "Aku akan membunuhmu!!"

​Pria raksasa itu memutar kapak besarnya, menciptakan angin puting beliung mini di basement, dan melompat ke udara, menebas lurus ke arah kepala Lin Chen dengan kekuatan yang mampu membelah mobil lapis baja.

​"Kakak, tunggu! Dia pengguna Qi Tahap Bumi!" teriak pria buta itu panik, menyadari jebakan kematian yang sedang mereka hadapi.

​Namun, semuanya sudah terlambat. Kapak raksasa itu turun dengan kecepatan mengerikan.

​Lin Chen menatap kapak yang jatuh ke arahnya tanpa berkedip. Ia mengambil napas dalam-dalam. Energi dari Pecahan Giok Penelan Surga memompa Qi murni ke Dantian-nya secara tak terbatas.

​Untuk pertama kalinya, Lin Chen tidak menahan kekuatannya. Ia mengepalkan tinju kanannya, menyalurkan Qi Tahap Bumi sepenuhnya, dan meninju lurus ke atas, menyambut bilah kapak baja itu dengan kepalan tangan kosong.

​CLAAANG!!!

​Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema. Gelombang kejutnya memecahkan seluruh kaca mobil di basement tersebut.

​Mata pria raksasa itu nyaris melompat keluar. Kapak baja yang terbuat dari material khusus Gunung Hitam itu... hancur berkeping-keping hanya karena berbenturan dengan tinju manusia!

​Sebelum pria raksasa itu bisa mendarat, tangan Lin Chen melesat menembus pecahan kapak, mencengkeram kerah baju pria raksasa itu, dan membantingnya ke lantai beton dengan kekuatan iblis.

​BAM! Kawah sedalam satu meter terbentuk di lantai basement. Pria raksasa itu memuntahkan darah segar bercampur serpihan paru-paru, tubuhnya kejang-kejang sebelum akhirnya tak bernyawa.

​Dua pukulan. Dua nyawa.

​Kini, hanya tersisa sang pria buta. Sang pemimpin Utusan Bayangan itu gemetar hebat hingga tongkat tulangnya berderak. Ia akhirnya menyadari kengerian macam apa yang telah diprovokasi oleh Sekte Gunung Hitam.

1
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff 😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini 😎 ☕☕☕
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken..😎
Arinto Ario Triharyanto
yoiii😎
Arinto Ario Triharyanto
yoi😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!