Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Danau Darah
Di Lembah Pedang Patah, udara dipenuhi dengan bau amis darah yang kental.
Keempat murid Sekte Iblis Darah yang tersisa menatap mayat pemimpin mereka, Xue Ying, yang terbelah dua dengan tatapan ngeri. Niat bertarung mereka telah hancur sepenuhnya. Menghadapi iblis remaja berlumuran darah yang tersenyum gila ke arah mereka, keempatnya berbalik dan berlari kocar-kacir ke empat arah yang berbeda.
"Lari? Kalian pikir ini permainan petak umpet?"
Lin Mo mendengus dingin. Seni Bintang Nirwana di dalam tubuhnya meledak. Dia melesat bagaikan hantu, meninggalkan bayangan sisa di belakangnya.
SRAATT! CRASS!
Dalam waktu kurang dari sepuluh kali tarikan napas, empat jeritan putus asa bergema secara berurutan. Lin Mo mengibaskan Pedang Meteor Darah-nya, memercikkan sisa darah di bilahnya ke tanah, lalu menyarungkannya kembali ke punggung.
Dia berjalan santai memungut lima cincin spasial milik musuhnya. Tanpa repot-repot menghitung isinya, ia mengantonginya. Lin Mo kemudian berbalik menuju Bunga Pedang Besi yang memancarkan aura tajam, mencabutnya dengan hati-hati, dan menyimpannya di kotak giok yang ia temukan dari cincin jarahannya.
Tepat pada saat itu, sebuah pilar cahaya merah meledak dari pusat Alam Rahasia, diiringi aroma teratai yang memabukkan jiwa.
Mata Lin Mo menyipit, menatap ke arah pilar cahaya tersebut.
"Teratai Darah Seribu Tahun sudah mekar... Guru pasti sedang menuju ke sana. Aku tidak boleh tertinggal!"
Tanpa membuang waktu, remaja itu memacu langkahnya, melompati pedang-pedang raksasa yang patah, melesat menuju pusat lembah. Di saat yang sama, di rawa beracun yang jauh, Su Yue juga menebas seekor ular berbisa yang menghalanginya dan mulai bergerak ke arah yang sama.
Pusat Alam Rahasia: Danau Darah
Di pusat Alam Rahasia, terdapat sebuah kawah raksasa yang dipenuhi oleh cairan merah pekat layaknya darah. Ini bukanlah darah sungguhan, melainkan air mata air spiritual yang telah menyerap energi pembantaian dari dimensi ini selama ribuan tahun.
Di tengah-tengah danau berdiameter ratusan meter itu, sebuah bunga teratai raksasa dengan sembilan kelopak merah kristal mengambang dengan anggun. Setiap kali kelopaknya berdenyut, gelombang energi qi murni menyapu udara, membuat siapa pun yang menghirupnya merasa kultivasi mereka mendidih.
Teratai Darah Seribu Tahun!
Harta karun puncaknya telah muncul!
Di tepi danau, puluhan kelompok kultivator dari berbagai sekte dan faksi telah berkumpul. Mata mereka memerah karena keserakahan, namun tidak ada satupun yang berani melangkah maju lebih dulu.
Alasannya sederhana. Di posisi paling depan, menghadap langsung ke arah teratai, berdiri kelompok dari Sekte Iblis Darah.
Penatua Mo berdiri dengan tangan di belakang punggung, memancarkan aura Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat 8 yang luar biasa kejam. Di belakangnya, belasan murid elit memegang senjata yang meneteskan racun, menatap faksi-faksi lain dengan tatapan mengancam.
"Dengarkan baik-baik, kalian semua sampah dari sekte kelas teri!" Suara Penatua Mo menggelegar, ditujukan kepada seluruh kultivator di tepi danau. "Teratai Darah ini adalah milik Sekte Iblis Darah! Jika ada satu saja yang berani melangkah maju sejengkal ke arah danau, aku akan memastikan seluruh klan dan sekte kalian di dunia luar akan dibumihanguskan!"
Ancaman itu membuat para kultivator dari sekte menengah dan kecil menggertakkan gigi karena marah. Namun, kekuatan dan reputasi tiran Sekte Iblis Darah adalah fakta yang tak terbantahkan. Tidak ada yang berani menentang mereka secara terbuka.
"Penatua Mo terlalu mendominasi," gumam seorang tetua dari sekte lain dengan wajah pucat. "Tetapi di sini tidak ada yang bisa melawannya. Kultivasinya adalah yang tertinggi di antara kita semua."
Melihat tidak ada yang berani menantangnya, Penatua Mo tertawa congkak. Dia menoleh ke arah murid tertuanya.
"Pergilah. Gunakan Perahu Daun Spiritual, petik teratai itu, dan bawa padaku. Hati-hati dengan binatang buas penjaga yang mungkin bersembunyi di bawah air."
"Baik, Penatua!"
Murid itu segera mengeluarkan sebuah artefak berbentuk daun raksasa, melemparkannya ke atas permukaan danau merah, dan melompat ke atasnya. Ia meluncur perlahan menuju pusat danau.
Semua orang menahan napas, menatap teratai itu dengan iri.
Namun, tepat saat murid Sekte Iblis Darah itu berjarak sepuluh meter dari Teratai Darah...
TRANG!
Sebuah batu kerikil melesat dengan kecepatan peluru dari arah hutan, menembus udara dan menghantam lutut murid tersebut dengan kekuatan mengerikan.
KRAK!
"AAARRGHH!" Murid itu menjerit histeris. Lututnya hancur seketika, membuatnya kehilangan keseimbangan dan tercebur ke dalam air danau merah yang bergolak.
"Siapa yang berani mencari mati?!" Penatua Mo meraung murka, auranya meledak menghancurkan tanah di sekitarnya. Matanya yang merah menatap tajam ke arah hutan kristal di seberang danau.
Dari balik bayang-bayang pohon-pohon kristal, seorang pemuda berjubah putih melangkah keluar dengan santai. Langkah kakinya ringan, seolah ia sedang berjalan-jalan di taman belakang rumahnya sendiri. Di belakangnya, seekor anjing hitam bersisik berjalan dengan langkah angkuh, menguap lebar memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Benda itu... sudah dipesan oleh Paviliun Bulan Perak melalui Sekte Pedang Bintang. Tarik tangan kotormu, Penatua Mo, sebelum aku memotongnya."
Suara itu tenang, datar, namun bergema di setiap sudut danau, menekan kesombongan Penatua Mo hingga berkeping-keping.
Ribuan pasang mata serentak menoleh. Banyak dari mereka yang mengenali pemuda itu dari kejadian di pintu masuk.
"I-Itu Jiang Chen! Ketua Sekte dari Sekte Pedang Bintang!"
"Dia benar-benar berani memprovokasi Penatua Mo lagi di dalam sini? Apakah dia sudah bosan hidup?!"
Penatua Mo menyipitkan matanya. Urat-urat menonjol di dahinya, amarahnya telah mencapai puncaknya.
"Jiang Chen! Di luar sana kau bersembunyi di balik aturan pintu masuk. Sekarang, kau sendiri yang mengantarkan nyawamu ke hadapanku!" Penatua Mo menghunus pedang besarnya. Energi qi merah pekat yang berbau busuk meledak darinya, menciptakan pusaran angin beracun di tepi danau.
"Hari ini, aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah. Aku akan mencabut tulang-tulangmu saat kau masih bernapas!"
Di saat yang bersamaan, suara mekanis bergema di benak Jiang Chen.
[DING!]
[Misi Utama Dipicu: Dominasi Alam Rahasia!]
Deskripsi: Teratai Darah Seribu Tahun adalah kunci kesepakatan Tuan Rumah. Singkirkan serangga yang menghalangi, ambil Teratai Darah, dan tunjukkan pada seluruh faksi siapa penguasa sebenarnya.
Hadiah: Pil Peningkat Akar Roh (Tingkat Surga), Teknik Pergerakan: Langkah Bintang Hantu, dan 1.000 Poin Sekte.
Jiang Chen tersenyum tipis. Mata hitamnya menatap Penatua Mo dengan belas kasihan, layaknya seekor naga yang menatap cacing kepanasan.
"Aku selalu penasaran," ucap Jiang Chen perlahan, membiarkan Jubah Penyamar Aura miliknya sedikit melonggar. "Mengapa anjing-anjing dari Sekte Iblis Darah selalu menyalak paling keras sebelum mereka dipukul mati?"
BOOM!
Bukannya mempertahankan penyamarannya di tingkat awal, Jiang Chen melepaskan aura Puncak Pembentukan Fondasi miliknya yang selama ini ditekan oleh jubah sistem!
Meski kultivasi aslinya adalah Inti Emas, batas maksimal yang diizinkan Alam Rahasia ini adalah Puncak Pembentukan Fondasi. Namun, kualitas qi Jiang Chen jauh dari kultivator fana biasa. Energi spiritual murni layaknya lautan perak meledak dari tubuhnya, menciptakan pilar cahaya yang menyapu kabut di sekitar danau.
Tanah bergetar. Udara menjadi seberat timah. Puluhan kultivator di tepi danau langsung berlutut, tak mampu menahan tekanan spiritual yang begitu murni dan menindas.
"P-Puncak... Pembentukan Fondasi?!" Mata Penatua Mo melotot hingga nyaris keluar dari rongganya. Kakinya gemetar hebat, pedang besarnya terasa seberat gunung di tangannya.
Hanya sebulan yang lalu, intelijen sekte melaporkan bahwa Jiang Chen adalah sampah di Pemadatan Qi Tingkat 3! Bagaimana mungkin dia kini berdiri di Puncak Pembentukan Fondasi dengan energi qi yang ratusan kali lebih murni dari miliknya?!
"Sekarang," Jiang Chen melangkah maju, kakinya tidak menginjak tanah, melainkan berjalan mengambang di atas udara, menuruni tepi danau setapak demi setapak layaknya menuruni tangga tak kasat mata.
"Mari kita lihat, seberapa tebal tulangmu, Penatua Mo."