NovelToon NovelToon
Janda Tua yang Bangkit Jadi Konglomerat

Janda Tua yang Bangkit Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Kamar hotel itu tidak lagi terasa seperti tempat berlindung.

Lampu meja menyala miring. Koper Suparti terbuka di lantai, beberapa baju sudah ditarik keluar. Laci samping ranjang menganga. Kotak merah berbalut kain tidak terlihat di tempatnya.

Kevin berdiri dekat jendela.

Ia masih memakai kemeja kerja, tetapi kancing paling atas terbuka dan rambutnya berantakan. Matanya merah. Bukan merah karena menangis, melainkan karena beberapa jam menahan amarah yang tidak punya tempat keluar.

"Di mana kotakku?" tanya Suparti.

Kevin tertawa pendek. "Itu yang Mama pikirkan pertama? Bukan anak Mama?"

"Anak yang masuk kamar ibunya tanpa izin harus ditanya apa yang dia curi."

Wajah Kevin mengeras.

Pintu di belakang Suparti belum tertutup sempurna. Ia sengaja membiarkannya seperti itu, tetapi Kevin melangkah cepat dan menendangnya sampai tertutup. Bunyi klik kunci membuat udara mengecil.

Di saku, ponsel Suparti tetap tersambung.

"Mama puas?" Kevin bertanya. "Papa ditangkap. Cindy mengamuk. Priska menangis. Semua karena Mama."

"Semua karena perbuatan kalian sendiri."

"Selalu begitu." Kevin memukul meja dengan telapak tangan. "Mama selalu merasa paling menderita. Pernah pikirkan aku? Aku anak rektor. Orang melihatku. Aku harus punya posisi. Aku harus menjaga nama keluarga."

Suparti menatapnya. "Dengan meniduri perempuan lain?"

"Cindy dingin."

"Dengan menghitung harta saat ibumu diusir?"

"Mama tidak diusir. Mama yang pergi."

"Karena aku akhirnya bangun."

Kevin mendekat. Bau alkohol tipis tercium dari napasnya. Suparti mundur satu langkah ke arah samping ranjang, bukan karena takut semata, tetapi mencari posisi. Payung cokelat panjang yang baru ia beli untuk latihan pertahanan diri bersandar di dekat lemari. Terlalu jauh. Namun di meja ada gelas kaca, bolpoin, dan kunci kamar cadangan.

"Papa bilang Mama berubah karena ada laki-laki itu," kata Kevin. "Alexander. Aditya. Siapa lagi? Mama pikir pada umur segini masih ada pria yang sungguh-sungguh peduli?"

Suparti tidak menjawab.

Kevin tersenyum miring. "Kasihan. Mama masih gampang dibohongi."

"Kau datang untuk menghina atau meminta sesuatu?"

Ia mengeluarkan kotak merah dari balik tirai. Kain pembungkusnya sudah kusut.

Napas Suparti tertahan.

"Ini apa?" Kevin mengguncangnya. "Warisan? Bukti? Uang yang Mama sembunyikan?"

"Letakkan."

"Kalau aku pecahkan?"

"Letakkan, Kevin."

Mungkin karena nada Suparti terlalu tenang, Kevin justru makin marah. Ia melempar kotak itu ke ranjang. Benda itu memantul, tidak terbuka, tetapi suara kayunya membuat dada Suparti nyeri.

"Mama selalu menyimpan sesuatu dari kami. Selalu pura-pura korban. Padahal Mama juga penuh rahasia."

"Aku menyimpan sisa diriku yang belum kalian ambil."

Kalimat itu membuat Kevin kehilangan kata sebentar. Lalu matanya bergerak liar, mencari serangan lain.

"Yuyun juga begitu," gumamnya.

Nama itu jatuh tanpa peringatan.

Suparti membeku. "Apa katamu?"

Kevin tertawa. Kali ini tawanya rusak. "Semua perempuan suka pura-pura suci. Yuyun juga. Dia pikir karena pintar, karena punya proyek AI bodoh itu, dia bisa melawan orang-orang besar."

Suparti merasakan darahnya menjadi dingin.

"Kau kenal Yuyun?"

"Kenal?" Kevin menatapnya seolah kata itu lucu. "Ma, dunia Papa tidak sesederhana dapur Mama. Banyak orang datang ke rumah. Banyak mahasiswi mencari bantuan. Ada yang tahu diri, ada yang sok benar."

Suparti menggeser tubuhnya sedikit ke arah meja. Ia sengaja menurunkan suara, berharap Kevin terus bicara, berharap Ratih di luar dan Cynthia di telepon menangkap setiap kata.

"Yuyun anak siapa?"

Kevin mendengus. "Anak orang miskin. Ibunya sakit-sakitan. Dia pikir karena pintar coding dan punya ide aplikasi suara hati itu, semua orang harus hormat."

"Suara Hati?"

"Aplikasi bodoh. Katanya untuk membantu korban bicara tanpa takut. Dia mau membawa rekaman, mau menyeret nama Papa, Prof. Suherman, semua. Anak kecil sok suci."

Suparti menekan kuku ke telapak tangan. Ia tidak boleh muntah. Belum.

Suparti menahan mual.

Ia ingat Alexander menyebut ada korban, ada bukti, ada kejahatan lama yang belum seluruhnya dibuka. Tetapi mendengar Kevin menyebut nama itu dengan nada meremehkan membuat kamar seperti berputar.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

Kevin menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Aku cuma mengikuti arus. Prof. Suherman yang mulai. Papa yang menutup. Aku hanya... ada di sana."

"Ada di sana melakukan apa?"

Kevin menatapnya, bibirnya bergerak tetapi tidak ada suara keluar. Di wajahnya lewat sesuatu yang hampir mirip malu, lalu segera digantikan amarah.

"Mama mau pakai ini untuk menjatuhkan aku juga?"

"Aku mau tahu berapa banyak nyawa yang keluarga ini injak."

"Jangan sok suci!" Kevin membanting kotak merah ke ranjang sekali lagi. "Mama juga menikmati hidup dari uang Papa. Semua makan dari uang itu."

"Aku makan sisa. Kalian makan darah orang."

"Kevin."

"Jangan pakai suara itu!" bentaknya. "Mama tidak tahu apa-apa. Malam itu semua kacau. Dia menangis, dia mengancam mau lapor. Papa bilang kalau dia buka mulut, karier semua orang hancur. Lalu dia lompat. Selesai."

Suparti menutup mulut. Perutnya bergejolak.

Tidak ada gambar rinci di kepalanya, dan ia tidak ingin ada. Cukup kata-kata Kevin. Cukup cara ia mengatakan selesai seolah nyawa manusia hanyalah pintu yang ditutup.

"Kau memaksa dia?"

Kevin diam.

Keheningan itu adalah jawaban.

Di luar pintu, mungkin Ratih sudah mendengar. Mungkin Cynthia di telepon juga. Suparti harus bertahan sedikit lagi.

"Dan kau masih bisa memanggilku Mama?"

Wajah Kevin berubah. Sesal tidak muncul. Yang muncul adalah panik karena ia sadar terlalu banyak bicara.

"Mama memancing aku."

"Kebenaran tidak keluar dari mulut orang yang tidak menyimpannya."

Kevin meraih sesuatu dari balik pinggangnya.

Suparti melihat kilatan logam.

Waktu mengecil menjadi beberapa benda: pintu yang terkunci, payung di dekat lemari, kotak merah di ranjang, ponsel di saku, napas Kevin yang pecah.

"Kalau Mama diam dari awal," kata Kevin, suaranya serak, "semua tidak perlu begini."

Ia bergerak.

Suparti tidak ingat semua urutan setelah itu dengan rapi. Ia hanya ingat rasa perih menyambar lengan, tubuhnya membentur sisi ranjang, gelas kaca pecah di lantai, dan suaranya sendiri memanggil nama Ratih. Ia ingat tangan meraba payung, ingat gagang keras itu akhirnya berada di genggamannya. Ia ingat mata Kevin, mata anak yang pernah ia timang, kini penuh ketakutan dan kemarahan saat ia sadar ibunya tidak lagi diam.

Pintu digedor dari luar.

"Bu Suparti!"

Kevin mencoba meraih ponselnya. Suparti mengayunkan payung bukan untuk membunuh, hanya untuk menjauhkan. Ujung payung mengenai pergelangan tangannya. Pisau jatuh ke karpet.

Pintu terbuka dengan suara keras. Ratih masuk lebih dulu, Aditya di belakangnya. Semua terjadi cepat: Kevin ditahan, pisau ditendang menjauh, Cynthia berteriak dari ponsel yang terjatuh di lantai.

Ratih berlutut, satu lutut menekan karpet, suaranya tetap terkendali. "Kevin Sena Susanto, tetap di tempat. Jangan melawan."

Kevin terengah. "Dia ibuku! Ini urusan keluarga!"

"Saat ada senjata dan pengakuan tindak pidana, ini bukan lagi urusan keluarga."

Aditya mengambil handuk bersih dari kamar mandi dan menekannya ke luka Suparti sambil memanggil ambulans. Suparti menggigit bibir agar tidak mengerang. Rasa sakit datang terlambat, seperti gelombang yang baru menyadari pantai sudah pecah.

"Kotak..." bisiknya.

Aditya mengikuti arah matanya. Ia mengambil kotak merah dari ranjang, memastikan kainnya tidak terbuka, lalu meletakkannya di samping tubuh Suparti.

"Aman, Bu."

Suparti menekan sisi tubuhnya. Ada hangat yang merembes, tetapi pikirannya anehnya jernih.

Kevin meronta. "Dia yang menyerang aku! Dia gila!"

Ratih menekan bahunya ke lantai. "Semua terekam."

Kalimat itu menghantam Kevin seperti pintu besi.

Suparti mencoba berdiri, tetapi lututnya tidak kuat. Aditya menangkap bahunya sebelum ia jatuh. Lampu kamar berputar. Di ranjang, kotak merah masih tertutup, kainnya basah sedikit di sudut.

Ia ingin mengambilnya.

Tangannya tidak sampai.

"Ibu jangan bergerak," suara Aditya terdengar jauh.

Suparti menatap Kevin untuk terakhir kali sebelum pandangannya menggelap. Di wajah anaknya, ia tidak melihat anak kecil yang dulu demam dan memanggilnya Mama. Ia hanya melihat pria dewasa yang akhirnya bertemu akibat dari semua hal yang ia kira bisa ditutup oleh nama keluarga.

Di lantai kamar hotel, darah merayap pelan ke arah kotak merah.

Cynthia masih berteriak dari ponsel. Suaranya pecah oleh speaker kecil. "Bu Suparti, dengar saya? Ambulans sudah dihubungi. Jangan tidur dulu."

Suparti ingin menjawab, tetapi lidahnya berat. Ia hanya menggerakkan jari.

Ratih melihat gerakan itu. "Beliau sadar."

Kevin yang sudah ditahan masih mencoba berbicara. "Aku tidak sengaja. Mama membuatku marah."

Suparti membuka mata sedikit. Kata-kata itu terlalu akrab. Handoko juga selalu begitu. Jenny juga. Vivian pun belajar dari sana. Semua pelaku ingin kemarahannya dianggap cuaca buruk, bukan keputusan.

Dengan sisa suara, Suparti berbisik, "Kali ini... tidak."

Ambulans terdengar dari bawah hotel, mula-mula jauh, lalu semakin dekat. Aditya menekan handuk di lukanya dan terus menyebut namanya, bukan dengan panik, melainkan ritme yang memaksa Suparti tetap berpegangan pada dunia.

"Bu Suparti. Dengar suara saya. Ibu keluar hidup-hidup dari kamar ini."

Ia ingin percaya. Ia harus percaya. Karena di lantai, ponsel masih merekam. Di ranjang, kotak merah masih utuh. Di luar pintu, untuk pertama kalinya, ada saksi yang datang tepat waktu.

Dan di antara suara ambulans, ia mendengar Ratih berkata pelan, "Ini pembelaan diri. Semua jelas."

Lalu dunia Suparti padam.

1
aku
keren 👍🏻
aku
ayo bu semangat lg ad yg dtg bantu 💪🏻
aku
mantep tuh lgsg pecat gk terhormat pas udh cere dr bu parti 😁😁
aku
bu parti 😭😭 modelan kevin sm vivian adlh anak yg halal disantet bu 😌😌
anggita
like👍 bunga🌹 buat Suparti👏💪.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!