NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Pengakuan

Pagi berikutnya, kalimat Rayhan masih tinggal di kepala Nadhira.

Karena kamu layak mendapatkannya.

Ia terbangun lebih dulu. Alif tidur melintang di tengah kasur dengan satu kaki di perut Rayhan. Arkan memeluk lengan Nadhira. Di bawah ranjang, Kopi mendengkur dengan kaus kaki entah milik siapa terselip di bawah dagu.

Rayhan membuka mata saat Nadhira mencoba memindahkan kaki Alif.

"Pagi," bisiknya.

"Pagi."

Mereka saling menatap sedikit terlalu lama.

Alif menguap tanpa membuka mata. "Mama senyum lagi."

Nadhira segera bangun. "Mama mau mandi."

Rayhan menahan suara tawa di belakangnya.

Sarapan berlangsung seperti biasa dan sama sekali tidak biasa. Mbak Wati menyajikan bubur ayam. Arkan meminta kerupuk diremukkan. Alif menceritakan bahwa Papa tidur bersama Mama, lalu dikoreksi Nadhira bahwa seluruh keluarga tidur bersama.

"Sama," kata Alif.

"Tidak sama."

"Sama ranjang."

Rayhan menyesap kopi tanpa membantu.

"Mas Ray, tolong jelaskan."

Ia menurunkan cangkir. "Alif benar secara teknis."

Panggilan itu keluar begitu saja di depan meja. Mbak Wati berhenti menuang susu selama setengah detik. Nadhira pura-pura sibuk mengaduk bubur, sedangkan sudut bibir Rayhan bergerak.

Setelah anak-anak selesai, Gilang datang membawa koper kabin dan satu map. Rayhan harus berangkat untuk perjalanan bisnis tiga hari. Pertemuan utama berlangsung besok pagi; ia memilih penerbangan siang agar masih sempat sarapan bersama keluarga.

"Ray, semua berkas ada di map hitam. Mobil ke bandara menunggu dua puluh menit lagi," kata Gilang.

Hanya Gilang yang memanggilnya begitu. Nadhira sekarang memahami perbedaan antara panggilan sahabat lama itu dan `Mas Ray` yang mulai terasa miliknya sendiri.

Gilang menyerahkan satu lembar lain kepada Nadhira. "Ini daftar tautan program kuliah yang diminta. Saya kirim versi digitalnya juga. Belum saya urutkan atau beri rekomendasi, sesuai instruksi."

Nadhira memeriksa halaman pertama. Ada sumber akreditasi, situs penerimaan resmi, dan kolom kosong untuk catatannya sendiri.

"Terima kasih."

"Saya cuma mengumpulkan. Kalau ada yang kurang, kabari saya, bukan Pak Bos. Nanti dia tergoda membuat matriks penilaian."

"Saya dengar," kata Rayhan.

"Memang sengaja."

Gilang membawa koper ke depan, memberi mereka ruang tanpa mengumumkannya.

Rayhan berjongkok di hadapan anak-anak. Ia menjelaskan akan pergi tiga kali tidur dan kembali malam ketiga. Tidak memakai kata sebentar yang sulit diukur anak. Ia menunjukkan tiga lingkaran pada kalender kecil, lalu meminta Alif mencoret satu setiap pagi.

"Papa pulang?" tanya Arkan.

"Pulang. Papa telepon setelah makan malam."

"Bawa ayam," kata Alif.

"Dari luar kota?"

"Ayam Papa."

Rayhan mengangguk serius. "Hari Minggu Papa masak lagi."

Kedua anak memeluknya bergantian. Arkan bertahan lebih lama, tetapi tidak menangis. Rutinitas dan waktu pulang yang jelas membuat perpisahan itu berbeda dari kepergian tanpa janji.

Nadhira mengantar Rayhan sampai pintu depan.

Di teras, udara masih menyimpan sisa hujan malam. Mobil hitam menunggu di jalan masuk. Gilang berdiri dekat bagasi sambil memeriksa ponsel.

Rayhan menyerahkan satu kartu kepada Nadhira. "Nomor hotel, jadwal, dan kontak Gilang. Bukan karena kamu harus melapor. Kalau ada keadaan darurat."

"Saya sudah punya nomor Gilang."

"Sekarang kamu punya nomor hotel juga."

"Kamu selalu membawa terlalu banyak cadangan."

"Dan kamu selalu menganggap satu cadangan cukup."

Mereka hampir kembali berdebat, tetapi Nadhira melihat kilau humor pada matanya.

Nadhira memeriksa jadwal itu. Waktu rapat, penerbangan pulang, dan jendela panggilan untuk anak tertulis jelas. Tidak ada kewajiban baginya mengirim kabar setiap jam. Sebaliknya, Rayhan juga tidak meminta rekaman kamera rumah atau laporan pendamping selama perjalanan.

"Kalau rapatmu berubah?" tanyanya.

"Gilang memberi tahu waktu telepon anak. Saya sendiri yang memberi tahu kalau penerbangan pulang berubah."

"Jangan suruh staf menyampaikan semuanya."

"Baik."

"Dan kalau kamu terlalu sibuk menelepon malam ini, kirim pesan sebelum anak menunggu."

Rayhan menatapnya sesaat. Kalimat itu bukan sekadar aturan jadwal. Keduanya tahu seperti apa rasanya menunggu seseorang yang berjanji pulang.

"Saya akan menelepon," katanya. "Kalau tidak bisa, saya beri tahu sebelum waktunya."

Nadhira mengangguk. Janji yang terukur terasa jauh lebih aman daripada kata selalu.

"Hati-hati," katanya.

Rayhan mengangguk lalu berbalik.

Sesuatu dalam dada Nadhira menarik. Tiga hari bukan waktu lama. Namun, setelah dua malam berbagi ruang dan satu panggilan baru, punggung Rayhan yang menjauh terasa seperti kalimat yang belum selesai.

"Mas Ray."

Ia berhenti dan menoleh.

Nadhira sudah memanggilnya, tetapi tidak menemukan kata berikut. Jangan pergi terdengar berlebihan. Saya akan rindu terlalu jujur. Ia berdiri dengan tangan mencengkeram ujung lengan baju.

Rayhan menunggu tanpa mendesak.

"Hati-hati," ulangnya akhirnya.

Tatapannya pasti mengatakan lebih banyak, karena wajah Rayhan berubah. Ia kembali menaiki satu anak tangga dan berhenti tepat di depan Nadhira.

"Kamu juga," katanya.

Lalu ia menunduk dan mengecup dahi Nadhira.

Sentuhannya singkat, hangat, dan sepenuhnya disengaja.

Nadhira membeku. Rayhan tidak meminta maaf atau berpura-pura itu kecelakaan. Ia hanya menatapnya satu detik lagi, lalu berjalan menuju mobil.

Gilang membuka pintu belakang dengan wajah sangat netral. Saat mobil mulai bergerak, barulah Nadhira melihat bahunya berguncang seperti sedang menahan tawa.

Nadhira tetap berdiri di teras sampai kendaraan menghilang di tikungan.

Tangannya naik menyentuh dahi.

Di dalam rumah, Alif berteriak meminta bantuan mencari pensil untuk kalender. Mbak Wati bertanya apakah buburnya perlu dihangatkan. Kehidupan terus berjalan, tetapi kulit di dahinya seolah menyimpan suhu bibir Rayhan.

Ponselnya bergetar.

Satu WhatsApp dari nomor yang tidak disimpan masuk bersama sebuah foto.

Foto itu diambil di area keberangkatan bandara. Rayhan berjalan di samping seorang perempuan muda berkacamata hitam. Perempuan itu memegang lengannya, sementara satu koper kabin berada di antara mereka. Gilang terlihat beberapa langkah di belakang.

Waktu pengiriman hanya terpaut dua puluh menit sejak mobil meninggalkan rumah.

Nadhira memperbesar foto. Wajah perempuan itu sebagian tertutup, tetapi kedekatan tubuh mereka jelas dibuat menjadi pusat bingkai. Tidak ada keterangan tempat, tidak ada nama pengirim, dan data asli foto sudah dihapus.

Ia membuka profil nomor tersebut. Tidak ada foto, nama, atau keterangan akun. Nomornya berbeda dari pengirim ancaman lama milik Agus. Gambar itu tampak diambil dari jarak dekat, mungkin oleh seseorang yang sengaja menunggu di area keberangkatan.

Nadhira menyimpan salinan tanpa meneruskan ke grup mana pun. Ia belum tahu siapa perempuan itu atau mengapa ia memegang lengan Rayhan. Yang ia tahu hanya seseorang mengirimkannya tepat setelah ciuman pertama mereka, saat perasaannya paling mudah digoyahkan.

Jari Nadhira berhenti di kolom balasan. Ia bisa menelepon Rayhan sekarang, tetapi suara pengumuman bandara dalam foto mengingatkannya bahwa pria itu mungkin sedang masuk pemeriksaan. Ia juga bisa menghapus gambar dan berpura-pura tidak peduli.

Tak satu pun pilihan terasa jujur.

Di bawah gambar hanya ada dua kata.

`Siapa dia?`

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!