NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Gerbang Langit yang Berdarah

Kabut musim dingin di puncak Gunung Pedang Langit semakin menebal, membawa aroma belerang dari tungku-tungku alkimia sekte yang tak pernah padam. Tangga batu kuno yang berjumlah ribuan anak tangga menuju gerbang utama sekte terhampar sunyi, tertutup oleh lapisan es tipis yang licin. Namun, keheningan tempat suci itu mendadak terusik oleh suara langkah kaki yang konstan dan berirama.

Tap... Tap... Tap...

Seorang pemuda berjubah hitam melangkah naik tanpa tergesa-gesa. Di pinggang kirinya, sebuah sarung pedang kayu putih perak berukir rasi bintang tampak memantulkan cahaya pucat matahari yang hampir tenggelam. Kala telah tiba di puncak.

Di hadapannya, berdiri dua pilar batu raksasa setinggi tiga puluh meter yang mengapit gerbang utama Perguruan Pedang Langit. Di atas papan nama kayu cendana yang tergantung di tengah gerbang, terukir kaligrafi megah berlapis emas yang memancarkan tekanan energi angin yang samar. Dua puluh orang murid luar bersenjata tombak perak berdiri berbaris di depan gerbang, menjaga keamanan perimeter sekte dengan ketat.

Mereka semua berada di Ranah Nadi Fana Tingkat Menengah hingga Puncak.

"Berhenti! Siapa kau?! Ini adalah wilayah suci Perguruan Pedang Langit, manusia fana dilarang melangkah lebih jauh!" terkah seorang kapten penjaga bertubuh kekar, melangkah maju sambil mengacungkan tombaknya ke arah Kala.

Kala menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Dia tidak mengenakan kain penutup mata lagi. Sepasang netra Black Hole miliknya menatap lurus ke arah gerbang batu di depannya. Di dalam pupil hitam pekat itu, pusaran galaksi mini berputar lambat, memancarkan daya tarik gravitasi tak kasat mata yang membuat udara di sekitar gerbang mendadak terasa berat.

"Aku datang untuk menagih hutang darah," ucap Kala datar. Suaranya tidak keras, tetapi gaungnya beresonansi langsung di dalam gendang telinga dua puluh penjaga tersebut, membuat dada mereka terasa sesak.

Kapten penjaga itu mengernyit, merasakan bahaya yang instan dari tatapan mata Kala. Namun, melihat jubah hitam Kala yang sederhana dan tidak membawa lencana klan besar mana pun, dia mengabaikan instingnya. "Bocah gila! Menyerbu sekte kami sendirian adalah tindakan bunuh diri! Habisi dia!"

Dua puluh orang murid luar itu langsung bergerak serentak. Mereka membentuk Formasi Angin Berputar, sebuah teknik pertahanan gerbang yang memadukan energi Qi angin dari dua puluh tombak menjadi satu kapak angin raksasa di udara. Kapak energi setinggi lima meter itu menderu kencang, memotong udara dengan suara desingan yang memekakkan telinga, lalu menebas jatuh tepat ke arah kepala Kala.

Kala berdiri kokoh di posisinya. Tangan kirinya mencengkeram sarung pedang Yggdrasil, sementara ibu jari tangan kanannya menyentuh pelindung gagang pedang Jian hitamnya yang setipis kertas.

“Kala, level mereka terlalu rendah. Energi gabungan ini rapuh di hadapan hukum waktu,” suara wanita misterius dari dalam sarung pedangnya berbisik di dalam benaknya.

"Aku tahu," batin Kala.

CHIIING!

Dentingan jernih itu kembali memotong realitas. Kala menarik bilah pedang hitamnya keluar sepanjang sepuluh sentimeter.

DENG!

Dunia abu-abu monokrom kembali tercipta dalam radius lima puluh meter.

Kapak energi angin raksasa yang hanya berjarak satu meter dari ujung rambut Kala mendadak membeku kaku di udara, gumpalan energinya mengeras seperti kristal kaca yang retak. Dua puluh murid luar terpaku dalam berbagai posisi menyerang; ada yang masih melompat, ada yang urat wajahnya menegang karena berteriak, dan ada yang matanya melotot kaku. Semua gerakan, napas, dan detak jantung mereka dijeda secara absolut oleh Hukum Sepuluh Senti.

Kala tidak melangkah maju untuk menyentuh kening mereka satu per satu seperti sebelumnya. Kali ini, dia ingin menguji batasan baru dari pedangnya yang belum pernah dia gunakan di dunia fana.

Dia menggenggam gagang pedangnya lebih erat, menarik bilah tipis itu keluar sepenuhnya dari sarung kayu. Di dalam ruang waktu yang berhenti, Kala mengayunkan pedang Jian hitamnya dalam satu gerakan melingkar yang sangat lambat dan anggun.

Karena bilah pedang itu terbuat dari tulang naga purba yang sangat tipis dan hampa udara, tebasan itu tidak menghasilkan gelombang energi Qi biasa. Alih-alih melepaskan cahaya pedang, tebasan Kala justru merobek ruang fisik di depannya. Sebuah garis hitam pekat setipis benang—celah hampa udara absolut—terbentuk di udara, meluncur perlahan melewati tubuh dua puluh murid luar dan pilar batu gerbang utama.

Setelah tebasan itu selesai, Kala menarik kembali pedangnya dengan presisi dan memasukkannya ke dalam sarung kayu Yggdrasil.

KLIK.

Satu detik keheningan berakhir. Warna dunia kembali normal, dan waktu semesta berputar kembali.

Kapten penjaga di depan Kala berkedip sejenak. Dia merasa aneh karena kapak angin raksasa milik formasinya tiba-tiba lenyap begitu saja dari udara tanpa ada ledakan. "Hah? Apa yang terjadi—"

SLASSH... BRUUK!

Kalimat itu tidak pernah selesai. Tubuh kapten penjaga beserta sembilan belas murid luar di belakangnya mendadak terbelah menjadi dua bagian secara horizontal tepat di bagian pinggang. Potongan tubuh mereka jatuh berhamburan ke atas salju, menyemburkan darah segar yang menguap panas di udara dingin. Mereka bahkan tidak sempat merasakan sakit, karena kecepatan tebasan di dalam waktu yang membeku telah memotong saraf kehidupan mereka sebelum sinyal rasa sakit sempat sampai ke otak.

Tidak hanya itu. Dua pilar batu raksasa setinggi tiga puluh meter yang menopang gerbang utama sekte juga mengalami nasib yang sama. Garis tebasan hitam tipis milik Kala telah memotong fondasi batu tersebut.

KRAKKKK... BOOOM!!!

Pilar-pilar batu megah itu runtuh, hancur berkeping-keping dan meruntuhkan papan nama berlapis emas milik Perguruan Pedang Langit ke dalam lumpur dan salju berdarah. Simbol kesucian dan kemegahan sekte yang telah berdiri selama ratusan tahun itu kini hancur menjadi puing-puing tak berharga di bawah kaki seorang pemuda berjubah hitam.

Kala melangkah melewati reruntuhan gerbang dan tumpukan jasad para penjaga. Setiap tetes darah yang mencoba menciprati jubah hitamnya melambat di udara sebelum akhirnya jatuh ke tanah, ditolak oleh aura gravitasi Black Hole dari tubuhnya.

Hancurnya gerbang utama dan ledakan runtuhnya pilar batu memicu alarm darurat di seluruh area dalam sekte. Suara dentang lonceng tembaga raksasa dari aula utama mulai berbunyi bertalu-talu, memanggil ribuan murid dalam dan para Tetua yang sedang bermeditasi.

Kala mendongak, menatap kompleks bangunan paviliun megah yang berjejer di lereng gunung atas. Matanya yang penuh bintang berkilat dingin. Target berikutnya bukan lagi semut-semut penjaga rendahan, melainkan para Tetua di Ranah Raja Bumi yang telah merancang seluruh penderitaan masa kecilnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!