Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010
Jawaban
Seluruh meja makan mendadak sunyi.
Seline bisa merasakan tatapan orang-orang menempel di wajahnya. Oma Mei menunggu dengan tenang. Vivian menahan senyum tipis. Jessica tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi belum tahu harus menolong dari arah mana. Darren memandang kakaknya dengan kebingungan polos, karena baginya pertanyaan itu sederhana.
Kamu suka melukis?
Seline tahu jawaban sebenarnya bisa menghancurkan perlindungan kecil yang ia bangun sejak datang ke rumah ini.
Maka ia mengangkat wajah dan tersenyum secukupnya.
"Dulu saya suka menggambar di sekolah," katanya. "Tapi hanya untuk tugas kelas. Tidak bisa disebut melukis."
Kevin tidak langsung berkedip.
"Hanya tugas kelas?"
"Iya, Ko Kevin."
Seline menjaga suaranya tetap ringan. Ia bahkan mengambil gelas air dan minum sedikit, agar tangannya punya alasan bergerak. Di bawah meja, ujung kakinya menekan lantai begitu kuat sampai nyeri.
Vivian tertawa kecil. "Sayang sekali. Aku kira Seline punya bakat tersembunyi. Waktu Ko Kevin tanya, aku hampir percaya ada rahasia besar."
"Tidak semua orang punya rahasia besar," jawab Jessica cepat.
"Benar." Vivian tersenyum. "Kadang yang terlihat sederhana memang hanya sederhana."
Seline menaruh gelas. "Kalau ada yang ingin melihat gambar tugas sekolah saya dulu, mungkin sudah hilang semua, Viv. Rumah kontrakan di Surabaya tidak punya ruang untuk menyimpan banyak kertas."
Nada Seline tetap sopan, tetapi kalimat itu membuat senyum Vivian berhenti sesaat. Di meja makan, kemiskinan yang disebut sendiri sering kali lebih sulit dipakai sebagai ejekan. Orang lain bisa merendahkanmu, tetapi ketika kamu mengakuinya tanpa meminta belas kasihan, mereka kehilangan tempat menusuk.
Oma Mei memandang Seline dengan mata yang sedikit lebih lembut.
"Anak yang pernah suka menggambar biasanya matanya peka," kata Oma. "Tidak apa-apa. Di rumah ini, peka itu berguna."
Tante Chen cepat menyela, "Seline memang anaknya teliti, Oma. Dari kecil juga begitu."
Seline hampir ingin tersenyum. Tante Chen bicara seolah ia benar-benar mengenalnya sejak kecil.
Kevin akhirnya mengambil sumpitnya kembali. "Begitu."
Hanya satu kata.
Namun satu kata itu tidak terasa seperti selesai. Lebih seperti pintu yang ditutup pelan, tapi kuncinya belum diputar.
Makan malam berlanjut. Jessica mengganti topik ke hasil tes Darren. Jason langsung berkata bahwa Darren pasti lulus karena pulang dengan wajah marah. Ryan menyarankan Darren ikut basket kalau masuk sekolah baru. Darren terlihat lebih santai, walau sesekali masih melirik Seline.
Seline menjawab seperlunya. Ia tidak berani menatap Kevin lagi. Namun beberapa kali, ia merasakan tatapan pria itu menyentuhnya sebentar, seperti ujung pisau yang tidak melukai tapi mengingatkan bahwa ia ada di sana.
Setelah makan selesai, Seline membawa Darren kembali ke kamar.
Jessica menyusul mereka sebelum sampai lorong belakang. Di tangannya ada dua kotak kecil berisi kue lapis dari meja dessert.
"Untuk Darren," katanya, lalu memasukkan kotak itu ke tangan anak laki-laki tersebut. "Hadiah karena selamat dari Bahasa Inggris yang jahat."
Darren langsung cerah. "Terima kasih, Ci Jessica."
"Panggil Jess saja. Aku belum setua itu."
Seline tersenyum kecil. "Terima kasih, Jess."
Jessica menunggu Darren berjalan beberapa langkah lebih dulu, lalu menurunkan suara. "Hati-hati sama Vivian. Dia tidak pernah bertanya sesuatu tanpa tujuan."
Seline menatapnya. "Soal lukisan?"
"Soal apa pun." Jessica melirik ke arah ruang makan yang mulai sepi. "Dan Ko Kevin juga. Dia jarang bertanya kalau tidak ada yang ingin dia pastikan."
Ucapan itu membuat dada Seline kembali kencang.
"Saya memang tidak punya apa-apa untuk dipastikan."
Jessica memiringkan kepala, menatapnya seperti tidak sepenuhnya percaya tetapi memilih tidak memaksa. "Bagus kalau begitu. Tapi kalau suatu hari kamu butuh orang yang tidak langsung lari ke Vivian, cari aku."
Ia menepuk pelan lengan Seline, lalu berbalik pergi.
Seline berdiri sebentar di lorong, memegang kalimat itu seperti memegang korek api kecil di ruangan gelap.
Baru di lorong belakang Darren berbisik, "Kakak bohong."
Langkah Seline berhenti.
Darren menatapnya dengan wajah serius. "Kakak bukan cuma suka menggambar. Kakak jago."
"Darren."
"Aku tahu, aku tidak bilang apa-apa." Ia merendahkan suara. "Tapi kenapa Kakak bohong ke Ko Kevin?"
Seline melihat ke kiri dan kanan lorong. Tidak ada orang, tetapi di rumah ini dinding terasa seperti punya telinga.
"Karena tidak semua hal perlu orang lain tahu."
"Tapi Ko Kevin suka gambar Kakak, kan?"
Napas Seline tertahan. "Kamu tahu dari mana?"
"Aku lihat wajah Kakak waktu dia tanya."
Anak ini terlalu cepat menangkap hal-hal yang seharusnya tidak ia lihat.
Seline berjongkok di depannya. "Dengar. Tao itu rahasia kita. Bukan karena Kakak malu menggambar, tapi karena kita belum tahu siapa yang bisa dipercaya. Mengerti?"
Darren mengangguk pelan.
"Kalau ada yang tanya?"
"Aku tidak tahu apa-apa."
"Bagus."
Seline mengusap bahunya, lalu berdiri. Dalam hati, rasa bersalah menusuk pelan. Ia mengajarkan adiknya menyembunyikan kebenaran, sesuatu yang dulu dilakukan orang dewasa padanya. Bedanya, kali ini ia melakukannya untuk bertahan.
Malam turun lebih gelap ketika Kevin masuk ke ruang kerjanya di bangunan belakang.
Anton sudah menunggu di depan meja dengan tablet dan beberapa dokumen. Di dinding, lampu sorot kecil menerangi beberapa lukisan dan ilustrasi yang dibingkai rapi. Lampion Girl belum dipasang. Karya itu masih berada di atas meja, terlindung kertas khusus.
Kevin berdiri di depannya beberapa saat.
"Boss?" Anton memanggil pelan.
"Cari tahu tentang Tao."
Anton tidak terlihat terkejut. Ia sudah cukup lama bekerja untuk Kevin untuk tidak bertanya mengapa sebuah nama seniman tiba-tiba menjadi prioritas.
"Tao, ilustrator dari galeri online yang terakhir?"
"Semua data yang bisa didapat. Identitas, riwayat transaksi, kota asal, perantara yang pernah dipakai."
"Baik."
Kevin menyentuh sudut kertas pelindung, tidak sampai mengenai gambar. Dalam kepalanya, bukan hanya gambar lampion yang muncul. Ada wajah seorang gadis di ambang pintu kaca, pakaian basah oleh hujan, mata yang terlalu cepat berubah saat melihat karya itu.
"Jangan hubungi orangnya dulu," kata Kevin.
Anton mencatat. "Hanya investigasi pasif."
"Dan jangan bocor ke rumah utama."
Anton mengangkat mata sebentar. Perintah itu lebih spesifik dari biasanya.
"Baik, Pak."
Kevin meninggalkan ruang kerja tak lama kemudian untuk menerima telepon William. Anton tetap di sana, bekerja dengan cepat. Ia menghubungi perantara galeri, mengecek data transaksi lama, mencocokkan kode kolektor, nomor rekening penerimaan, dan kota pencairan dana.
Setengah jam kemudian, layar tabletnya menampilkan satu baris data yang membuat alisnya naik sedikit.
Anton duduk lebih tegak. Sejak kemarin, satu gadis dari kota itu juga baru masuk ke rumah utama.
Nama asli masih tertutup oleh sistem perantara. Namun kota akun pembayaran Tao tercatat jelas.
Surabaya.