Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
FK980
Dua minggu setelah Revan dibawa pergi, pusat pelatihan NusAir kembali penuh.
Kali ini bukan karena skandal.
Di hanggar utama, tirai biru menutupi hidung pesawat baru FK980. Perusahaan membuka seleksi kru untuk penerbangan perdana: satu kapten operasional, dua pilot pendamping bergiliran, awak kabin senior, dan tim teknis khusus.
Keira mendaftar sebagai calon first officer.
"Pendaftaranmu diterima," kata Kapten Hendra sambil menyerahkan jadwal. "Empat hari teori sistem, dua sesi simulator, uji CRM, lalu pemeriksaan medis tambahan. Semua nilai menggunakan kode peserta sampai tahap wawancara akhir."
"Siap, Kapten."
"Jangan pikirkan rumor. Jangan pikirkan siapa yang menonton. Terbangkan data di depanmu."
Keira mengangguk.
Sheila Gunawan berdiri di meja sebelah. Pilot itu pernah bertemu Keira dalam beberapa pelatihan lintas divisi, tetapi mereka tidak pernah dekat. Sheila dikenal cepat memahami sistem dan tidak suka berada di posisi kedua.
"Kamu ikut juga?" tanyanya.
"Iya."
Sheila memandang dua liontin Cloud di leher Keira, lalu jadwal di tangannya. "Semoga penilaian kode benar-benar anonim."
"Kalau kamu meragukan sistem, sampaikan ke pengawas. Kalau kamu meragukan kemampuanku, lihat hasilnya nanti."
Sheila tersenyum tipis. "Itu rencananya."
Ujian teori dimulai dengan sistem listrik, hidraulik, batas performa, dan prosedur abnormal. Keira belajar sampai tengah malam di meja makan apartemen. Kai membuat kopi, menguji kartu pertanyaan, dan sengaja memberi jawaban salah agar Keira memaksanya menjelaskan.
"Kalau satu saluran data penerbangan gagal?" tanya Kai.
"Gunakan sumber pembanding, cek pesan sistem, ikuti daftar abnormal, jangan menebak."
"Kalau pacarmu minta ditemani tidur?"
"Tolak. Itu tidak ada di manual FK980."
"Manualnya buruk."
Keira melempar penghapus. Kai menangkapnya sambil tertawa.
Di kantor, Kaizan menerima laporan seleksi tanpa nama peserta. Dia hanya melihat kode, nilai, dan catatan penguji. Ketika Moreno menunjukkan hubungan kode dengan identitas, Kaizan menutup dokumen itu.
"Buka setelah hasil dikunci."
"Bos tidak penasaran?"
"Aku tahu dia mampu. Aku tidak mau seorang pun berkata hasilnya berubah karena aku."
Pada sesi simulator pertama, Keira mendapat skenario cuaca buruk setelah lepas landas dan kegagalan satu layar utama. Dia membagi tugas dengan jelas, mengonfirmasi sumber data cadangan, dan tidak terburu-buru kembali sebelum bobot serta cuaca memenuhi batas.
Sheila menjalani sesi setelahnya. Nilai tekniknya sangat tinggi, tetapi penguji mencatat satu koreksi karena dia terlalu cepat mengambil alih komunikasi dari rekan simulasi.
Di ruang debrief, Sheila mengetahui Keira tidak mendapat koreksi serupa.
"Kamu selalu setenang itu?" tanyanya.
"Tidak. Aku hanya panik setelah pesawat berhenti."
"Jawaban aman."
"Jawaban jujur."
Persaingan mereka membuat keduanya belajar lebih keras. Tidak ada sabotase, hanya jarak tajam antara dua orang yang sama-sama ingin membuktikan diri.
Hari terakhir, NusAir mengadakan pengarahan penutup di auditorium. Pak Kaizan hadir sebagai direktur utama. Kacamata gelap kembali menutup sebagian wajahnya.
"Alasan kali ini apa?" bisiknya kepada Moreno sebelum naik panggung.
"Tim komunikasi mengatakan lampu auditorium memicu migrain, Bos."
"Minggu lalu kamu bilang alergi lensa kontak."
"Karena itu alasan baru."
"Suatu hari kamu kehabisan penyakit."
"Semoga identitas Bos terbuka sebelum itu."
Sebelum pengarahan, seluruh kandidat telah melewati pemeriksaan medis tambahan. Sampel obat diambil dengan label, dua tanda tangan, dan rantai penyerahan baru setelah percobaan Revan. Tidak ada tas pribadi yang boleh masuk ruang pengambilan. Hasil Keira bersih, sekaligus menutup celah terakhir fitnah tentang stimulan yang ditanam di lokernya.
Uji CRM dilakukan dengan pasangan yang ditentukan acak. Keira dipasangkan dengan teknisi penerbangan yang belum pernah bekerja dengannya. Dalam skenario tekanan bahan bakar, teknisi itu melihat selisih angka tetapi ragu menyela karena penguji memainkan peran kapten senior yang dominan.
"Sampaikan semua keraguan," kata Keira. "Jabatan tidak membuat data berubah."
Ketika teknisi menunjukkan perbedaan antara indikator utama dan perhitungan cadangan, Keira meminta pemeriksaan silang sebelum mengambil keputusan. Mereka menemukan masukan sensor yang tidak konsisten dan memilih kembali ke bandara keberangkatan dengan margin aman.
Pada debrief, penguji bertanya mengapa Keira memberi ruang pada anggota tim yang lebih junior.
"Karena kecelakaan tidak peduli siapa yang pangkatnya paling tinggi," jawabnya. "Kalau seseorang melihat risiko, tugas saya membuatnya cukup aman untuk bicara."
Jawaban itu mendapat nilai tertinggi pada aspek kepemimpinan kru.
Sheila mendengar nilainya dan belajar sampai ruang teori hampir tutup. Pada sesi berikutnya, koordinasinya membaik tajam. Dia tetap berada sedikit di belakang Keira, dan kenyataan itu membuat sikap kompetitifnya semakin keras.
Keira menyambut persaingan itu selama tidak ada yang menyentuh keselamatan atau kejujuran penilaian.
Keira duduk di baris ketiga. Dari jarak tersebut, garis rahang Pak Kaizan kembali terasa mengganggu karena mirip seseorang yang tidur di ruang sempit apartemennya. Namun jas, pengamanan, dan sikap dingin di panggung membuat gagasan itu terdengar mustahil.
Kapten Rizal berdiri di sisi panggung bersama Kapten Hendra. Dia pernah terbang dengan Kaizan bertahun-tahun lalu dan mengenali cara pria itu mengamati layar skor.
"Kandidat K-17 bagus," katanya pelan.
"Hasil belum dibuka," jawab Kaizan.
"Saya bicara dari rekaman simulator. Dia mirip kamu."
Kaizan menoleh sedikit. "Dalam hal apa?"
"Tidak mengejar terlihat berani. Hanya mengejar keputusan yang benar."
Moreno menyembunyikan senyum di balik tablet.
Hasil akhir dikunci oleh tiga penguji dan disahkan kepatuhan. Baru setelah tanda tangan digital selesai, kode peserta dibuka.
K-17 adalah Keira Liem.
Nilai gabungannya 94,6. Sheila berada di urutan kedua dengan 93,9. Selisih itu datang bukan dari kemampuan teknis dasar, melainkan koordinasi kru dan disiplin komunikasi.
Kapten Hendra mengumumkan hasil di depan auditorium.
"First officer untuk penerbangan perdana FK980 adalah Keira Liem."
Tepuk tangan terdengar. Keira menutup mulut dengan satu tangan. Selama beberapa detik, seluruh perjuangan sejak pembebastugasan, pemeriksaan medis, dan penerbangan pertama setelah kembali berkumpul menjadi tekanan hangat di matanya.
Dia berdiri dan membungkuk kepada tim penguji.
Sheila ikut bertepuk tangan, tetapi rahangnya kaku. "Selamat. Di penerbangan berikutnya, aku akan menang."
"Aku tunggu," jawab Keira.
Pak Kaizan menyerahkan sertifikat tanpa menyentuh tangannya lebih lama dari protokol.
"Selamat, Bu Keira. Hasil ini milik Anda."
Suara itu membuat Keira menatapnya lebih lama. Di balik kacamata, Kaizan menahan kebanggaan agar tidak berubah menjadi tatapan seorang kekasih.
"Terima kasih, Pak Kaizan."
Daftar publik hanya menampilkan posisi Keira dan kru yang sudah dikunci. Nama kapten operasional masih berada di berkas terpisah karena jadwal penerbangan harus disesuaikan dengan pemeriksaan akhir.
Keira mengira itulah satu-satunya hal yang belum diumumkan.
Dia tidak tahu manajemen juga menyiapkan agenda khusus pada upacara pembukaan setelah penerbangan, agenda yang akan mengubah cara seluruh perusahaan memandang Pak Kaizan dan laki-laki bernama Kai.