SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 – Armada yang Hilang
Di ruang kendali ESS Horizon, alarm berbunyi.
Semua layar berubah merah.
Niko terus menatap radar.
"Dua puluh tiga objek telah keluar dari hyperspace."
"Jarak?" tanya Darius.
"Tiga ratus ribu kilometer."
"Identifikasi."
Niko menjalankan pemindaian.
Beberapa detik kemudian nama-nama mulai muncul.
Ruangan mendadak sunyi.
"ESV Pioneer."
"ESV Atlas."
"ESV Helios."
"ESV Orion."
Satu demi satu nama kapal muncul di layar.
Semuanya adalah kapal ekspedisi yang selama puluhan tahun dinyatakan hilang.
Leo menelan ludah.
"Mereka..."
"...masih ada."
Rina menggeleng.
"Itu belum tentu."
"Kenapa?"
"Yang kita lihat baru identitas kapalnya."
"Bukan awaknya."
Di bawah Pos Observasi Tujuh, Kapten Idris menerima laporan itu melalui komunikasi.
"AURA."
"Hubungkan kami dengan kapal."
"Sambungan berhasil."
Suara Darius langsung terdengar.
"Kapten."
"Kami sudah mengidentifikasi semuanya."
"Benar dua puluh tiga kapal?"
"Benar."
"Pioneer juga ada."
Idris terdiam.
Padahal mereka sebelumnya telah menemukan bangkai Pioneer.
Kael ikut mengernyit.
"Itu tidak mungkin."
Di ruang kendali, Owen memperbesar gambar dari teleskop jarak jauh.
Seluruh kru memperhatikan.
Dua puluh tiga kapal perlahan mendekat.
Namun bentuknya membuat semua orang merinding.
"Kapal-kapal itu..."
"...utuh."
Tidak ada bekas ledakan.
Tidak ada kerusakan.
Bahkan lampu navigasinya masih menyala.
Reza mendengar laporan itu melalui komunikasinya.
"Kalau Pioneer masih utuh..."
"...yang kita temukan sebelumnya apa?"
Tidak ada yang mampu menjawab.
Dr. Sofia tiba-tiba berbicara dari Zona Inti.
"Kapten."
"Ya?"
"Coba tanyakan satu hal."
"Tanyakan apa?"
"Apakah nomor registrasinya sama."
Niko segera memeriksa.
Beberapa detik kemudian ia menjawab.
"Berbeda."
"Berbeda?" ulang Darius.
"Nama kapalnya sama."
"Tapi nomor registrasinya berbeda."
Ruangan kembali hening.
Kael memandang Sofia melalui layar komunikasi.
"Kau pernah melihat hal seperti ini?"
Sofia menggeleng.
"Tidak."
"Tapi Elias pernah menulis tentang..."
Ia berhenti sejenak.
"...kapal bayangan."
"Kapal bayangan?" tanya Lyra.
"Itu hanya istilah."
"Dalam catatannya..."
"...Elias menulis bahwa sinyal mampu membuat salinan."
"Salinan apa?"
Sofia menggeleng.
"Itu yang tidak pernah dijelaskan."
Di ESS Horizon, Leo tiba-tiba membesarkan volume sensor.
"Ada transmisi."
"Dari siapa?" tanya Rina.
"Dari armada itu."
"Putar."
Suara statis memenuhi ruangan.
Krrrttt...
Krrrttt...
Kemudian terdengar suara seseorang.
"Di sini..."
Suara itu terputus.
"...ESV Pioneer..."
Darius langsung berdiri.
"Itu bahasa standar PPM."
Suara itu kembali terdengar.
"Jika ada yang menerima..."
"...jangan dekati kami."
Semua terdiam.
Suara itu terdengar lemah.
Seolah berasal dari tempat yang sangat jauh.
Transmisi berlanjut.
"Kami kehilangan..."
Suara kembali terputus.
"...kendali."
Lalu terdengar suara lain.
Lebih banyak orang.
Mereka berbicara bersamaan.
Tidak jelas.
Seakan puluhan orang sedang mencoba menggunakan saluran komunikasi yang sama.
Leo segera menurunkan volume.
"Terlalu banyak gangguan."
Tiba-tiba AURA mengeluarkan peringatan.
"Perhatian."
"Dua puluh tiga kapal mengubah arah."
Niko memperbesar radar.
"Tujuan mereka?"
Beberapa detik kemudian jawabannya muncul.
"Mereka tidak menuju ESS Horizon."
"Lalu ke mana?"
AURA menjawab,
"Mereka bergerak menuju Pos Observasi Tujuh."
Di bawah tanah, Adrian langsung memucat.
"Tidak..."
Sofia menoleh.
"Kau tahu apa artinya?"
Adrian mengangguk perlahan.
"Kalau mereka datang ke sini..."
"...berarti penghalang benar-benar melemah."
Kapten Idris menatap peta yang ditampilkan AURA.
Dua puluh tiga titik cahaya bergerak perlahan mendekati Pos Observasi.
Kecepatannya tidak tinggi.
Namun mereka datang bersama-sama.
Seolah dipanggil oleh sesuatu.
Di dalam kapal misterius, pilar kristal kembali menyala.
Suara tenang itu berkata,
"Konfirmasi diterima."
"Gelombang pertama..."
"...telah tiba."
Kalimat itu membuat bulu kuduk seluruh kru berdiri.
Karena bagi sistem kuno tersebut...
kedatangan dua puluh tiga kapal bukanlah kejadian yang tidak terduga.
Melainkan...
bagian dari sesuatu yang telah diperkirakan sejak awal.