Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalung
Saat istirahat, lagi-lagi Nara berjalan ke belakang perpustakaan. Dia ingin mencari bukti atau petunjuk di sana. Dalam kepalanya, ia kembali teringat ucapan maminya, kalau HP adiknya tidak ditemukan di lokasi itu. Tapi entah kenapa, perasaan Nara bilang kalau HP itu mungkin saja terlempar ke suatu tempat sampai akhirnya tidak ditemukan siapa pun.
Nara celingak-celinguk ke belakang, memastikan tidak ada orang yang mengikutinya. Setelah merasa aman, dia menatap ke bawah, menyusuri sekitar dengan mata yang teliti, berharap ada sesuatu yang bisa membantunya.
"Ayo dong, kasih gue apa pun deh buat mudahin penyelidikan gue," gerutunya pelan.
Ia kembali menatap sekeliling. Sampai akhirnya, matanya berhenti pada sebuah CCTV yang terpasang tidak jauh dari sana.
"Aaaissshhh, benar kan ada CCTV," gumamnya sambil mendongak. "Tapi gue kok kurang percaya, ya, kalau rekaman CCTV itu benar-benar hilang?"
Nara masih menatap kamera itu beberapa saat. Lalu, pikirannya bergerak cepat.
"Mungkin di atas ada petunjuk," ucapnya.
Tanpa menunggu lama, Nara langsung berlari menuju tangga yang berada di belakang perpustakaan. Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan napas sedikit memburu. Sesampainya di atas, ia berjalan pelan ke arah tepi, matanya kembali menelusuri sekitar, mencari benda apa pun yang mungkin tertinggal atau terjatuh di sana.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.
Di dekat salah satu sisi lantai, ia menemukan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang terbelah. Pada bagian hati itu, ada huruf N yang terukir kecil.
"Ini kan punya gue," gumam Nara pelan.
Dia masih ingat betul kalung itu. Tangannya perlahan mengambil kalung tersebut, lalu membuka liontin hatinya. Dan benar saja, di dalamnya ada sebuah foto kecil. Foto dirinya bersama Naya saat mereka masih berusia tiga tahun.
Mata Nara langsung menatap foto itu dengan nanar.
"Naya..." ucapnya lirih.
Dadanya terasa sesak. Jari-jarinya menggenggam kalung itu semakin erat.
"Maafin ya, gue baru pulang ke Indonesia pas lo udah koma. Maafin gue," bisiknya pelan.
Namun belum sempat ia tenggelam lebih lama dalam pikirannya, tiba-tiba sebuah suara cowok terdengar dari arah belakang.
"Woi!"
Nara langsung menoleh cepat. Matanya menangkap sosok Niel yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Niel saat sudah berada cukup dekat.
Nara langsung memasang wajah kesal. "Lo ngapain sih di sini? Nguntit gue, ya, lo?"
"Dih, enggak lah. Gue emang sering ke sini. Bahkan sampai malam pun gue juga ada," jawab Niel dengan nada sewot.
Nara menyipitkan mata, menatapnya curiga.
"Lo pasti mau nyari gue, kan?" lanjut Niel dengan percaya diri.
Nara langsung mencibir. "Ogah. Kayak enggak ada kerjaan aja."
Saat berbicara, mata Nara sempat melirik ke kanan dan ke kiri. Lagi-lagi, ia menemukan CCTV lain di sekitar tempat itu.
"Percuma ada CCTV kalau pas ada yang berbuat kriminal malah enggak ada gunanya," gumam Nara dalam hati.
"Lah, terus lo ngapain di sini?" tanya Niel lagi, masih penasaran.
"Kepo lo kayak Dora. Udah lah, gue mau pergi. Bye!" ucap Nara cepat, lalu berbalik meninggalkan tempat itu.
Niel hanya menatap punggung gadis itu dengan alis terangkat.
"Aneh," gumamnya pelan. Beberapa detik kemudian, bibirnya malah membentuk senyum tipis. "Tapi gue suka."
Sementara itu, Nara menuruni tangga dengan langkah cepat. Mulutnya masih saja berceloteh sendiri.
"Kalau enggak ada tuh cowok, kayaknya gue masih bisa lanjutin penyelidikan gue," gerutunya kesal.
Sampai di perbelokan, tanpa sengaja Nara menabrak seseorang. Tubuhnya langsung terdorong mundur. Sialnya, posisi kakinya tidak terlalu siap, sehingga ia hampir saja terjatuh ke belakang.
Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, cowok yang tadi ia tabrak langsung menahan pinggangnya dengan satu tangan.
Jarak mereka menjadi terlalu dekat. Nara bisa melihat jelas pahatan wajah cowok itu yang hampir sempurna, bahkan merasakan deru napas hangat yang menerpa wajahnya. Untuk beberapa detik, mereka sama-sama terdiam.
Sampai akhirnya Nara tersadar lebih dulu.
"Ih, lepasin gue!" ucapnya sedikit panik.
Alden yang baru sadar dengan apa yang ia lakukan langsung menggeser tangannya. Namun karena terlalu tiba-tiba, Nara malah jatuh terduduk ke lantai.
"Aduh! Kok lo lepasin sih? Sakit bokong gue!" protes Nara sambil meringis.
Sedangkan Alden hanya berdeham canggung.
"Ekhm."
Nara menatapnya kesal sambil berusaha berdiri. "Woi, Alden, lo budek apa, hah? Dengar enggak yang gue bilang?"
Alden menatapnya datar. "Kan lo yang nyuruh lepasin."
"Ya kan bisa lepasinnya sambil bikin gue enggak jatuh juga kali!" balas Nara tidak mau kalah.
Alden masih menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Emang lo siapa?"
Nara langsung menegakkan tubuhnya dengan percaya diri. "Gue? Gue Elnaya Bellarose Valenzia," jawabnya sambil memperlihatkan bros seragamnya.
Alden menatap bros itu sebentar, lalu kembali menatap wajah Nara. "Gue juga tahu."
Jawaban santai itu sukses membuat Nara emosi.
"Dih, kan lo yang nanya tadi. Gimana sih?" ucapnya kesal.
Beberapa detik mereka hanya berdiri diam di sana. Suasana terasa canggung, tapi Nara berusaha tetap terlihat biasa saja.
"Lo ngapain dari sana? Ke atap kan lo? Mau ngerokok?" tuduh Alden tiba-tiba.
Mata Nara langsung melotot. "What?! Hello, gue enggak segabut itu, keles. Dan gue enggak akan pernah melakukan apa pun yang merugikan diri gue, termasuk merokok. Ew, that’s so not me, okay?"
Alden tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Nara dengan wajah datarnya seperti biasa.
Nara menyipitkan mata, lalu menunjuk Alden asal. "Mungkin lo yang ngerokok."
"Enggak kerjaan gue," jawab Alden santai.
Nara terdiam sesaat, seolah sedang mencari celah untuk membalas. Tapi sebelum ia sempat bicara lagi, Alden kembali bertanya.
"Terus lo ngapain berdiri di sini?"
Nara langsung mengangkat alis. "Lah, lo juga. Ngapain masih berdiri di sini?"
"Gue mau keliling," jawab Alden singkat.
"Oh, mau ngepet, ya?" celetuk Nara asal.
Alden langsung menatapnya tajam. Melihat ekspresi cowok itu, Nara malah terkekeh kecil.
"Hehehe, bercanda. Gue pergi dulu. Bye, ganteng!" ucap Nara dengan gaya centil sambil memberi kiss bye.
Alden menegang di tempat. Ia hanya bisa menatap punggung Nara yang mulai menjauh dari sana.
"Sinting tuh cewek," gumamnya pelan, lalu melanjutkan perjalanannya.
Sementara itu, Nara justru berbelok dari arah sebelumnya. Bukannya benar-benar pergi jauh, dia malah masuk ke toilet perempuan. Langkahnya terburu-buru, tapi tetap berusaha terlihat biasa saja supaya tidak ada yang curiga.
Setelah memastikan keadaan di dalam toilet cukup sepi, Nara segera mengeluarkan ponselnya dari saku. Jemarinya bergerak cepat mencari salah satu kontak, lalu menekan tombol panggil. Dia menunggu beberapa detik sambil sesekali melirik ke arah pintu, takut ada orang yang tiba-tiba masuk dan mendengar pembicaraannya.
Tidak lama kemudian, panggilannya tersambung.
"Halo," ucap seseorang dari seberang sana.
"Halo, ini gue, Nara," jawab Nara pelan, tapi terdengar cukup serius.
"Nara? Mont?" ucap orang itu, terdengar sedikit terkejut.
"Yes, it’s me," jawab Nara.
"Ada apa? Tumben?" tanya orang itu lagi.
Nara menarik napas pelan. Wajahnya yang tadi masih terlihat santai kini berubah jauh lebih serius.
"Gue butuh bantuan lo," ucap Nara dengan nada rendah.
***
Follow IG dan tiktok aku yaa buat liat visual mereka nantinya : @faayepey