Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31.Diam-diam Menyukai
Setelah segala keraguan dan jarak perlahan runtuh, tumbuhlah sebuah perasaan yang lembut namun mendalam — rasa suka yang dipendam dalam diam. Tak ada yang mengucapkannya terang-terangan. Tak ada yang berani menyatakannya secara langsung. Namun setiap tatapan mata, setiap perhatian kecil, dan setiap getaran hati menyampaikannya lebih lantang daripada kata-kata. Mereka berdua sama-sama diam-diam menyukai satu sama lain, menyimpannya rapi di sudut hati yang paling dalam, dan menjaganya agar tetap bersih dari keraguan.
Anisa adalah yang pertama kali menyadari perasaannya sendiri. Ia menyadari bahwa setiap pagi langkah kakinya terasa ringan begitu mengetahui akan segera berpapasan dengannya. Bahkan sebelum melangkah masuk ke gerbang sekolah, bayang wajah Kenzo sudah terbayang di benaknya — senyum samarnya, tatapan lembutnya, dan suara rendahnya yang selalu mampu menenangkan hatinya. Saat tak terlihat seharian, hatinya terasa sepi dan rindu yang tak beralasan. Namun begitu melihat sosoknya muncul di kerumunan, jantungnya seketika berdebar kencang dan wajahnya tak kuasa menahan rona merah yang menjalar. Anisa menyadari betul: ia menyukainya. Namun ia memilih menyimpannya dalam diam. Bukan tak ingin diketahui, melainkan karena rasa itu terasa begitu suci dan berharga, sehingga takut jika diucapkan akan merusak keindahannya. Cukup ia yang mengetahuinya, cukup hatinya yang merasakannya. Dan diam-diam pun sudah cukup baginya.
Begitu pun dengan Kenzo. Yang dulu tak pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam hatinya, kini tanpa sadar telah menyerahkan kuncinya kepada Anisa. Setiap kali bekerja atau berjalan, matanya selalu diam-diam mencari keberadaan gadis itu. Saat tertawa, hatinya ikut berbunga bahagia. Saat sedih atau lelah, hatinya ikut terasa berat dan tak tenang. Ia menyukai segala hal tentang Anisa — senyumnya yang tulus, keberaniannya yang tenang, kelembutan hatinya yang tak terlihat dari luar, dan caranya menatap dengan tatapan yang seakan memahami isi hatinya tanpa perlu banyak bicara. Kenzo pun memilih diam. Ia menyimpannya rapi di dalam hatinya, tak menyampaikannya kepada siapa pun, bahkan kepada Anisa sendiri. Ia berpikir: belum waktunya. Biarlah tumbuh perlahan dalam diam, biarlah teruji oleh waktu, hingga kelak saat benar-benar siap, ia akan mengucapkannya dengan segenap ketulusan hatinya.
Maka terjadilah hal yang begitu indah namun penuh penahanan itu — dua hati yang saling menyukai, namun sama-sama memilih untuk tak mengatakannya. Saling memperhatikan diam-diam, saling menjaga diam-diam, dan saling mendoakan kebahagiaan satu sama lain dalam keheningan yang tak bersuara.
Saat Anisa lelah, Kenzo diam-diam meninggalkan segelas air dan sepotong makanan di dekatnya lalu berpura-pura sibuk. Saat Kenzo sibuk hingga lupa waktu, Anisa diam-diam melipat seragamnya yang sedikit berantakan dan merapikan buku-bukunya di meja. Saat melintas di koridor, mata mereka diam-diam saling mencari dan saling bertemu sejenak, lalu sama-sama memalingkan wajah dengan pipi yang memerah samar namun hati yang berbunga senang. Saat teman-teman menggoda mereka, sama-sama membantah dengan gugup namun di dalam hati justru bersyukur karena seakan dunia mulai menyatukan dugaan yang selama ini mereka simpan sendiri-sendiri.
Suatu sore yang tenang, saat mereka duduk berdampingan seperti biasa dalam hening yang damai, Anisa melirik diam-diam wajah Kenzo yang tampak tenang menatap ke kejauhan. Dalam hatinya ia berbisik lembut: “Aku menyukaimu. Namun biarlah tetap menjadi rahasiaku, sampai hari yang tepat tiba.”
Dan di saat yang sama, Kenzo pun diam-diam melirik Anisa yang duduk di sampingnya dengan wajah yang damai dan cantik disinari sisa cahaya matahari. Dalam hatinya ia membalas bisikan yang tak terdengar itu: “Aku pun menyukaimu. Biarlah kukenangkan hatimu perlahan, hingga kelak aku berani mengucapkannya kepadamu dengan sungguh-sungguh.”
Tak ada kata yang terucap sore itu. Namun di dalam hati mereka berdua saling mengetahui kebenaran yang sama. Bahwa diam-diam menyukai ternyata juga membawa kebahagiaan yang tak kalah indahnya. Karena rasa yang tumbuh dalam diam itu justru menjadi lebih murni, lebih tulus, dan lebih kokoh berdiri. Tanpa perlu diketahui siapa pun, tanpa perlu dibuktikan kepada siapa pun. Cukup mereka berdua yang saling mengetahui, cukup hati mereka yang saling merasakan. Bahwa diam-diam menyukai satu sama lain... adalah awal terindah dari kisah yang kelak akan terukir abadi.
BERSAMBUNG...