NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 – Tongkat yang Memilih Tuannya

Keheningan menyelimuti Gedung Astralis. Cahaya yang sebelumnya memenuhi aula sudah perlahan redup, dan hanya menyisakan kilauan kecil yang masih menari di udara seperti kunang-kunang.

Aurelia berdiri ditengah ruangan dengan napas yang belum sepenuhnya teratur, telapak tangan kirinya juga masih terasa hangat. Ia memandang simbol berbentuk bintang berujung tujuh yang baru saja muncul dipergelangan tangannya. Simbol itu memiliki sinar yang samar, lalu perlahan menghilang dibalik kulitnya.

“Tadi itu apa?” Suara Aurelia menggema di aula yang luas tersebut.

Suara tetesan air dari kolam ditengah ruangan terdengar pelan, perlahan ia melangkah mendekati permukaan kolam. Air yang sebelumnya memantulkan langit penuh rasi bintang itu kini kembali jernih.

Aurelia berjongkok, mencoba menyentuh ujung jarinya ke permukaan air yang berada di kolam, riaknya menyebar membentuk lingkaran. Namun dibalik pantulan wajahnya, sekilas ia melihat bayangan seorang gadis kecil yang tengah tertawa.

Gadis itu mengenakan gaun putih sederhana, di tangannya terdapat sebuah pita biru. Aurelia tertegun melihat apa yang baru saja terjadi, ia mengedipkan kedua matanya berulang kali, kemudian bayangan itu pun lenyap dan permukaan air kembali tenang.

Entah kenapa, dada Aurelia merasa sesak, seolah ada kenangan yang berusaha keluar, tetapi tertahan oleh sesuatu yang tidak terlihat. Sejujurnya, Aurelia merasa sangat penasaran dengan hal yang tengah ia rasakan kali ini, hanya saja semakin ia berusaha untuk mengingatnya, kepalanya akan terasa sakit.

Di luar Gedung Astralis, para professor masih berjaga disana. Tak seorang pun dari mereka yang berani masuk tanpa izin dari Kepala Akademi. Sedangkan Professor Cedric terus mondar-mandir dengan wajah yang penuh kecemasan.

“Ini sudah hampir satu jam, kita harus memastikan murid itu baik-baik saja.” Ucap Professor Cedric dengan nada cemas, namun Kepala Akademi menggeleng pelan.

“Belum waktunya.”

“Tapi…”

“… percayalah.” Kepala Akademi menyela ucapan Profesor Cedric.

Pria tua berjubah putih itu terus memandangi pintu besar Astralis yang berada dihadapannya, tatapannya terlihat begitu dalam.

“Kalau gadis itu diterima oleh Astralis, maka ia akan keluar dengan selamat. Namun jika tidak…” Profesor Cedric menahan napas, ia tidak melanjutkan kalimatnya dan semua orang yang berada disana memahami maksud ucapannya tersebut, karena Gedung Astralis tidak pernah menerima orang yang bukan pemilik takdirnya.

Sementara di dalam Gedung Astralis, Aurelia tengah melanjutkan langkahnya. Dibalik kolam ternyata terdapat sebuah lorong kecil yang diterangi cahaya kristal di sepanjang dinding. Lorong tersebut begitu sunyi, udara didalamnya terasa hangat dan semakin jauh ia berjalan, semakin banyak ukiran kuno yang memenuhi dinding.

Ukiran di dinding menggambarkan langit malam yang dipenuhi oleh rasi bintang. Dibawahnya, terlihat sosok seorang wanita yang mengangkat tongkat sihir ke arah langit, dari tongkat itu keluar ribuan cahaya yang berubah menjadi bintang-bintang.

Aurelia menatap ukiran dinding itu dengan begitu cermat, karena entah kenapa ia merasa jika ukiran serta lukisan disana terasa sangat akrab dengannya. Tangannya perlahan menyentuh ukiran tersebut, seketika seluruh lorong dipenuhi cahaya.

Ukiran-ukiran di dinding mulai bergerak seperti hidup, bintang-bintang di langit batu itu mulai berputar dan wanita dalam ukiran tersebut perlahan menoleh, kemudian menatap lurus ke arah Aurelia, lalu ia tersenyum dan hal itu membuat Aurelia melangkah mundur.

“Itu… hidup?” Tanyanya penuh kebingungan dan dipenuhi dengan keterkejutan. Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, cahaya itu menghilang, ukiran tersebut kembali diam seolah tidak pernah terjadi apapun.

Di ujung lorong terdapat sebuah ruangan kecil berbentuk lingkaran. Disana tidak ada jendela maupun pintu lain, dan ditengah ruangan tersebut hanya terdapat sebuah meja batu yang di atasnya terletak sebuah kotak kayu hitam yang dipenuhi ukiran rasi bintang.

Aurelia mencoba mendekat ke arah kotak itu. Anehnya, kotak itu terbuka sendiri dengan perlahan dan tanpa suara sedikit pun. Didalamnya hanya ada sebuah buku tua, sampulnya berwarna biru tua dengan lambang bintang berujung tujuh.

Buku itu membuatnya penasaran, namun baru saja ia menyentuhnya, buku itu terbuka dengan sendirinya. Halaman-halaman dibuku itu bergerak dengan cepat seakan tengah tertiup angin, dan lembar demi lembar berlalu begitu saja, hingga akhirnya berhenti di satu halaman.

Tongkat telah memilih tuannya. Namun perjalanan baru saja dimulai.

Aurelia membaca kalimat itu berulang kali, ia mencoba mencerna kalimat tersebut. “Tongkat? Memilih tuannya?” Belum sempat ia memahami maksudnya, halaman berikutnya terbuka sendiri.

Di halaman berikutnya kini muncul gambar seorang anak laki-laki dengan rambut hitam dan mata abu-abu. Gambar disana terlihat bahwa anak laki-laki itu tengah menggenggam tangan seorang gadis kecil yang menangis.

Jantung Aurelia kembali berdegup lebih cepat, gambar itu terasa begitu nyata. Namun wajah gadis kecil itu tertutup cahaya, sehingga ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.

“Siapa mereka?” Seketika seluruh halaman kembali kosong. Tulisan dan gambar yang ia lihat tersebut menghilang, buku kembali tertutup sendiri dan ruangan menjadi sunyi lagi.

Di tempat yang berbeda, tepatnya di ruang latihan rahasia akademi, Orion sedang mengayunkan pedangnya. Setiap tebasan menghasilkan cahaya biru yang membelah udara. Gerakan pedangnya sangat cepat, memiliki presisi yang bagus dan tanpa cela.

Ayunan pedang kemudian berhenti, pikirannya sedang tidak bisa fokus dan kini ia menatap kosong ke arah jendela. Bayangan Aurelia terus memenuhi pikirannya. Gadis kecil yang dulu menangis ditengah kobaran api, kini telah tumbuh dewasa.

Gadis itu masih membawa liontin yang sama, senyum yang sama. Hanya saja, ia telah melupakan segalanya, hingga seorang pria tua memasuki ruangan. “Tuan Orion, Kepala Akademi memanggil Anda.” Orion mengangguk singkat.

Orion kembali menyarungkan pedangnya. Sebelum pergi, matanya kembali menatap langit. Di kejauhan, awan mulai membentuk pola menyerupai rasi bintang, pertanda yang tidak pernah muncul selama bertahun-tahun.

“Takdir mulai bergerak.” Gumamnya pelan.

Menjelang sore, pintu Gedung Astralis akhirnya terbuka, seluruh professor disana segera berdiri dengan cepat dan Aurelia terlihat tengah berjalan keluar secara perlahan, wajahnya terlihat pucat, namun matanya memancarkan cahaya yang berbeda dan hal itu langsung membuat Kepala Akademi segera menghampirinya.

“Apa yang kau lihat di dalam?” Aurelia terdiam sebentar saat mendapat pertanyaan tersebut, kemudian ia pun menggeleng pelan.

“Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku hanya merasa tempat itu seperti…” Aurelia menggantungkan ucapannya dan membuat professor disana mendengarkannya. “… rumah.” Katanya akhirnya.

Mendengar penuturan Aurelia membuat Kepala Akademi memejamkan kedua matanya, semua dugaannya semakin kuat, namun ia memiliih untuk menyimpannya sendiri, karena belum saatnya Aurelia mengetahui kebenarannya.

Professor memperhatikan tongkat sihir yang kini tergantung di pinggang Aurelia. Seingatnya, Aurelia tidak memiliki tongkat itu, ketika melihat kristal yang berbentuk bintang dan memancarkan cahaya lembut, ia langsung mengenalinya hingga wajahnya berubah menjadi pucat.

“Itu…” ucapannya menggantung di udara. “.. tongkat Astralis.” Sambungnya lagi dan membuat seluruh professor yang berada disana diam membeku.

Legenda kuno yang mereka dengar itu ternyata benar adanya, tongkat suci itu benar-benar masih ada, dan kini tongkat itu telah memilih pemilik barunya. Di kejauhan, tepatnya dari balik pepohonan, sepasang mata abu-abu memperhatikan semuanya tanpa bersuara—Orion.

Orion memperhatikan mereka dan tersenyum tipis, tangannya masih menggenggam pita biru lusuh yang selalu ia simpan dan ia bawa kemana pun ia pergi. Orion berbalik meninggalkan taman, langkahnya perlahan menghilang di antara bayangan senja.

Sementara itu, Aurelia menatap tongkat yang berada ditangannya. Entah kenapa, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa bahwa perjalanan mencari jati dirinya telah benar-benar dimulai dan tanpa ia sadari, banyak mata yang kini mulai mengawasinya dari balik kegelapan. Bukan hanya mereka yang ingin melindunginya, tapi juga mereka yang telah lama menunggu kebangkitan Pewaris Bintang Terakhir.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!