NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Pandangan Yang melembut!

"Nilam aneh!" cibir Lastri pelan, yang langsung diangguki setuju oleh Ayu dan Laras.

​Namun, Nilam sama sekali tidak peduli. Gadis itu berjalan dengan sangat hati-hati melewati bebatuan sungai yang licin, mendekati barisan ibu-ibu tempat Bude-nya sendiri sedang mengucek kain.

​"Bude, Nilam ikut mencuci di sini, ya," pamit Nilam pelan kepada wanita paruh baya di dekatnya.

​"Oh, iya, Nduk. Sini, kosong," jawab Bude Rasmi ramah.

​Mata Nilam kemudian beralih menatap sosok Dinda yang sedang menunduk, sibuk mengucek pakaian lamanya dengan gerakan yang super asal-asalan karena tidak terbiasa mencuci manual.

​"Mbok, kalau boleh tahu, siapa dia? Apa Nilam boleh berkenalan?" tanya Nilam sopan pada Mbok Ginem.

​"Oh, dia ini namanya Dinda, Nduk," jawab Mbok Ginem cerah. "Dinda, ini namanya Nilam. Dia keponakannya Rasmi."

​Mendengar nama pribadinya disebut, Dinda mendongak. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjulurkan tangan kanannya ke depan dada Nilam, berniat mengajak berkenalan ala anak zaman modern.

​Nilam sontak terpaku, menatap punggung tangan Dinda dengan ekspresi bingung dan kikuk karena tidak familier dengan budaya jabat tangan. Melihat kebingungan gadis desa itu, Dinda tertawa kecil. Dengan gemas, Dinda menarik lembut jemari Nilam, lalu menggenggamnya hangat dan menggoyang-goyangkannya pelan.

​"Aku Dinda," ucap Dinda memperkenalkan diri.

​Nilam tertegun saat telapak tangannya bersentuhan langsung dengan kulit Dinda yang teramat halus—jauh berbeda dengan kulit tangannya yang kasar karena sering bekerja di ladang. Belum lagi suara Dinda yang terdengar sangat merdu di telinganya.

​"Oo-oh... aku Nilam," jawab Nilam terbata-bata, mendadak salah tingkah.

​Dinda memamerkan senyuman paling manisnya. "Salam kenal ya, Nilam... Semoga setelah ini kita bisa jadi teman baik."

​Nilam hanya bisa mengangguk pasrah. Kedua pipinya mendadak merona merah. Di depan gadis sekelas Dinda yang tampak begitu sempurna layaknya putri keraton, Nilam mendadak merasa rendah diri, namun di dalam hati ia merasa senang karena mendapatkan uluran pertemanan yang tulus.

•••••••••••••

Merasa seperti menemukan belahan jiwa dalam wujud teman baru, Dinda dan Nilam menjadi semakin akrab dalam waktu singkat. Sembari mengucek pakaian di atas bebatuan, keduanya asyik bertukar cerita, sesekali menyemburkan tawa renyah yang membuat beberapa ibu-ibu di sekitar mereka ikut tersenyum.

​Namun, karena terlalu serius mengobrol dan bercanda, Dinda menjadi kurang waspada. Ia tidak menyadari kalau arus sungai di bagian tengah mendadak bergerak lebih riak. Kemeja modern miliknya yang diletakkan di atas batu datar tiba-tiba tergelincir, lalu hanyut terbawa arus sungai yang deras.

​"Eh! Eh... Nduk Dinda, pakaianmu palit!* Hanyut itu!" jerit Bude Rasmi histeris sembari menunjuk ke arah hilir.

​Nilam spontan meletakkan kainnya dan mencoba bangkit berdiri untuk mengejar. Namun, lilitan kain jarit panjang yang basah menempel di kakinya membuat pergerakan Nilam menjadi sangat terbatas dan lambat.

​Melihat baju satu-satunya dari dunia modern terancam hilang, Dinda panik bukan main. Tanpa pikir panjang, ia langsung menghambur berlari ke arah hilir sungai sembari satu tangannya mencengkeram kuat bagian atas kemben di dadanya agar tidak melorot ke bawah.

​Nahas, karena pandangannya hanya fokus pada kemeja yang terapung jauh, Dinda salah menapakkan kaki pada permukaan batu sungai yang berlumut. Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

​Tepat sebelum tubuhnya terjerembab jatuh, sudut mata Dinda sempat menangkap sekelebat bayangan hitam yang bergerak sangat cepat dari arah semak-semak tepi sungai. Sosok itu melompat dengan tangkas, berlari menerjang arus demi mengejar pakaian Dinda yang hanyut. Itu... Wira!

​Byurr!

​Tubuh Dinda akhirnya jatuh pasrah ke dalam dekap air sungai yang berarus deras, membuat sekujur tubuhnya basah kuyup.

​Nilam dengan susah payah bergegas menghampirinya. "Dinda! Kamu tidak apa-apa toh?" tanyanya cemas, lalu dengan sigap membantu Dinda untuk bangkit berdiri tegak kembali.

​Dinda terbatuk kecil, mengusap wajahnya yang basah dari terpaan air. "Enggak apa-apa, Nilam... Tapi bajuku, bajuku hanyut..." jawab Dinda dengan nada lemas dan sepasang mata yang berkaca-kaca menatap ke arah hilir.

​Namun, saat Dinda mendongak memandang ke depan, langkah kakinya mendadak terkunci. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

​Dari arah riak air yang setinggi pinggang, sosok Wira berjalan tegap melangkah mendekatinya. Seluruh tubuh pria itu sudah basah kuyup, memamerkan lekuk otot dada dan perutnya yang tercetak jelas di bawah siraman matahari pagi. Di tangan kirinya, ia menggenggam erat kemeja milik Dinda, sementara tangan kanannya memegang tombak buruan.

​Dinda terdiam seribu bahasa, mendadak lupa cara bernapas. Visual Wira saat ini benar-benar terlampau mempesona. Rambut pendeknya yang basah tampak meneteskan sisa-sisa air sungai, turun melewati rahang tegasnya yang kokoh.

​Ganteng banget, Ya Tuhan! Ini mah visualnya sekelas aktor film laga! jerit Dinda histeris di dalam hati, wajahnya mendadak terasa panas.

​Wira berhenti tepat di depan Dinda yang masih mematung. Dengan gerakan pelan, pria itu mengulurkan kemeja yang berhasil diselamatkannya.

​Dinda mengerjapkan mata, lalu dengan tangan gemetar menerima baju tersebut. "Terima kasih banyak, Wira..." ucap Dinda lirih, langsung menundukkan kepala karena tidak kuat menatap mata elang pria itu.

​"Lain kali, hati-hati..." sahut Wira dengan suara beratnya yang rendah.

​Entah hanya perasaan Dinda saja atau bukan, namun sepasang mata yang biasanya menatap datar dan dingin itu kini tampak melunak, memancarkan binar kelembutan yang sangat tipis sebelum akhirnya ia berbalik badan.

​Dinda perlahan mengangkat wajahnya. Matanya terus bergerak tanpa berkedip, menatap lurus pada punggung tegap Wira yang berjalan kembali menuju bagian atas sungai untuk melanjutkan aktivitas berburunya dengan tombak di tangan.

​"Dinda!"

​Panggilan setengah berbisik dari Nilam seketika mengejutkan Dinda, membuyarkan seluruh lamunan indahnya. Dinda menoleh cepat dan mendapati Nilam sedang menyenggol lengannya sembari memamerkan senyuman usil yang sangat menggoda.

​Merasa skandal "curi-curi pandang"-nya tertangkap basah oleh sang sahabat, Dinda langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Wajah cantiknya seketika memerah padam seperti kepiting rebus, mengundang senyum tertahan dari Mbok Ginem yang melihat mereka dari kejauhan.

1
Wahyuningsih
makin segu aja thor..... klau up jgn lma2 thor tk enak menunggu dikau bestari 😅😅 upnya yg buanyk thor n hrs tiap hri sehat sellu jga keshtn tetp💪💪💪 n makaciiiiih tuk upnya
Yulianti Amiruddin
lanjutkan Thor ceritax lgi ini🤣🤣
sasa adzka
😂😂😂 ngadi ngadi ne si othor mah.. ada emang beda dimensi saling bercakap mana jiwa nya pada di mana itu semu😂😂😂 tapi its ok ko.. bagus, keren cerita nya... 😍😍😍 lanjutkan lagi ya up nya kak😍😍😍
Ummanya Hil_Ziy: 😄Haha lucu ya. aku yang buatpun tertawa terbahak-bahak....😊
total 1 replies
Anita Rahayu
yg panjang thor nulisnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anita Rahayu
double up dan panjang thor ceritanya soalnya bagus dan menarik👍👍👍👍👍👍👍
Chen Nadari
y0 double up thorr
sasa adzka
thor jangan sampai lu bikin si dinda kagak bisa karate ya.. zaman ketinggalan kaya ini harus lebih pinter pinter loh karena dia dari zaman modern😍😍😍
semangat ya up trus 😍😍😍
sasa adzka
eh eh eh😄😄😄😄😄 nikah dulu secara adat thor😂😂😂 langsung terkam aja ne si wira
sasa adzka
😄😄 cuci mata tiap hari ya din.. kali aja bisa di pegang otot otot perutnya😂😂😂
sasa adzka
baru mampir Thor...
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍
Ana Putri
semangatt nulis nya thor 😍
Ana Putri
keren
Chen Nadari
di tanggu up nya Thorr
Ratmi Yati
di tunggu update terbaru your
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
waaaah mantap dpt ruang dimensi
Wahyuningsih
q mampir thor
Irmha febyollah
kapan update nya kk
Ummanya Hil_Ziy: Dari Tempatku jam 9 ya kakak. Tungguin Updatenya ya, Insyaallah bakal seru😊🙏
total 1 replies
Cahi Rama
bab nya terlalu sedikit kak tambah lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!