kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Nyai Lara menoleh kearah suara keras itu, di seberang dia melihat seorang lelaki berbaju putih.
"Petapa tak tahu malu rupanya" ejek Nyai lara.
"Apa hak mu mengatakan jika dia milikmu??" tanya nyai lara tak suka.
"Banyak omong!!"
Petapa muka dua langsung melesat dan menyerang nyai lara. Tangan Petapa muka dua sudah berubah merah karena dialiri energi besar.
Wajah nyai lara kaget melihat serangan mendadak yang di lancarkan Petapa muka dua. Tapi nyai lara tak tinggal diam, dia bersiap menahan serangan dari Petapa muka dua.
"Bammmmmmm!!"
Dentuman keras terdengar saat dua energi bertemu di udara, tangan dari Petapa muka dua ditahan oleh nyai lara.
"Akkhhhhhhhhhhh!!"
Nyai lara menjerit keras karena kalah dalam adu kekuatan tenaga. Tubuh nyai lara terlempar jauh dan baru berhenti setelah menabrak sebatang pohon besar.
"Apa kau masih ingin mencoba? kalau masih penasaran, ayo kita lanjutkan!" tantang Petapa muka dua.
"Bedebah! sial!!" rungut nyai lara karena kesal mangsanya diambil orang.
Nyai lara menyeka cairan merah yang keluar dari hidungnya. Itu menandakan jika nyai lara mengalami luka yang tak bisa dipandang remeh
"Sebelum kau membawanya, apa alasan mu menolong bocah itu? Selama ini aku dan kau tak pernah ada silang sengketa," tanya nyai lara tak mengerti alasan Petapa muka dua membantu Jaka Srenggi.
"Asal kau tahu, dia kemari untuk mencariku, Dia akan jadi murid ku!" jawab Petapa muka dua.
"Apa? Kau akan mengangkat seorang murid? Kabar yang cukup mengagetkan" desis nyai lara yang tak menyangka jika Petapa muka dua akan mengangkat seorang murid.
"Baik, aku mengalah, aku akan memberi muka untukmu! Tapi aku harap setelah ini tak ada silang sengketa antara kita." pinta nyai lara.
"Aku tak akan pernah berurusan dengan mu, tapi kau juga harus berjanji untuk tak mengganggu murid ku ini. Bagaimana??" tanya Petapa muka dua.
"Aku janji tak akan pernah mengganggu dia" jawab nyai lara yang jengah harus berhadapan dengan Petapa muka dua.
"Aku akan membawanya."
Petapa muka dua mengangkat tubuh Jaka Srenggi dan membawanya ketempat tinggalnya.
Petapa muka dua membawa Jaka Srenggi kedalam sebuah gua ditengah tebing di sebuah jurang di gunung kemelut, gua itu sangat tersembunyi, itulah penyebab utama Jaka Srenggi tak menemukan keberadaan Petapa muka tua.
"Aku tak menyangka kau akan mencari ku bocah. Ternyata kita berjodoh juga."
Senyum mengambang terlihat di wajah Petapa muka tua.
Dia memeriksa tubuh Jaka Srenggi, wajah Petapa muka dua berubah menjadi pucat saat mengetahui dalam tubuh Jaka Srenggi telah tertanam sebuah racun ganas.
"Bagaimana mungkin? Racun ini milik cadar hitam! Bagaimana mungkin bocah ini masih bertahan?"
Petapa muka tua bergerak cepat dan menotok aliran dalam tubuh Jaka Srenggi, dia mendudukkan Jaka Srenggi dan memberikan totokan di bagian tubuh vital Jaka Srenggi.
Saat dia memeriksa perut Jaka Srenggi kembali dia kaget bukan kepalang.
"Bocah ini sangat beruntung! Dari mana dia mendapatkan mustika api naga? Aku tak menyangka jika murid ku akan memiliki salah satu mustika paling di cari. Ternyata mustika itu yang membantunya bertahan hidup, tapi cahayanya semakin redup itu artinya racun itu semakin kuat."
Tangan dari Petapa muka dua kembali bergerak cepat.
"Huakkkkk!!"
Jaka Srenggi memuntahkan cairan kental berwarna hitam pekat.
"Belum ... Ini belum cukup. Aku harus mengeluarkan semua racun di tubuhnya, jika tidak itu akan membahayakan dan menganggu aktivitas tubuhnya."
Ternyata batas kekuatan manusia tetap ada batasnya, Jaka Srenggi sudah dalam batasannya, meskipun mustika api naga terus menahan racun kalajengking tapi itu hanya sementara.
"Aku harus secepatnya membuat penawar dari racun itu." ucap Petapa muka dua.
Petapa muka tua menotok aliran di tubuh Jaka Srenggi, membuat pergerakan racun kalajengking terhenti.
Petapa muka tua keluar dan mencari bahan untuk obat bagi Jaka Srenggi, dia bergegas melawan waktu, jika terlambat maka nyawa Jaka Srenggi akan dalam bahaya. Tak akan ada yang akan mampu menyelamatkan nyawa Jaka Srenggi jika terlambat.
Petapa muka tua kembali dan di tangannya telah ada sebuah bubung bambu berisi ramuan obat untuk mengobati Jaka Srenggi. Petapa muka tua mendudukkan Jaka Srenggi, dia meminumkan ramuan itu, dan mendesak membantu dengan energinya, semua ramuan obat itu masuk ke tubuh Jaka Srenggi.
Racun kalajengking mulai beraksi karena merasa ada sesuatu yang ingin memusnahkan nya. terjadi hal yang tak lumrah di tubuh Jaka Srenggi.
"Akkkkkkkk!" jerit Jaka Srenggi.
"Bertahanlah bocah. Aku yakin kau bisa bertahan." ucap Petapa muka dua yang kasihan melihat kesakitan dari Jaka Srenggi.
Untuk sementara tubuh Jaka Srenggi sedikit tenang. Petapa muka dua membalut leher Jaka Srenggi yang terluka karena cakaran dari nyai lara.
Tubuh Jaka Srenggi tiba-tiba bergetar hebat, seperti terjadi benturan keras di tubuhnya, secara perlahan keringat mulai keluar dari pori-pori pemuda malang itu. Tapi keringat yang keluar itu bukan keringat biasa, tapi keringat yang bercampur dengan warna hitam.
Ramuan buatan Petapa muka dua mendesak racun kalajengking untuk keluar, dan racun itu keluar melalui pori-pori di seluruh tubuh Jaka Srenggi.
Dengan penuh kasih sayang Petapa muka dua membersihkan semua cairan yang keluar dari tubuh Jaka Srenggi, cairan hitam itu keluar cukup banyak.
"Aku tak menyangka cadar hitam meracuni bocah sekecil ini! Apa masalah bocah ini dengan cadar hitam ya? Aku yakin cadar hitam ingin menyiksa bocah ini sampai mati." gumam Petapa muka dua.
Akkkkkkkk!!"
Rintihan Jaka Srenggi menahan sakit. Bagaimana tak sakit, sesuatu di paksa keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya.
Setelah tak ada lagi cairan hitam yang keluar Petapa muka dua kembali memeriksa tubuh Jaka Srenggi, dan kali ini senyum yang mengembang terlihat di wajahnya.
"Kau sebaiknya istirahat, setelah beristirahat beberapa saat tubuhmu pasti akan pulih. Setelah itu aku akan melatih mu. Meskipun aku bukan guru yang baik, tapi kau akan jadi penerus semua jurus jurus ku." gumam Petapa muka dua dan menatap wajah Jaka Srenggi yang mulai berwarna.
"Kau pasti mengalami hal yang berat, hingga kau memutuskan untuk mencari ku kemari seorang diri. Aku akan menunggumu sadar, barulah aku menanyakan apa yang kau inginkan. Tapi sebelumnya aku akan memberikanmu makan."
Petapa muka dua keluar dari gua dan terbang mencari makanan, makanan untuknya dan untuk Jaka Srenggi.
Bau dari daging yang di bakar membangunkan Jaka Srenggi.
"Aku dimana??" gumam Jaka Srenggi dalam hatinya.
Jaka menoleh arah bau makanan itu, di sana duduk seorang lelaki berbaju putih.
"Kau sudah bangun rupanya." kata orang itu dengan senyum hangat kearah Jaka Srenggi.
"Petapa muka dua!!" desis Jaka Srenggi.