Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Masih Tertinggal
Arhan melepaskan kemeja yang ia kenakan. Matanya tertuju pada Ayu yang sedang asik memainkan ponselnya, tanpa melirik Arhan yang baru saja sampai rumah. Sikap ayu ini sangat berbeda jauh dengan Dira, istri pertama yang sudah Arhan ceritakan itu selalu menyambutnya dengan baik. Ketika Arhan pulang kerja, Dira akan memberinya segelas air minum, membantu melepaskan kemeja serta menyimpan peralatan kantor yang Arhan bawa.
"Sayang...aku haus. Kamu bisa ambilkan minum." Arhan menghempaskan tubuhnya yang terasa sangat lelah itu pada kasur yang empuk. Pekerjaan yang numpuk membuat energinya seperti terkuras habis.
"Mas, aku lagi lemes. Kamu bisa ambil sendiri kan..bandan aku lagi lemes banget," ucap Ayu, dengan tatapan yang tidak beralih dari layar ponselnya yang sedang menampilkan sepatu bermerk.
Tanpa banyak kata Arhan bangkit, ia berjalan pada sudut kamar dan mengambil air disana. Ia pikir apa yang dikatakan Ayu itu benar. Ayu jangan sampai kecapean karena sedang hamil muda, mengandung anaknya.
Arhan kembali dengan segelas air hangat untuk diberikan pada Ayu, "Maaf mas udah nyuruh kamu, padahal kamu lagi hamil muda."
Ayu mengambil segelas air itu dari tangan Arhan, tanpa mengucapkan terimakasih. "Mas liat deh sandalnya bagus-bagus.." Ayu dengan tatapan penuh harap pada Arhan.
Padahal minggu lalu Ayu sudah meminta untuk dibelikan tas branded seharga limapuluh juta, barang demi barang ber merk sudah terpajang sempurna di kamar Ayu dan Arhan, permintaan Ayu itu membuat Arhan tidak bisa menyisihkan uang gajinya. Bahkan tabungan Arhan sering terkuras demi memenuhi keinginan Ayu.
Barang branded itu sudah berderet rapi pada kaca bening, jika dijumlahkan mungkin semua barang itu bisa membeli rumah mewah di Jakarta.
"Mas, aku laper. Kulkas kosong belum kamu isi lagi." rengek Ayu manja.
Arhan mengerutkan alisnya, ia benar-benar capek. Badannya terasa pegal-pegal, biasanya dalam kondisi seperti ini Dira akan memijatnya dengan penuh kelembutan.
"Sayang...mas bener-bener lagi capek.." Arhan mencoba untuk berbicara sehalus mungkin.
"Mas, kamu gak peduli ya sama jabang bayi kita, dari tadi siang perut kau lapar belum diisi apa-apa." Ayu dengan nada suara yang lebih tinggi.
Arhan turun dan melangkahkan kakinya, ia meraih kunci mobil dan jaket tebal. Dalam keadaan tubuh yang begitu lelah dan kurang fit, Arhan tetap harus keluar untuk berbelanja. Kemudian memasaknya untuk Ayu, selama Dira pergi meninggalkan rumah, belum pernah sekalipun Ayu menginjakkan kakinya didapur, jika tidak lelah Arhan akan memasak atau membeli diluar. Kondisi rumah bagai kapal pecah, Ayu tidak pernah sekalipun beberes rumah.
Bukannya Arhan tidak mau memanggil asisten rumah tangga, tapi uang gajinya selalu habis dipakai Ayu, bahkan semua ATM milik Arhan pun diambil alih oleh Ayu.
Cinta memang membutakan segalanya.
Arhan mulai melangkah keluar dari pintu kamar, langkah kakinya terus menuju anak tangga. Namun, tiba-tiba saja Arhan menghentikan pergerakan kakinya. Tubuhnya mematung diambang anak tangga. Sorot matanya tertuju pada keadaan rumah yang sangat sepi, tidak ada kehangatan sama sekali. Sepi, berantakan dan dalam pandangan Arhan rumah luasnya terasa gelap walau diterangi oleh lampu yang terang. Cahaya dirumah itu telah redup.
Arhan membalikan tubuhnya, ia menatap sebuah pintu kamar yang tertutup rapat. Hening, kosong tapi masih menyisakan jejak. Foto pernikahannya dengan Nadhira masih menempel pada dinding kamar Arhan dan Nadhira.
Arhan menatap sendu pintu kamar itu, ada setitik rasa rindu yang berdesir didalam dadanya. Terbayang sekali wajah Dira yang tersenyum dibalik pintu kamar itu, wajah Dira yang selalu ceria.
Namun dengan cepat Arhan menepis semua bayangan itu, menurutnya ia masih terbawa perasaan oleh kepergian ibunya. Dalam pikirannya Arhan merindukan bu Rena, bukan Nadhira istri yang tidak pernah ia cintai.
Sementara di tempat lain, Dira sedang asik bermain bersama Lara, baru dua hari saling kenal tapi Lara sudah nyaman bermain bersama Dira.
Di kamar Lara yang luas, dengan dipenuhi oleh mainan yang mewah dan bagus yang bernuansa pink, Dira dan Lara sedang bermain boneka barbie. Tawa dan canda begitu mengalir diantara keduanya, tawa bahagia Lara yang selama ini menghilang, karena selalu menangis merindukan sosok ibu.
Diambang pintu kamar yang tinggi dan lebar, Bu Mira tersenyum hangat, ia begitu senang melihat tawa Elara yang begitu lepas saat bermain dengan Dira.
Selama ini Lara begitu merindukan sosok ibu, kehadiran Nadhira begitu membuatnya nyaman walau baru beberapa hari mengenal. Apa Nadhira orang yang cocok untuk dijadikan ibu sambung Lara. Sabar, cantik dan keibuan.
Tepat sekali, bahkan dulu Arya sangat menyayangi Dira.
Tapi aku jangan terburu-buru untuk ini, Dira masih terluka oleh mantan suaminya.
Arya ibu sudah menemukan wanita yang tepat untukmu, dia adalah adik kecil yang dulu kamu suka gendong, adik kecil yang air matanya suka kamu keringkan oleh kain bajumu, adik kecil yang sangat kamu sayangi serta adik kecil yang selalu kamu jaga agar tidak terjatuh atau terluka.
Lucuk sekali jika kalian memang berjodoh.
"Bu..." Suara bariton itu tiba-tiba mengagetkan Bu Mira.
"Loh udah pulang lagi? Bukannya?" Bu Mira menatap putranya yang baru pulang dari luar negri.
"Arya gak bilang akan lama, ibu lagi apa disini. Lara gapapa kan?" tanya Arya penasaran.
"Lara bahagia sekarang, dia sudah menemukan orang yang tepat..." Bu Mira menepuk bahu Arya pelan, seraya meninggalkan putranya itu yang sedang memasang ekspresi wajah penuh tanya.
Arya kembali melangkahkan kaki, pandangannya langsung tertuju pada lara yang sedang asik bermain bersama seorang wanita yang sedang membelakanginya.
"Orang tepat?, oh sus baru buat Lara." gumam Arya pelan, senyum tipis menghiasi wajahnya yang sangat tampan.
Arya menyilangkan kedua tangannya didepan dada, ia masih betah berdiri disana, melihat tawa putri kecilnya yang begitu lepas. Tawa bahagia yang sama sekali belum Arya lihat dari putri kecilnya itu.
"Barbie cantik ini tante namain Elara ya, soalnya Barbie nya cantik mirip Lara.."
Arya menarik nafas pelan kemudian kembali melangkahkan kakinya, kedua tangannya ia selipkan pada saku celana. Jas berwarna abu tua masih melekat sempurna pada tubuhnya yang gagah. Duda tampan dengan pesona yang sangat memikat itu mulai mendekat pada posisi Elara dan Dira.
"Lara...papa pulang."
"Papa...."
Deg.
Mas Arya?
Dira masih membeku ditempatnya, bayangan wajah Arya yang masih remaja kini berada pada pelupuk matanya. Arya yang selalu membuatnya tersenyum dengan candaannya.
Dira mengusap dadanya pelan, debaran jantung kini mulai terasa cepat dalam rongga dadanya.
Bersambung