NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:94.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 10.

Malam berikutnya datang lebih cepat dari yang Liora harapkan.

Sejak sore, mansion Dewangga sudah sedikit lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pelayan mondar-mandir mempersiapkan pakaian, sementara Codet dan para pengawal memastikan seluruh pengamanan berjalan sesuai standar.

Liora sendiri baru selesai mandi ketika Mbok Sum mengetuk pintu kamar tamu.

"Nyonya, gaunnya sudah datang."

Ia membuka kotak yang dibawa Mbok Sum. Di dalamnya terdapat gaun panjang berwarna biru tua yang elegan tanpa terlihat berlebihan.

"Keren juga."

"Itu pilihan Tuan Keivan."

Liora langsung mengangkat alis. "Bocah itu memilih baju?"

"Semua pakaian Tuan Keivan dipilih sendiri sejak umur empat tahun."

"......" Liora memutuskan tidak ingin membahas keanehan keluarga ini lebih jauh.

Menjelang malam, Liora akhirnya keluar dari kamar. Gaun berwarna biru tua membalut tubuhnya dengan elegan dan nyaman dipakai. Saat dia menuruni tangga, beberapa pelayan yang sedang bekerja sempat menoleh dengan tatapan kagum.

Mbok Sum tersenyum puas. "Cantik sekali, Nyonya."

"Terima kasih, Mbok."

Lalu suara decakan kagum seseorang terdengar.

"Waaah...!"

Dewangga berdiri membeku di dekat sofa. Matanya membesar, bahkan boneka anjing yang sejak tadi dibawanya hampir terjatuh dari pelukan.

"Liora..."

"Apa?"

"Cantik... kayak putri." Tatapan Dewangga sama sekali tidak mengandung maksud lain, murni kekaguman sederhana seperti anak kecil yang melihat sesuatu yang menurutnya sangat indah.

“Aku juga tahu kalau aku cantik, jadi jangan terlalu terkejut begitu.” Liora lalu mengedipkan mata pada Keivan. “Tuan muda, terima kasih untuk gaunnya.”

Keivan mendengus pelan. Ternyata, selain galak dan blak-blakan, Liora juga cukup narsis.

“Kalian berdua juga ganteng. Kalau pakai jas begini, wajah kalian benar-benar mirip.” Liora mengangkat jempolnya.

Dewangga langsung bertepuk tangan sambil tertawa senang karena dipuji tampan. Sementara Keivan hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi, meski sudut bibirnya nyaris terangkat.

Tak lama kemudian, beberapa mobil hitam sudah berjajar di depan mansion. Keivan masuk lebih dulu ke salah satu mobil. Setelah itu, Dewangga dan Liora menyusul masuk ke mobil yang sama.

"Jadi, kita mau ke mana?" tanyanya saat melihat semua orang bersiap masuk ke mobil.

"Rumah utama, tempat Kakekku tinggal," jawab Keivan singkat.

Liora mengangkat alis. “Jadi... anggota keluarga besar kalian tinggal terpisah-pisah?”

"Iya, hanya kakek yang tinggal di rumah utama. Keluarga Salendra punya beberapa properti, Mansion ini hanya salah satunya."

Perjalanan berlangsung hampir empat puluh menit. Sepanjang jalan, Dewangga terus memegang gaun Liora. Awalnya Liora mencoba melepaskannya, tapi beberapa saat kemudian pria itu kembali memegangnya. Dan seperti biasa, Liora kembali menyerah.

Ketika mobil memasuki kawasan elit di pinggir kota, pemandangan di luar jendela mulai berubah. Gerbang besi besar menjulang tinggi, terlihat pengamanan yang berlapis. Jalan pribadi yang panjang, dan di ujungnya berdiri sebuah mansion megah yang bahkan beberapa kali lebih besar dibanding Mansion milik Dewangga. Lampu-lampu taman menyala indah di sepanjang jalan, puluhan mobil mewah sudah terparkir di halaman depan.

Liora sampai terdiam beberapa saat. Matanya menatap lurus ke depan, terpaku pada kemegahan yang berdiri megah di hadapannya. Untuk sesaat, ia bahkan lupa harus berkata apa.

“Ini rumah atau istana...” Liora sampai ternganga, tatapannya menyapu bangunan megah di hadapannya, dan decak kagum lolos begitu saja dari bibirnya.

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama. Begitu turun, Liora langsung melihat banyak orang keluar masuk mansion tersebut. Pria-pria berpakaian formal, wanita-wanita dengan gaun mahal. Dan beberapa anak muda yang terlihat seusia dua puluhan, semuanya berasal dari keluarga besar Salendra. Dan hampir semua mata langsung tertuju pada mereka saat Dewangga turun dari mobil.

Liora seketika menyadarinya, tatapan itu bukan tatapan hangat sebagai keluarga. Sebagian adalah tatapan penasaran, dan sebagian lagi terlihat meremehkan. Bahkan ada yang tampak kecewa hanya karena melihat Dewangga masih berdiri di sana dalam keadaan hidup.

Tanpa sadar, Dewangga bergerak mendekat ke arah Liora. Pria dewasa dengan wajah polos itu bersembunyi sedikit di belakang perempuan itu, persis seperti yang ia lakukan kemarin saat menghadapi Tuan Besar.

"Liora... banyak orang."

Liora menatap satu persatu orang-orang itu, sebagian besar wajah yang hadir malam ini kemungkinan sudah tidak diingat lagi oleh Dewangga setelah kecelakaan.

"Tenang saja, ada aku. Kalau ada apa-apa, Dewangga boleh pegang bajuku."

Dewangga langsung mengangguk senang, pria itu sudah menarik gaunnya lagi.

Mereka pun berjalan memasuki mansion utama. Dan begitu pintu besar itu terbuka, beberapa anggota keluarga Salendra yang sudah lebih dulu berkumpul di aula utama langsung menoleh ke arah mereka. Suasana mendadak hening, karena pewaris utama keluarga Salendra telah datang. Namun pewaris itu bukan lagi pria hebat yang mereka kenal dulu. Melainkan seseorang yang kini memiliki kemampuan berpikir seperti anak berusia lima tahun.

Dan di aula utama, Tuan Besar duduk di posisi utama. Begitu melihat Keivan datang, beberapa orang langsung tersenyum ramah. Namun senyum mereka berbeda saat memandang Dewangga. Senyuman itu terlalu dibuat-buat, seolah-olah sedang melihat seseorang yang sudah selesai dengan hidupnya dan tak akan bisa bangkit lagi.

Liora sama sekali tidak menyukai mereka. Bahkan beberapa orang langsung berbisik, Liora menangkap suara-suara yang membicarakan Dewangga sebagian.

"Itu Dewangga."

"Kasihan."

"Sayang sekali."

"Dulu sehebat itu."

"Benar-benar jadi idiot sekarang."

"Keivan." Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun mendekat. Tubuhnya tinggi, dan wajahnya mirip Dewangga. Kemungkinan dia adalah salah satu adiknya—pamannya Keivan.

"Paman Rafael." Keivan menjawab sopan.

Rafael lalu menatap Dewangga. "Halo, Kak."

Dewangga langsung bersembunyi di belakang Liora, seperti ketakutan. Rafael tersenyum canggung, rupanya Dewangga masih mengingatnya. Dan mungkin bukan kenangan yang menyenangkan.

Tak lama kemudian seorang wanita mendekat, perhiasannya berlebihan. Parfumnya sangat menyengat, dan ekspresinya membuat Liora langsung tidak suka pada wanita itu.

"Oh, jadi ini wanita yang dipilih Keivan?"

Wanita itu menatap Liora dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya terang-terangan, seolah sedang menilai sebuah barang.

1
Rahmat
keren keren keren❤️
Muft Smoker
ayoo keivan Kpn lgi km menyimpan semuanya ,, sebelum terlambaat mending terbuka ma alya tentang perasaan mu
ρυтяσ kang'typo✨
salah satu dari kalian memang harus jujur biar tidak ada salah paham di antara hubungan ini... masa iya sudah nikah bebarapa bulan masih canggung aja kan g enak🤣🤣🤣kapan unboxing'y weeeeh
ρυтяσ kang'typo✨: weeeeh... 😄😄😄
total 2 replies
Anbu Hasna
itulah kenapa aku selalu mencoba buat anak2ku tetap main meski dunia bilang harus belajar, umur sekian harus bisa ini, umur sekian harus bisa itu. anak-anak itu main biar bisa peka, bukan sekedar main.
keivan kecil udah disuru mikirin perusahaan bapaknya, gedenya ya jadi begitu
ρυтяσ kang'typo✨
ayoo Kei ungkapkan perasan mu pada istri'y, masa iya udah lama jadi suami istri masih gitu aja
ρυтяσ kang'typo✨
makasih banyak ya ka ada bonus part'y
ρυтяσ kang'typo✨
Yaaaa Keisa mau punya ade🤣🤣jauh sekali ka tuh perbeda'n tahun'y
Rita
tuh sadar ayo semangat mengejar cinta istri💪😁
Rita
antara g peka sm mgkn g nyangka Keivan bkln ada rasa
Rita
wah Kei awas tuh🚨😅
Rita
duh Kei kmu lbh parah dari daddymu awas jgn sampai nyesel
Rita
curhat sm mmmu atau daddymu
Rita
hhhmmmmm🥰
Muft Smoker
semangat keivan jgn sampai km terlambat ,, ketika Alya sudah lelah ,, km baru menyadari apa yg perlu km lakukan sebenarnya sebagai suami ,,
tinie
keivan harusnya kamu belajar dari papa
bagaimana dulu papa mencintai mama Liora
bukan saat dgn mama Aluna lebih banyak diamnya sehingga kehilangan
TPI buatlah Alya merasakan sangat di cintai entah dgn kata kata maupun berbuatan
tinie
wah ada extra part😁😁
Rita
waahhh bakalan seru 🥰🥰🥰
Rita
waduh anak ke 3nya jauuuuhhhhhhh amat perbedaan usianya 😂
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀: nanti dikira nya ank kei🤣
total 2 replies
ρυтяσ kang'typo✨
mantan g dibuang pada tempat'y Marissa 🤣🤣semoga langgeng yaaa
ρυтяσ kang'typo✨
sungguh psikopat itu mah....kejahatan'y tak termaafkan hukum karma tunggu aja akan datang menghampiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!