Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Pagiku cerah
matahari bersinar
kugendong tas merahku dipundak
Seperti lagu yang disenandungkannya dengar sangat ceria. Senyum manis yang senantiasa menghias bibir mungilnya. Hawa berangkat sekolah dengan semangat dan ceria. Lagi duduk santai di bawah pohon dengan membaca buku pelajarannya tiba-tiba Hawa dikagetkan dengan nada dering Ponselnya.
Mamah is calling....
"Assalamu'alaikum mah"
Hawa sangat gugup karena ini pertama kalinya Mamahnya kak Hasby telfon dirinya. Sejak malam pemaikaian cincin itu, Hawa diminta memanggil mamah, sama seperti Hasby memanggilnya.
"Wa'alaikumsalam Hawa, nanti pulang sekolah main kerumah ya! Mamah kangen sama kamu, nanti bareng Hasby aja." ucap Mamah kelewat semangat. Padahal Hawa sudah panas dingin takut ketahuan teman-teman dan pihak sekolahnya.
"Insyaa Allah mah, kalau tidak merepotkan kak Hasby" Hawa mencoba menjawab dengan tenang. Tanpa disadarinya, Hasby memandangnya dari laintai 3. Tanpa bertanya dia sudah tahu juka yang menghubungi Hawa adalah Mamanya. Karena dia sudah dipesan sang Mama meminta Hasby mengajak Hawa pulang kerumah. Beliau berkata kangen dengan Hawa. "Huuuft" dirinya menghela nafas agak keras.
"Tidak nak, tadi Hasby sudah mama kasih tahu kalau kamu mama suruh main kerumah. Jadi tenang aja ya, kalau Hasby nggak mau, cepat telfon mama." ucap panjang lebar mamah dengan senyum yang hangat. "ya sudah selamat belajar Hawa, mama tunggu ya nak" ucapnya lagi setelah mengucap salam dan memutus sambungan telfon tersebut.
Hawa menghela nafas pelan. d
Dia merapikan buku dan segera masuk kelas. Karena bel sudah berdering.
Ting
1pesan diterima
Hawa segera membuka gawainya tersebut dan membaca cepat.
Nanti tunggu dihalte depan
Benar-benar orang yang kaku,cuek,irit pula. Gak cuma di dunia nyata, di gawai aja super irit. Kira-kira begitulah isi dalam hatinya Hawa. hehehe.
Tanpa berniat membalasnya, Hawa langsung mematikan gawai dan memasukkannya ke kantong rok seragam. Membereskan buku-bukunya dan bergegas masuk kelas.
Hari ini dia kesepian karena Asrina izin tidak masuk sekolah. Jadi selama waktu istirahat dia berkunjung ke perpustakaan, membaca buku membuat dia senang. Sampai seseorang menepuk pelan pundaknya menggunakan pensil.
"Waktu istirahat sudah habis, kembali kekelas sana!"
"Astaghfirullah" Hawa mengelus dadanya. Mendongakan kepala cepat dan pandangannya bertemu dengan netra hitam milik Hasby.
Deg...
"Kaaakkk" pekikan Hawa tertahan. Bibir Hasby terangkat sedikit, lalu kembali menetralkan ke mode datar lagi.
"Balik kelas sekarang!"
"i,, iya kak" Hawa beranjak membereskan bukunya dan bergegas menuju kelas. "kenapa dimana-mana ada kak Hasby, heran" gumam dalam hatinya. Sedikit jengkel,sedikit senang karena sering ketemu.
***
Waktu belajar telah usai. Seperti biasa Hawa menuju halte untuk menunggu Hasby. Ditengah-tengah jam pelajaran tadi Hasby mengirim pesan kalau pulang agak terlambat karena ada rapat Osis dadakan. Setelah mengirim pesan pada Hasby, Hawa melipir masuk ke warung bakso disamping halte. Saking laparnya dia tidak menghiraukan sekelilingnya. Sampai suara yang dikenalnya memesan bakso.
"Pak, tolong bakso pakai mi kuning 1 porsi ya"
Kepalanya menoleh cepat, ternyata Hasby duduk bersama anggota Osis yang lain. Heran, katanya rapat tapi ,,, ya sudahlah. Pikir Hawa. Melanjutkan makan baksonya dengan tenang hingga tandas. Setelah membayar Hawa keluar dan menunggu di halte.
Tak lama anggota Osis keluar dari warung bakso dan pulang kerumah masing-masing. Hasby berjalan menuju mobilnya setelah memanggil Hawa. Hawa mengikutinya berjarak lima langkah dibelakang Hasby.
Mereka masuk kedalam mobil dengan tenang. Hawa yang merasa lelah dan kenyang ditambah kena ac membuat matanya mengantuk. Akhirnya tertidur dengan pulas. Hasby yang merasa Hawa tidak bersuara dari tadi melirik sekilas. Melihatnya tertidur membuat Hasby geleng kepala. Enak sekali dia, setelah makan kenyang terus tidur. Benar-benar.
Mobil berhenti pelan dihalaman rumah besar yang luas dan indah. Hawa masih setia tertidur. Hasby keluar terlebih dahulu dan melihat sang Mama berjalan menghampirinya. Senyum hangat tergambar diwajahnya.
"Mana menantu Mama By?" tanyanya pada anak laki-lakinya tersebut.
"Tidur mah"
"Haah, tidur?" Mamah kaget tapi tersenyum gemas. Lucu sekali sambil melihat kedalam mobil.
"Mah, baru calon mah, belum menantu" Hasby menambahkan sambil ngeloyor masuk kerumah.
Lelah setelah seharian ini, membuat Hasby buru-buru mandi. Setelah selesai dia turun dari lantai atas dan menghampiri mama yang asyik bercerita dengan Hawa. "udah bangun ternyata"gumamnya pelan.
"Oiya By, nanti hari minggu anterin mamah, Hawa dan Ibunya ke butik ya?!" perintah mama semangat. Sambil tersenyum sama Hawa.
"Kok tiba-tiba mah? Mo ngapain?" keningnya berkerut.
"Mau lihat-lihat baju sekalian pesen buat kalian pakai nantinya" ujar Mama santai.
"Tapi Mah,," Hasby menyahuti sang Mama. Hawa terdiam dan menundukkan pandangannya.
"Udah pokoknya nanti kamu siap buat anterin Mamah." lanjut Mamah tegas.
Tak terasa saking asyiknya berbincang dengan mamah dan sesekali Hasby menanggapinya. Tapi lebih banyak diam menjadi pendengar bagi mama dan Hawa. Waktu sudah menjelang maghrib, Hawa melirik jam di gawainya.
"Maaf Mah,, Hawa pamit ya, sudah mau maghrib. Mungkin lain waktu bisa ngobrol lagi " ujarnya tenang dan tersenyum hangat.
"Baiklah nak, terimakasih ya sudah mau menuruti permintaan mama untuk main kesini. Mama sangat senang bisa ngobrol denganmu.. Oiya tunggu sebentar" papar mama lekas berdiri dan melangkah ke dapur, entah apa yang diambilnya.
"Ini bawa pulang. Buat kamu dan Ibu. " sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Hawa.
"Terimakasih mah, Hawa pulang mah." ujar Hawa dan menarik tangan mamah pelan , salim lalu mencium tangan wanita paruh baya itu.
"Sama-sama nak. Biar diantar Hasby!" mamah melihat Hasby yang masih setia duduk dan memainkan gawainya. Otomatis mendongakkan kepalanya memandang Mama. keningnya berkerut samar.
"nggak usah mah, Hawa bisa pulang sendiri" Hawa merasa tak enak dengan Hasby dan Mama.
"nggak ada penolakan, Hasby tolong antar Hawa pulang!" tegas Mama.
"iya Mah, ayo" Hasby berucap datar dan langsung memasukkan gawai ke kantong celananya. Berjalan lebih dulu mengambil kunci di laci meja yang biasa untuk menyimpan kunci kendaraan.
Hawa mengikutinya pelan beriringan dengan Mama yang ikut mengantar sampai teras depan rumah. Setelah salim dan berpelukan singkat dengan Mama, Hawa berjalan menuju mobil Hasby. Setelah duduk dengan nyaman, mobil mulai berjalan pelan keluar pagar rumah orang tua Hasby. Calon mertuanya. Teringat hal itu membuat pipinya seketika merona dan hatinya menjadi hangat. Hawa menggelengkan kepalanya setelah sadar apa yang sempat terlintas dipikirannya. Hasby mengkerutkan kening terlihat bingung dengan tingkah Hawa.
Tak menempuh waktu yang lama untuk sampai ke rumah Hawa. Mereka terdiam selama perjalanan karena entahlah, bingung mau berbicara apa. Mereka tak sedekat itu. Jadi untuk sekedar ngobrol ringan sangat susah dilakukan keduanya.
Setelah sampai di gang depan rumahnya.
"Kak,tolong berhenti disini saja" tiba-tiba Hawa meminta turun di gang depan.
"kenapa tidak sampai rumah?" balas Hasby datar.
"Tidak usah kak, sampai sini saja. Terimakasih"
Hawa langsung membuka pintu dan keluar mobil dengan cepat. Dia segera berjalan setelah memastikan pintu tertutup dan mobil Hasby berjalan pergi. Setelah kepergian Hasby, dirinya pulang dengan santai.
***Tok tok tok***
Suara ketukan pintu terdengar ketika Ibu selesai mengerjakan Sholat maghrib dan mengaji. Ibu membereskan mukenanya dan menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang mengetuk pintu di waktu maghrib.
"Assalamu'alaikum Ibu,, Hawa pulang"
"Wa'alaikumsalam, iya Wa" Jawab Ibu sambil membukakan pintu rumah. Melihat anak gadisnya pulang dengan tentengan ditangannya membuat Ibu bertanya-tanya. "ayo masuk, segera mandi dan sholat wa. Keburu waktunya habis!" lanjut Ibu masuk kerumah.
"Iya Bu, ini dari Mama Bu, tadi Hawa dari sana." jelasnya sambil menaruh bingkisan diruang makan.
"iya nak, terimakasih. Lakukan tugasmu dulu baru nanti kita ngobrol lagi Wa". Sahut sang Ibu lembut.
Tidak menyia-nyiakan waktu lagi, Hawa bergegas mandi dan sholat. Sekalian belajar untuk pelajaran besok pagi. Rutinitas yang selalu dikerjakannya tanpa bosan. Karena memang prioritasnya belajar untuk masa depan yang dicita-citakannya. Karena ia ingin membahagiakan Ibunya, selama ini Ibu banyak berkorban untuk mencukupi kebutuhan rumah dan sekolahnya. sejak Bapak meninggal memang berat tapi Ibu tidak mengeluh walaupun harus bekerja keras. Kadang jadi buruh cuci baju, kadang membersihkan rumah. Dari pintu ke pintu. Begitu berat pekerjaan yang Ibu lakukan. Alhamdulillah sejak bekerja menjadi penjahit didesa tetangga membuat Ibu tidak mengambil cucian ato membersihkan rumah orang-orang. Lagi, ya terkadang masih ada yang meminta bantuan Ibu untuk mengerjakannya.
Melihat semangat Ibu yang tidak kenal lelah itu menyulut api semangat dirinya. Hawa giat belajar dan sesekali membantu Ibunya. Lebih sering dilarang karena Ibu berpesan supaya Hawa belajar belajar dan belajar saja. Biar bekerja menjadi tanggung jawab Ibu.