Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
...Di dalam mobil mewah yang membelah jalanan kota, suasana terasa jauh lebih santai. ...
...Devandra yang duduk di kursi belakang bersama Rizal tiba-tiba merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kacamata hitam berdesain elegan. ...
...Ia mengulurkannya pada pemuda di sampingnya....
..."Ini, kamu pakai," ujar Devandra singkat....
...Rizal menerima kacamata itu dan langsung memakainya. ...
...Ia melihat pantulan dirinya di kaca mobil, lalu terkekeh pelan. ...
..."Keren juga. Kita jadi kelihatan seperti ayah dan anak," celetuk Rizal dengan gaya slengean-nya yang biasa....
...Devandra tidak langsung membalas. Pria itu hanya melirik Rizal dari balik sudut matanya dengan sebuah senyuman tipis bermakna dalam. ...
..."Doakan saja," ucap Devan datar namun mantap....
...Rizal yang menangkap arah pembicaraan itu langsung menoleh kaget. ...
...Matanya membelak di balik kacamata hitam. "Jadi... Om serius mau mengejar Mama?"...
...Devandra menganggukkan kepalanya pelan, mempertegas niatnya yang tak pernah goyah sejak dulu. ...
..."Rahasia kita berdua."...
...Rizal tersenyum lebar, menyenggol pelan lengan pria matang di sebelahnya dengan gaya akrab. ...
..."Siap, Pa—eh, Om!"...
...Sesampainya di kampus, suasana area parkir utama mendadak riuh. ...
...Banyak mata langsung tertuju dan memandang takjub ke arah mobil mewah yang perlahan berhenti di depan gedung rektorat....
...Pintu mobil terbuka, lalu Dev dan Rizal turun dengan langkah yang begitu gagah. ...
...Perawakan tinggi tegap Devandra yang dibalut jas elegan berpadu sempurna dengan gaya karismatik Rizal yang mengenakan kacamata hitam. Sorot aura berkelas dan intimidatif terpancar kuat dari keduanya....
..."Wah, siapa mereka? Tampan sekali!" bisik beberapa mahasiswi yang melintas, tak sanggup mengalihkan pandangan....
..."Bapaknya kelihatan berwibawa banget, anaknya ...
...juga keren parah!" sahut yang lain di tengah bisik-bisik kagum yang memenuhi koridor....
...Tanpa memedulikan tatapan dan bisikan di sekeliling mereka, Rizal dan Dev melangkah pasti menuju ke ruang rektorat....
...Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu mendadak hening begitu pintu dibuka. ...
...Sang rektor beserta jajaran dekan yang sedang rapat di dalam sana sama terkejutnya saat Devandra datang tanpa pemberitahuan. ...
...Mereka langsung berdiri dengan wajah tegang, mengenali betul siapa sosok pemilik maskapai terbesar dan penyokong dana utama kampus tersebut....
..."Pak Devandra? Ada angin apa Bapak berkenan hadir secara mendadak—"...
..."Sudah, tidak perlu basa-basi lagi," potong Devandra cepat dengan suara baritonnya yang berat dan memotong udara. ...
...Tatapan matanya yang setajam elang menyapu seluruh isi ruangan, membuat sang rektor bungkam seketika....
...Devandra melangkah makin dalam, menepuk meja rapat dengan tegas namun berwibawa. ...
..."Sekarang, panggil semua orang yang pernah me-bully putri saya, Sandra! Cepat!!"...
...Dua puluh siswa dan siswi masuk ke dalam ruang rektorat satu per satu dengan langkah gemetar dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. ...
...Ruangan yang luas itu mendadak terasa sesak oleh aura ketakutan yang mencekam....
...Mereka sama sekali tidak bisa menyembunyikan wajah pucat dan rasa cemas saat mata mereka bertabrakan dengan tatapan dingin mematikan dari Devandra, serta tatapan penuh dendam dari ...
...Rizal yang berdiri tegap di sampingnya. Seseorang yang mereka siksa selama ini rupanya memiliki pelindung yang sanggup meremukkan masa depan mereka dalam sekejap....
...Devandra membenarkan posisi jam tangannya, lalu menatap sang rektor dengan raut wajah tanpa ampun. ...
..."Saya minta mulai sekarang, masukkan mereka semua ke dalam daftar blacklist atau kotak hitam. Pastikan surat pemecatan dikeluarkan hari ini, dan pastikan tidak ada satu pun kampus lain di negara ini yang mau menerima mereka."...
...Sang rektor beserta jajaran pimpinan kampus lainnya langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa berani membantah sepatah kata pun. ...
..."Baik, Pak Devandra. Hari ini juga surat pengeluaran mereka akan kami proses secara resmi."...
...Mendengar vonis tersebut, beberapa siswi di barisan depan mulai terisak pelan, sementara yang lainnya tertunduk lemas menyadari karier akademis dan masa depan mereka baru saja hancur total....
..."Ayo Rizal, sekalian kita pergi dari sini," ucap Devandra santai, membalikkan badannya....
...Sebelum melangkah pergi, Rizal menyempatkan diri menatap wajah para pembully adiknya satu per satu dari balik kacamata hitamnya. ...
...Sebuah senyum sinis terukir di bibirnya. ...
..."Ingat wajahku. Kalau sampai ada dari kalian yang berani menyentuh adiku lagi, bukan cuma kampus yang hilang dari hidup kalian," desis Rizal rendah, memberikan ancaman terakhir sebelum melangkah gagah menyusul Devandra keluar dari ruangan....
...Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari kemewahan....
...Suasana di dalam kontrakan sempit tempat Indra bersembunyi terasa sangat panas dan penuh tekanan. ...
...Imelda tanpa henti terus mencecar dan meminta uang kepada Indra untuk memenuhi gaya hidupnya yang biasa mewah....
..."Mas, mana uangnya? Token listrik sudah mau habis, belanjaan dapur juga tidak ada!" tuntut Imelda dengan suara melengking....
...Tak hanya Imelda, Tasya dan Gabriel—dua anak mereka yang terbiasa hidup enak—juga ikut merengek menuntut hal yang sama....
..."Papa! Tasya butuh uang buat beli tas baru dan jalan-jalan sama teman-teman! Malu tahu kalau Tasya kelihatan miskin begini!" keluh Tasya sambil menghentakkan kakinya....
..."Gabriel juga butuh uang jajan, Pa! Mana cukup uang receh kemarin!" tambah Gabriel ikut memojokkan sang ayah....
...Indra yang sudah stres berat akibat diusir Thomas dari rumah dan tabungannya mulai menipis, akhirnya meledak. ...
..."Papa tidak ada uang!!" bentak Indra keras sambil menggebrak meja hingga mereka bertiga terlonjak kaget....
...Melihat kondisi yang makin terdesak, Imelda memutar otaknya cepat. ...
...Tatapan matanya berubah licik. "Mas... ayo kita ke rumah Ratri lagi. Dia kan sekarang dilindungi oleh Devandra yang kaya raya itu. Dia tidak boleh lepas tangan begitu saja atas hidup kita!"...
..."Iya, Pa! Mama Ratri kan dasarnya berhati lembut. Mama harus membawa kita kembali ke rumah megah itu," sahut Tasya bersemangat, membayangkan kenyamanan rumah lama mereka....
...Gabriel yang tak kalah licik langsung memberikan usulan busuk. ...
..."Papa memohon dan berbohong saja di depan Mama Ratri! Katakan kalau Papa sudah tidak bersama Tante Imelda lagi, bilang kalau Papa sudah menyesal. Pasti Mama bakal luluh dan kasihan!"...
...Imelda langsung tersenyum puas mendengar ide putranya. ...
...Ia memegang lengan Indra dengan erat. "Iya, Mas! Gabriel benar. Kamu akting saja menangis dan memohon ampun pada Ratri. Setelah kamu diterima kembali, kita bisa pelan-pelan menguras hartanya lagi!"...
...Indra mengusap wajahnya yang kasar, lalu mengangguk pelan dengan senyum culas yang terukir di wajahnya. ...
...Rencana busuk baru pun mulai mereka susun untuk kembali menjerat Ratri....
..."Ayo, ayo kita kembali ke rumah sekarang! Dan kamu Imelda, untuk sementara pulanglah ke rumahmu. Nanti aku akan menjemputmu kalau Ratri sudah kembali bertekuk lutut di hadapanku," ujar Indra dengan senyum licik yang terkembang lebar di wajahnya....
...Imelda menganggukkan kepalanya setuju, mengumbar senyum puas membayangkan harta kekayaan yang akan segera mereka nikmati kembali....
..."Awas ya Mas, jangan sampai kamu malah terlena beneran sama si Ratri itu. Pokoknya tugasmu cuma bikin dia luluh dan bawa kita semua hidup enak lagi!"...
..."Tenang saja, kamu tahu sendiri kan sejauh mana Ratri bisa dibodohi?" sahut Indra penuh percaya diri, seolah lupa bahwa kali ini ada sosok Devandra yang siap memikul pelindung tak tertembus di sekeliling wanita itu dan anak-anaknya....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒