NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan di Koridor Fakultas dan Badai yang Datang Kembali

Suara bising langkah kaki mahasiswa di koridor lantai dua gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Nusantara terdengar bersahutan. Udara pagi yang sejuk terasa segar, berpadu dengan aroma kertas buku baru dan bau khas cairan antiseptik dari laboratorium lantai dasar. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela-jendela kaca besar, memantulkan bayangan terang di atas lantai marmer yang bersih.

Bagi dunia luar, hari itu seharusnya berjalan seperti biasa rutinitas kuliah pagi, tugas praktikum mikrobiologi yang menumpuk, serta obrolan ringan di kantin mengenai jadwal ujian akhir semester. Namun, bagi Nayara, suasana pagi ini terasa memiliki getaran yang sangat berbeda. Sejak ia melangkah turun dari mobil sedan hitam yang mengantarnya bersama Revan pagi tadi, ada perasaan gelisah yang entah mengapa hinggap di benaknya, mencengkeram dadanya perlahan-lahan.

Nayara berjalan menyusuri koridor berdinding putih krem itu sambil mendekap buku catatan anatomi tebal di depan dadanya. Jilbab navy yang ia kenakan melambai lembut setiap kali ia melangkah. Di sampingnya, Alya berjalan santai sambil menyerot es teh manis botolan yang dibelinya di kantin tadi.

"Nay, kamu kenapa dari tadi kelihatan murung banget? Mikirin tugas mikrobiologi kemarin, ya?" tanya Alya heran, melirik sekilas ke arah sahabatnya yang tampak kurang fokus.

Nayara menggeleng pelan, merapikan letak tas ranselnya. "Enggak tahu, Al. Rasanya perasaanku dari tadi pagi kurang enak. Kayak ada sesuatu yang bakal terjadi, semacam firasat buruk yang susah dijelasin."

Alya terkekeh kecil, menepuk pelan bahu Nayara dengan akrab. "Ah, kamu terlalu stres mikirin ujian semester kali! Udah, nggak usah overthinking terus. Lagian kan sekarang hidup kamu udah jauh lebih aman semenjak Jessica di-drop out permanen dari kampus dan Revan..." Alya sengaja memelankan suaranya di kata terakhir, melirik jahil, "...suami tercinta kamu itu selalu siaga melindungi kamu."

Mendengar nama Revan disebut, pipi Nayara merona merah seketika. Ia mengangguk kecil. Memang benar, semenjak malam di kamar ndalem di mana Revan menunjukkan kesabaran dan ketulusan luar biasa terhadap traumanya, hubungan mereka terasa jauh lebih kuat, hangat, dan intim. Tidak ada lagi jarak canggung di antara mereka; yang ada adalah rasa saling memiliki yang dilandasi oleh ikatan suci pernikahan yang diridhai Allah.

Namun, ketenangan semu itu tidak ditakdirkan bertahan lama.

Langkah kaki mereka mendadak terhenti ketika tiba di dekat area mading utama fakultas. Di sana, sekelompok mahasiswa tampak berkerumun cukup padat, saling berbisik-bisik dengan ekspresi wajah yang penuh rasa penasaran, kehebohan, dan pandangan mencibir.

"Ada apa sih rame-rame di situ pagi-pagi begini?" gumam Alya penasaran, menarik lengan Nayara untuk mendekat ke arah kerumunan.

Nayara yang tadinya ingin menghindari kerumunan terpaksa ikut tertarik mendekat karena tarikan tangan sahabatnya. Saat mereka berhasil menyelip di antara kerumunan mahasiswa yang berdesakan, mata Nayara seketika membelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak untuk sepersekian detik, dan aliran darahnya terasa membeku seketika.

Di papan mading utama fakultas, terpampang beberapa lembar foto cetak berukuran cukup besar yang ditempel secara mencolok di tengah-tengah papan pengumuman. Bukan selebaran pengumuman akademik atau jadwal kuliah, melainkan deretan foto candid berkualitas tinggi yang diambil secara diam-diam.

Foto-foto itu menampilkan sosok Revan suaminya sedang berdiri sangat dekat dengan Nayara di sudut perpustakaan lama kemarin sore. Ada foto saat Revan mengambilkan buku di rak atas, ada foto saat tangan Revan menyentuh pipi Nayara dengan penuh kelembutan, hingga foto saat mereka berdiri berdampingan di lorong sepi kampus dengan latar belakang rak buku klasik.

Deg!

Darah Nayara mendesir naik ke kepalanya dengan cepat. Sekujur tubuhnya mendadak dingin seketika. Seluruh tenaga di kakinya seolah hilang, membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan jika tidak berpegangan pada lengan Alya.

Di sebelah foto-foto tersebut, tertulis sebuah kalimat provokatif dengan huruf kapital yang dicetak tebal dan mencolok:

"MAHASISWA ALIM JADI-JADIAN? KETAHUAN BERMESRAAN DI PERPUSTAKAAN DENGAN GADIS PESANTREN!"

Suara bisikan-bisikan tajam dan sinis dari para mahasiswa di sekitar mading mulai menusuk telinga Nayara, menghujam mentalnya tanpa ampun.

"Wah, gila... ini beneran Revan kan? Anak ekonomi yang kemarin sok alim dan tobat itu?"

"Eh, tapi ceweknya kan Nayara anak kiai yang kemarin sempat bikin heboh kasus Jessica kan? Kok bisa mereka deket banget?"

"Wah, jangan-jangan berita mereka pacaran diam-diam itu beneran ya? Kirain udah beneran insyaf, eh taunya masih suka mojok berduaan di tempat sepi!"

Nayara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata panas mendesak naik ke pelupuk matanya, mengancam akan tumpah kapan saja. Seluruh benteng pertahanan, kerja keras, dan rahasia besar yang selama ini ia dan Revan jaga dengan susah payah kini hancur berkeping-keping dalam sekejap, terpampang telanjang di hadapan seluruh isi kampus.

Alya yang melihat kondisi sahabatnya langsung panik luar biasa. Ia merangkul pundak Nayara erat-erat, mencoba melindungi tubuh mungil itu dari tatapan menghakimi orang-orang sekitar yang terus berbisik-bisik.

"Nay... sabar, Nay. Jangan didengerin mereka!" bisik Alya dengan nada gemetar penuh amarah. "Siapa sih yang tega nyebar foto seliter ini? Sumpah jahat banget kelakuannya!"

Sebelum Nayara sempat merespons atau melarikan diri dari tempat itu untuk mencari tempat bersembunyi, suara derap langkah kaki tegas dan berat terdengar mendekat dari ujung koridor. Suasana kerumunan mahasiswa seketika merendah, mendadak senyap, memberikan jalan bagi seseorang yang sedang berjalan dengan amarah yang meluap-luap di wajahnya.

Saka.

Sahabat karib Revan sesama anak motor itu datang dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyala-nyala penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. Ia berjalan cepat membelah kerumunan, berdiri tepat di hadapan mading, menatap tajam foto-foto tersebut, lalu mengalihkan pandangannya penuh kebencian ke arah Nayara yang berdiri terpaku di samping Alya.

Saka mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih menahan emosi. Selama ini ia adalah orang yang paling percaya bahwa Revan benar-benar telah berubah menjadi pribadi yang jujur, religius, dan meninggalkan masa lalunya yang urakan. Namun, melihat bukti foto perselingkuhan—yang ia sangka sebagai hubungan terlarang di belakang kampus—membuat rasa percaya di antara mereka hancur berkeping-keping seketika.

"Jadi... semua omongan anak-anak tentang kalian berdua selama ini beneran?!" suara Saka menggelegar keras di tengah kesunyian koridor, membuat seluruh mahasiswa terdiam seribu bahasa tanpa berani bernapas terlalu kencang. Ia menatap Nayara dengan sorot mata penuh tuduhan tajam. "Kalian main-main di belakang kita semua? Pantesan aja Revan belakangan ini berubah drastis, sok suci, mondar-mandir di pesantren... taunya cuma buat nutupin skandal murahan kayak gini?!"

"Saka, jaga ucapan kamu ya!" bentak Alya tidak terima, melindungi Nayara yang kini sudah terisak pelan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya terjadi! Jangan asal nge-judge orang kalau nggak kenal duduk perkaranya!"

"Gue nggak ngomong sama lo!" potong Saka tajam tanpa memedulikan Alya, menatap Nayara penuh tuntutan. "Gue mau Revan sekarang keluar dan jelasin semuanya ke depan kita semua! Jangan jadi pengecut yang cuma bisa sembunyi di balik rok perempuan!"

Suasana koridor mendadak berubah menjadi medan perang yang sangat menegangkan. Nayara merasa dunianya runtuh seketika. Rencana mereka hancur lebur, rahasia pernikahan suci mereka terancam terbongkar dalam situasi yang paling buruk, memalukan, dan disaksikan oleh ratusan pasang mata di kampus.

Di tengah kepanikan hebat dan isak tangis Nayara yang semakin pilu, sebuah suara bariton yang dingin, tegas, berat, dan sarat akan ancaman memecah kerumunan dari arah belakang Saka.

"Gue nggak pernah sembunyi, Sak."

Semua kepala sontak menoleh secara bersamaan ke sumber suara. Di ujung koridor, Revan berdiri tegak dengan tatapan mata setajam elang, menatap lurus penuh kemarahan ke arah Saka dan foto-foto fitnah yang tertempel di mading.

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!