NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Kepercayaan

Pintu kamar mandi terbuka pelan, Veyra keluar sambil ngelap rambut pakai handuk. Sekarang langkahnya sudah mulai melambat, kandungannya sudah memasuki usia lima bulan.

"Mas, Zio udah tidur?" Tanya Veyra, ia duduk di depan meja rias.

Alvero yang tengah memainkan tablet, langsung menyimpannya. Berdiri di belakang istrinya. "Udah sayang, dari tadi ngerengek terus nanyain Regan."

Veyra tengah memakai pelembab wajah. "Iya, pasti itu. Zio kan udah lama main bareng Regan terus."

Alvero hanya membuang napas pelan. Keahlian mengajak main anak kecil, Regan memang terlihat lebih bisa dari dirinya.

Tangan Alvero kini membantu mengeringkan rambut Veyra yang masih basah.

"Mas, perut aku gatel," rengek Veyra sambil menggaruk pelan perutnya.

"Bentar ya," Alvero mematikan hair dryer, menyimpannya di atas meja rias. Ia meraih tube cream yang khusus untuk ibu hamil.

Alvero berlutut di hadapan istrinya. Sentuhannya hangat saat mengoleskan cream di permukaan perut istrinya.

Setelah selesai, ia menempelkan pipinya ke perut Veyra. "Hey, jangan bikin mood Mama jelek, ya." Canda Alvero.

"Sehat-sehat, ya sayang. Kami di sini selalu doain kamu. Nunggu kamu." Sekarang jemarinya mengetuknya.

Suara Alvero semakin pelan. "Hey, malam ini... Papa boleh jenguk kamu gak?"

Tangan Veyra refleks menarik rambut Alvero. "Mas," rengeknya.

Tapi tak lama, ada gerakan halus di perut Veyra. Membuat mata keduanya melebar, saling melempar pandangan. Alvero kembali menempelkan pipinya, ia ketawa kecil.

"Nggak sayang, Papa cuma bercanda kok."

Sekarang mereka beralih ke naik ke atas kasur. Lampu sudah di matikan, hanya ada cahaya temaram dari lampu di sudut kamar.

Veyra tidur di lengan suaminya. Ia berusaha tidur lebih cepat malam ini. Matanya hanya terpejam, tapi tidak benar-benar tertidur. Tubuhnya terus mencari posisi yang pas dan nyaman untuk bisa tidur.

Alvero yang menyadari, tangannya langsung ngelus lembut kepala perempuan itu.

"Gak bisa tidur lagi?" Tanya Alvero lirih.

"Hm," jawab Veyra dengan mata tertutup.

Alvero diam sebentar, mencoba memutar otak untuk bisa membuat istrinya bisa tidur nyenyak malam ini.

"Sayang, apa mau aku temenin cari angin?"

Veryra menggeleng. Ia membuka matanya. "Tadi udah sore, ditemenin Mama."

"Terus sekarang kamu mau apa? Yang bikin kamu rileks."

Bibir Veyra mengerucut. "Aku gak tahu, Mas. Udah bosen sama semuanya."

"Gimana kalau nonton?"

Tak ada jawaban, hening beberapa detik. Sampai akhirnya Veyra duduk. "Boleh, Mas." Jawabnya. Karena sudah lama juga Veyra tidak nonton bareng dengan suaminya.

Alvero langsung turun dari ranjang, mengambil smart projector. Setelah memilih film, cahaya projector memantul redup di dinding kamar. Film yang tadi dipilih Alvero terus berjalan, meski sejak beberapa menit lalu perhatian mereka sudah buyar.

Veyra nyender di bahu suaminya. Tangan Alvero melingkar di belakang leher Veyra, samnil terus mengelus rambutnya.

Cemilan buah kering dan yogurt ada di meja kecil depan mereka.

Film berjalan sudah sekitar tiga pulu menit, kepala Veyra perlahan mulai melorot. Napasnya terdengar tenang.

Saat dipastikan Veyra sudah benar-benar terlelap, Alvero menidurkan kepala istrinya ke bantal. Lalu mematikan projector, melipat meja dan merapikan sisa makanan.

Alvero memastikan semuanya rapi kembali, sebelum ia berbaring di sebelah istrinya.

...****************...

Menjelang siang hari itu langit masih pucat, matahari seolah malu-malu untuk menampakkan wujudnya.

Di koridor kantor orang-orang sudah berlalu-lalang. Ada yang berjalan cepat sambil memeluk berkas, ada juga berjalan santai sambil membawa cup minuman dingin.

Dan termasuk Regan, orang yang paling santai. Di tangannya selalu banyak membawa makanan. Wajahnya sedikit datar, rambutnya bahkan acak-acakan.

Langkahnya pelan saat ia menuju ke ruangan Alvero. Tapi sebelum itu, ia melihat keberadaan Alvero di pantry kantor.

Jam istirahat, pantry begitu penuh. Ada yang berbaris depan mesin kopi, microwave, dan lemari pendingin. Suara mesin-mesin saling bersahutan, aroma kopi dan makanan sudah memenuhi ruangan.

Regan berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seisi ruangan. Tapi orang yang ia cari tak ada di sana.

"Regan, nyari siapa?" Tanya salah satu rekannya.

"Alvero, apa dia ada kesini?"

"Nggak ada."

Regan hanya mengangguk, lalu pergi. Kali ini, langkahnya cepat saat melewati lorong menuju ruang kerja Alvero.

Saat tiba di depan pintu, Regan tidak mengetuk keras seperti biasanya. Tapi sekarang dia diam sebentar, seolah ada ragu yang tiba-tiba merayap ke perasannya.

Regan membuang napas panjang, seperti baru sadar kalau ia menahan napas sejak berdiri di sana.

Tangannya terangkat pelan, ketukan halus mulai terdengar. Tidak rusuh seperti sebelumnya.

"Alvero," panggilnya. "Apa kamu sudah makan siang?" tanyanya.

Regan menghentikan ketukannya, telinganya nyaris menempel pada pintu. Menunggu jawaban dari seseorang yang berada di dalam sana.

Tapi belum ada jawaban sama sekali. Akhirnya, Regan kembali mengetuk pintu.

"Alvero, boleh aku masuk. Aku hanya mengantarkan makan siang untukmu." Katanya lagi, sekarang suaranya naik satu oktaf.

"Aku sudah makan siang, Regan. Berikan ke yang lain aja!"

Suara samar itu akhirnya terdengar, tapi jawabannya membuat Regan sedikit kecewa. Setelah sekian lama, baru kali ini Alvero benar-benar menolaknya untuk masuk.

"Jangan bohong, Al. Aku tahu kamu tidak akan makan siang tepat waktu." Jawab Regan, ia tersenyum kecut.

"Alvero, aku tahu kamu kecewa. Tapi dengan kamu bersikap seperti ini, apakah masalah akan selesai?" Regan menyimpan satu tote bag kecil di lantai.

"Di Jakarta, aku hanya percaya sama keluarga kamu, Al. Kalau kamu seperti ini, apa aku harus nyari kepercayaan orang lain lagi? Apa mereka akan setulus keluarga kamu yang tidak memanfaatkanku sama sekali!"

Ia tersenyum tipis. Baginya, mencari teman bukanlah hal sulit. Apalagi dengan status keluarganya. Tapi tidak sedikit juga yang selalu memanfaatkan kebaikan Regan. Karena itu, kepercayaan menjadi sesuatu yang sangat mahal baginya. Dan tanpa sadar, keluarga Alvero sudah menjadi tempat yang paling Ia percaya di Jakarta.

Regan hanya menatap pintu di depannya yang tidak ada pergerakan, atau pun suara kunci yang dibuka dari dalam. Sampai akhirnya Regan menghela napas.

"Alvero, aku kasih ruang buat kamu kecewa. Tapi jangan sampai kamu telat makan, kalau asam lambungmu naik, kamu tidak bisa bekerja. Aku simpan makananmu depan pintu!"

Setelah ucapannya selesai, sekarang Regan benar-benar pergi. Tak lagi menatap pintu itu.

Sementara di dalam ruangan... Alvero tak benar-benar sibuk, ia hanya duduk. Jari telunjuknya terus mengetuk meja. Tatapannya bergantian antara layar laptop dan juga pintu.

"Aku harap kamu bisa benar-benar belajar dari kesalahan ini, Regan!" gumam Alvero.

Setelah beberapa menit, akhirnya Alvero berdiri lalu melangkah menuju pintu. Setelah pintu dibuka, di sana sudah tidak ada siapa-siapa, hanya totebag kecil yang sekarang ada di dekat kakinya.

Alvero berjongkok, mengambil totebag berisi makanan dan minuman.

"Terima kasih," katanya lirih, ia menatap lorong panjang yang sepi. Dan beralih ke totebag di tangannya. Sebelah sudut bibirnya terangkat tipis. "Dasar keras kepala."

Alvero menutup pintu, lalu kembali masuk. Ia duduk di sofa sambil mengeluarkan makanan yang Regan bawa.

Sebenarnya, makan siang kali ini Alvero merasa sedikit sunyi. Karena biasanya, setiap suapan selalu disertai cerita absurd dari Regan.

"Regan, klient itu benar-benar merasa kecewa. Aku takut dia mutusin kontrak kerja samanya. Kalau itu terjadi, artinya... kerja kerasku sia-sia." gumam Alvero pada makanan di depannya. Seolah itu benar-benar Regan. ​

1
Laila Sarifah
Pleaseee jgn sampai lengan vey, Regan itu sebenarnya suka sama kamu😭
james
kira-kira Veyra kenapa yah/Doge/
james
ah Veyra yang tergoda atau Regan /Sly/
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!