Mempunyai Mama yang tidak menyayanginya dan dikhianati oleh sang kekasih disaat lagi sayang-sayangnya membuat Belva memilih menjauh dan hidup sendiri tanpa cinta dari siapa pun.
Siapa sangka, Belva menjadi owner skincare sukses dan kaya raya. Disaat kehidupan Belva sudah sangat sempurna, Belva dipertemukan dengan seorang Tentara yang begitu sangat menyebalkan dan selalu membuat Belva darah tinggi.
Akankah Belva kembali menemukan cintanya? Adakah orang yang benar-benar tulus ditengah-tengah kondisi Belva yang sedang dilanda krisis kepercayaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 Pilih Kasih
Tidak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Hubungan Belva dan Mario pun berjalan dengan sangat manis dan menggemaskan. Bahkan Mario selalu ada untuk Belva saat Belva membutuhkan seseorang.
Sementara itu, Tissa sudah mulai berani kepada Belva bahkan saat Venny dan Bondan tidak ada di rumah sikap Tissa sangat menyebalkan. “Bi, lihat coklat aku gak yang di dalam kulkas ini?” tanya Belva.
“Kayanya tadi diambil sama Tissa,” bisik Si Bibi.
“Apa! menyebalkan sekali anak itu,” geram Belva.
Belva sangat emosi, dia pun segera pergi menghampiri Tissa yang saat ini sedang nonton TV sendirian di ruang TV. Tanpa banyak basa-basi, Belva mengambil kotak coklat miliknya membuat Tissa bangkit dan marah kepada Belva. “Kakak apa-apaan sih, kasar banget,” kesal Tissa.
“Dasar benalu, tidak tahu diri. Ini coklat milik aku, kenapa kamu main ambil saja tanpa minta izin terlebih dahulu? Apa memang kamu sudah terbiasa ngambil barang milik orang!” bentak Belva.
“Apa! Jangan sembarangan kalau ngomong,” sahut Tissa dengan nada tinggi.
Tiba-tiba Venny dan Bondan baru saja pulang dari kantor. Melihat kedua orang tuanya datang, seketika Tissa membuat sandiwara. Dia mengambil tangan Belva dan menamparkannya ke pipi Belva membuat Belva dan keduanya melotot.
“Aw, maafkan aku, Kak,” seru Tissa pura-pura nangis.
“Astaga Belva, kamu apa-apaan!” bentak Bondan sembari memeluk Tissa.
“Belva, kamu sudah berani menampar adik kamu?” geram Mama Venny.
“Sakit Ma, padahal tadi Tissa hanya minta sedikit coklatnya Kak Belva tapi Kak Belva marah dan langsung menampar aku,” adu Tissa dengan air mata palsunya.
Belva tersenyum sinis, dia merasa lucu dengan sikap Tissa. “Dasar kampungan, malah fitnah aku seperti itu,” geram Belva.
Plaaaaakkkkk....
Venny menampar Belva. “Kamu benar-benar sudah keterlaluan Belva, hanya gara-gara coklat kamu menampar adikmu sendiri. Setidaknya kamu berbagi dengan adikmu jangan pelit seperti itu!” bentak Mama Venny.
“Sudah aku bilang, dia bukan adikku. Jangan memaksa aku untuk mengakui dia sebagai adikku karena aku tidak sudi. Satu lagi, aku paling tidak suka barang-barangku ada yang menyentuh jadi mulai sekarang kamu jangan pernah menyentuh apa pun yang bukan milik kamu!” teriak Belva dengan mata penuh amarah.
“Anak kurang ajar,” seru Mama Venny.
Venny hendak menampar Belva kembali tapi Belva bukanya takut, justru dia menantang Mamanya itu. “Mau tampar aku lagi? Silakan, tampar mumpung pipi aku yang sebelah lagi belum Mama tampar biar Mama puas sekalian!” sentak Belva.
“Belva, tolong jangan emosi maaf jika Tissa sudah melakukan kesalahan,” bujuk Bondan.
“Diam kamu! Kamu bukan siapa-siapa di rumah ini, kamu dan anak kamu hanya benalu yang menumpang ingin hidup enak tanpa harus bekerja keras. Semua kekayaan ini milik Papa aku, tapi kalian dengan tidak tahu malunya menikmati semuanya!” teriak Belva.
“Jaga ucapan kamu! Mama akan hukum kamu dengan tidak akan memberi kamu uang saku selama satu bulan!” bentak Mama Venny.
“Terserah, mau selamanya pun aku tidak peduli,” sahut Belva.
Belva segera berlari ke kamarnya, dia mengambil jaket dan ponselnya lalu pergi dari rumah itu. “Belva, kamu mau ke mana?” teriak Bondan pura-pura khawatir.
“Sudahlah sayang biarkan saja, nanti juga dia pulang lagi ke rumah ini,” seru Mama Venny.
Tissa dan Bondan saling pandang satu sama lain, keduanya tersenyum penuh kemenangan. Belva pergi menggunakan taksi menuju rumah Mario. Tidak membutuhkan waktu lama, dia pun sampai di rumah Mario.
Belva menekan bel, dan tidak lama kemudian Mario pun membuka pintu. “Belva,” seru Mario.
Belva berdiri mematung di depan pintu dengan deraian air matanya. Mario melihat pipi Belva memerah, perlahan Mario menyentuh pipi Belva yang memerah itu. “Pipi kamu kenapa?” tanya Mario cemas.
Belva tidak bisa menjawab, hanya air mata yang terus mengalir di pipinya. Mario dengan cepat menarik tubuh Belva ke dalam dekapannya, dia benar-benar merasa kasihan kepada kekasihnya itu. Selama ini dia sering melihat Belva menangis, tapi Mario tidak pernah menanyakan kenapa dan ada masalah apa.
“Masuk yuk!” ajak Mario.
Belva menggelengkan kepalanya. “Tidak, kita ngobrol di luar saja. Gak enak, dilihat orang kalau aku masuk ke rumah laki-laki dan takutnya nanti aku disangka perempuan tidak baik,” sahut Belva.
“Ya, sudah kita ngobrol di sini saja,” ucap Mario.
Belva menghapus air matanya. “Sebenarnya kamu kenapa? Aku sering lihat kamu menangis, cerita sama aku jangan dipendam sendirian. Bukanya aku sekarang sudah menjadi pacar kamu dan kamu harus cerita sama aku apa yang sedang kamu alami,” seru Mario.
Belva cukup lama terdiam, hingga akhirnya dia pun memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Mario. Mario yang mendengar cerita Belva cukup tercengang, ternyata selama ini kehidupan Belva tidak seperti yang dibayangkan oleh Mario. Mario mengira kehidupan Belva sangat sempurna karena dia terlahir dari keluarga kaya.
“Aku benci sama Mama aku sendiri, dia lebih mementingkan anak sambungnya dari pada anak kandungnya sendiri,” lirih Belva.
“Kamu jangan sedih, masih ada aku yang akan selalu ada untuk kamu,” ucap Mario sembari menggenggam tangan Belva.
Belva memang sudah merasa nyaman dengan Mario, tapi dia tidak menceritakan kehidupan dia lebih dalam lagi. Mario tidak tahu jika Belva memiliki sebuah produk skincare karena Belva ingat dengan kata-kata almarhum Papanya supaya tidak memberitahukan semuanya kepada orang lain. Setelah merasa tenang, Mario pun mengantar Belva untuk pulang karena sebentar lagi waktu maghrib.
“Terima kasih ya, kamu sudah mau mendengarkan curhatan aku,” seru Belva disela-sela perjalanan pulang.
“Pokoknya kamu jangan sungkan, kalau kamu butuh apa pun, kamu bilang saja sama aku,” sahut Mario.
Semenjak ada Mario, kehidupan Belva sedikit berwarna. Dia jadi mempunyai teman curhat, teman jalan-jalan, dan teman berbagi. Mario pun sama anak yatim, hanya saja Mario kehilangan Mamanya dan tinggal bersama Papa dan juga kakaknya yang sekarang beda kota dengan dirinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di depan rumah Belva. “Masuklah, jangan sedih lagi dan jangan takut oleh siapa pun. Selama kamu tidak melakukan kesalahan, kamu jangan pernah takut,” ucap Mario.
Belva mengangguk. “Kalau begitu aku masuk dulu,” seru Belva.
“Besok aku antar kamu ke sekolah, jadi kamu tidak usah diantar sama supir kamu,” ucap Mario.
“Ok.”
Belva keluar dari dalam mobil Mario, lalu masuk ke dalam rumahnya. Mario pun segera meninggalkan rumah Belva dan pulang. Sementara itu, Tissa mengintip dari balik kaca.
“Enak banget hidup dia, sudah bergelimang harta dari lahir, sekarang punya pacar ganteng dan kaya juga. Aku harus merebut pacar dia, dan Aku akan buat pacarnya balik menyukaiku,” batin Tissa dengan senyumannya.
Abi...iya pasti Abi bisa selamtin Belva