NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Kerikil di Jalan yang Mulus

Kemegahan menyelimuti kediaman utama dinasti bisnis Al-Fatih malam itu. Rumah bergaya kolonial yang berdiri kokoh di kawasan elit Menteng tersebut tampak padat oleh deretan mobil mewah milik kerabat dekat Ibu Maryam. Agenda malam ini adalah perjamuan keluarga besar guna menyambut kepulangan Tante Sofia—adik kandung mendiang ayah Farhan—yang akhirnya kembali menetap di Indonesia setelah belasan tahun tinggal di London.

Andini berdiri mematung di depan cermin ruang rias tamu, jemarinya sibuk merapikan letak hijab pashmina sutra warna moka yang ia padukan dengan gamis brokat modern bernuansa senada. Penampilannya tampak bersahaja, namun tetap memancarkan kelas tersendiri. Dalam dekapannya, Nadir kecil yang baru menginjak usia tiga bulan tertidur sangat pulas dalam bedongan katun premium.

"Kamu sudah siap, Sayang?" Suara Farhan memecah keheningan saat ia muncul dari balik pintu. Ia mengenakan kemeja batik tulis sutra yang warnanya selaras dengan hijab Andini. Pria itu menyunggingkan senyum hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.

"Insya Allah, Mas. Tapi... jujur aku merasa sedikit gugup. Cerita Ibu kemarin soal Tante Sofia yang cukup tegas terus terbayang," bisik Andini berterus terang.

Farhan mengusap lembut pundak Andini, berusaha menyalurkan ketenangan. "Ada Mas di sisimu, Ndin. Jangan cemas. Keluarga besar kita memang luas, tapi yang menjalani bahtera rumah tangga ini adalah kita berdua. Mari, Ibu sudah menunggu di bawah."

Begitu mereka menuruni tangga menuju ruang makan utama, riuh percakapan yang tadinya memenuhi ruangan mendadak senyap. Belasan pasang mata serentak beralih ke arah mereka. Ibu Maryam yang menyadari kehadiran menantunya segera melambaikan tangan dengan binar wajah yang cerah.

"Nah, ini dia yang kita tunggu-tunggu. Sofia, perkenalkan ini Andini, istri Farhan. Dan ini cucu pertamaku, Nadir," ucap Ibu Maryam dengan nada bangga kepada seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi utama dengan tatapan mata yang tajam dan dingin.

Tante Sofia, sosok perempuan yang tampil begitu necis dengan perhiasan berlian mentereng, tidak segera menyahut. Ia menyesap tehnya dengan perlahan, lalu mengamati Andini dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang membuat suasana seketika terasa canggung.

"Assalamualaikum, Tante," Andini melangkah mendekat, berniat mengulurkan tangan untuk mencium tangan Tante Sofia sebagai bentuk takzim dan adab kesopanan.

Namun, Tante Sofia justru hanya menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, menolak sentuhan Andini secara halus. "Waalaikumsalam. Jadi... ini perempuan yang membuat Farhan sampai hati menolak perjodohan dengan anak rekan bisnis kita di Singapura itu?"

Suara Tante Sofia terdengar renyah, namun terselip sindiran tajam di dalamnya.

"Sofia, jaga bicaramu. Ini perjamuan keluarga, bukan ruang sidang," tegur Ibu Maryam dengan nada yang mulai meninggi demi membela sang menantu.

Tante Sofia terkekeh sumir. "Aku hanya bicara apa adanya, Mbak Maryam. Di London, kabar seputar bisnis menyebar sangat cepat. Aku tahu Nadir Label memang tengah naik daun. Tapi tetap saja, aku terkejut mendapati pewaris tunggal Al-Fatih Group menikahi wanita yang... yah, kamu tahu sendiri, pernah gagal berumah tangga. Ditambah lagi, banyak selentingan miring soal masa lalu pernikahan pertamanya."

Mendengar ucapan itu, rahang Farhan seketika mengeras. Ia melangkah satu senti ke depan, memosisikan dirinya sebagai pelindung Andini di balik tubuh tegapnya. "Tante Sofia, Andini adalah istri sah saya yang saya pilih atas rida Ibu dan rida Allah. Masa lalu istri saya adalah bagian dari hidup saya sekarang, dan kesucian hatinya jauh lebih mulia daripada sekadar buah bibir orang di luar sana. Saya mohon Tante bisa menghargai privasi rumah tangga kami."

"Farhan, kamu baru menikah beberapa bulan saja sudah berani menentang Tante demi perempuan ini?" Tante Sofia beranjak dari kursinya, menatap tajam Andini yang tetap berdiri tenang menggendong bayinya tanpa meneteskan air mata sedikit pun. Andini yang sekarang bukanlah sosok yang lemah; mentalnya telah ditempa badai yang jauh lebih hebat daripada sekadar nyinyiran seorang tante kaya.

"Saya tidak bermaksud menentang, Tante. Saya hanya ingin meluruskan bagaimana adab di rumah ini dihormati," jawab Farhan dengan nada suara rendah namun sangat bertenaga, hingga membuat kerabat lain yang menyaksikan hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Tante Sofia mendengus sinis, lalu melirik ke arah pintu ruang makan saat seorang gadis muda cantik berpenampilan modern baru saja melangkah masuk. "Sudahlah. Kebetulan malam ini aku mengajak Karina, putri sahabat karibku yang baru saja lulus S2 dari Oxford. Dia sengaja datang karena ingin belajar mengenai manajemen properti darimu, Farhan. Kuharap kamu tidak menolak untuk tetap bersikap profesional hanya karena istrimu... cemburuan."

Andini menatap gadis bernama Karina tersebut. Gadis itu melemparkan senyuman manis yang tampak dibuat-buat, sementara matanya menatap Farhan dengan binar ketertarikan yang sulit disembunyikan.

Andini menarik napas panjang di balik ketenangannya. Ia sadar, setelah berhasil meruntuhkan keangkuhan Reno, kini lembaran baru hidupnya bersama Farhan akan menyuguhkan ujian yang berbeda. Bukan lagi soal kemiskinan atau fitnah tentang kesuburan, melainkan tentang cara menjaga keutuhan rumah tangga dari kerikil tajam di lingkaran elit keluarga Al-Fatih.

Andini mengeratkan dekapannya pada Baby Nadir, lalu menatap Farhan yang diam-diam menggenggam jemarinya di bawah meja. Dalam hati, Andini bertekad: Aku tidak akan mundur, Mas. Jika dulu aku hancur karena menyerah, kali ini aku akan bertahan demi cinta dan rida yang telah kita bangun bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!