"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35.Cinta yang mengubah segalanya.
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela, menyentuh lantai kayu tua yang sudah mulai lapuk. Keheningan rumah keluarga Martin yang sederhana tiba-tiba terpecah oleh suara ketukan yang mantap dan beruntun di pintu depan, disertai suara deru mesin kendaraan yang terdengar berat dan asing di telinga siapa pun yang tinggal di lingkungan itu.
Bibi Nora yang sedang sibuk di dapur segera mengelap tangannya pada celemek, lalu berjalan cepat membuka pintu. Matanya seketika membelalak tak percaya. Di halaman rumah yang sempit itu terparkir beberapa mobil besar—mobil truk berisi perabot rumah tangga yang tampak mewah, serta mobil lain yang berisi sekelompok orang berpakaian rapi lengkap dengan perlengkapan kerja dan papan gambar rancangan.
“Ya ampun… ada apa ini?” gumam Bibi Nora pelan, matanya berputar menatap mereka satu per satu.
Seorang pria yang tampak seperti pemimpin rombongan itu tersenyum ramah. “Selamat pagi. Apakah Nyonya Lusi ada di rumah? Kami ada urusan penting dengannya.”
Bibi Nora mengangguk cepat, wajahnya masih tampak bingung. “Sebentar ya, silakan tunggu sebentar.” Ia segera menutup pintu sedikit, lalu bergegas menaiki tangga dengan langkah setengah berlari. Ia mengetuk pintu kamar Nyonya Lusi berkali-kali. “Nyonya! Nyonya Lusi! Bangunlah, cepat bangun! Ada banyak sekali orang dan kendaraan di depan, mereka mencari Nyonya!”
Nyonya Lusi yang masih terlelap nyenyak perlahan membuka mata, mengerjap bingung sambil duduk di tepi tempat tidur. “Apa katamu, Nora? Pagi-pagi sekali sudah ada tamu? Siapa mereka?”
“Saya tidak tahu, Nyonya. Tapi mereka terlihat sangat rapi dan penting. Katanya ada urusan yang harus diselesaikan langsung dengan Nyonya,” jawab Bibi Nora dengan napas sedikit terengah.
Nyonya Lusi segera bangkit, merapikan pakaian tidurnya seadanya, lalu menyisir rambutnya dengan jari. “Baiklah, aku turun sekarang.”
Sesampainya di ruang tamu dan membuka pintu depan, Nyonya Lusi pun tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Halaman rumah yang biasanya kosong kini penuh sesak. “Selamat pagi… ada keperluan apa kalian datang ke rumah saya?” tanyanya dengan nada penuh tanya dan waspada.
Pemimpin rombongan itu segera maju selangkah sambil menyodorkan sebuah kartu nama dan berkas dokumen. “Selamat pagi, Nyonya. Izinkan saya memperkenalkan diri. Saya arsitek yang ditugaskan khusus, dan ini tim saya serta pemasok perabot rumah tangga terbaik di kota. Kami datang atas perintah langsung dari Tuan Rama Cahya.”
Mendengar nama itu, mata Nyonya Lusi melebar sedikit. Ia menatap mereka tak percaya. “Rama? Lalu ada apa kalian datang kesini atau jangan-jangan Rama yang memerintahkan kalian kemari?. ”
“Benar sekali, Nyonya,” jawab pria itu tersenyum. “Tuan Rama memerintahkan kami untuk merenovasi, memperbaiki segala kerusakan, dan melengkapi rumah ini dengan segala perabotan yang paling nyaman, indah, dan berkualitas tinggi agar Nyonya dan Nona Ivy bisa tinggal di sini dengan layak. Semua biaya sudah ditanggung sepenuhnya.”
Nyonya Lusi menggeleng cepat, tangannya melambaikan penolakan secara naluriah. “Tidak, tidak bisa! Kami tidak bisa menerima bantuan sebesar ini. Terlalu banyak, kami tidak pantas dan tidak mampu membalasnya. Sampaikan pada Rama, terima kasih atas niat baiknya, tapi kami tidak bisa menerima ini.”
“Tunggu dulu, Nyonya,” pria itu mencoba menjelaskan dengan sabar. “Tuan Rama sudah berpesan, jika Nyonya menolak, sampaikan saja bahwa ini adalah bentuk perhatiannya sebagai bakti menantu pada keluarga kalian. Dan semua keputusan sudah bulat, tidak bisa dibatalkan. Semua peralatan dan barang sudah kami beli dan persiapkan khusus untuk rumah ini.”
Kata-kata itu perlahan meresap ke dalam hati Nyonya Lusi. Ia teringat sikap Rama yang begitu tulus dan penuh perhatian pada putrinya kemarin malam. Perlahan senyum tipis dan rasa haru menyentuh wajahnya. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Baiklah… jika itu memang keinginan Rama dan tidak akan merepotkan kalian, silakan masuk.” Ia menyambut uluran tangan pria itu untuk menandatangani berkas persetujuan. “Terima kasih banyak. Kalian kerjakanlah sebaik mungkin.”
Segera setelah itu, suasana rumah yang sunyi berubah menjadi sangat sibuk dan riuh. Suara palu, gergaji, dan langkah kaki orang yang lalu-lalang terdengar ke sana kemari. Pekerja sibuk membongkar bagian yang rusak, mengecat ulang dinding, dan membawa masuk lemari, meja, kursi, serta perabot baru yang indah satu per satu.
Suara gaduh itu akhirnya menembus hingga ke telinga Ivy yang sedang tertidur lelap. Ia membuka mata perlahan, mengerutkan kening merasa aneh mendengar suara bising di pagi hari. Dengan langkah berat dan masih mengenakan piyama tidurnya, ia melangkah keluar menuju lorong atas. Matanya terbelalak melihat pemandangan di bawah. Ruang tamu yang biasanya sederhana kini penuh orang bekerja, barang-barang lama dipindahkan, dan benda-benda baru yang berkilau diletakkan dengan hati-hati. Di tengah keramaian itu, ibunya berdiri sambil tersenyum memerintahkan letak meja dan kursi.
Ivy segera menuruni tangga mendekati ibunya, suaranya terdengar bingung namun penasaran. “Mama… apa yang sedang terjadi? Siapa orang-orang ini? Kenapa mereka mengubah seluruh rumah kita?”
Nyonya Lusi menoleh ke arah putrinya, tersenyum lembut sambil mengusap pipi Ivy. “Semua ini adalah pemberian dan bantuan dari Rama, sayang. Dia meminta mereka datang untuk memperbaiki rumah tua ini agar kita bisa tinggal lebih nyaman dan layak.”
Mendengar nama itu disebut, hati Ivy terasa hangat sekaligus terkejut. Ia mengangguk pelan tanpa berkata-kata lagi, lalu berjalan menuju dapur dan duduk di kursi kayu di sudut ruangan. Ia menatap sekeliling yang perlahan berubah menjadi jauh lebih indah, lalu perlahan mengambil ponselnya. Jari-jarinya bergerak perlahan mengetik pesan: Terima kasih banyak atas bantuanmu, Rama. Rumah ini perlahan menjadi sangat indah. Aku sungguh tidak tahu harus berkata apa lagi selain terima kasih.
Tak butuh waktu lama, balasan masuk: Sama-sama, Ivy. Jangan sungkan. Jika ada yang kurang atau tidak sesuai selera, sampaikan saja pada mereka. Dan jika suasana renovasi ini membuatmu dan Mamamu merasa tidak nyaman, silakan pindah ke hotel berbintang terdekat sementara waktu. Semua sudah aku atur.
Ivy tersenyum membaca pesan itu, lalu membalas cepat: Tidak usah, terima kasih,ini sudah cukup membantu.
Baru saja ia meletakkan ponsel di meja, suara deru mesin mobil yang sangat ia kenal terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan rumah. Ivy menoleh ke arah jendela, hatinya seketika berdeup tak menentu. Ayahnya datang.
Pintu rumah terbuka, dan Tuan Tio melangkah masuk dengan wajah yang tampak serius namun samar terlihat canggung melihat keramaian di dalam rumah. Ia menatap sekeliling sejenak, lalu berkata dengan nada rendah, “Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat ya?”
Nyonya Lusi menatap mantap yang akan jadi mantan suaminya itu, lalu mengangguk singkat. “Kita bicarakan saja di ruang kerjaku. Mari.”
Mereka berdua berjalan masuk ke kamar yang tertutup rapat. Ivy tetap duduk diam di dapur, menunggu dengan perasaan gelisah. Tak lama kemudian, pintu terbuka kembali dan ayahnya keluar dengan wajah yang merah padam menahan amarah sekaligus rasa tak berdaya. Ia melangkah cepat keluar tanpa menoleh sedikit pun. Ivy tahu, ibunya pasti baru saja mengambil keputusan besar—mungkin ibunya menolak ajakan ayahnya untuk kembali bersama nya.
Ivy berdiri perlahan, tekadnya mengeras di dalam hati.Aku ingin hidup. Aku ingin tinggal lama bersama Mama. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini lagi.
“Aku pergi sebentar, Ma!” serunya pada ibunya yang masih berdiri termenung melihat kepergian ayahnya.
Ia segera naik ke mobil pribadi yang biasa digunakan ibunya, sopirnya pun sigap membukakan pintu. “Ke kantor pusat Tuan Rama Cahya ya, Pak,” perintah Ivy dengan suara tegas.
Sesampainya di gedung pencakar langit yang megah tempat Rama bekerja, resepsionis yang melihat kedatangan Ivy segera menyambutnya dengan ramah. “Selamat pagi, Nona Ivy. Tuan Rama sudah memberi pesan khusus jika Nona datang, silakan langsung naik ke ruang kerjanya.”
Ivy mengangguk berterima kasih, lalu melangkah masuk menuju lift menuju lantai paling atas. Sesampainya di depan pintu kantor yang besar dan megah itu, ia mengetuk pintu pelan.
“Masuk,” suara berat dan tenang terdengar dari dalam.
Ivy membuka pintu perlahan dan melangkah masuk dengan senyum lembut di wajahnya. “Selamat pagi, Rama.”
Di ruangan itu, Rama sedang duduk di kursi kerjanya yang besar sambil meneliti tumpukan dokumen tebal. Di sampingnya berdiri Larry yang mencatat sesuatu. Melihat kedatangan Ivy, mata Rama bersinar cerah, namun ia tetap diam di tempatnya. Larry pun tersenyum tipis, lalu perlahan melangkah mundur menjauh memberikan ruang bagi mereka berdua.
Ivy berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan meja kerja Rama. Ia menatap pria itu lekat-lekat, lalu menarik napas panjang. Perlahan ia menundukkan tubuhnya sedikit, tatapannya penuh ketulusan dan permohonan yang mendalam. “Aku ingin hidup, Rama. Aku ingin hidup lebih lama lagi. Tolong… bantu aku.”
Tanpa menunggu jawaban, Ivy melangkah maju sedikit lagi, mencium bibirnya dengan lembut dan tulus.
Rama terkejut luar biasa. Pulpen yang selama ini ia genggam terlepas begitu saja dari tangannya dan jatuh ke meja. Matanya terbuka lebar menatap wajah gadis itu yang begitu dekat. Di sudut ruangan, Larry yang melihat kejadian itu pun terbelalak kaget, namun ia segera sadar dan dengan sigap berjalan perlahan menuju pintu keluar, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya agar mereka berdua memiliki privasi sepenuhnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri tak akan masuk kecuali tuannya memanggil.
Keterkejutan Rama hanya berlangsung sesaat. Tak lama kemudian, ia menutup matanya dan mulai membalas ciuman itu dengan lembut namun penuh perasaan yang mendalam. Ivy bisa merasakan itu. Di dalam benaknya, ia melihat angka sisa umurnya perlahan naik, terus naik, dan semakin panjang. Ia merasa tubuhnya menjadi lebih segar, bertenaga, dan hatinya terasa damai.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga Ivy merasa cukup dan perlahan menarik wajahnya kembali. Ia berdiri tegak, napasnya sedikit memburu namun wajahnya terlihat puas. “Terima kasih. Hari ini cukup sampai di sini.”
Baru saja ia hendak berbalik badan untuk pergi, tangan Rama dengan cepat meraih pergelangan tangannya dan menariknya pelan namun kuat. Tubuh Ivy kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh tepat ke pangkuan pria itu.
“Bukan kamu yang memutuskan kapan berakhir, gadis ingusan,” bisik Rama rendah, matanya menatap tajam namun penuh gairah dan kelembutan. Tanpa memberi kesempatan Ivy untuk bangun atau menghindar, ia kembali mencium bibir Ivy, kali ini lebih dalam, lebih kuat, dan memeluk tubuh gadis itu erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
Ivy terbelalak kaget, jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Ia ingin menghindar, namun pelukan Rama begitu kuat dan menenangkan sekaligus membuatnya tak berdaya.
Gila… ini benar-benar gila. Apa yang sedang dilakukan pria ini padaku? jerit hati Ivy yang bingung namun perlahan mulai ikut hanyut dalam kehangatan itu.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉