NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kecewa

"Dan kamu tidak sadarkan diri selama dua hari ini," ucap Garendra setelah akhirnya membuka seluruh kenyataan yang selama ini ia simpan.

Sunyi.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Felisyah.

Dunia seolah berhenti berputar.

Tubuhnya membeku, sementara pikirannya terus berusaha mencerna setiap kalimat yang baru saja ia dengar.

Dua hari.

Hanya dalam waktu dua hari, hidupnya berubah sepenuhnya.

Ayahnya telah menjalani operasi.

Ayahnya selamat.

Namun di saat yang sama, tanpa ia ketahui, ia telah menikah.

Jantungnya berdebar tak beraturan. Napasnya terasa sesak. Perlahan, kedua kakinya kehilangan tenaga hingga tubuhnya jatuh terduduk di lantai.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya runtuh.

Bukan karena ia tidak bersyukur.

Bukan karena ia membenci Garendra.

Tetapi karena semua keputusan besar dalam hidupnya telah terjadi ketika ia bahkan tidak mampu membuka mata.

"Felisyah..."

Garendra bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah pelan, ia mendekati wanita itu lalu berjongkok di hadapannya.

Tatapan dingin yang selama ini ia tunjukkan kepada dunia kini berubah penuh rasa bersalah.

"Aku tahu ini sangat berat untukmu."

"Maafkan aku karena menikahimu tanpa sepengetahuanmu."

Suara Garendra terdengar lebih lembut dari biasanya.

"Tapi aku berjanji, aku akan melindungimu. Aku akan menjagamu sekarang, besok, dan selama aku masih diberi kesempatan untuk berada di sisimu."

Ia menahan napas sejenak sebelum melanjutkan.

"Aku menikahimu bukan karena tekanan keluarga, bukan karena aku merasa kasihan kepadamu."

Tatapannya menatap Felisyah dengan penuh kesungguhan.

"Aku menikahimu karena aku benar-benar menginginkanmu, Felisyah. Aku ingin menjalani hidup bersamamu."

Mendengar pengakuan itu, tangisan Felisyah semakin pecah.

Namun ia tetap menggeleng pelan.

Ia tidak tahu harus merasa apa.

Marah?

Kecewa?

Atau bersyukur?

Semua perasaan itu bercampur menjadi satu.

Saat ia menutup mata dua hari yang lalu, ia masihlah Felisyah yang berjuang sendirian, seorang anak yang hanya memiliki satu tujuan—menyelamatkan ayahnya.

Namun saat ia membuka mata, semuanya telah berubah.

Kini ia memiliki seorang suami.

Seorang pria asing yang tiba-tiba menjadi bagian dari hidupnya.

Dengan gemetar, Felisyah memalingkan wajahnya. Ia belum memiliki keberanian untuk menatap pria yang kini sah menjadi pendamping hidupnya.

"Kenapa semuanya berjalan begitu cepat...?" batinnya berteriak.

"Apakah ini konsekuensi dari keputusanku menerima tawaran itu?"

"Aku tahu aku sudah menyetujuinya. Aku tahu aku telah menyerahkan hidupku demi menyelamatkan Ayah."

"Tapi kenapa harus seperti ini?"

"Kenapa Ayah tidak menghentikannya?"

"Setidaknya aku ingin mendengar sendiri kapan akad itu berlangsung... setidaknya aku ingin sadar ketika hidupku berubah."

Air mata terus mengalir di pipinya.

Di dalam hatinya, tidak ada penyesalan karena telah menyelamatkan ayahnya.

Yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa hari yang seharusnya menjadi momen penting dalam hidup seorang wanita telah berlalu tanpa ia bisa melihat, mendengar, atau merasakannya.

Dan rasa kehilangan itu meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya.

"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu sedikit lebih lega. Jika kamu marah kepadaku, pukul saja aku sesuka hatimu. Aku akan menerima semuanya."

Suara Garendra terdengar begitu tulus. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan untuk membenarkan apa yang telah ia lakukan.

Ia tahu, sebesar apa pun niat baiknya, kenyataan bahwa Felisyah kehilangan momen terpenting dalam hidupnya tetap meninggalkan luka.

Dengan perlahan, Garendra meraih tubuh Felisyah dan menariknya ke dalam pelukan yang hangat.

Pelukan yang tidak menuntut balasan.

Pelukan yang hanya ingin mengatakan bahwa mulai saat ini, ada seseorang yang akan berdiri di sampingnya.

Felisyah tidak bergerak.

Ia tidak membalas pelukan itu, tetapi ia juga tidak memiliki tenaga untuk menjauh.

Semua rasa sakit, kebingungan, dan ketakutan yang sejak tadi ia pendam akhirnya pecah.

Tangisnya memenuhi ruangan yang sunyi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis tanpa harus menahan diri.

Namun, beberapa saat kemudian—

"…Lepaskan aku."

Suara Felisyah terdengar lirih, namun cukup untuk membuat tubuh Garendra menegang.

Ia sedikit menjauh dan menatap wajah wanita itu.

"Ada apa?"

" Lepaskan aku sekarang juga."

Kali ini suara Felisyah lebih keras. Ada luka dan kemarahan yang selama ini tertahan di dalam setiap kata yang ia ucapkan.

Garendra terdiam. Jari-jari tangannya masih enggan melepas wanita yang kini menjadi istrinya.

Bukan karena ia ingin mengekang Felisyah. Hanya saja, hatinya takut. Takut wanita itu semakin menjauh dan membangun dinding yang tidak bisa ia hancurkan.

Namun ia sadar, cinta yang dipaksakan hanya akan menambah luka.

Dengan berat hati, Garendra melepaskan pelukannya.

Matanya menatap Felisyah dalam-dalam, berharap wanita itu mau melihatnya sekali saja.

Namun Felisyah hanya memalingkan wajah.

Ia belum siap menatap pria yang dalam waktu singkat telah mengubah seluruh jalan hidupnya.

"Pergi dari sini dan tinggalkan aku sendiri," ucap Felisyah dengan suara bergetar.

Ada keheningan sesaat.

Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Garendra.

"Tapi kenapa? Aku ingin menemanimu. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi semuanya sendirian," ucapnya pelan.

"Please..." bisik Felisyah dengan tangis yang kembali pecah. "Biarkan aku sendiri sebentar."

Garendra menutup matanya sesaat.

Ia ingin tetap berada di sisi Felisyah, ingin memastikan wanita itu tidak kembali menangis sendirian.

Tetapi kali ini, ia memilih menghargai permintaan wanita itu. Ia tahu hati Felisyah membutuhkan ruang untuk menerima kenyataan yang begitu tiba-tiba.

"Baiklah."

Suara Garendra terdengar begitu pelan, menyimpan kekecewaan yang ia tahan sendiri.

"Aku akan berada di luar. Jika kamu membutuhkan apa pun, panggil aku. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu."

Ia berdiri perlahan lalu melangkah menuju pintu.

Setiap langkah terasa berat, seakan ada sesuatu dalam dirinya yang tertinggal di dalam ruangan itu.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, Garendra berhenti.

Ia menoleh untuk terakhir kali.

Matanya menatap sosok kecil yang masih duduk di lantai dengan bahu bergetar menahan tangis.

Ada keinginan besar untuk kembali memeluknya.

Namun ia memilih menahan diri.

Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa menjaga seseorang bukan hanya dengan selalu berada di sisinya.

Terkadang, menjaga berarti memberikan ruang saat orang yang kita sayangi sedang berusaha menguatkan dirinya sendiri.

Dengan perasaan berat, Garendra akhirnya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Felisyah bersama tangis dan semua luka yang masih berusaha ia pahami.

Felisyah masih duduk di lantai dengan kedua lutut yang dipeluk erat. Ruangan yang luas itu terasa begitu sempit baginya.

Tangisnya tidak juga berhenti. Air mata terus mengalir, membawa keluar semua rasa sakit, kebingungan, dan kehilangan yang memenuhi hatinya.

"Apakah ini takdirku?" gumamnya lirih.

"Apakah ini jawaban dari semua ujian yang selama ini Tuhan berikan kepadaku?"

"Dan… apakah aku harus mempercayai pria itu?"

Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi pikirannya.

Garendra memang telah menyelamatkan ayahnya. Garendra juga telah memberikan kehidupan yang selama ini hanya bisa ia impikan.

Namun, ketika mengingat kenyataan bahwa pernikahannya terjadi saat ia tidak sadarkan diri, dadanya kembali terasa sesak.

Ia menggigit bibirnya, menahan tangis yang kembali pecah.

"Kenapa mereka tega melakukan ini kepadaku?" bisiknya dengan suara bergetar.

"Apakah keinginanku tidak cukup penting?"

"Aku memang menerima kesepakatan itu. Aku memang setuju untuk menikah dengannya. Tapi apakah aku tidak pantas mengetahui kapan hari itu terjadi?"

"Apa aku tidak berhak menyaksikan detik ketika hidupku berubah?"

Air matanya jatuh semakin deras.

Felisyah tidak pernah mengharapkan pesta mewah, gaun indah, atau perayaan yang dipenuhi banyak orang.

Ia hanya ingin hadir dalam hari terpenting dalam hidupnya.

Mendengar ijab kabulnya sendiri.

Melihat wajah ayahnya yang menyerahkan dirinya dengan penuh doa.

Dan merasakan bahwa hari itu benar-benar menjadi awal dari kehidupan barunya.

Bukan sebuah momen yang hanya ia dengar dari cerita orang lain.

Namun di balik semua rasa sakit itu, ada satu hal yang tidak bisa ia pungkiri.

Ia bersyukur.

Sangat bersyukur.

Ayahnya selamat.

Pria yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki kini masih bisa bernapas dan tersenyum kembali.

"Terima kasih karena telah menyelamatkan Ayah..." bisiknya, mengingat Garendra.

"Aku tahu kamu tidak salah karena menepati kesepakatan kita."

"Dan aku tahu kamu mungkin memiliki niat yang baik."

"Tapi… bukan dengan cara seperti ini."

"Karena sebuah pernikahan bukan hanya tentang sebuah janji."

"Ini adalah perjalanan hidup seseorang."

Felisyah tertawa kecil di tengah tangisnya. Tawa yang tidak memiliki kebahagiaan di dalamnya.

Betapa anehnya jalan hidup yang Tuhan berikan kepadanya.

Beberapa hari yang lalu ia hanyalah seorang gadis yang berjuang mati-matian mencari cara menyelamatkan ayahnya.

Hari ini…

Ia bangun dengan status sebagai seorang istri dari pria yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia kenal.

Ia tidak tahu apakah keputusan itu akan menjadi awal dari kebahagiaan atau justru luka yang lebih dalam.

Namun satu hal yang ia sadari…

Tidak ada lagi jalan untuk kembali.

Kini ia hanya bisa melangkah maju dan melihat ke mana takdir akan membawanya.

Di balik pintu yang tertutup rapat, seorang pria masih setia menunggu.

Sedangkan di dalam ruangan, seorang wanita sedang berusaha menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah selamanya.

Mereka telah terikat dalam sebuah janji suci.

Namun untuk menyatukan dua hati yang asing, mungkin akan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Bersambung...

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!