Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penghindaran Bukan Karena Membenci , Tapi Karena Terlalu Malu
Sejak malam kejadian itu, Fara benar-benar mengurung diri di dalam kamarnya. Sudah genap seminggu berlalu, dan dia tak pernah sekalipun terlihat keluar — kecuali jika dia yakin aku sedang tidak ada di rumah. Setiap kali lewat di depan pintunya, aku hanya bisa berhenti sejenak, menatap kayu pintu yang tertutup rapat itu dengan hati yang makin terasa berat dan penuh kekhawatiran.
Tak lama kemudian, kabar juga datang: Sekretaris Adrian yang menyampaikannya padaku — ternyata pria itu langsung berangkat lagi ke luar negeri, entah urusan apa yang memaksanya pergi begitu cepat.
Dan jika secara tak sengaja dia berpapasan denganku di lorong, saat aku berniat menyapa lembut dengan senyum kecil, dia akan langsung memalingkan wajah, melangkah tergesa-gesa seolah ada sesuatu yang dikejar, berusaha menghilang secepat mungkin tanpa mau menatap mataku sedikit pun.
Senyumku yang tadinya terukir perlahan-lahan memudar, terganti rasa bingung yang menusuk pelan di dada. Dalam hati aku bergumam pelan: “Apakah… Kak Fara membenciku sekarang? Apakah karena aku melihat semuanya itu?”
Meski bingung dan sedih, aku tetap berusaha menjalani hari-hari seperti biasa — bangun pagi, menyiapkan kebutuhan, pergi ke sekolah — tapi ada satu bagian di hatiku yang tak pernah benar-benar tenang sejak kejadian itu.
Di sekolah, saat jam istirahat kali ini aku duduk berdua saja dengan Sarah. Dia baru saja mulai mengikuti kelas tambahan melukis, dan kini tangannya bergerak lincah memegang kuas, menggoreskan warna di atas kanvas dengan lembut. Aku memperhatikan dari samping, terpukau melihat hasilnya yang perlahan terbentuk — terlihat begitu indah, lembut, dan penuh warna.
Alina dan Liora memilih pergi ke lapangan, seperti biasa ingin melihat Fernando bermain basket, jadi hanya kami berdua yang tinggal di sudut ruangan yang sepi itu.
Perlahan tapi pasti, hatiku sudah tidak seberat dan semurung hari-hari sebelumnya. Sarah pun menyadarinya, sambil terus menggerakkan kuasnya dengan tenang, dia menoleh sedikit dan tersenyum lembut penuh rasa ingin tahu: “Zara… kalau ada sesuatu yang membebani hatimu, coba ceritakan saja. Mungkin rasanya akan jauh lebih lega setelah diucapkan.”
Aku yang tadinya menatap fokus pada goresan warna itu, perlahan menurunkan pandangan, wajahku kembali terasa sedikit murung. Bibirku bergerak pelan, seolah butuh tenaga untuk mengeluarkan kata-kata itu: “Sepertinya… aku melakukan kesalahan pada seseorang.”
Sarah berhenti menggerakkan kuasnya sejenak, hanya menatapku dengan tatapan penuh pengertian tanpa menyela. Aku pun melanjutkan, suaranya makin lirih: “Aku melihat dia saat sedang hancur, dalam keadaan yang paling memalukan untuknya… dan sejak hari itu, dia menghindariku, seolah tak ingin melihat wajahku lagi. Dia membenci ku.” Semakin aku bicara, semakin terasa sesak di dada, pandanganku mulai kabur sedikit.
Sarah menghentikan kegiatannya, lalu tersenyum lembut sambil menyeka ujung kuas di atas kain pelan: “Dengar, Zara — kau tidak melakukannya dengan sengaja. Aku yakin dia tidak membencimu. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri, biarkan saja sampai dia siap.”
Tepat saat itu, goresan terakhirnya selesai — lukisan itu terlihat sempurna, tenang dan menenangkan hati. Mendengar kata-katanya, rasanya beban yang menggantung di dadaku perlahan terangkat sedikit. Aku menghela napas panjang, lalu mengangkat wajah dan memberinya senyum tipis yang tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Malam itu, Zara mengenakan gaun tidur satin berwarna putih gading yang lembut sekali — kainnya licin berkilau samar terkena cahaya, bagian leher dan lengan pendeknya dihiasi renda halus yang terlihat anggun, jatuh membalut tubuhnya dengan ringan sampai ke mata kaki.
Dia berjalan pelan menuju taman belakang rumah, lalu duduk tenang di tempat terbuka itu. Di hadapannya terbentang kolam yang luas, dikelilingi hamparan bunga yang harum semerbak — kolam itu dibuat tertutup tembok tinggi mengikuti bentuk rumah, tanpa atap di atasnya, tapi cukup terang diterangi lampu taman yang lembut, jadi tidak terasa gelap atau menakutkan sama sekali.
Perlahan dia melangkah mendekati tepi kolam, lalu duduk menyandarkan badan sedikit. Dengan hati-hati dia menurunkan kedua kakinya, memasukkannya ke dalam air yang terasa sejuk dan menenangkan. Jemarinya memegang ujung gaun agar tidak basah, sementara kakinya bergerak pelan mengayun, menimbulkan riak air kecil yang berkilau terkena cahaya.
Matanya menatap ke permukaan air yang tenang, lalu dia menghela napas panjang, bergumam lirih hanya untuk didengar hatinya sendiri: “Kak Fara masih saja belum mau keluar… sampai kapan ya aku harus menunggu begini?”
Air yang menyentuh kulitnya terasa menenangkan, tapi di dadanya masih tersisa rasa cemas yang tak sepenuhnya hilang, terus berharap suatu saat nanti suasana akan kembali seperti sedia kala.
Merasa sudah cukup lama duduk termenung di tepi kolam, Zara perlahan menarik kakinya keluar dari air, mengusap pelan ujung gaunnya yang sedikit lembap, lalu berjalan kembali menuju bagian dalam rumah. Sebelum masuk ke kamarnya sendiri, dia berhenti sejenak di lorong, menatap lama pintu kamar Fara yang tetap tertutup rapat — matanya berkaca samar, dadanya terasa sesak oleh rasa sedih dan khawatir yang tak kunjung hilang — sebelum akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu pelan-pelan.
Di sisi lain, di balik pintu itu, Fara berdiri di depan cermin besar. Sudah lebih dari seminggu dia mengurung diri di sini, dan hatinya masih terasa berat, tak punya keberanian sedikit pun untuk melangkahkan kaki keluar semenjak kejadian malam itu. Hidupnya terasa berubah drastis: dulu dia selalu sibuk bersiap, senang berjalan-jalan dan keluar bersama teman-temannya, kini seluruh waktunya hanya terhabiskan di dalam empat dinding kamar ini.
Dia memegang sisir kayu itu, menyisir helai demi helai rambutnya yang masih terawat tapi terasa tak bernyawa. Gerakannya lambat, lemah, dan pandangannya kosong menatap pantulan dirinya sendiri — seolah masih terbayang jelas tatapan dingin itu, suara yang menghina, dan rasa malu yang membakar hatinya sampai sekarang. Sisir itu terus bergerak pelan tanpa tujuan, sementara napasnya terasa pendek dan berat, seolah tak sanggup melepaskan bayangan masa lalu yang menyakitkan itu.
Pagi harinya aku bergerak seperti biasa — merapikan kamar, membereskan dapur, memastikan semuanya rapi sebelum berhenti. Karena hari ini Minggu, hatiku terasa sedikit lebih ringan. Sudah kupikirkan sejak semalam: setelah selesai urusan rumah, aku ingin keluar sebentar.
Pertama mampir ke menjenguk Ayah, membawakan sedikit makanan dan berbincang sebentar agar hatinya pun tenang, lalu pergi perpustakaan kota yang tenang, lalu berjalan santai menyusuri taman sambil menghirup udara pagi yang segar.
Sebelum melangkah keluar, mataku sempat melirik sekali lagi ke arah pintu kamar Fara yang masih tertutup rapat, lalu menghela napas pelan dan melangkah pergi dengan harapan kecil di hatiku
Tepat pukul tujuh malam, begitu keluar dari dalam mobil aku langsung menjatuhkan diri ke atas sofa. Badan terasa sangat lelah, rasanya tulang-tulang pun terasa berat — tadi siang aku juga mengikuti kelas tambahan bahasa Inggris, jadi seharian penuh rasanya tak sempat benar-benar beristirahat.
Belum sempat napas teratur kembali, langkah pelan terdengar dari arah tangga. Fara rupanya tahu aku sudah pulang, dan turun dengan ragu-ragu, langkahnya lambat seolah butuh keberanian luar biasa untuk melangkah mendekat. Mataku membelalak kaget, tak percaya melihat dia akhirnya berani keluar dan datang menemuiku — seketika rasa lelah itu seolah hilang berganti rasa haru yang meluap.
Aku segera berdiri menyambutnya, hati berdebar kencang senang. Dia berjalan mendekat, lalu duduk perlahan di sisi sofa, tepat di sampingku. Aku pun ikut duduk kembali, tak berani bergerak banyak.
Baru aku perhatikan lekat-lekat: wajahnya terlihat lebih kurus, pipinya sedikit cekung seolah selama ini kurang makan dan kurang istirahat. Kulitnya terlihat pucat, sorot matanya redup dan lesu, rambutnya tertata biasa saja tak secantik dulu — jelas sekali dia tak sempat merawat dirinya seperti kebiasaan lamanya. Mulutku sudah terbuka ingin bertanya, tapi kata-kata itu terhenti di tenggorokan, takut salah bicara membuatnya mundur lagi.
Lalu Fara mengangkat wajah, mencoba mengukir senyum tipis yang masih terasa berat, lalu menjangkau dan menggenggam kedua tanganku dengan jari-jarinya yang terasa dingin dan lemah. Suaranya terdengar lirih, bergetar menahan emosi: “Zara… maafkan aku. Pasti terasa aneh dan menyusahkanmu ya selama ini. Sungguh, aku bukan menghindar karena membencimu — aku hanya terlalu malu, tak sanggup menatap siapa pun, apalagi menatap wajahmu.”
Air matanya akhirnya jatuh perlahan membasahi pipinya, tapi genggamannya pada tanganku tak melemah sedikit pun. Aku hanya membalas dengan senyum lembut dan tulus, hati terasa lega luar biasa mengetahui dia baik-baik saja, meski aku sadar dia belum sanggup membuka seluruh rahasia dan rasa sakit yang dipendamnya itu. Tapi bagiku, sudah cukup untuk saat ini — dia kembali ada di sampingku, itu saja sudah lebih dari cukup.