NovelToon NovelToon
OBSESSION OF THE SEVEN

OBSESSION OF THE SEVEN

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Harem
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Genre: Dark Romance / Reverse Harem / Thriller Psikologis.

Premis Utama: Althea, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai pengarsip dokumen kuno, terjebak di dalam "Septem Foundation"sebuah yayasan elit rahasia di bawah kendali tujuh pria berkuasa dan manipulatif yang terinspirasi dari pesona member BTS.

Kehadiran Althea di mansion tersebut ternyata bukan kebetulan, melainkan sebuah jaring laba-laba yang sudah disiapkan sejak lama. Ketujuh pria ini memiliki masa lalu kelam yang terikat dengan Althea, dan kini mereka bersaing secara dingin sekaligus obsesif untuk saling memperebutkan hak "memiliki" dirinya. Cinta mereka yang awalnya terasa seperti perlindungan mewah perlahan berubah menjadi sangkar emas yang posesif, berbahaya, dan mematikan.

Ketegangan psikologis saat Althea mencoba mengungkap misteri ingatan masa lalunya yang hilang, sembari bertahan hidup di antara dominasi, manipulasi, dan cinta gila dari tujuh pria

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak dari Takdir Althea (Konklusi Akhir) (2)

Aroma anyir darah dan debu dari kayu yang hancur memenuhi udara kamar Park Jimin. Pertempuran fisik itu berakhir tidak dengan pemenang, melainkan dengan kehancuran yang merata. Jimin berlutut di lantai marmer dengan sudut bibir yang pecah dan napas yang terputus-putus, kedua lengannya dikunci ke belakang oleh cengkeraman tak tergoyahkan dari Jeon Jungkook.

Di hadapannya, Jung J-Hope berdiri sembari mencengkeram lengannya yang terus meneteskan darah, matanya menatap Jimin dengan tatapan yang siap membunuh.

Rm melangkah melewati serpihan kaca vas bunga yang hancur. Langkah sepatunya lambat, berbunyi ketukan yang berat di atas lantai. Ia berhenti tepat di depan Jimin, menatap saudaranya yang kini tampak seperti serigala yang kalah bertarung.

"Kau telah memilih jalanmu sendiri, Jimin," ujar Rm, suaranya begitu rendah dan datar, namun mematikan.

"Bawa Jimin ke ruang isolasi bawah tanah. Tahan dia di sana sampai aku memutuskan apa yang harus kita lakukan dengan pengkhianat nya."

"Tunggu."

Sebuah suara yang tenang, jernih, dan tidak lagi bergetar memutus kepatuhan mutlak di ruangan itu. Semua mata Rm, Jin, J-Hope, Jimin, bahkan Jungkook seketika berbalik menatap ke arah sudut tempat tidur.

Althea melangkah maju. Gaun beludru merah tua yang diberikan Jimin membungkus tubuhnya dengan anggun. Rambutnya yang biasanya acak-acakan kini tersampir rapi di bahunya.

Tidak ada lagi air mata di pipinya. Tidak ada lagi binar ketakutan atau tubuh yang gemetar seperti rusa yang terkepung. Ekspresi wajah Althea begitu dingin, begitu tenang, memancarkan aura otoritas yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dari gadis itu.

"Kalian tidak akan mengurung Jimin," kata Althea, menatap langsung ke dalam manik mata Rm. "Dan kalian tidak akan memasukkan aku kembali ke dalam paviliun kaca sialan itu."

J-Hope mendengus kasar di sela rasa sakitnya. "Althea, kau tidak punya hak untuk mengatur di sini—"

"Aku punya hak penuh atas kehancuran kalian!" potong Althea dengan nada yang meninggi, suaranya begitu tajam hingga memotong kata-kata J-Hope.

Althea berjalan perlahan mendekati meja rias yang hancur. Ia membungkuk, mengambil belati perak berukir lambang keluarga Septem yang tadi terlepas dari tangan Jimin.

Ia memutar belati itu di tangannya dengan gerakan yang santai, lalu menatap ketujuh pria termasuk Jin dan Suga yang kini juga melangkah masuk ke ambang pintu kamar setelah mendengar keributan.

"Kalian pikir, pelarianku ke Prancis selama satu tahun adalah sebuah kegagalan karena kalian berhasil menangkap ku kembali?" Althea tersenyum miring—sebuah senyuman yang sangat mirip dengan senyuman manipulatif milik Park Jimin atau arogansi milik Jin.

"Kalian salah. Prancis adalah umpan. Aku sengaja membiarkan diriku ditemukan. Aku sengaja membiarkan kalian membawa aku kembali ke sini," bisik Althea, matanya berkilat penuh kemenangan yang absolut.

Rm menyipitkan matanya, kilatan kecurigaan mulai merayap di pikirannya yang jenius. "Apa maksudmu, Althea?"

"Selama satu tahun di Prancis, aku tidak hanya bekerja di toko buku tua," Althea berjalan memutari Rm, mengikis jarak dengan pria tertinggi itu tanpa rasa takut sedikit pun.

"Aku tahu bahwa sistem keamanan *Septem Foundation* mustahil ditembus dari luar. Dokumen hukum yang kau buat, Rm, terlalu sempurna. Pasukan perimeter Jungkook terlalu ketat. Dan pengawasan J-Hope terlalu luas."

Althea berhenti tepat di depan Rm, mengangkat belati perak itu dan menyentuhkan ujungnya yang tajam di atas dasi sutra Rm.

"Satu-satunya cara untuk menghancurkan sebuah istana besi adalah dengan membiarkan diriku masuk sebagai trofi, lalu menghancurkan fondasinya dari dalam. Aku tahu ego kalian.

Aku tahu obsesi gila kalian padaku adalah kelemahan terbesar kalian. Kalian begitu sibuk membagi ku ke dalam Protokol mingguan, sampai kalian tidak sadar... bahwa akulah yang memegang kendali atas emosi kalian sejak hari Senin lalu."

Napas Jin tercekat di ambang pintu. "Bubur gandum itu... keluhanmu tentang terapi audio Suga..."

"Ya, Tuan Jin," Althea menoleh pada Jin dengan tatapan mengejek. "Aku memanfaatkan egomu sebagai dokter untuk memicu kemarahan mu pada Suga. Lalu di hari Rabu, aku memancing J-Hope agar cemburu pada Jimin, membiarkan Jimin merobek jaring pengawasannya.

Aku membuat kalian saling mencurigai, saling menyerang, dan saling menumpahkan darah saudaranya sendiri."Althea menarik belatinya dari dada Rm, lalu beralih menatap Jimin yang masih berlutut.

"Dan kau, Jimin... terima kasih telah menjadi pion terbaikku untuk merusak Protokol gila ini."

Jimin menatap Althea dengan mata terbelalak, hatinya hancur berkeping-keping menyadari bahwa cinta dan perlindungan yang ia tawarkan hanyalah bagian dari skenario catur yang dimainkan oleh gadis yang ia puja.

"Althea... kau... memanfaatkan ku?"

"Kita semua saling memanfaatkan di rumah ini, Jimin," jawab Althea dingin.

Rm mengepalkan tangannya di balik saku celananya. "Kau pikir kau sudah menang, Althea? Bahkan jika aliansi kami retak hari ini, kau tetap berada di dalam mansion ini. Identitas sipil mu sudah mati di Prancis.

Kau tidak punya paspor, tidak punya uang, dan tidak punya tempat tujuan di luar sana. Secara hukum, kau tetap milik *Septem*."

"Itu jika aku berniat untuk pergi dari sini, Tuan Rm," Althea terkekeh rendah—sebuah suara tawa yang begitu pekat akan kekuasaan, membuat ketujuh pria itu merinding hebat.

Althea berjalan menuju kursi kebesaran di sudut kamar Jimin, lalu mendudukkan dirinya di sana dengan anggun. Ia menyilangkan kakinya, meletakkan belati perak di atas pangkuannya, dan menatap ketujuh pria itu dari posisi yang lebih tinggi.

"Aku tidak akan lari lagi ke Prancis. Aku tidak akan menjadi buronan yang ketakutan di kota kecil," ujar Althea, suaranya bergema penuh kepastian yang mutlak.

"Hari ini, aku memutuskan untuk tinggal. Tapi bukan sebagai tawanan di paviliun kaca kalian. Bukan sebagai objek lukisan Taehyung, atau subjek terapi Suga."

Althea menatap Rm dengan pandangan menjerat yang menuntut. "Kau sudah mengubah namaku menjadi *Althea Septem* di dalam berkas hukum tertinggi yayasan, bukan? Kau menjadikanku pemilik sah dari setengah aset perwalian kalian jika terjadi sesuatu pada kalian. Sekarang, dengan retaknya aliansi ini, kalian tidak akan pernah bisa memercayai satu sama lain lagi untuk memegang kendali atas diriku."

Althea memajukan tubuhnya, menatap ketujuh pria itu satu per satu dengan binar mata seorang Ratu yang baru saja naik takhta di atas genangan darah musuhnya.

"Mulai hari ini, akulah yang memegang kendali atas Septem Foundation. Kalian akan tetap berada di sekelilingku, menjaga perimeter ku, menyiapkan nutrisiku, dan mengurus hukum ku bukan karena kalian mengurungku, melainkan karena kalian adalah pelayan dari obsesi kalian sendiri.

Aku adalah Ratu di istana kaca ini, dan kalian... adalah anjing-anjing penjagaku yang saling mengawasi agar tidak ada satu pun dari kalian yang berani menyentuhku tanpa izin dariku."

Keheningan yang mencekam seketika mengunci ruangan itu. Suga yang berdiri di dekat pintu perlahan mengulas senyuman miring yang aneh—sebuah senyuman kekaguman yang gila atas kecerdasan kejam Althea.

Jin terpaku, menyadari bahwa mahakaryanya kini telah bertransformasi menjadi monster yang mengendalikannya. Jungkook perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan Jimin, mundur satu langkah dengan pandangan mata yang tunduk pada dominasi baru Althea.

Rm menatap Althea untuk waktu yang sangat lama. Di dalam kegilaan obsesinya, ia menyadari bahwa gadis yang dulu mereka culik dari panti asuhan kini telah berevolusi menjadi sosok yang jauh lebih berbahaya dari mereka semua.

Althea telah memenangkan permainan ini dengan cara menjadi puncak dari obsesi mereka sendiri.

Rm perlahan menundukkan kepalanya sedikit, sebuah gestur penghormatan tertua yang menandakan penyerahan otoritas hukumnya. "Sesuai keinginanmu... "Queen Althea Septem."

Althea bersandar di kursinya, menatap langit-langit kamar yang hancur dengan senyuman kemenangan yang absolut. Musim kedua ini tidak berakhir dengan pelarian yang sukses, melainkan dengan takdir baru yang jauh lebih mengerikan bagi ketujuh pria tersebut.

Sangkar emas itu tidak lagi mengurung Althea; Althea-lah yang kini mengunci mereka semua di dalam kegilaan yang ia kendalikan sepenuhnya.

 

TAMAT SEASON 2 SELESAI

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!