Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : TITIK PALING LEMAH YANG AKAN DIHANCURKAN
...BAB 13...
...TITIK PALING LEMAH YANG AKAN DIHANCURKAN...
Tinggal enam hari lagi menuju akad nikah. Di sebuah kamar kos agak terpencil pinggiran kota, lampu meja menyala terang sendirian di tengah kegelapan malam. Di atas meja berserakan lembar‑lembar kertas, tangkapan layar data yang sudah diubah isinya, daftar nama orang yang sudah dihubungi, catatan rencana disusun sangat rapi baris demi baris. Arka duduk sendirian di sana, jari‑jari berputar pelan mengelilingi gelas berisi air dingin, mata menatap tajam ke dinding kosong di hadapannya. Baru saja dia hapus pesan singkat masuk sepuluh menit lalu, kabar Dimas, anak kandung Bu Kirana dan adik tiri Alina, sudah pesan tiket pulang dari Madinah dan mendarat lusa pagi.
Awalnya sempat sedikit kerutan di dahi. Tapi hanya sesaat. Tak lama kemudian bibir justru terangkat membentuk senyum tipis dingin penuh keyakinan. Dia tidak takut. Kepulangan Dimas sama sekali tidak mengubah apa pun, malah membuatnya sadar satu hal penting: waktu makin sempit. Tidak boleh lagi hanya bermain di pinggiran. Hampir tiga bulan ini dia bergerak pelan hati‑hati, menanam bukti aneh di sistem kantor Alina, menyebarkan bisikan samar di kalangan rekan kerja, merayu hati Bu Kirana dengan cerita menyentuh perasaan, menyelipkan pelan‑pelan keraguan halus soal status Alina yang bukan anak darah daging, membuat nama baik wanita itu perlahan tergores diam‑diam tanpa pernah ada yang bisa menunjuknya sebagai pelaku. Farhan sudah berusaha sekuat tenaga melacak setiap jejak yang ditinggalkan, tapi selalu berakhir buntu total, karena Arka memang menghapus setiap sisa jejaknya dengan kecerdikan yang bahkan dia akui sangat sempurna.
Namun ada satu hal yang sampai malam itu terus membuatnya bertanya‑tanya dalam hati. Kenapa Alina belum juga runtuh?
Dia amati wanita itu dari dekat berbulan‑bulan lamanya. Dia tahu betul Alina bukan gadis lemah akal maupun batin. Di saat orang lain mungkin sudah menangis, marah‑marah atau mundur pelan‑pelan karena terus dibayangi tuduhan dan pandangan aneh orang sekitar, Alina tetap berjalan tegak, tetap tersenyum sekuat tenaga, tetap datang ke kantor dengan kepala terangkat, tetap shalat tepat waktu di setiap kesempatan, tidak pernah sekalipun mengeluh atau mengucapkan kata buruk tentang siapa pun. Arka sempat berpikir kelemahannya ada pada kasih sayang terlalu besar pada ibu tirinya, atau rasa cintanya yang dalam pada Farhan. Keduanya sudah dia coba goyahkan. Tapi ternyata tidak cukup. Alina masih bertahan. Masih kokoh berdiri di atas kakinya sendiri.
Malam itu juga saat dia kembali mengingat satu per satu hal yang pernah dilihat, didengar, diamati dari gerak‑gerik Alina sehari‑hari, tiba‑tiba semuanya menjadi sangat jelas. Seperti tirai tebal tiba‑tiba tersingkap dari pandangannya. Dia akhirnya menemukan apa yang selama ini dicari‑cari. Kunci segalanya. Titik paling lemah, paling dalam, paling berharga yang dimiliki wanita itu, satu‑satunya hal yang sesungguhnya dia pegang erat seumur hidupnya, dan justru di sanalah Arka akan memukul paling keras sampai benar‑benar tidak sanggup bangkit lagi.
Agama yang dia jaga setulus hati. Kehormatan yang dia pelihara mati‑matian.
Itulah dia. Bukan uang. Bukan jabatan. Bukan sekadar nama baik di mata manusia biasa. Bukan juga rasa cintanya pada Farhan. Semua itu hanya lapisan luar saja. Inti seluruh diri Alina, alasan kenapa dia bisa bertahan menghadapi segala tekanan sampai detik ini, adalah karena dia hidup memegang teguh aturan agamanya, dan dia menjaga kehormatan dirinya serta nama baik keluarga yang menerimanya melebihi apa pun di dunia ini. Arka teringat betul bagaimana Alina selalu berusaha tampil sempurna dalam akhlak dan ibadah, bagaimana dia pernah menangis pelan sendirian di teras hanya karena mendengar orang mengait‑ngaitkan namanya sembarangan, bagaimana dia sering berucap pelan.
“Aku cuma anak tiri, satu‑satunya yang bisa kuberikan buat Ibu dan Dimas hanyalah nama baik dan kesalehan yang tidak pernah ternoda.” Dia tumbuh dididik Bu Kirana bahwa menjadi wanita beriman yang menjaga diri adalah harga diri tak boleh ditawar apa pun. Dan karena dia sadar dia tidak terikat darah, dia menjaga dua hal itu dua kali lebih keras dibandingkan wanita lain pada umumnya.
Arka tertawa kecil pelan di tengah kegelapan kamarnya. Sungguh ironis. Apa yang menjadi kekuatan terbesar Alina, apa yang membuatnya terlihat begitu mulia dan sulit disentuh keburukan orang lain, ternyata justru menjadi kelemahan paling mematikan yang pernah dia temukan pada seseorang. Dan dia paham betul cara kerjanya. Bagi orang yang tidak terlalu peduli soal agama dan kehormatan, dituduh berbuat maksiat atau berperilaku buruk mungkin hanya dijawab gelengan bahu atau pembantahan biasa. Tapi bagi orang seperti Alina — yang setiap detik berusaha menjaga diri, yang setiap sujud selalu memohon kesucian hati, yang berjuang belasan tahun membuktikan diri layak disayang keluarga yang bukan darah dagingnya — kalau nanti dituduh melanggar hal‑hal paling dia takuti melanggarnya, dan tuduhan itu datang lengkap bukti disusun sedemikian rupa hingga terlihat sangat nyata, maka kehancurannya tidak hanya terjadi di mata orang lain. Dia akan menghancurkan dirinya sendiri dari dalam.
Dia tidak cuma akan kehilangan pernikahan impiannya. Dia akan merasa dirinya sudah kotor, sudah berdosa, sudah gagal total menjadi anak, menjadi wanita, menjadi hamba beriman. Rasa bersalah tanpa dasar itu akan memakannya hidup‑hidup, sampai dia sendiri yang memilih menjauh dari segala hal yang dicintainya, sampai dia sendiri melepaskan Farhan, sampai dia merasa tidak pantas lagi berdiri di samping ibu tiri dan adik tirinya yang selama ini dia hormati dan sayangi melebihi nyawanya sendiri. Itu jauh lebih menyakitkan, jauh lebih mematikan, daripada sekadar dipecat dari pekerjaan atau dibicarakan orang di jalanan. Dan itulah persisnya yang Arka inginkan.
Malam itu juga dia susun ulang seluruh rencananya di atas kertas dengan tulisan rapi dan dingin. Bukti‑bukti yang tadinya hanya berputar di sekitar kesalahan administrasi, selisih angka atau keterlambatan kerja, kini diubah, dilengkapi, diarahkan seluruhnya ke satu arah saja, seolah‑olah selama ini kesalehan Alina hanyalah topeng belaka. Seolah di balik penampilan selalu tertutup rapat dan lemah lembut itu, dia diam‑diam melakukan hal‑hal bertentangan total dengan ajaran agama yang selalu dia dengungkan, hal‑hal sangat merusak kehormatan diri dan nama baik keluarga besarnya. Dia catat nama‑nama orang yang sudah dijanjikan sejumlah uang menjadi saksi, orang‑orang yang nanti berbicara meyakinkan seolah melihat sendiri segala hal yang tidak pernah terjadi itu. Dia bahkan tersenyum membayangkan begitu semua terbuka nanti, bahkan Dimas — yang baru pulang menuntut ilmu agama di tanah suci — bahkan gurunya sekalipun pada awalnya akan sulit membela kakak tirinya sendiri. Karena serangan ini bukan datang dari sisi duniawi semata, tapi langsung menusuk ke hal paling suci yang mereka junjung tinggi bersama, sekaligus memanfaatkan kerentanan terdalam posisi Alina sebagai anak tiri yang selalu berusaha membuktikan diri.
Di kejauhan di rumah Bu Kirana, di saat hampir bersamaan, Alina baru bangkit dari sujud panjangnya di sepertiga malam. Dadanya terasa begitu sesak lebih berat dari malam‑malam sebelumnya, tapi sama sekali tidak tahu mengapa. Dia tidak sadar, tepat di malam sunyi itu musuh yang berjalan menyamar di samping keluarganya baru saja menemukan senjata paling mematikan. Senjata yang diambil tepat dari apa yang paling dia cintai, paling dia jaga, dan paling dia banggakan sepanjang hidupnya.
Arka meniup pelan ujung pena yang baru dipakai menulis, lalu melipat rapi semua catatan memasukkannya ke laci meja terkunci rapat. Hitungan mundur kini berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Dia tidak lagi hanya ingin membatalkan sebuah pernikahan mereka. Dia ingin meruntuhkan seluruh dunia tempat Alina berdiri, dimulai dari dua hal yang paling dia yakini tidak akan pernah bisa dirusak siapa pun, imannya dan harga dirinya. Dan dia yakin sepenuh hati, kali ini tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup menghalanginya.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏