NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — Mas Jifan seperti anak kecil

Saat Jifan membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kosong.

Bukan karena ruangan itu sunyi.

Tapi karena sesuatu yang biasanya ada di sampingnya… tidak ada.

Tangannya langsung meraba sisi ranjang.

Dingin.

Kosong.

Jifan langsung duduk tegak.

Matanya menyapu kamar dengan cepat.

“Diara?”

Tidak ada jawaban.

Jantungnya mulai bergerak tidak normal.

“Diara.”

Nada suaranya lebih tegas.

Masih tidak ada respon.

Tanpa berpikir panjang, Jifan langsung bangkit.

Langkahnya cepat, bahkan sedikit goyah karena tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih.

Ia membuka pintu kamar.

“Diara!”

Suara itu terdengar lebih keras sekarang.

Hampir seperti panik yang tidak bisa disembunyikan.

Ia berjalan cepat menyusuri lorong.

Membuka satu ruangan ke ruangan lain.

“Diara!”

Napasnya mulai tidak teratur.

Tangannya sedikit gemetar.

Pikiran buruk mulai muncul tanpa diundang.

“Jangan… jangan sampai dia pergi lagi…”

Ia terus berjalan sampai ke arah dapur.

Dan di saat itu…

ia berhenti mendadak.

Diara berdiri di dapur.

Memakai apron sederhana.

Sedang mengaduk sesuatu di panci.

Rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya tenang.

Jifan membeku.

Beberapa detik.

Hanya menatap.

Lalu tanpa peringatan—

ia langsung menghampiri Diara dan memeluknya dari belakang. 

“Mas?!”

Diara kaget sampai hampir menjatuhkan sendok.

Pelukan Jifan erat.

Terlalu erat untuk seseorang yang baru bangun tidur.

“Aku kira kamu pergi lagi…”

Suara Jifan rendah.

Pelan.

Tapi jelas ada getaran di dalamnya.

Diara langsung terdiam.

Lalu perlahan menepuk tangan Jifan.

“Mas… aku di sini.”

Jifan tidak langsung melepas pelukannya.

Seolah masih memastikan bahwa itu benar-benar nyata.

“Aku bangun… kamu tidak ada…”

Diara menoleh sedikit.

“Mas, aku cuma di dapur. Masak.”

Baru beberapa detik kemudian Jifan mulai melepas pelukannya.

Tapi tangannya masih memegang lengan Diara ringan.

Seperti tidak ingin kehilangan kontak.

Diara tersenyum kecil.

“Mas itu kenapa sih? Panik banget.”

Jifan mengalihkan pandangan.

“…tidak tahu.”

Jawabannya singkat.

Tapi jujur.

Diara mematikan kompor.

“Sudah, ayo sarapan dulu.”

Mereka duduk di meja makan.

Suasana pagi itu terasa lebih tenang dibanding malam sebelumnya.

Diara meletakkan makanan sederhana di depan Jifan.

“Mas makan.”

Jifan hanya mengangguk.

Namun tidak langsung makan.

“Obatnya juga minum.”

Diara sudah menyiapkan obat dan air hangat.

Jifan menatapnya.

“Sudah sembuh.”

Diara langsung mengangkat alis.

“Belum.”

Nada suaranya tegas kecil. 

Jifan diam.

Lalu akhirnya menelan obatnya.

Diara mengamati sebentar.

“Bagus.”

Setelah itu, Diara duduk kembali.

“Mas harus istirahat lagi.”

Jifan langsung menoleh.

“Aku harus kerja.”

Diara menggeleng cepat.

“Tidak boleh.”

Jifan mengerutkan alis.

“Diara—”

“Mas CEO, tapi juga manusia.”

Jifan terdiam.

Diara melanjutkan.

“Mas masih panas kemarin. Harus istirahat.”

Jifan bersandar di kursi.

“…aku punya meeting.”

Diara menatapnya datar.

“Dibatalkan.”

Hening. 

Jifan menatap Diara lama.

Seperti sedang menimbang sesuatu.

Lalu tiba-tiba—

“Kalau aku istirahat…”

Diara mengangkat alis.

”…apa?”

“Aku harus ditemani.”

Diara langsung terdiam.

“Mas…”

Jifan menatapnya serius.

“Aku tidak mau kamu pergi lagi.”

Suasana hening sejenak.

Diara menghela napas pelan.

“Mas ini seperti anak kecil.”

Jifan tidak menjawab.

Hanya menatapnya.

Akhirnya Diara menyerah.

“…iya.”

Wajah Jifan sedikit melunak.

“Berarti kamu tidak kerja hari ini?”

tanya Jifan memastikan.

Diara mengangguk kecil.

“Iya.”

Jifan langsung berdiri pelan.

Lalu berjalan ke arah kamar.

Diara mengikutinya dari belakang.

“Mas tidur saja dulu.”

Jifan berhenti di pintu kamar.

Menoleh sedikit.

“Di sini.”

Diara menghela napas.

“Baik.”

Jifan berbaring di ranjang.

Namun matanya tetap mengikuti Diara.

Diara duduk di sampingnya.

Mengambil selimut dan merapikannya.

“Mas jangan keras kepala ya.”

Jifan menatapnya.

“…aku tidak keras kepala.”

Diara langsung tersenyum kecil.

“Iya, iya.”

Beberapa detik kemudian, Jifan memejamkan mata.

Namun tangannya perlahan mencari tangan Diara.

Diara merasakan itu.

“Tangan Mas kenapa?”

“Pegang.”

Diara terdiam sebentar.

Lalu akhirnya menggenggamnya.

“Sudah?”

“Belum.”

“Apa lagi?”

“Jangan jauh.”

Diara hanya mengangguk kecil.

“…iya.”

Dan untuk pertama kalinya pagi itu…

Jifan benar-benar tertidur dengan tenang.

Karena Diara tidak pergi ke mana pun.

Dan Diara, tanpa sadar…

mulai mengerti satu hal sederhana:

bahwa seseorang yang terlihat kuat, justru paling takut kehilangan orang yang ia sayangi.

🪻🪻🪻🪻

Diara sedang melakukan meeting online dengan klien untuk finalisasi desain interior rumah bergaya American house di ruang keluarga. Layar laptop menampilkan sketsa, referensi warna, serta revisi yang sedang mereka diskusikan. Suasana rumah cukup tenang, hanya terdengar suara penjelasan Diara yang sesekali berpadu dengan respons klien di seberang layar.

Di sisi lain rumah, Jifan baru saja terbangun. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya; rasa sakit yang sempat mengganggu dirinya perlahan menghilang. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, menggerakkan bahunya, memastikan tubuhnya benar-benar pulih. Setelah merasa cukup baik, ia keluar kamar dengan langkah pelan, mencari keberadaan Diara.

Suara percakapan samar terdengar dari ruang keluarga. Jifan mengikuti arah suara itu dan menemukan Diara sedang fokus berbicara di depan laptop. Wajahnya serius, profesional, benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya.

Tanpa banyak berpikir, Jifan mendekat. Ia duduk di samping Diara, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.

Gerakan itu membuat Diara terkejut. Refleks tubuhnya sedikit menegang, sementara matanya masih menangkap layar laptop yang sedang menampilkan klien di video call. Rasa kaget itu bercampur dengan rasa canggung yang langsung muncul.

“Maaf… sebentar ya,” ucap Diara kepada klien dengan nada sopan, berusaha menahan situasi agar tetap profesional. “Sepertinya ada sedikit gangguan.”

Setelah itu, dengan cepat namun tetap menjaga etika, ia mengakhiri pertemuan tersebut. Laptop ditutup pelan, lalu Diara menarik napas panjang.

Pandangannya beralih ke Jifan yang masih bersandar di bahunya.

“Mas… itu tadi lagi meeting,” ucap Diara dengan nada menahan kesal. “Tidak sopan kalau tiba-tiba seperti itu.”

Jifan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat wajahnya sedikit, lalu berkata dengan nada tenang dan cenderung datar, “Aku cuma mau dekat sama istriku.”

Diara terdiam sesaat, menghela napas panjang. Ada kebingungan yang jelas terlihat di wajahnya.

“Mas sebenarnya kenapa?” tanyanya akhirnya. “Kamu berubah. Jadi… lebih manja. Bukan seperti biasanya.”

Jifan menatap Diara cukup lama, kali ini lebih serius dari sebelumnya. Tidak ada gurauan di wajahnya.

“Aku sepertinya jatuh cinta lagi sama kamu, Diara,” ucapnya pelan.

Tangan Jifan terangkat, menyentuh lembut pipi Diara, seolah memastikan bahwa perempuan di depannya benar-benar nyata.

Jarak di antara mereka perlahan menyempit. Diara tidak bergerak, masih terpaku pada perubahan sikap Jifan yang tiba-tiba. Hingga akhirnya, Jifan semakin mendekat, dan momen itu berhenti pada Jifan melumat bibir Diara dengan lembut, dan hanya diisi detak jantung yang terasa semakin cepat—sebelum suasana di antara mereka berubah menjadi lebih hangat dan sunyi dari kata-kata.

Diara masih terpaku di tempatnya, napasnya belum kembali stabil setelah momen yang baru saja terjadi. Jarak antara dirinya dan Jifan masih terlalu dekat, menyisakan suasana yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata.

Ia refleks menyentuh bibirnya sendiri, matanya melebar menatap Jifan dengan campuran kaget dan tidak percaya.

“Apa yang mas lakukan?” suara Diara terdengar pelan, hampir bergetar.

Jifan tidak menjauh. Justru ia meraih tangan Diara dengan tenang, menggenggamnya erat namun lembut, seolah memastikan bahwa Diara tidak akan menarik diri.

“Aku cinta sama kamu, Diara,” ucap Jifan dengan nada serius, tanpa keraguan sedikit pun.

Diara terdiam. Kata-kata itu seperti berhenti di udara, menempel di pikirannya tanpa sempat ia proses sepenuhnya. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada suara yang keluar. Jantungnya justru semakin berdebar tidak terkendali.

Namun sebelum Diara sempat memberikan jawaban, suara dering telepon memecah keheningan di antara mereka.

Jifan melirik layar ponselnya. Nama yang muncul membuat ekspresinya berubah sedikit lebih profesional.

“Arkan?”

Ia mengangkat panggilan itu.

Dari seberang, suara Arkan terdengar jelas memberi kabar bahwa ada klien dari Korea yang sudah menunggu di kantor dan meminta Jifan segera hadir untuk finalisasi pertemuan penting.

Jifan menghela napas pelan, lalu menutup panggilan setelah beberapa instruksi singkat.

Ia kembali menatap Diara.

“Maaf, aku harus ke kantor sebentar,” ucapnya sambil masih memegang tangan Diara. “Ada klien penting yang sudah menunggu.”

Diara mengangguk kecil, masih dalam keadaan sedikit linglung.

Jifan melepaskan genggamannya perlahan, lalu berdiri. Sebelum benar-benar pergi, ia menatap Diara sekali lagi, seolah memastikan sesuatu yang tidak terucapkan, kemudian melangkah keluar dari rumah.

Keheningan kembali memenuhi ruang keluarga.

Diara berdiri di tempat yang sama, lalu perlahan meletakkan tangannya di dada. Detak jantungnya masih belum stabil.

Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini ada sesuatu yang hangat di dalam dirinya. Rasa yang sulit dijelaskan, tetapi jelas terasa menguat.

Senyum kecil muncul tanpa ia sadari.

Ternyata, apa yang ia rasakan selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.

Ia menatap pintu yang baru saja ditinggalkan Jifan, lalu menghembuskan napas pelan. Di dalam hatinya, muncul keyakinan yang perlahan tumbuh—bahwa perjalanan rumah tangganya tidak lagi berjalan sendiri, melainkan menuju sesuatu yang lebih hangat dan penuh harapan.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!