.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursi Empuk, Interogasi, dan Taruhan ke Pusat Kota
Atmosfer di dalam Aula Utama Keluarga Cabang Huang terasa begitu menekan, sedingin es yang membeku di puncak gunung. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu dipenuhi oleh puluhan tetua cabang yang duduk dengan tubuh tegang. Di barisan paling depan, duduk beberapa tetua dari faksi Tetua Kelima, semuanya menatap ke tengah ruangan dengan pandangan penuh napsu membunuh.
Di atas kursi utama yang biasanya ditempati oleh kepala cabang, kini duduklah Huang Fu. Pemuda dari pusat kota itu menyandarkan tubuhnya dengan angkuh, satu tangannya mengetuk-ngetuk gagang kursi giok pelan. Di samping kanannya, berdiri pria paruh baya berbaju abu-abu—master Lapis ke-7 yang auranya samar namun mengerikan, mengunci seluruh ruangan dengan tekanan spiritual yang pekat.
Namun, di tengah-tengah kepungan singa-singa politik itu, fokus Ji Huang sama sekali tidak berada pada interogasi yang sedang berlangsung.
Sejak melangkah masuk, dia langsung mengincar sebuah kursi kayu jati besar berlapis kain sutra tipis di sudut ruangan. Tanpa memedulikan tatapan tajam semua orang, sang mantan Dewa Pedang langsung mendudukkan pantatnya di sana. Dia menyandarkan punggung fanya, mengelus lengan kursi yang halus, lalu membatin dengan sangat polos: “Wah, kursi di aula ini beneran empuk. Kain sutranya sejuk dan busanya tebal. Jauh lebih nyaman daripada dipan kayu di kamarku. Orang-orang cabang ini memang berisik, tapi selera furnitur mereka boleh juga.”
"Ji Huang! Berani-beraninya kamu duduk bersantai di depan Utusan Utama?!" bentak salah satu tetua dari faksi Tetua Kelima, wajahnya memerah karena merasa diabaikan. "Katatan yang jujur! Sihir hitam atau racun terlarang apa yang kamu gunakan untuk melumpuhkan meridian kaki Huang Jian di turnamen kemarin?! Anak cacat seperti kamu tidak mungkin memiliki kekuatan murni untuk melakukan itu!"
Ji Huang perlahan mengalihkan pandangannya dari sandaran kursi sutra, menatap tetua yang berteriak itu dengan ekspresi lempeng tanpa dosa.
"Aku tidak pakai sihir atau racun, Tetua Berisik," jawab Ji Huang blak-blakan dengan nada malas yang luar biasa jujur. "Putra Tetua saja yang melompat terlalu lambat seperti kura-kura tua yang sedang encok. Gerakannya dipenuhi ratusan celah mati, jadi aku hanya mengetuk sedikit saraf lututnya dengan tusuk sate agar dia diam. Kalau kalian semua tidak percaya pada penjelasanku, suruh saja dia berdiri dari tandunya sekarang dan melompat lagi di sini."
Uhuk! Uhuk!
Beberapa tetua cabang seketika tersedak, mata mereka melotot hampir keluar mendengar jawaban yang kelewat berani itu. Menyarankan seorang pemuda yang lututnya sudah hancur sembilan puluh derajat untuk berdiri dan melompat lagi? Itu bukan lagi sekadar pembelaan diri, melainkan penghinaan sadis yang dibungkus kepolosan!
Wajah Huang Fu seketika menggelap, niat membunuh berkilat di matanya. "Kurang ajar. Pasukan penegak hukum, patahkan kedua tangan babi lancang ini sekarang juga—"
BAMMMM!
Sebelum kata-kata Huang Fu selesai, pintu gerbang kayu raksasa Aula Utama didobrak terbuka dari luar dengan dentuman keras. Sinar matahari pagi menerobos masuk, mengiringi langkah cepat dua orang yang baru saja tiba.
Ji Lan melangkah masuk dengan gaun hijau berburunya yang gagah, matanya langsung tertuju pada Ji Huang yang sedang duduk santai. Di sampingnya, berdiri Ji Feng, Kepala Urusan Internal klan cabang, yang memancarkan aura Lapis ke-6 yang kuat dan stabil.
"Hentikan!" suara tegas Ji Feng menggema di seluruh aula, menghentikan langkah para pengawal hitam. Ji Feng melangkah maju, menjura hormat dengan formal namun matanya menatap Huang Fu dengan dingin. "Utusan Utama Huang Fu, ini adalah wilayah administrasi klan cabang Kota Amerta. Menghukum atau melumpuhkan seorang murid tanpa adanya bukti otentik mengenai penggunaan sihir hitam adalah tindakan yang melanggar hukum dasar aliansi keluarga!"
Melihat kedatangan Ji Feng yang membawa otoritas politik cabang, para tetua yang tadinya ingin mencari muka langsung bungkam.
Sementara itu, Ji Lan langsung melesat dan berdiri tepat di depan kursi Ji Huang, memblokir pandangan para pengawal dari sepupunya. Gadis itu menoleh ke belakang, menatap Ji Huang dengan pandangan super jutek namun sepasang mata jernihnya memancarkan kecemasan yang mendalam.
"Dasar bodoh!" bisik Ji Lan dengan nada kesal yang tertahan, giginya gemertak. "Kamu beneran tidak bisa menutup mulut lancangmu itu sebentar saja, ya?! Kenapa kamu malah memprovokasi mereka saat nyawamu sedang di ujung tanduk?!"
Ji Huang hanya menatap wajah memerah Ji Lan dengan pandangan polos, lalu menguap kecil. "Sepupu jutek, kursinya beneran empuk. Kamu mau coba duduk di sebelah sini?"
"Ji Huang!!" Ji Lan rasanya ingin sekali mencekik sepupunya sendiri saat itu juga.
Melihat Ji Lan yang kembali pasang badan dan membela Ji Huang dengan begitu gigih, sifat arogan dan ego maskulin Huang Fu seketika terusik kembali. Rasa malunya yang sempat membakar dada karena ditolak di paviliun tadi kini berubah menjadi senyuman sinis yang penuh kelicikan.
Huang Fu perlahan bangkit dari kursi utamanya. Dia mengibas jubah sutra putih sulaman peraknya yang mewah dengan gerakan sok keren, lalu melangkah turun dari tangga altar panggung dengan gaya yang sangat pongah. Matanya menatap Ji Lan dengan pandangan meremehkan yang dibuat-buat.
"Ah... Sepupu Lan, kamu benar-benar terlalu naif," ucap Huang Fu dengan nada suara yang sengaja dibesarkan agar terdengar berwibawa di seluruh aula. "Sampah tidak tahu diri seperti dia sama sekali tidak layak mendapatkan pembelaan dari wanita secantik dirimu. Di bawah hukum kedaulatan Keluarga Utama pusat kota, klan cabang tidak memiliki hak politik untuk menolak keputusan kami."
Huang Fu berhenti tepat beberapa langkah di depan Ji Lan, menyilangkan tangan di dada dengan senyum merendahkan. "Hari ini, aku tidak akan mengeksekusi atau melumpuhkannya di tempat ini karena aku menghormati posisi ayahmu, Tetua Ji Feng. Namun, jangan mengira masalah ini selesai begitu saja."
Sambil melemparkan pandangan tajam penuh intimidasi ke arah Ji Huang, Huang Fu melanjutkan dengan nada sombong yang menggelegar, "Sebagai gantinya, aku akan membawa bajingan kecil ini langsung ke Kota Utama pusat kota hari ini juga! Dia akan disidang dan diperiksa langsung oleh Aula Penegak Hukum Pusat dan Tetua Agung! Di sana, di bawah langit pusat kota yang megah, klan cabangmu tidak akan bisa mengulurkan tangan untuk menolongnya lagi. Dia akan membusuk di penjara bawah tanah!"
Mendengar keputusan sepihak itu, wajah Ji Lan seketika memucat pasi. Tubuhnya bergetar. Kota Utama pusat kota adalah sarang monster; di sana dipenuhi oleh kultivator tingkat tinggi yang kejam. Jika Ji Huang yang baru Lapis ke-2 dibawa ke sana, dia tidak akan pernah bisa kembali dalam keadaan hidup.
"Tidak! Kalian tidak bisa membawa—" Ji Lan berteriak panik, bersiap menghunus pedangnya demi melakukan perlawanan nekat.
Namun, sebelum Ji Lan atau ayahnya sempat melayangkan protes politik yang lebih jauh, sesosok tubuh dari belakang Ji Lan perlahan bangkit berdiri. Ji Huang meregangkan kedua tangannya ke atas, menguap dengan sangat lebar hingga matanya berair, mengabaikan seluruh ketegangan yang ada.
"Oh... mau dibawa ke Kota Utama pusat kota ya? Baguslah," ucap Ji Huang polos tanpa beban, suaranya terdengar sangat santai memotong kepanikan Ji Lan. "Kudengar dari cerita orang-orang, di Kota Utama ada pasar malam terbesar dengan kedai bebek panggang madu yang sangat lezat. Dan yang paling penting... kasur-kasur di penginapan pusat kota katanya berlapis bulu angsa impor yang sangat tebal."
Ji Huang melangkah maju, melewati Ji Lan yang membatu, lalu menatap Huang Fu dengan pandangan lempeng yang luar biasa jujur. "Kebetulan kasur bulu angsa di kamarku agak bau apek karena kamarku tidak ada pintunya. Ayo kita jalan sekarang, aku ikut dengan sukarela ke pusat kota. Tapi, di dalam kereta kuda mewahmu nanti harus disediakan bantal sutra yang nyaman untuk tidur siangku selama perjalanan, ya. Kalau tidak ada, aku malas ikut."
Keheningan total kembali melanda seluruh Aula Utama.
Huang Fu melongo dengan mulut sedikit terbuka, kehabisan kata-kata menghadapi logika abnormal dari bocah di depannya. Diinterogasi untuk dibawa ke tempat pembantaian politik, tapi babi malas ini justru dengan senang hati ikut hanya demi mencicipi bebek panggang dan mencari kasur yang lebih mewah?
Ji Lan hanya bisa memegangi kepalanya dengan pandangan kosong, merasa tingkat kewarasannya menurun drastis. Dia menyadari satu hal yang mutlak: sepupu pemalasnya ini tidak sedang berjalan menuju jebakan, melainkan dengan sengaja melompat ke sarang macan pusat kota hanya demi mendapatkan fasilitas tidur siang yang lebih VIP.
Ji Huang berjalan mendahului rombongan pusat kota menuju pintu keluar dengan sandal kayunya yang berbunyi pletag-pletog, meninggalkan kekacauan mental yang luar biasa di dalam aula utama.