Kehidupan Selia yang penuh dengan warna menjadi rumit semenjak pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Franz,pasalnya laki-laki berusia tiga puluh tahun itu memiliki perasaan cinta yang menggebu-gebu sejak pertemuan pertama mereka. Namun Selia tidak ingin terburu-buru menikah,meski ia juga memiliki teman laki-laki yang begitu dekat dengannya.
Tujuan hidupnya hanya satu ingin membanggakan orang tua tunggalnya dan memberikan hidup yang lebih bahagia kepada ibu dan adiknya itu,namun apakah Selia dapat mewujudkan mimpinya itu? atau justru cinta dan ambisi yang akan menang?
Simak terus ceritanya dan jangan sampai ketinggalan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAKARTA DAY 2
Saat aku tiba di halaman belakang,aku melihat pak Franz tengah berada di tepi kolam dengan bertelanjang dada. Dan ketika ia mendengar suara Toni memanggilku saat itu juga pak Franz menatapku dengan tatapan yang selalu membuat jantungku berdegup kencang,aku langsung membalikkan badan dan menghindari tatapan itu. Tak berselang lama Toni datang dan membungkuk memberi hormat pada pak Franz
"Maaf tuan saya...." ucap Toni mencoba menjelaskan
"Tidak apa,kamu bisa pergi" jawabnya
Melihat Toni pergi aku semakin merasa tidak nyaman karena harus berdua dengan pak Franz
"Nona Selia..."
"Iya.."
"Saya disini? Kenapa kamu terus menghadap kesana?"
"Ma maaf"
Aku membalikkan badan namun karena pak Franz tepat berada di belakangku dan sangat dekat akupun gugup,hampir saja aku terjatuh ke belakang jika saja pak Franz tidak menarikku. Namun tubuh kami sekarang justru tak berjarak,tanganku menyentuh dadanya yang bidang dan keras itu. Aku menelan salifa dan tidak tahu harus bagaimana dengan situasi ini
"Apa kamu akan terus menempel seperti ini?" ucap pak Franz
Dengan gugup aku langsung mundur beberapa langkah memberi jarak diantara kami
"Ma maaf pak Franz,saya tidak bermaksud..."
"Saya tahu,kalau begitu saya ganti baju dulu. Kamu bisa tunggu di sini atau ke ruang tamu" ucapnya sebelum meninggalkanku
Kali ini jantungku benar-benar akan lepas dari tubuh jika mengingat posisi kami seperti tadi,aku langsung duduk di gazebo yang tak jauh dari kolam renang. Menenangkan diri dan mencoba melupakan kejadian barusan,tak lama seorang pelayan datang membawakan sandwich,jus alpukat dan segelas kopi susu.
"Permisi nona..."
"Ini buat siapa mbak?" tanyaku
"Tadi tuan meminta untuk di bawakan ini kemari,permisi"
Aku merasa bahwa pak Franz cukup perhatian meski ke orang yang baru ia kenal,tiba-tiba Toni datang menghampiriku dengan membawa sebuah bucket lily kuning yang sangat indah. Ia memberikannya kepadaku,padahal aku hanya bergumam dalam hati bahwa bunga itu indah
"Ini....?" tanyaku dengan wajah bingung
"Tuan meminta saya memberikan ini pada anda"
"Untukku?"
"Saya permisi nona"
Aku terdiam sembari menatap bucket cantik ini di pangkuanku,tak lama kemudian pak Franz menghampiriku dengan pakaian yang sudah rapi.
"Kenapa belum dimakan?" ucapnya sembari menatap nampan yang tadi dibawakan oleh pelayan
"Saya tidak terbiasa sarapan pagi"
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa,karena meninggalkan sarapan tidak baik untuk tubuh kamu"
"Tapi...."
"Sekarang kamu makan dulu,setelah itu ikut saya"
"Kemana?"
"Nanti kamu juga akan tahu"
Aku menghela nafas sembari menggigit sandwich yang ada ditanganku,beberapa suap sampai akhirnya membuat pak Franz mendekatkan tangannya ke arah wajahku. Aku terkejut dan memundurkan sedikit badan
"Ada sedikit saus di dekat bibirmu" ucapnya
Aku segera menggosok bagian itu dengan tangan,namun sepertinya itu membuat raut wajah pak Franz berubah.
Merasa canggung dengan situasi ini aku pun bangkit dan berniat kembali ke kamar
"Kamu mau kemana?" tanya pak Franz
"Saya mau mengemas barang-barang saya pak"
"Untuk apa? Bukankah saya sudah bilang kalian akan menginap di Jakarta sehari lagi"
"Sebaiknya saya menginap di hotel saja bersama yang lain pak" ucapku lalu pergi meninggalkan pak Franz
Ia menatapku yang telah pergi kemudian melirik ke arah bunga yang ada di gazebo,jantungku rasanya tak beraturan dengan sikap pak Franz barusan.
Aku membereskan seluruh barang-barangku dan bersiap pergi dari sini,namun tiba-tiba suara ketukan pintu membuatku menghentikan kegiatanku dan berjalan mendekati pintu,saat ku buka pak Franz berdiri disana sembari memegang bucket bunga yang di berikan oleh Toni tadi.
"Ada apa pak?" tanyaku
Ia terdiam namun memaksa masuk ke kamar ini,sembari menatap sekitar ia bertanya padaku
"Apa kamar ini kurang nyaman? Kurang bagus? Kurang membuat kamu merasa ingin disini?"
"Tidak pak,sama sekali tidak. Kamar ini sangat nyaman dan bagus. Tapi tetap saja saya merasa tidak enak jika terus-terusan ada disini"
"Kenapa Selia? Saya hanya ingin memberikan kamu yang terbaik"
"Tidak perlu pak,saya disini hanya tamu"
"Tapi saya tidak menganggap seperti itu,saya ingin kamu tinggal disini bersama saya"
"Maksud pak Franz?"
"Lupakan" ucapnya lalu keluar dari kamar ini
Aku bingung dengan sifatnya yang kadang diluar pemahamanku,tanpa mempedulikannya aku kembali mengemas barangku lalu keluar dari kamar tersebut. Saat di teras aku bertemu dengan Toni,aku berniat menanyakan hotel mana tempat mas Yuda dan mas Budi bermalam
"Nona Selia,anda mau kemana?"
"Pak Toni,bisakah anda memberitahu dimana teman-teman saya menginap?"
"Oh di hotel Santika nona,apa nona akan pergi kesana?"
"Iya"
"Apa sudah izin tuan Franz?"
"Untuk apa saya ijin?"
"Kalau begitu mari saya antar nona"
"Tidak perlu,saya akan naik taksi saja. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya pada pak Franz,kalau begitu saya permisi"
"Baik nona"
Aku melangkah keluar dari rumah itu,menunggu taksi online yang ku pesan datang di depan gerbang. Rumah itu nampak cukup besar,lalu aku teringat akan ucapan pak Franz tadi. Apa maksudnya ia bilang ingin tinggal disini bersama saya? Ah sudah lupakan,lagi pula mungkin aku yang salah dengar. Tak lama kemudian taksi yang ku pesan datang,segera ku masuk dan pergi menuju hotel tempat mas Yuda berada.
...****************...
POV TONI
Aku menghampiri tuan Franz yang sedang duduk di ruang tengah,nampaknya ia sedang scroll profil sosial media nona Selia di ponselnya
"Tuan..."
"Apa kamu bertemu dengan Selia didepan?"
"Iya tuan,ia bertanya dimana teman-temannya berada"
"Sudah pasti ia akan kesana,sepertinya dia bukan perempuan yang mudah"
"Lalu apa rencana tuan selanjutnya?"
"Kamu hubungi atasannya,bilang saja kami butuh panduan lebih lanjut untuk produk mereka"
"Baik tuan"
...****************...
...POV SELIA ...
Aku tiba di lobi hotel tempat mas Yuda dan mas Budi menginap,begitu masuk security menyambutku dengan baik.
"Selamat pagi nona ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin mencari tamu atas nama Yuda Prawira"
"Mari saya antar ke resepsionis"
"Selamat pagi nona,ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis
"Saya mau bertanya nomer kamar Yuda Prawira"
"Maaf sebelumnya,kalau boleh tahu apa hubungan nona dengan tamu kami?"
"Saya temannya,kami sudah janjian buat bertemu namun ponselnya tidak aktif"
"Baik mohon ditunggu saya cek terlebih dahulu"
"Terima kasih"
Setelah menunggu kurang lebih dua menit resepsionis tersebut bilang mas Yuda ada di kamar 602 di lantai tiga,aku segera bergegas masuk ke dalam lift dan berniat menghampiri kamar tersebut.