“Jangan pernah kembali ke rumah ini sebelum membawa laki-laki itu, untuk bertanggung jawab.”
Diana Rosemery Falika merasa hidupnya runtuh: diusir dari rumah karena kehamilan, dikhianati oleh laki-laki yang mengambil kehormatannya lalu menghilang tanpa jejak.
Di tengah kesedihannya, Aksatama Dikara hadir sebagai penopang—membantunya bangkit, dan perlahan membuat hatinya kembali percaya pada cinta.
Namun saat ia mulai berdamai dengan masa lalu, sosok yang menghilang itu kembali… Tibra Janari Sajana muncul membawa sebuah fakta mengenai transaksi rahasia yang berpotensi mengubah segalanya—fakta yang bisa menyeret Diana kembali pada luka yang sama.
Kini Diana harus memilih: menyambut masa lalu yang kembali menuntut tempat, atau menjauh demi melindungi hatinya sendiri.
Spin-off Rush Wedding. Lanjutan kisah Diana dan Tibra—dua hati dari dua kasta berbeda. Sebagian kisah awal mereka bisa ditemukan di novel pertama, namun buku ini dapat dinikmati secara terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muffin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
.......
.......
...🍓🍓🍓...
Delapan bulan lalu…
Langit di Bandara Melbourne tampak cerah. Birunya bersih, nyaris tanpa noda putih. Namun begitu kaki Tibra menginjak lantai bandara, rasa tak nyaman kembali menghantam tubuhnya.
Mual itu datang tiba-tiba, membuat langkahnya melambat. Perutnya bergejolak, tenggorokannya terasa pahit.
“Bra, kamu kenapa?” tanya Cathaleya, kakak angkatnya, yang berjalan di samping.
Ia menggeleng pelan, memaksakan senyum tipis, seolah semuanya baik-baik saja.
“Nggak apa-apa. Jetlag aja.”
“Hoeeekk—”
Tanpa basa-basi, Tibra langsung menutup mulutnya, lalu melangkah cepat mencari toilet terdekat. Sementara itu, Cathaleya menatap punggung adiknya dengan sorot mata penuh curiga, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Awalnya, Tibra mengira semua itu hanyalah dampak jetlag. Penyesuaian cuaca setelah perjalanan panjang. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tubuhnya hanya butuh waktu.
Namun hari-hari berikutnya justru semakin parah.
Mual itu datang semakin sering.
Hampir seminggu penuh, setiap pagi Tibra terbangun dengan kondisi yang tak banyak berubah. Aroma masakan yang pekat kerap memaksanya menelan ludah berkali-kali, menahan dorongan yang ingin keluar.
“Dek…” suara Meriana terdengar pelan, penuh kekhawatiran. “Udah seminggu ini kamu mual terus. Mami anter ke dokter ya?”
Tangannya mengelus punggung Tibra dengan lembut, sorot matanya penuh iba menatap putra kesayangannya.
Tibra menggeleng pelan.
“Nggak usah, Mi. Aku baik-baik aja, kok.”
Namun pada akhirnya, ia menyerah.
Siang itu, matahari berada tepat di atas kepala. Cahaya terik menyinari kota, udara panas menyentuh kulitnya tanpa ampun. Udara Melbourne terasa kering, berbeda dengan lembap yang biasa ia rasakan di Indonesia. Anehnya, justru saat itulah Tibra merasa lebih nyaman.
Panas itu membuat tubuhnya terasa lebih ringan, napasnya lebih lega. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia mampu berdiri tanpa rasa mual yang menggerogoti.
Ruang praktik itu terasa hening. Dokter Elizabeth duduk mengetik sesuatu di tabletnya sebelum akhirnya menatap pemuda di depannya.
“Hasil pemeriksaanmu normal. Tidak ditemukan masalah medis apa pun,” ujar dokter itu dengan nada tenang.
Tibra mengerutkan alis, bingung. Udara di ruangan itu terasa semakin menusuk. Aroma pewangi bercampur antiseptik membuat dadanya kembali tak nyaman, memicu rasa mual yang belum sepenuhnya reda.
“Saya mengalami mual hampir setiap pagi,” keluhnya. “Saya juga jadi sangat sensitif terhadap bau yang menyengat.”
Dokter wanita itu terdiam sejenak. Tatapannya menelisik wajah pasien di depannya, seolah sedang menimbang—apakah penjelasan berikutnya memang perlu disampaikan.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia kembali berbicara.
“Kalau dilihat dari gejalanya,” ucapnya perlahan, “ini lebih mengarah pada kehamilan simpatik.”
Tibra menegakkan tubuhnya tanpa sadar.
“Dalam kondisi ini, ketika seorang perempuan hamil, justru pasangannya yang mengalami gejala seperti morning sickness. Termasuk mual dan sensitivitas terhadap bau tertentu.”
Dokter Elizabeth kembali terdiam, mengamati wajah Tibra yang semakin pucat. Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati.
“Apa kamu punya istri… atau pasangan yang sedang hamil?”
Deg.
Tibra mengerjap sekali. Lalu sekali lagi. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan di tenggorokan.
“Tidak, Dok,” jawabnya akhirnya, pelan.
.
.
Setelah keluar dari ruang dokter, Tibra memilih duduk sendiri di bangku taman. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang tanpa benar-benar melihat. Kepalanya terasa penuh—berisik. Dadanya sesak.
Pandangan matanya lalu terhenti pada sepasang orang yang duduk di seberang. Perempuan itu hamil. Laki-laki di sampingnya tersenyum, telapak tangannya menempel di perut sang perempuan, bergerak pelan, seolah mengajak janin di dalam kandungan itu berbicara.
Napas Tibra tercekat.
Dadanya mengencang, ada nyeri yang sulit dijelaskan.
“Apa … Diana sedang hamil?”
Malam datang perlahan, menutup hari yang terasa terlalu panjang. Meja makan dipenuhi hidangan hangat, namun suasananya jauh dari hangat. Tibra duduk tegak di kursinya, kedua tangannya terlipat di pangkuan, pandangannya tertuju pada piring yang nyaris tak tersentuh.
“Aku mau kembali ke Indonesia,” ucapnya akhirnya, memecah sunyi. “Aku ingin melanjutkan kuliah di sana.”
Kalimat itu menggantung di udara, hanya sesaat.
“Nggak,” jawab Meriana dingin. “Nggak ada kembali ke Indonesia.”
Suasana meja makan mendadak membeku. Seisi ruangan seolah menahan napas.
“Mami nggak mau kamu berhubungan lagi dengan wanita murahan itu!” lanjut Meriana, suaranya meninggi, tajam tanpa sisa.
Ia mendorong kursinya hingga berderit kasar, lalu bangkit berdiri. Jeremy yang duduk di sampingnya hanya menoleh sekilas ke arah Tibra, mengusap lengan putranya singkat—gerakan kecil yang lebih mirip permintaan maaf—sebelum menyusul sang istri keluar dari ruang makan.
Meninggalkan Tibra sendirian.
Tangannya mengepal di atas meja. Rahangnya mengeras.
Lagi. Statusnya sebagai anak angkat membuatnya tak punya ruang untuk melawan. Menentang hanya akan membuatnya terlihat tidak tahu diri—sudah ditampung, dibesarkan dengan kasih sayang, lalu berani membantah demi seorang perempuan … ?
Helaan napas berat lolos dari dadanya. Kepalanya berdenyut.
Ia bangkit dan masuk ke kamar, lalu merebahkan tubuh di ranjang. Jemarinya memijat pelipis, matanya terpejam. Namun bayangan Diana justru muncul semakin jelas.
“Bagaimana nasibnya… jika aku benar-benar tidak bisa kembali ke Indonesia?” gumamnya lirih.
Di tengah kegusarannya, satu nama tiba-tiba melintas di benaknya.
Aksa.
Tibra membuka mata. Tangannya merogoh saku celana, mengambil ponsel. Tanpa ragu lagi, ia menekan satu nama di layar dan menelepon sahabatnya itu.
Panggilan tersambung setelah beberapa dering.
“Gue bisa bantu lunasin denda bokap lo,” ucap Tibra tanpa basa-basi. “Gue kasih lebih dari dua miliar.”
Ia menjeda, nadanya mengeras.
“Tapi gue butuh bantuan lo.”
Di sisi lain, Aksa yang berada di Indonesia langsung menghentikan permainan PS-nya. Ia menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layar dengan raut bingung, lalu mengangkatnya kembali.
“Maksud lo apa, Bra?”
Penjelasan Tibra mengalir cepat. Terlalu cepat. Kening Aksa mengernyit semakin dalam, matanya sesekali melebar, tak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Lo… gila ya?” suara Aksa meninggi. “Lo bikin anak orang hamil, terus lo mau lari?”
Ia menghela napas kasar. “Nggak. Gue nggak mau.”
Aksa menolak keras. Ini bukan cuma soal uang—meskipun ia memang sedang terdesak biaya besar akibat kasus korupsi ayahnya. Ini soal tanggung jawab. Bagaimana mungkin ia membiarkan sahabatnya kabur dari konsekuensi yang seharusnya dihadapi sendiri?
Namun di seberang sana, Tibra menjelaskan semuanya. Tentang keadaannya. Tentang keluarganya. Tentang ketidakberdayaannya untuk kembali.
Aksa terdiam lama.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menghela napas berat dan mengangguk pelan, meski Tibra tak bisa melihatnya.
“Oke,” ucapnya akhirnya. “Deal.”
“Gue bakal jagain dia,” lanjut Aksa, nadanya tegas. “Gue janji nggak akan sentuh dia.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan tekanan.
“Tapi cuma sampai lo balik ke sini. Lo tetap harus balik, Bra. Itu tanggung jawab Lo ke Diana dan ke anak itu.”
Bulan demi bulan berlalu, namun keadaan Tibra tak kunjung membaik. Justru sebaliknya—tekanan semakin menghimpit. Setiap celah untuk kembali ke Indonesia tertutup rapat. Paspornya ditahan Meriana. Setiap rencana kabur hanya berakhir sebagai angan. Ia terkurung, tak punya kuasa atas hidupnya sendiri.
Hingga suatu hari, Rajata datang.
Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, harapan itu muncul.
“Bulan depan kamu bisa ke Indonesia,” ujar Jeremy tenang di ruang kerja. “Papi sudah tanda tangan kontrak kerja sama dengan Mandala Global. Sementara sampai Cathaleya resmi menikah dengan Andreas, kamu yang handle proyek di sana.”
Dada Tibra terasa ringan, seolah udara baru akhirnya bisa masuk ke paru-parunya. Napas yang selama ini tertahan, perlahan terlepas.
“Tapi ingat,” lanjut Jeremy, nadanya kembali dingin. “Hanya sampai Andreas resmi menikah dengan Cathaleya. Setelah itu kamu kembali ke sini.”
Tibra mengangguk. Ia tidak membantah. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.
“Baik, Pi.”
Ia berbalik hendak pergi, namun suara Jeremy kembali menghentikannya.
“Ingat. Jauhi perempuan itu.”
Kata-kata itu menggema hingga Tibra menutup pintu kamarnya. Namun kali ini, ia tak peduli. Yang penting—ia bisa kembali ke Indonesia. Dan dalam diam, ia sangat berterima kasih pada Rajata. Tanpa bantuan pria itu, mungkin ia akan terjebak di tempat ini selamanya.
Dan kini—
Setelah hampir delapan bulan.
Tibra akhirnya berdiri di hadapan seorang perempuan yang hampir membuatnya gila. Seorang perempuan yang telah berjuang sendirian mempertahankan bayinya.
Diana tak mengatakan apa pun. Wajahnya mengeras, matanya berkaca. Tanpa menoleh kembali, ia berbalik dan berlari menuju unitnya. Langkahnya tergesa, napasnya terputus-putus, air mata jatuh tanpa sempat ia seka.
“Di!” Tibra mengejar. “Tunggu—”
Pintu unit tertutup keras di hadapannya.
Tibra berhenti tepat di depan pintu itu, dadanya naik turun. Detik berikutnya, ia menggedor.
“Di, buka pintunya,” suaranya tertahan, hampir memohon. “Tolong… dengerin aku dulu. Aku bakal jelasin semuanya.”
Tak ada jawaban.
Di balik pintu, Diana merosot duduk di lantai. Kedua tangannya menutup telinga, menahan suara yang kini justru paling ingin ia hindari. Suara itu—yang dulu ia tunggu setiap hari—kini terasa menyakitkan.
Di luar, Tibra masih berdiri. Menunggu.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut—
bukan hanya pada pintu di hadapannya yang tertutup, tapi juga pada hati perempuan di baliknya.
Malam terus berjalan. Hingga akhirnya, kelelahan mengalahkan amarah. Tibra menyerah. Ia membiarkan Diana sendiri.
Mentari bahkan belum benar-benar naik saat Tibra kembali berdiri di depan unit Diana. Koridor masih lengang, lampu-lampu temaram memantulkan bayangan tubuhnya yang terlihat lebih kurus.
Tangannya terangkat untuk mengetuk.
Namun sebelum jemarinya menyentuh kayu, pintu itu justru terbuka perlahan. Tibra terdiam. Alisnya mengernyit, jantungnya berdetak terlalu cepat.
“Di…”
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang menyambutnya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Dengan langkah ragu, ia melangkah masuk, menelusuri unit yang dulu ia belikan—saat Aksa mengabari bahwa Diana diusir dan tak punya tempat tinggal.
Kosong.
Apartemen itu sunyi, terlalu sunyi. Lemari terbuka. Rak-rak hampir bersih. Hanya tersisa gantungan kosong yang bergoyang pelan saat ia menyentuhnya.
Napas Tibra terputus. Matanya membelalak, dadanya naik turun tak beraturan.
Ia berbalik dan berlari.
Langkahnya membawanya ke unit Aksa. Pukulan keras menghantam pintu.
Dug! Dug!
Begitu pintu terbuka, Tibra langsung menerobos masuk, napasnya memburu, matanya liar menelusuri ruangan.
“Di mana lo sembunyiin Diana?” suaranya parau, hampir pecah.
Aksa terkejut, refleks melangkah mundur.
“Gue nggak tahu,” jawabnya cepat. “Dia nggak ke sini.”
Emosi yang belum reda meledak begitu saja. Tibra mencengkeram kerah baju Aksa, mendorongnya hingga punggungnya membentur dinding.
“Nggak usah bohong, Lo!” desisnya, rahangnya mengeras.
“Gue nggak bohong, Bra,” balas Aksa terengah, kedua tangannya terangkat menahan dada Tibra.
Beberapa detik berlalu. Napas mereka sama-sama berat.
Akhirnya, Tibra melepas cengkeramannya. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan keluar.
Aksa merosot sedikit, memegangi lehernya yang memerah. Batuk pelan terdengar, napasnya masih tersengal.
“Sial… kenapa semua jadi begini…” gumamnya lirih.
Tak lama kemudian, ia bangkit dan menyusul sahabatnya. Di lobi apartemen, udara pagi masih dingin dan lengang. Seorang satpam berdiri di dekat meja jaga, menyesap kopi sambil menatap layar ponselnya.
“Pak,” suara Tibra bergetar, nyaris tak terkendali. “Bapak lihat perempuan gendong bayi lewat nggak?”
Satpam itu menatap mereka, lalu berpikir sejenak, alisnya berkerut.
“Oh, ada, Mas. Subuh-subuh tadi. Mbak-mbak gendong bayi, bawa tas besar.”
“Kearah mana, Pak?” Aksa menyela, kini berdiri di samping Tibra. Wajahnya tak kalah tegang.
“Kurang tahu, Mas,” jawab satpam itu jujur. “Dijemput mobil. Kayaknya pesan Grab.”
Deg!
Dunia Tibra runtuh dalam satu detik.
...Lumayan panjang ya, hehe....
...Kasihan banget Tibra baru bisa kembali ke Indonesia, tapi Diana justru pergi 😭...
...Menurut kalian, keputusan Diana untuk melarikan diri itu tepat nggak sih?...
...Jangan lupa like dan komen, ya 🤍...