NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 sisi lain saka

Saka berjalan mendekati meja kerjanya sambil membuka map cokelat yang baru saja diterimanya dari Wulan.

Tatapannya menyapu setiap lembar dokumen dengan teliti. Sesekali ia mengangguk kecil, memastikan tidak ada halaman yang terlewat.

"Revisi layout..." gumamnya pelan.

"Terus kontrak kerja sama vendor dekorasi," sahut Wulan yang masih berdiri kikuk di dekat pintu.

Saka mengangguk. "Iya."

Ia mengambil sebuah pulpen hitam dari atas meja, lalu mulai membubuhkan tanda tangan pada beberapa halaman yang telah diberi penanda.

Suasana ruangan kembali hening Wulan berdiri memeluk tasnya sambil sesekali melirik ke berbagai sudut ruangan.

Entah kenapa, ruang kerja Saka jauh berbeda dari yang ia bayangkan Tidak terlalu besar, tetapi terasa nyaman.

Di salah satu sisi terdapat rak kayu berisi berbagai buku mengenai bisnis, desain acara, hingga manajemen proyek.

Di dekat jendela berdiri beberapa tanaman hias yang membuat ruangan terasa lebih hidup.

Sementara di dinding belakang meja kerja tergantung beberapa piagam penghargaan yang tertata rapi.

Pandangan Wulan kemudian berhenti pada sebuah foto keluarga berbingkai hitam, Di dalam foto itu tampak Saka berdiri bersama kedua orang tuanya dan Nara.

Senyum mereka terlihat hangat Tanpa sadar, sudut bibir Wulan ikut terangkat. "Keluarganya akur banget"

"Hm?"

Suara Saka membuat Wulan tersentak. "Hah?"

"Tadi kamu bilang apa?"

Wulan langsung menggeleng cepat. "E-enggak! Nggak ngomong apa-apa kok."

Saka hanya mengangguk pelan sebelum kembali fokus pada dokumen di depannya.

Di samping pintu, Nara yang sejak tadi bersandar sambil memperhatikan mereka hanya menahan senyum.

Canggung banget.

Kalau bukan karena urusan kerja, mungkin dua orang ini bakal saling diam sampai sore.

Tok.

Tok.

Pintu kembali diketuk.

"Masuk."

Seorang pria berkemeja biru masuk sambil membawa tablet. "Maaf mengganggu, Pak Saka."

"Iya, ada apa, Rio?"

"Meeting dengan tim vendor tinggal lima menit lagi."

Saka melirik jam tangan di pergelangan kirinya.

"Oke. Bilang ke mereka saya segera menyusul."

"Baik, Pak." Pria itu mengangguk, tetapi belum sempat berbalik, ia kembali berkata pelan. "Pak ada sedikit masalah."

Saka menatapnya "Masalah apa?"

"Vendor panggung mengirim revisi ukuran yang berbeda dari layout awal."

Rio tampak sedikit gugup. "Kalau pakai ukuran itu, dekorasi utama bisa bergeser hampir satu meter."

Wulan yang mendengar pembicaraan mereka ikut memperhatikan Kalau bergeser satu meter, Bukannya itu cukup parah?

Namun berbeda dengan Rio yang terlihat panik, ekspresi Saka tetap tenang. "Layout terbaru sudah kamu bawa?"

Rio langsung menyerahkan tablet yang dibawanya.

Saka memperhatikan beberapa gambar selama beberapa detik. "Lalu vendor kasih alasan apa?"

"Mereka bilang ukuran lokasi berubah setelah survei ulang."

"Hm."

Saka mengembuskan napas pelan. "Oke."

Rio tampak menunggu instruksi berikutnya.

"Jangan langsung ubah desain."

"Baik, Pak."

"Hubungi tim survei kita dulu. Cocokkan lagi datanya."

"Siap."

"Kalau memang lokasi berubah, baru kita revisi. Tapi kalau datanya masih sama seperti awal, berarti ada kesalahan dari pihak vendor."

Rio langsung mengangguk. "Siap, Pak."

"Sampaikan ke mereka jangan produksi apa pun sebelum datanya dipastikan."

"Baik."

Setelah mendapat arahan, Rio tampak jauh lebih tenang. "Terima kasih, Pak."

Ia pun keluar dari ruangan, Pintu kembali tertutup.

Wulan masih memandang ke arah pintu beberapa saat Baru kali ini ia melihat langsung bagaimana Saka bekerja.

Tidak ada nada tinggi, Tidak ada wajah marah,

Padahal tadi Rio benar-benar terlihat panik.

Kalau itu terjadi di dirinya Mungkin ia sudah ikut panik duluan. "Ih..."

Tanpa sadar Wulan berbisik pelan. "Pantes aja semua orang hormat sama dia"

"Lho?" Nara menoleh sambil tersenyum jahil. "Ada yang lagi muji, nih."

Mata Wulan langsung membesar. "Hah?"

"Aku denger, lho."

"Aduh..." Refleks Wulan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku ngomong keras ya?"

"Enggak." Nara terkekeh. "Cuma kebetulan pendengaranku bagus."

"Ish, Kak..."

Saka yang sejak tadi kembali menandatangani dokumen hanya menggeleng kecil.

Entah karena mendengar percakapan mereka,

Atau karena tingkah Wulan yang selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih hidup.

Beberapa saat kemudian, Saka menutup map itu perlahan. "Sudah."

Ia merapikan seluruh dokumen lalu menyerahkannya kembali kepada Wulan.

"Terima kasih sudah mengantarkannya."

Wulan segera menerima map itu dengan kedua tangan. "Sama-sama, Kak."

Sesaat mata mereka bertemu, Dan seperti biasa Wulan lagi-lagi menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan.

Ruangan kembali hening, Wulan merapikan map yang kini sudah ditandatangani, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas dengan hati-hati.

"Okey misi selesai," gumamnya pelan.

Saka yang mendengarnya tanpa sadar tersenyum tipis.

"Kalau begitu, Kak... aku balik dulu ya."

Saka mengangguk. "Iya."

Belum sempat Wulan melangkah menuju pintu Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan.

Kruuuk...

Suara itu memang tidak terlalu keras, Namun cukup membuat ruangan yang sedang hening itu terasa jauh lebih sunyi.

Wulan langsung membeku.

"..."

Nara menoleh pelan, Saka ikut mengangkat pandangan dari meja kerjanya.

Sedetik...

Dua detik...

Wajah Wulan berubah merah seketika.

"anjirrr"

Ia langsung menepuk pelan dahinya sendiri.

"Malu banget"

Nara menjadi orang pertama yang tertawa."Hahaha... Wulan."

"Bukan aku..."

Nara mengangkat sebelah alis. "Terus?"

"Itu" Wulan menunduk sambil menunjuk perutnya sendiri, "Pengkhianatan."

Nara langsung tertawa semakin keras.

"Ya ampun, lucu banget."

Bahkan sudut bibir Saka ikut terangkat sedikit Meski hanya sesaat, Wulan sempat melihatnya.

Dan entah kenapa Senyum kecil itu membuat jantungnya kembali berdebar.

Saka berdeham pelan. " belum makan?"

Wulan menggaruk tengkuknya. "Belum tadi buru-buru berangkat, Harusnya aku makan dulu, tapi takut Kak Sarah nunggu."

Saka mengangguk pelan. "sebentar"

Ia menekan tombol interkom di atas meja Tak lama kemudian suara dari seberang terdengar.

"Iya, Pak?"

"Tolong minta kantin kirim dua roti dan satu susu."

Wulan langsung mengangkat kepala. "Hah?"

Saka kembali melanjutkan,

"Tambah satu kopi untuk Nara."

Nara yang sejak tadi duduk santai langsung mengacungkan jempol. "Nah, gitu dong."

Wulan buru-buru melambaikan kedua tangannya.

"Eh, nggak usah, Kak. Aku pulang aja nanti makan di toko."

"Sebentar saja."

"Tapi..."

"Kamu belum makan." Jawaban Saka begitu singkat Namun tidak terdengar memaksa.

Lebih seperti seseorang yang benar-benar memastikan orang lain tidak kelaparan Wulan tidak tahu harus menjawab apa.

Beberapa menit kemudian, Seorang staf masuk sambil membawa nampan kecil. "Dari kantin, Pak."

"Terima kasih."

Di atas nampan itu terdapat dua roti isi, satu kotak susu, dan segelas kopi hangat, Staf itu meletakkannya di meja tamu lalu pamit keluar.

Nara langsung mengambil kopinya.

"Pas banget."

Sementara Wulan masih berdiri canggung.

Saka menoleh ke arahnya. "Duduk."

"Hah?"

"Duduk dulu."

"Sebentar saja."

Wulan akhirnya duduk perlahan di sofa kecil, Tatapannya berpindah dari roti, ke Saka, lalu kembali ke roti.

"sebel Malu banget."

Nara terkekeh."Kalau nggak dimakan, nanti aku habisin."

Refleks Wulan langsung mengambil salah satu roti. "Eh, jangan dong!"

Nara tertawa puas. "Nah, gitu."

Wulan menggembungkan pipinya.

"Kak Nara mah"

Ia membuka bungkus roti itu perlahan Masih malu sebenarnya Apalagi Saka masih berada di ruangan yang sama.

Namun aroma rotinya benar-benar menggoda,

Pelan-pelan ia menggigitnya.

"Enak?" Suara Saka kembali terdengar.

Wulan mengangguk cepat. "Iya enak"

Beberapa menit berlalu Suasana justru terasa nyaman, Nara sibuk memainkan ponselnya.

Saka kembali mengecek beberapa dokumen sebelum meeting, Sementara Wulan menikmati rotinya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Saka.

Baru hari ini ia benar-benar melihat bagaimana keseharian laki-laki itu, Bukan sebagai customer yang datang membeli bunga, Bukan juga sebagai seseorang yang beberapa kali ia temui di luar, Melainkan sebagai seorang pemimpin.

Yang tetap tenang meski banyak pekerjaan menunggu Yang berbicara dengan sopan kepada semua orang Dan, Yang diam-diam memperhatikan hal-hal kecil.

Seperti memastikan seseorang yang datang jauh-jauh ke kantornya tidak pulang dalam keadaan lapar.

Nara melirik sekilas ke arah Saka, Lalu kembali menatap Wulan, Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Dalam hati ia hanya bisa berkata,

" saka, Kayaknya benteng yang selama ini kamu bangun mulai ditembus orang, deh Dan lucunya Orang itu sama sekali belum sadar."

Wulan buru-buru menghabiskan sisa rotinya, lalu meminum susu yang ada di hadapannya.

"Udah?" tanya Nara.

Wulan mengangguk kecil. "Udah, Kak."

Ia segera merapikan bungkus roti ke atas nampan agar tidak berantakan. "Makasih ya... udah dikasih makan."

Nara terkekeh. "Jangan makasih ke aku."

Refleks Wulan menoleh ke arah Saka. "Ehehe makasih ya, Kak."

Saka mengangguk pelan."Sama-sama."

Ia lalu melirik jam tangannya. "Meeting saya sebentar lagi."

Wulan langsung berdiri sambil meraih tasnya.

"Kalau gitu aku pamit dulu, ya."

Saka ikut berdiri dari kursinya."Iya."

Nara yang sejak tadi duduk santai juga ikut bangkit. "Ayo, aku anter sampai bawah."

"Eh? Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri."

"Sekalian. Aku juga mau keluar bentar."

"Yaudah..."

Mereka bertiga keluar dari ruangan Begitu pintu terbuka, beberapa karyawan yang sedang bekerja tanpa sadar kembali mengangkat kepala.

"Lho, Mbak yang tadi."

"Iya."

"Udah selesai?"

"Kayaknya mau pulang."

Beberapa dari mereka tersenyum ramah kepada Wulan, Wulan pun membalas dengan senyum kecil sambil sedikit membungkukkan badan.

Siapa sangka, Ternyata orang-orang di kantor Saka ramah juga.

Mereka berjalan menuju lift.

Di sepanjang perjalanan, Nara sesekali mengobrol ringan dengan beberapa karyawan yang berpapasan.

Sementara Wulan hanya mengikuti dari belakang, Sesekali ia melirik ke arah Saka yang berjalan di sampingnya.

Laki-laki itu tetap terlihat tenang seperti biasa Tangannya sesekali membuka ponsel, membalas pesan singkat, lalu memasukkannya kembali ke saku celana.

Benar-benar sibuk, Pantas saja Kak Sarah bilang dari pagi meeting terus.

Tak lama kemudian mereka sampai di depan lift.

Ting.

Pintu lift terbuka.

Wulan berbalik menghadap keduanya. "Kalau gitu... aku pulang dulu ya dadah"

Nara mengangguk. "Hati-hati."

"Makasih ya, Kak Nara."

Lalu pandangan Wulan beralih kepada Saka. "Makasih juga... buat rotinya."

Saka tersenyum tipis. "Sama-sama."

Beberapa detik suasana kembali hening.

Sebelum pintu lift menutup, Saka berkata pelan,

"Hati-hati di jalan, Wulan."

Wulan yang sudah melangkah masuk langsung menoleh. "Iya, Kak."

Saka kembali berkata, "Jangan sampai muter-muter lagi."

Mata Wulan langsung membulat. "lhoo?"

Di samping Saka, Nara hanya menyeringai jahil.

ia mengangkat ponselnya sambil menunjukkannya ke arah Wulan.

Di layar ponselnya masih terlihat percakapan singkat dengan Saka.

Nara spontan tertawa.

Wulan langsung menatap Nara dengan wajah memerah. "kak nara mahh!"

"Lah, emang kenapa? Lucu, kok."

"Ih... malu tahu." Untuk pertama kalinya hari itu, Wulan melihat senyum Saka sedikit lebih jelas dari biasanya.

Meski hanya sebentar, Namun cukup membuat jantungnya kembali berdebar.

Pintu lift perlahan menutup Sesaat sebelum benar-benar tertutup, Wulan masih sempat melambaikan tangan kecilnya.

"Dadah..."

Nara ikut melambaikan tangan. "Hati-hati!"

Sementara Saka hanya mengangguk pelan, Lift mulai bergerak turun.

Wulan mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke dinding lift.

Ia menyentuh pipinya sendiri. "Kenapa sih jadi senyum-senyum begini"

Padahal, Cuma diucapin hati-hati Tapi entah kenapa Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepalanya.

Di lantai atas, Nara kembali masuk ke ruang kerja Saka. Saka sudah duduk di depan laptopnya, bersiap memasuki meeting berikutnya.

Nara bersandar di dekat meja sambil menyilangkan tangan. " kaa"

"Hm?"

"Lucu ya."

Saka tetap menatap layar laptop. "Siapa?"

"Wulan."

Saka tidak menjawab.

Nara tersenyum sendiri. "Jarang-jarang aku lihat Mas nyuruh kantin nganter roti buat tamu."

"Itu karena dia belum makan."

"Iya..."

"Alasannya bagus."

Saka hanya menggeleng pelan.

Nara kemudian mengeluarkan ponselnya. "Oh iya, Ini nomor Wulan."

Baru kali ini Saka mengalihkan pandangan dari laptop."Buat apa?"

Nara mengangkat bahu. " yaa siapa tau butuh"

lalu nara mengirim nya pada saka.

Beberapa detik kemudian, sebuah kontak baru masuk ke ponsel Saka.

Wulan.

Saka hanya melihat nama itu sesaat, Lalu mengunci kembali layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja.

Belum ada pesan, Belum ada panggilan.

Hanya sebuah nama yang kini tersimpan rapi di daftar kontaknya.

Nara yang melihat itu terkekeh pelan.

"Duh Kalau nunggu kamu yang mulai chat duluan bisa keburu tua."

Saka menatapnya datar. "Meeting kamu belum mulai?"

Nara tertawa kecil. "Iya, iya... aku pergi."

Ia melangkah keluar sambil menggeleng pelan

Dalam hati, Nara hanya bisa tersenyum.

"Pelan-pelan aja yang penting, langkah pertamanya udah ada."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!