Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kembali ke sekolah
Hari ketujuh akhirnya berlalu. Waktu tetap berjalan sebagaimana mestinya, meski beberapa hari terakhir terasa begitu panjang bagi Tya. Hari-hari yang dipenuhi doa, tamu yang datang silih berganti, dan keheningan yang terasa berbeda sejak kepergian ibunya.
Pagi itu, Tya kembali mengenakan seragam sekolahnya. Gadis itu merapikan kerah kemejanya perlahan. Pandangannya tertuju pada bayangan dirinya di cermin.
Beberapa saat, Tya hanya berdiri diam. Rasa sesak itu masih ada, tapi tidak sebesar hari-hari pertama. Perlahan, ia menarik nafas panjang, lalu menghembusnya pelan.
Hari ini mungkin tidak akan mudah. Kembali ke sekolah berarti kembali bertemu banyak orang. Kembali mendengar pertanyaan dan ucapan belasungkawa yang selama ini belum sempat ia dengar langsung dari teman-teman sekolahnya.
Namun Tya tahu, ia tidak bisa terus berdiam diri di rumah selamanya. Ibunya pasti tidak ingin melihatnya berhenti melangkah.
Tya meraih tas sekolah yang sudah ia siapkan sejak semalam. Sesaat, jemarinya mengusap gantungan kunci yang tergantung di resleting tas itu. Sebuah gantungan sederhana yang pernah dibelikan ibunya beberapa tahun lalu saat mereka pergi bersama ke pusat perbelanjaan.
Tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajah Tya. Senyum tipis, namun cukup untuk membuat hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Setelah memastikan semuanya siap, Tya membuka pintu kamar dan melangkah keluar. Ia menuruni anak tangga dengan tas sekolah tergantung di bahunya.
Tiba di lantai bawah, pandangannya langsung menemukan sosok ayahnya yang sedang berdiri di ruang tengah. Ayahnya mengenakan jas kerja berwarna gelap yang rapi, dengan tas kerja berada di sampingnya.
Tya memperhatikan ayahnya sejenak. Beberapa hari terakhir, ayahnya hampir tidak meninggalkan rumah. Sebagian besar waktunya digunakan untuk mengurus berbagai keperluan setelah kepergian istrinya, sekaligus menemani Tya.
Namun hari ini berbeda. Cepat atau lambat, kehidupan harus kembali berjalan. Perusahaan yang dipimpinnya tetap membutuhkan kehadirannya, banyak pekerjaan yang tidak bisa terus ditunda.
"Papa," sapa Tya pelan.
Ayahnya yang sedang memeriksa sesuatu di ponselnya langsung menoleh. Senyum hangat segera muncul begitu melihat putrinya sudah siap berangkat sekolah.
"Wah," ujar ayahnya sambil memperhatikan Tya dari atas sampai bawah. "Anak Papa udah siap sekolah lagi."
Tya tersenyum kecil, "Iya Pa."
Ayahnya menghela nafas pelan, sebelum akhirnya berujar. "Hari ini Papa juga kembali ke kantor."
Tya mengangguk pelan, "Jangan terlalu capek ya, Pa."
Ayahnya mengusap lembut puncak kepala Tya. "Kamu juga," ucapnya pelan. "Kalau merasa berat gak apa-apa. Jalani perlahan."
Tya menunduk sesaat, lalu mengangguk pelan. "Baik, Pa."
Meski luka itu masih ada, pagi itu mereka berdua sama-sama mencoba melakukan hal yang sama. Melanjutkan langkah mereka sedikit demi sedikit.
Ayahnya kemudian tersenyum, "Ayo kita berangkat."
Tya mengangkat pandangannya, "Bareng Pa?"
"Iya, sekalian Papa ke kantor." Ujar ayahnya. "Masa hari pertama sekolah setelah sekian hari, kita berangkat masing-masing."
Tya tersenyum kecil, "Iya Pa."
Mereka berjalan berdampingan menuju depan rumah. Beberapa bulan lalu, asisten rumah tangga yang selama ini membantu keluarga mereka memutuskan berhenti bekerja. Wanita muda berumur 28 tahun itu memilih pulang ke kampung halamannya untuk merawat sang ibu yang sedang sakit.
Kini, setelah kepergian ibunya, rumah itu terasa semakin lengang. Hanya ada satpam yang berjaga di pos depan dan supir keluarga yang sudah menunggu di dekat mobil.
Begitu melihat mereka keluar, sang supir segera membuka pintu belakang dengan hormat. "Pagi Pak, Non Tya."
"Pagi Pak Rahmat," balas Tya pelan, sementara ayahnya hanya mengangguk dengan senyum hangat.
Pria paruh baya itu tersenyum hangat. Ia sudah bekerja cukup lama untuk keluarga mereka, melihat Tya tumbuh dari anak kecil hingga menjadi gadis SMA seperti sekarang.
"Senang lihat Non udah siap sekolah lagi," ujar sang supir tulus.
Tya membalas dengan senyum kecil, "Terima kasih, Pak."
Ayahnya masuk lebih dulu ke dalam mobil, disusul Tya yang duduk di sampingnya. Tak lama kemudian, mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.
Perjalanan berlangsung cukup tenang. Tatapan Tya memandang keluar jendela, memperhatikan aktivitas pagi yang mulai ramai.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah sekolah. Para murid tampak berjalan menuju kelas masing-masing, sementara beberapa lainnya masih saling bercengkrama dengan teman-temannya.
"Udah sampai, Non," ujar Pak Rahmat ramah.
Tya merapikan tas sekolahnya, lalu mengangguk kecil. "Iya Pak."
Tya kemudian menoleh ke samping, ayahnya sudah lebih dulu memperhatikannya.
"Semangat belajarnya, Nak." Ujar ayahnya .
Kalimat sederhana itu membuat hati Tya terasa sedikit hangat. Lalu ia mengangguk pelan. "Terima kasih, Pa."
Sebelum turun, Tya membungkukkan badan sedikit untuk mencium tangan ayahnya. Ayahnya membalas dengan mengusap lembut kepala putrinya.
"Hati-hati," ujar ayahnya.
"Iya Pa."
Tya kemudian membuka pintu, menoleh sejenak ke arah Pak Rahmat. "Duluan ya, Pak."
"Iya Non. Semangat sekolahnya," timpal Pak Rahmat.
Setelah berpamitan kepada keduanya, Tya melangkah turun dan menutup pintu mobil itu perlahan. Mobil itu tidak langsung pergi. Ayahnya tampak ingin memastikan putrinya masuk terlebih dahulu seperti yang sering dilakukan sejak dulu.
Sementara Tya sudah melangkah menuju arah gerbang sekolah. Namun entah mengapa, langkahnya perlahan mulai terasa jauh lebih berat dibanding biasanya.
Tya menghela nafas sejenak, jemarinya mencengkram tali tas sedikit lebih erat. Setelah semua yang terjadi, rasanya seperti sedang memulai sesuatu dari awal.
Perlahan, Tya melanjutkan langkahnya. Baru saja melewati gerbang sekolah, beberapa murid yang mengenalnya langsung menoleh ke arahnya.
"Tya," suara seseorang menghentikan langkahnya.
Tya menoleh, tiga orang teman sekelasnya berjalan cepat menghampiri. Wajah mereka tampak canggung sekaligus khawatir.
"Tya, kamu udah masuk sekolah lagi?" Tanya salah satu dari mereka.
"Kami turut berdukacita ya, Tya." Ujar seorang lagi.
"Semoga almarhumah ibu kamu di tempatkan di sisi terbaik," ujar gadis lainnya.
Tya merasakan dadanya sedikit menghangat. Meskipun mendengar ucapan belasungkawa masih membuat hatinya terasa perih, ia tahu bahwa mereka mengatakannya dengan tulus.
"Terima kasih, ya." Ujar Tya lembut.
Beberapa teman lainnya mulai ikut menghampiri. Satu per satu mengucapkan ucapan yang sama. Tya membalas semuanya dengan sopan. Meski senyumnya tidak sepenuhnya kembali seperti dulu, setidaknya ia berusaha menghargai perhatian mereka.
"Tya!"
Di tengah kerumunan kecil itu, Tya tiba-tiba mendengar suara yang sangat familiar. Tya langsung menoleh. Dari kejauhan, Starla dan Megan berjalan cepat ke arahnya.
"Finally, lo sekolah lagi, Ty." Ujar Megan lembut.
"Iya, kami kangen," timpal Starla.
Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum Tya terlihat sedikit lebih jelas. "Lebay."
Keramaian di sekitar mereka perlahan mulai kembali normal dan Tya merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, ia tidak harus menjalani hari ini sendirian.
Hening, tidak ada percakapan setelahnya. Mereka bertiga mulai berjalan menuju kelas untuk meletakkan tas sekolahnya. Setelahnya, mereka melangkah berdampingan menuju halaman utama sekolah.
Keramaian murid yang bersiap untuk upacara bendera sudah mulai terlihat. Beberapa kelas bahkan sudah berbaris sesuai arahan pengurus OSIS.
Megan melirik Tya beberapa kali sejak tadi. Awalnya ia ingin bertanya, tapi selalu mengurungkannya. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri. "Tya," panggilnya pelan.
Tya menoleh, "Iya?"
Megan terlihat ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Lo gimana sekarang?"
Pertanyaan itu sederhana, tapi Tya langsung mengerti maksudnya. Bukan sekedar basa-basi, Megan benar-benar menanyakan keadaannya.
"Jujur, gue masih sedih," jawab Tya setelah hening beberapa saat.
Megan dan Starla langsung terdiam setelah mendengar itu.
"Tapi..." Tya melanjutkan pelan. "Gue lebih baik dibanding beberapa hari lalu."
Megan mengangguk kecil. Meski jawaban itu belum sepenuhnya meyakinkan, setidaknya Tya tidak memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.
"Kalau capek atau pusing, bilang ya?" Lanjut Megan dengan seutas senyum tipis.
Tya sedikit mengernyit, "Gue gapapa kok."
Megan menghela nafas pelan, dan ia tidak ingin melihat Tya pingsan lagi. Apalagi pagi itu mereka akan mengikuti upacara bendera yang biasanya berlangsung cukup lama di bawah matahari.
"Gue serius," lanjut Megan. "Kalau udah mulai gak enak badan jangan dipaksain."
Tya menatap sahabatnya beberapa saat, lalu tersenyum kecil. "Iya, Gan. Thanks ya."
Megan mengangguk lega mendengar jawaban itu. Di samping mereka, Starla yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut menyahut.
"Pokoknya kalau lo tiba-tiba sempoyongan, gue sama Megan langsung tangkap."
"Emang kalian kuat?" Tanya Tya.
"Enggak sih," sahut Starla cepat. "Tapi niatnya ada."
Jawaban itu membuat Tya terkekeh pelan. Suara tawanya kecil, nyaris tenggelam di tengah kerumunan murid-murid di lapangan.
Namun hal itu cukup membuat sahabatnya saling melirik lega. Karena itu adalah pertama kalinya mereka mendengar Tya tertawa lagi setelah beberapa hari terakhir.
Tya berjalan dengan kedua sahabatnya menuju barisan kelas mereka. Namun, baru saja hendak memasuki barisan, sebuah bahu tanpa sengaja menyenggol lengan Tya.
Tya sedikit kehilangan keseimbangan, tapi segera menegakkan tubuhnya kembali. Ia menoleh, dan langsung bertemu dengan sosok yang sangat dikenalnya, Faris.
Cowok itu juga tampak baru menyadari siapa yang disenggolnya. Beberapa detik mereka saling menatap, lalu seperti biasa Faris membuka mulut lebih dulu.
"Jalan pakai mata," ujar Faris datar seperti biasanya.
"Jalan pakai kaki kali, kalau pakai mata itu namanya melihat," sahut Starla spontan.
Faris langsung menoleh ke arah Starla, tatapannya dingin seperti biasa. "Ya udah," ujarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Jalan pakai kaki sambil lihat pakai mata. Puas?"
"Lah, masih sempat dibenerin lagi?" Sahut Starla.
Faris menaikkan sebelah alisnya, "Terus?"
"Lo-"
Belum sempat Starla melanjutkan, Tya yang sedari tadi diam justru melangkah begitu saja melewati mereka. Ia langsung masuk di barisan kelasnya dan berdiri di tempatnya.
Megan yang menyadari hal itu seketika mengurungkan niat untuk ikut menanggapi Faris. Ia menoleh ke arah Starla dan menganggukkan kepala kecil ke arah Tya.
Starla ikut menoleh, beberapa detik kemudian ekspresinya melunak. Tanpa berkata apa-apa lagi, Starla menghela nafas pelan lalu berjalan menuju barisan, diikuti dengan Megan.
Kini hanya Faris yang berdiri di tempatnya. Tatapannya tanpa sadar kembali tertuju pada sosok Tya yang berdiri tenang di barisan depan.
Biasanya, gadis itu sudah membalas perkataan Faris, atau minimal melotot. Namun kali ini tidak, Tya bahkan tidak terlihat tertarik untuk berdebat.
Faris hanya berdiri diam, memandang lurus ke depan. Entah mengapa pemandangan itu membuatnya mengeraskan rahangnya sedikit.
"Ck," Faris berdecak singkat sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke barisan siswa laki-laki.
Seperti biasa, penampilan Faris jauh dari kata rapi. Kemejanya tidak dimasukkan, dasinya sedikit longgar, dan beberapa kancing bagian atas tampak terlalu santai untuk ukuran upacara hari Senin. Untung saja rambutnya masih cukup rapi. Kalau tidak, mungkin guru BK sudah menariknya sebelum upacara dimulai.
Begitu tiba di barisan kelas, tatapan ketiga temannya langsung tertuju pada Faris. Ketiganya memperhatikan Faris dengan senyum yang mencurigakan.
Faris langsung menatap curiga, "Apa?"
Dhyo melirik ke arah barisan siswi, lalu kembali melirik Faris. Senyumnya semakin lebar, dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Faris, ia berbisik. "Baru ketemu istri kok mukanya kayak di tagih hutang."
Faris langsung menoleh tajam, sementara Dhyo justru terlihat semakin puas. "Malah bete lagi. Harusnya kan sen-."
Belum sempat kalimatnya selesai, Faris langsung menyumpalkan roti yang sejak tadi di pegangnya ke mulut Dhyo.
"Hmph?!"
Lex langsung menunduk, berusaha menahan tawa. Andre bahkan menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Mulut lo kebanyakan kerja," gerutu Faris.
Dhyo buru-buru menarik roti dari mulutnya, "Woi, ini roti siapa?!"
"Roti gue," jawab Faris singkat.
"Terus kenapa di sumpal ke mulut gue?" Protes Dhyo.
"Biar lo diem," jawab Faris datar.
Lex yang sejak tadi menonton akhirnya ikut berkomentar, "Metode yang efektif."
Andre mengangguk setuju, "Sayangnya hanya berlaku beberapa detik."
Faris memijat pelipisnya. Terkadang, ia merasa tiga orang ini sengaja hadir dalam hidupnya hanya untuk menguji kesabaran.
Tya yang berdiri tidak jauh dari mereka tanpa sadar mendengar keributan kecil itu. Suara Dhyo memang tidak pernah pelan. Tya menoleh sekilas, menatap pemandangan yang sering ia lihat dari lingkungan pertemanan Faris.
Namun, detik berikutnya Tya kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Suara petugas upacara mulai terdengar, menandakan dimulainya upacara.
Tya menghela nafas pelan, hari ini masih terasa berat. Kesedihan itu belum benar-benar hilang, rasa kehilangan itu pun masih ada. Namun setidaknya, pagi ini ia kembali ke sekolah untuk melanjutkan pembelajaran yang sempat tertunda.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️