NovelToon NovelToon
Istri Kecil Pak Dokter

Istri Kecil Pak Dokter

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Beda Usia / Dijodohkan Orang Tua / Dokter / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:565.2k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Jodoh itu unik.

Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan. Yang awalnya tak pernah dipikirkan, justru bersanding di pelaminan.

Lintang Jelita Sutedjo dan Alan Prawira menikah atas dasar perjodohan kedua orang tuanya. Selisih usia 10 tahun tak menghalangi niat dua keluarga untuk menyatukan anak-anak mereka.

Lintang berasal dari keluarga ningrat yang kaya dan terpandang. Sedangkan Alan berprofesi sebagai dokter spesialis anak, berasal dari keluarga biasa bukan ningrat atau konglomerat.

Pernikahan mereka dilakukan sekitar empat bulan sebelum Lintang lulus SMA. Pernikahan itu dilakukan secara tertutup dan hanya keluarga yang tau.

Alan adalah cinta pertama Lintang secara diam-diam. Namun tidak dengan Alan yang mencintai wanita lain.

"Kak Alan, mohon bimbing aku."

"Aku bukan kakakmu, apalagi guru bimbelmu yang harus membimbingmu!" ketus Alan.

"Kak Alan, aku cinta kakak."

"Cintaku bukan kamu!"

"Siapa ??"

Mampukah Lintang membuat Alan mencintainya? Simak kisahnya.💋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Menahan Malu

Tok...tok...tok...

Lintang mengetuk pintu kamar mandi. Dirinya hendak meminta izin pada Alan. Dikarenakan sehari-hari Lintang terbiasa pamit atau meminta izin jika ingin keluar rumah.

Tentu semua itu berkat didikan yang disiplin dari keluarga Sutedjo.

"Kenapa enggak dibuka juga? Apa kakak enggak denger?" batin Lintang seraya menatap heran karena tak ada sahutan Alan dari dalam kamar mandi.

Padahal faktanya, sang suami sedang resah bercampur malu di dalam sana.

"Ya ampun, gimana ini? Keluar-enggak, keluar-enggak?" gumam Alan seraya mulai berhitung keberuntungan ala tempo dulu.

"Kak Alan! Apa kakak baik-baik saja di dalam?" tanya Lintang setengah berteriak sembari tangannya terus mengetuk pintu kamar mandi.

"Iya, aku baik-baik saja." Alan terpaksa menyahutinya. Ia juga tak ingin membuat Lintang khawatir di luar sana.

"Syukur kalau begitu. Adek mau minta izin keluar. Apa boleh?"

"Ke mana?"

"Ke mini market bawah,"

"Ngapain?"

"Adek mau beli po_pok," jawab Lintang santai.

Detik selanjutnya...

Ceklek...

Derit pintu kamar mandi dengan cepat terbuka, namun hanya setengah. Alan dalam kondisi hanya mengenakan handuk pada tubuhnya untuk menutup bagian perut ke bawah hingga lutut. Kepala Alan sedikit menju_lur keluar.

"Kamu tadi bilang mau beli apa ke mini market?" tanya Alan yang mendadak meragukan indera pendengarannya sendiri. Padahal jelas-jelas telinganya tadi mendengar jika Lintang berniat membeli po_pok.

"Mau beli po_pok,"

"Hah, apa?" tanya Alan hanya untuk memastikan bahwa telinganya masih bagus dan tak perlu mengecek ke dokter THT.

"Po_pok," jawab Lintang mengulanginya.

"Buat apa? Terus siapa yang mau pakai tuh po_pok? Apa kamu?" cecar Alan dengan mimik wajah terkejut bercampur heran plus bingung.

Justru dalam otaknya saat ini, apa Lintang masih pakai popok?

Sungguh terlalu, kalau benar.

"Buat kakak," jawab Lintang singkat.

"APA ??" Alan sontak terkejut setengah mati untung dia punya jantung yang aman jadi tak perlu dilarikan ke IGD karena serangan jantung mendadak.

Secara refleks, nada suaranya naik secara tajam hingga beberapa oktaf.

"Kakak kan ng0m_pol. Maaf, tadi adek buka koper kakak tanpa izin dulu. Adek cuma mau ngecek stok po_pok punya kakak. Ternyata kosong. Makanya adek minta izin ke bawah buat beli po_pok merek yang bagus kayak punya Radit dan Rizal. Adek jamin enggak bocor lagi kalau misal kakak ngom_pol," cicit Lintang berusaha menjelaskan apa adanya secara panjang kali lebar kali tinggi.

Sedangkan Alan, hanya bisa terdiam dengan bibir terbuka dan menganga. Ceng0k.

Beruntung di dalam kamar hotel bintang lima tersebut tidak ada lalat beterbangan. Jika ada lalat berkeliaran di sana, pasti hewan itu sudah masuk ke dalam mulut Alan yang sedang menganga tersebut.

Sungguh, saat ini Alan ingin sekali kembali menjadi anak-anak saja. Hidup tanpa beban dan tak perlu memikirkan permasalahan orang dewasa atau rumah tangga.

Anak kecil semisal usia TK/SD, hidup mereka hanya memikirkan bermain dan belajar. Paling-paling hanya pusing mikirin matematika bukan soal cinta apalagi pasangan.

☘️☘️

Alan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia berusaha memukul mundur emosinya saat ini. Alan teringat wejangan dari orang tua Lintang agar sabar dalam menghadapi istri kecilnya itu.

Sebenarnya Lintang juga tak sepenuhnya salah. Sejak awal bertemu Alan, ia sudah minta bimbingan pada pria itu dalam mengarungi rumah tangga nantinya. Dikarenakan Lintang sadar jika dirinya tak sempurna seperti wanita normal lainnya.

Hanya ada cinta yang besar darinya untuk Alan Prawira. Sosok pria dewasa yang menjadi cinta pertamanya sekaligus pernah menolongnya di masa lalu.

Mungkin bagi Alan, ia tak akan ingat wajah Lintang dan kenangan tersebut yang terjadi di antara mereka berdua. Tapi tidak bagi Lintang, ia langsung terharu atas sikap Alan di masa lalu dan jatuh hati sejak itu.

"Tak perlu beli po_pok. Aku tak butuh itu, Lintang."

"Oh, jadi kakak enggak pakai po_pok."

"Tentu saja enggak," jawab Alan dengan suara tertahan.

Lintang tampak berpikir. Namun sebelum bibirnya membuka suara, Alan lebih dahulu berucap.

"Aku menyelesaikan mandiku dulu dan jangan keluar dari kamar ini! Mengerti?"

"Iya, Kak."

"Satu hal lagi, jangan pernah beli po_pok! Benda itu hanya untuk anak-anak, bukan untuk kita sebagai orang dewasa kecuali sudah lansia yang memang membutuhkannya. Paham?"

"Iya, Kak. Maafin adek," cicit Lintang lirih seraya kepalanya menunduk di depan Alan.

Akhirnya Alan pun pamit untuk melanjutkan mandinya yang tertunda gara-gara si Doi ngom_pol dan perkara po_pok. Sungguh hal ini sama sekali tak ada dalam ekspektasi Alan bahwa malam pengantinnya akan seperti ini.

☘️☘️

Alan dan Lintang sudah rapi dan selesai sarapan pagi setelah drama yang membag0ngkan. Alan bernafas lega karena alergi Lintang juga sudah pulih dan tak tampak lagi di wajah maupun leher sang istri.

Keduanya bersiap pergi ke bandara. Beberapa jam lagi adalah jadwal pesawat ke Jakarta yang akan membawa Alan.

Keluarga Lintang sudah berada di bandara. Ada kedua orang tua Lintang dan Mas Dewa yang tampak di sana.

"Papi-Mami, Mas Dewa." Lintang menyapa keluarganya seraya tersenyum sumringah.

Rambut Lintang terlihat sedikit basah karena memang tadi ia keramas. Walaupun mereka berdua tidak melakukan adegan malam pemersatu bangsa. Namun hal itu justru menarik perhatian Mas Dewa.

"Pengantin baru cie-cie. Langsung keramas aja nih," goda Mas Dewa.

Lintang pun tersipu malu. "Sudah belah duren apa belum nih, Dek?" goda Mas Dewa kembali.

"Belah duren maksudnya gimana, Mas?" tanya Lintang yang belum paham maksud pertanyaan Dewa. "Aku dan kakak enggak beli durian," imbuhnya.

"Dewa," tegur Mami Sinta agar tak menggoda Alan dan Lintang.

"Haha..." Mas Dewa pun langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Lintang sembari melihat lirikan tajam dari ibunya.

Sedangkan wajah Alan terlihat datar. Walaupun tampak sedikit bersemu merah karena mendengar godaan dari kakak iparnya tersebut.

"Oke, bos. Hamba akan menurut," ucap Mas Dewa kepada Mami Sinta.

"Mi, tadi Kak Alan ngom_pol di kamar hotel." Lintang tiba-tiba berceletuk santai pada keluarganya.

Sedangkan pupil mata Alan seketika melebar usai mendengar ucapan istri kecilnya itu yang terlalu amat sangat jujur, pikirnya.

"Astaga nih bocah kalau ngomong enggak pakai saringan dulu!" batin Alan menggerutu sebal.

Lintang terdidik sebagai anak yang jujur dan tak bisa berbohong. Alhasil semuanya diceritakan oleh Lintang perkara tadi pagi soal Alan yang mengom_pol.

Rasanya saat ini Alan ingin marah pada Lintang karena membuka aib nya di depan keluarga. Tapi, Alan tak bisa berbuat banyak. Tak mungkin membentak sang istri di depan mertua dan kakak iparnya saat ini.

Alan hanya bisa tertunduk menahan malu sekuat tenaganya di depan keluarga Lintang. Mas Dewa justru semakin tertawa kencang.

Papi Aryo menatap tajam putra keduanya itu. Nyali Mas Dewa pun seketika menciut. Akhirnya pria itu berusaha menahan gelak tawanya.

Tentu saja semua orang di sana selain Lintang, sudah mengerti maksud kalimat mengom_pol yang terjadi di kamar pengantin.

"Mas Dewa nakal ih! Jangan ketawain kakak!" seru Lintang yang tak terima pada kakak keduanya itu.

Bahkan ia menepuk cukup kencang pundak Dewa dengan telapak tangannya.

"Aku dulu kan juga masih pakai po_pok dan ngom_pol sewaktu SD. Bener kan, Mi?"

"Iya, Sayang."

"Jadi, kakak enggak salah kok. Mungkin semalam kakak mimpi ke_cebur kolam jadi gak sadar kalau ngom_pol," Lintang tetap berusaha membela Alan di depan Mas Dewa.

"Kolam ikan apa kolam ubur-ubur," ledek Mas Dewa seraya tertawa kecil.

"Sudah-sudah ayo ke sana. Sebentar lagi pesawat Alan waktunya boarding," ujar Mami Sinta.

Mereka pun berjalan ke arah tempat keberangkatan pesawat Alan. Dikarenakan masih ada waktu, Mami Sinta sengaja mengajak Lintang pergi ke area outlet minuman kekinian.

Mas Dewa sedang menerima telepon, sehingga pria itu memilih untuk melipir sejenak ke sudut lain. Kini, tinggal Papi Aryo dan Alan yang duduk berdua saja.

"Lan,"

"Iya, Pi."

"Maafin Lintang. Dia memang perlu banyak bimbingan terutama dari kamu sebagai suaminya,"

Papi Aryo pun meminta maaf pada Alan atas nama putrinya, perkara pembahasan Lintang secara terbuka mengenai hal-hal yang terjadi di kamar hotel tadi pagi.

"Iya, Pi. Tidak apa-apa. Aku mengerti kok. Doakan semoga saya bisa membimbing Lintang menjadi istri yang jauh lebih baik seperti harapan papi-mami,"

"Aku mengandalkan mu, Lan." Papi Aryo menepuk pundak Alan tampak menaruh harapan besar pada menantunya itu.

Bersambung...

🍁🍁🍁

1
Evy
Sekolah nya masih 4 bulan lagi.kalo ikut suami pindah kota ..gimana sekolah nya....
Rahma Lia
waduh, lucu sekali kamu lintang...
perlu d lestarikan ni biar ngakak terus🤣🤣🤣🤣🤣
Rahma Lia
🤣🤣🤣,duh jd ngakak Khan,,mana malam lg bacanya,,,,,,
ayu cantik
suka
YuWie
Luar biasa
Bagong
Halah dasarnya aja mokondo,,,,,,bukan memperbaiki belum selesai cari lagi,,,,,,perempuan nya juga KLO siri berarti masih punya org seburuk apapun istrinya ttp itu punya org,,,,,,sama sama manusia keblinger,,,,asal sah jl trooooosss,,,,,,,begitulah manusia jaman sekarang gedein nafsu syahwat cuman stempel doang
Mei Saroha
normal menurut siapa? buat kita anak2 ABK ngga normal, buat para ABK kita dianggap ngga normal
LENY
HAPPY ENDING
LENY
HAPPY ENDING UNT ALAN & LINTANG❤👍
LENY
AKHIRNYA MAYA MASUK RUMAH SAKIT JIWA PANTAS KARMA MU MAYA😡
LENY
PAPI ARYO GAK SADAR DIRI DIA SDH TUA AJA MSH DOYAN TERUS NAH INI PENGANTIN MSH MUDA SDH LAMA GAK KETEMU PULA WAJARLAH MELEPAS RINDU🤭🙏
LENY
LINTANG HAMIL ALAN YG NGIDAM
LENY
UNTUNG MAS HENDRI BAIK DAN PERCAYA SAMA ALAN
LENY
WAJAR GALIH BERSIKAP BEGITU ISTRI GAK CINTA CUMA DIJADIIN ATM. MERTUA MATRE GILA HARTA. BAGUS GALIH CERAIKAN AJA WANITA MURAHAN INI😡
DUH GENDHIS ALAN MENOLAK DICERAIKAN SUAMI LAGI ITULAH KARMA ATAS PERBUATAN JAHAT MAYA IBUMU KPD KEL REZA😡
LENY
MAYA IBU DAN ANAK GENDHIS SAMA2 GILA DAN GAK PUNYA MALU😡😡
LENY
LAH PAPI ARYO GAK DENGAR ALAN MENOLAK MAYA GENDHIS DAN BILANG CINTA ISTRINYA SALAH PAHAM 😥🙈
LENY
DASAR WANITA LAKNAT MAYA INI SDH CACAT MSH AJA JAHAT 😡😡
LENY
DASAR PEREMPUAN FAK PUNYA MALU SAMA DGN IBU NYA PECUNDANG. SDH DIJELASIN ALAN JG GENDHIS MSH NGOTOT😡😡
LENY
GENDHIS SAMA BENER DGN IBU NYA MAYA WANITA JALANG MURAHAN. GAK TAHU MALU MAU MERUSAK RUMAH TANGGA LINTANG. 😡
LENY
MAYA KAN MATRE WANITA JALANG MAKANYA JODOHIN SAMA GALIH. DUH JGN JD PELAKOR NIH GENDHIS😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!