NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debu Emas di Atas Batu Hitam

Waktu di Kastil Blackiron biasanya berjalan seperti tetesan air yang membeku: lambat, kaku, dan monoton. Namun, dalam sepuluh hari terakhir, waktu seolah mencair dan mengalir deras, membawa serta gelombang aktivitas yang belum pernah dilihat dinding-dinding batu ini selama setengah dekade.

Elara berdiri di balkon dalam yang menghadap ke Aula Besar. Tangan kanannya bertumpu pada pagar batu, sementara tangan kirinya yang masih dibebat terselip nyaman di dalam saku gaun wolnya.

Di bawah sana, Aula Besar sedang bermetamorfosis.

Puluhan pelayan dan prajurit yang sedang tidak bertugas bekerja bahu-membahu. Lantai batu yang biasanya dingin dan kosong kini tertutup sebagian oleh meja-meja panjang yang disusun memanjang. Aroma debu tua telah terusir, digantikan oleh aroma tajam dari ribuan ranting pinus segar yang sedang dirangkai menjadi garland (hiasan gantung) raksasa.

Suara tawa—suara yang paling asing di kastil ini—terdengar sesekali. Bukan tawa terbahak-bahak yang riuh, melainkan tawa kecil yang tertahan, jenis tawa yang muncul ketika beban berat diangkat sedikit dari pundak.

"Geser ke kiri sedikit! Ya, di sana! Hati-hati dengan lilinnya!"

Suara Brom, kepala tukang batu yang kini merangkap sebagai koordinator dekorasi, menggema di ruangan itu. Pria kekar itu sedang mengarahkan dua prajurit muda yang menyeimbangkan tangga tinggi untuk memasang panji-panji House Draxos yang baru dicuci. Warna hitam dan perak panji itu tampak gagah, tidak lagi kusam oleh debu pengabaian.

Elara tersenyum tipis. Mereka tidak hanya membersihkan kastil; mereka membersihkan kebanggaan mereka sendiri.

"Nyonya," suara Silas muncul di sampingnya. Pria tua itu memegang daftar inventaris yang panjang. "Gudang bawah tanah melaporkan bahwa tong-tong ale cadangan sudah dibuka dan diperiksa. Kualitasnya masih sangat baik. Dan... Martha baru saja mengamuk di dapur karena pengiriman tepung terlambat dua jam."

Elara tertawa kecil. "Kalau Martha tidak mengamuk, berarti dia sakit. Biarkan saja. Itu cara dia menunjukkan kasih sayang pada masakannya. Bagaimana dengan lilinnya?"

"Tiga ribu batang, Nyonya," jawab Silas, matanya berbinar bangga. "Semuanya sudah dipasang di chandelier (lampu gantung) utama dan di sepanjang dinding. Jika kita menyalakan semuanya nanti malam... Aula Besar akan terang seperti siang hari."

"Bagus," kata Elara. "Pastikan sumbunya dipotong rapi agar tidak berasap."

Tiba-tiba, suasana di bawah sana berubah.

Suara tawa mereda. Gerakan para pekerja melambat, lalu berhenti. Kepala-kepala menunduk.

Pintu utama Aula Besar terbuka. Duke Kaelen Draxos melangkah masuk.

Ia baru saja kembali dari patroli rutin. Jubah bulu serigalanya tertutup lapisan salju segar, dan langkah kakinya yang berat meninggalkan jejak basah di lantai yang baru disapu. Ia berhenti di ambang pintu, matanya yang tajam menyapu pemandangan di hadapannya.

Kaelen melihat meja-meja yang disusun rapi. Ia melihat hiasan pinus yang menjuntai di pilar-pilar batu. Ia melihat para prajuritnya yang sedang memegang pita perak alih-alih pedang.

Wajahnya datar, tidak terbaca. Namun, seluruh tubuhnya memancarkan aura ketegangan yang membuat udara di ruangan itu kembali dingin seketika.

Ia seperti serigala liar yang pulang ke sarangnya, hanya untuk menemukan bahwa sarangnya telah diubah menjadi tempat yang tidak ia kenali. Ada rasa asing yang terpancar dari postur tubuhnya—rasa terasing di rumah sendiri.

Elara menahan napas, menunggu reaksi. Apakah dia akan mengamuk? Apakah dia akan memerintahkan semuanya dibongkar? Sesuai perjanjian, dia mengizinkan festival ini, tapi melihat realisasinya secara langsung adalah ujian yang berbeda.

Kaelen melangkah maju, berjalan di antara meja-meja itu. Para prajurit minggir dengan hormat, namun ada ketakutan di mata mereka.

Kaelen berhenti di depan seorang prajurit muda—mungkin baru berusia enam belas tahun—yang sedang memegang seikat besar holly (tanaman berbuah merah). Prajurit itu gemetar, wajahnya pucat, takut dimarahi karena melakukan pekerjaan "wanita".

Kaelen menatap prajurit itu, lalu menatap holly di tangannya.

"Namamu?" tanya Kaelen, suaranya rendah.

"J-Jonas, Tuan!" jawab anak itu gagap. "Prajurit Kelas Dua, Divisi Pemanah!"

"Jonas," ulang Kaelen. Tangannya terulur.

Jonas memejamkan mata, mengira akan dipukul. Tapi Kaelen hanya menyentuh daun holly yang berduri itu dengan ujung sarung tangannya.

"Tanaman ini beracun jika tertelan," kata Kaelen datar. "Pastikan tidak jatuh ke dalam tong minuman. Atau kita akan kehilangan separuh divisi pemanah karena sakit perut massal."

Mata Jonas terbuka lebar. "Si-siap, Tuan! Saya akan pastikan!"

Kaelen mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga tempat Elara berdiri.

Elara menghembuskan napas lega. Itu adalah teguran, ya, tapi itu juga bentuk izin. Kaelen tidak melarang; dia hanya memberikan peringatan keselamatan khas seorang komandan paranoid.

Saat Kaelen sampai di balkon, ia berdiri di samping Elara. Ia tidak menatap istrinya, melainkan menatap ke bawah, ke arah kesibukan yang mulai berjalan lagi dengan ragu-ragu.

"Kau mengubah bentengku menjadi rumah bordil ibu kota," gumam Kaelen, meski nada suaranya tidak setajam kata-katanya.

"Hanya sedikit dekorasi, Kaelen," balas Elara tenang. "Dan baunya jauh lebih enak daripada bau keringat dan anjing basah yang biasanya ada di sini."

Kaelen mendengus. Ia melepas sarung tangannya, menepuk-nepuk sisa salju di pagar balkon. "Mereka terlihat... lunak."

"Mereka terlihat bahagia," koreksi Elara. "Dan kebahagiaan adalah bahan bakar yang lebih baik daripada ketakutan, Jenderal."

Kaelen menoleh padanya. Jarak mereka dekat. Elara bisa melihat butiran salju yang meleleh di bulu mata suaminya, berubah menjadi tetesan air kecil yang berkilau.

"Kau terlihat lelah," kata Kaelen tiba-tiba. Matanya menelusuri bayangan samar di bawah mata Elara.

Elara memang lelah. Ia bangun setiap pagi buta untuk menyelinap ke Sayap Selatan, merawat mawar, lalu menghabiskan sisa harinya mengawasi persiapan festival. Bahunya masih sakit, dan energinya terkuras. Tapi ia tidak akan mengakuinya.

"Hanya sedikit kurang tidur karena antusiasme," bohong Elara.

1
Yuii Klp
ceritanya menarik dan menegangkan
Jinan 2
ok
Jinan 2
ceritanya bikin ketagihan, alurnya cepat dan konflik terus berkembang
Kalong Super
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Kalong Super
👍👍👍👍👍👍gassss
Kalong Super
lanjuttttt 💪👍👍
rizky r
cerita seru menarik, langsung ke inti penulisannya juga mudah dibaca dan dipahami
Kalong Super
mantap and good
merry
gampar ajj org kyk gt el,, pcr bukn bini bukn klurga juga bukn cm mntn calon adik ipar donk mn pyn gak ngmg in itu,, kealen juga lemah bgtt
kiu kiu
kpn vespera hancur...mulutnya minta di masukin cabai.biar kepedesan .thor...bener bener bikin org pengen nampol vespera aja...org lagi di rumah mantan calon ipar.udah seperti penguasa aja.
kiu kiu
sebenarnya yg menjadi racun itu adalah keluarga lira sendiri.semoga elara bisa membuktikan ada kejahatan dan konspirasi dlm keluarga elara.
Ysya Jeje
menarik
Lucy Sandy
romantis banget
Roy Kkk
seru banget ceritanya
King Salman
🙏👍
King Salman
ayo lady aku mendukungmu
Vita Detty
apa jangan2 lyra msih hdup
merry
istana dingin hitam kyk kastil penyihir x ya rumh ya kalen
merry
td gudang skrg perpus,, dan kmar tamu lm lm kmu pindh ke kmr iblis itu el😆😆😆
merry
mkn sisa prajurit lg emng jht lki mu el,, buat dri mu berguna untuk dr mu sndri el ketika kmu di butuhkan minta byrann setimpal ell🙏🙏🙏
Kalong Super: jadi ikut sedih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!