NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Rasa yang Berbeda

Keheningan di ruang kerja setelah kepergian Mama Sofia dan Arumi terasa begitu menyesakkan bagi Renard.

Suara detak jam dinding yang biasanya tenggelam oleh ketukan jemarinya di atas papan tik, kini terdengar bergema konstan, seolah mempertegas kekosongan yang tiba-tiba melanda ruangan bernuansa maskulin tersebut.

Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi executive berbahan kulit premium, memandangi cangkir kopi hitam yang diletakkan Arumi beberapa menit lalu.

Uapnya tak lagi mengepul, menandakan cairan pekat di dalamnya mulai mendingin, namun aromanya masih tertinggal kuat di udara.

Bau pahit kopi itu tidak sendirian; ia berbaur dengan sisa keharuman vanilla manis yang begitu khas dari tubuh istrinya—sebuah aroma yang entah sejak kapan mulai dikenali dan dihafal oleh indra penciumannya.

Renard memijat pelipisnya yang kini berdenyut dua kali lebih cepat.

Rasa pening yang mendera bukan karena tumpukan laporan keuangan perusahaan yang belum selesai, melainkan karena perang batin yang berkecamuk di dadanya.

Di kepalanya, ucapan Arumi terus berputar layaknya rekaman rusak yang tak bisa dihentikan:

"Jika ini bukan tentang kontrak, mungkin saya sudah jatuh cinta sejak lama, Renard."

Kata-kata itu diucapkan Arumi dengan tatapan mata yang begitu jernih, menyisakan getaran aneh yang membuat seluruh pertahanan Renard goyah.

Pria itu mengepalkan tangan kuat-kuat di atas sandaran kursi, mencoba meyakinkan logika bisnisnya yang biasanya dingin, rasional, dan tanpa celah.

"Dia cuma berakting," batin Renard tegas sambil menatap tajam dinding pualam di hadapannya, berusaha mencari pembenaran atas kepanikannya sendiri.

"Wanita itu cerdik. Dia tahu Mama sedang berdiri di depan pintu, jadi dia sengaja bicara begitu demi menyelamatkan rahasia kontrak kami. Ya, itu pasti murni bagian dari sandiwara."

Renard menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa bayangan Arumi dari benaknya.

Sebagai penerus tunggal keluarga Wijaya, ia dilatih untuk tidak melibatkan emosi dalam komitmen apa pun, termasuk pernikahan kontrak ini.

Namun, sekeras apa pun Renard mencoba membohongi diri sendiri, ia tidak bisa mengabaikan rasa kecewa yang aneh dan menggelitik di sudut hatinya saat menyimpulkan bahwa kalimat itu hanyalah sebuah akting.

Ada bagian kecil dalam dirinya yang menolak percaya bahwa binar di mata Arumi tadi hanyalah sebuah kepura-puraan.

Sore harinya, atmosfer di dalam mansion mewah itu mengalami perubahan drastis. Jika biasanya rumah besar itu terasa kaku dan sunyi, hari ini aroma manis dari cokelat murni dan vanilla memenuhi seluruh koridor lantai bawah mansion.

Wanginya begitu pekat dan menggoda, menembus hingga ke sela-sela pintu kamar dan ruang kerja.

Renard yang baru saja turun dengan kaus santai hitam dan celana rumahan senada berjalan menuju ruang makan.

Ia sengaja menanggalkan kemeja formalnya, berharap pakaian yang lebih longgar bisa sedikit mengurangi rasa gerah yang aneh di tubuhnya.

Pria itu berniat mengambil segelas air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang masih terasa penuh dan kacau sejak kejadian tadi pagi.

Namun, langkah kakinya melambat saat mendekati area dapur bersih yang menyatu dengan ruang makan.

Di meja makan panjang berbahan kayu jati pilihan, Mama Sofia dan Arumi sudah duduk berdampingan dengan posisi yang sangat akrab.

Di hadapan mereka tersaji beberapa mangkuk kaca kecil berisi puding cokelat yang permukaannya tampak begitu lembut, mengilat, dan diguyur vla putih yang kental.

Suasana sore itu tampak begitu hangat, ditambah dengan kehadiran Si Oyen—kucing lokal berbulu oranye pekat yang dulu diselamatkan Arumi—yang kini duduk setia di bawah kursi Arumi.

Kucing itu sesekali mengeong manja meminta perhatian, menggesekkan kepalanya ke pergelangan kaki Arumi yang kemudian dibalas dengan elusan lembut di balik telinganya.

"Ah, si kaku akhirnya keluar juga dari guanya," sindir Mama Sofia jenaka begitu melihat kehadiran putranya di ambang pintu.

Beliau langsung mendorong salah satu mangkuk puding yang masih utuh ke arah kursi kosong di ujung meja, seolah sudah memprediksi kedatangan Renard. "Sini, Renard. Cicipi puding buatan Arumi. Mama saja sampai habis dua mangkuk karena rasanya sangat pas. Jarang-jarang ada menantu yang tahu persis bagaimana cara memanjakan lidah mertuanya."

Renard berdeham kaku, berusaha menetralkan raut wajahnya yang sempat tersentak.

Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil air ke lemari es dan melangkah perlahan menuju meja makan.

Dengan gengsi yang masih menjulang tinggi, ia mengambil tempat duduk paling jauh dari Arumi, tepat di ujung meja yang berseberangan.

Ia melirik mangkuk puding itu dengan pandangan menilai yang angkuh—seolah sedang menginspeksi kelayakan sebuah produk baru di perusahaannya—lalu beralih menatap Arumi yang saat ini tengah memperhatikannya dengan binar mata penuh kemenangan yang menyebalkan—namun anehnya, terlihat begitu manis di bawah temaram lampu sore.

"Aku tidak terlalu suka makanan manis, Mama. Itu tidak efisien untuk diet dan konsentrasiku," ucap Renard ketus, memalingkan muka dan berusaha mempertahankan wibawanya yang sudah runtuh sejak pagi tadi akibat kata-kata gadis itu.

Mama Sofia mendelik tajam, meletakkan sendoknya dengan denting kecil yang sengaja dikeraskan.

Beliau menatap putranya dengan pandangan mengancam yang tidak bisa dibantah. "Jangan banyak alasan. Makan, atau semua saham tokomu di mal benar-benar Mama minta dialihkan atas nama Arumi besok pagi? Mama tidak main-main."

Mendengar ancaman mutlak dari ibunya yang menggunakan kalimat persis seperti yang ia lontarkan pada Paman Hendra kemarin saat merebut aset perusahaan yang diselewengkan, Renard hanya bisa menghembuskan napas pasrah.

Ia tahu ibunya memiliki kuasa hukum yang sama kuatnya dengan dirinya.

Tanpa pilihan lain, ia meraih sendok perak kecil di samping mangkuk.

Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menutupi rasa enggan yang mulai luntur, ia menyendok sedikit puding cokelat itu, memastikan vla putihnya ikut terangkat, dan memasukkannya ke dalam mulut.

Seketika, mata Renard melebar satu milimeter.

Teksturnya begitu lembut, meleleh sempurna di lidah tanpa menyisakan gumpalan kasar sedikit pun. Rasa pahit dari dark chocolate berkualitas tinggi langsung mendominasi, diikuti oleh perpaduan rasa pahit manis cokelat tingkat tinggi yang sangat pas—tidak berlebihan, dan sama sekali tidak membuat enek.

Vla-nya pun memiliki sentuhan rasa gurih yang menyeimbangkan segalanya, persis seperti seleranya yang rumit dan selama ini jarang bisa dipenuhi oleh koki mansion sekalipun.

"Bagaimana?" tanya Arumi sengaja memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap Renard dengan senyuman menggoda yang sangat kentara.

Matanya berkedip jenaka, menantang pria di hadapannya untuk jujur. "Apakah investasi Anda pada kemampuan memasak saya memberikan return yang buruk, Tuan Muda?"

Renard membeku sejenak di posisinya, menelan puding itu dengan gerakan kaku yang kentara.

Istilah-istilah bisnis yang sengaja digunakan Arumi untuk menyindirnya terasa menembus langsung ke ulu hati.

Kedua daun telinganya seketika merona merah padam karena sindiran halus Arumi tentang kata 'investasi' di depan ibunya, membuat Renard merasa seperti seorang amatir yang tertangkap basah salah mengambil keputusan saham.

Ia buru-buru meletakkan sendok perak itu ke atas meja dengan sedikit ketukan kasar, lalu memalingkan wajah ke arah taman belakang yang dipenuhi tanaman hijau untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang sudah berada di ambang batas maksimal.

"Biasa saja," ketus Renard dengan suara yang sedikit serak, berusaha keras mengatur intonasi suaranya agar tetap terdengar dingin.

"Terlalu banyak gula. Tapi... setidaknya ini masih layak untuk disajikan di rumah keluarga Wijaya. Tidak memalukan jika suatu saat ada kolega bisnis yang bertamu."

Arumi terkekeh pelan, sama sekali tidak tersinggung oleh pujian setengah hati yang dibungkus gengsi raksasa itu.

Meskipun mulutnya berkata ketus dan memberikan ulasan negatif, jemari Renard seolah memiliki pikirannya sendiri; tangan pria itu kembali meraih sendok perak kecilnya, menyendok potongan puding yang lebih besar, dan menghabiskan puding itu hingga suapan terakhir tanpa sisa di dasar mangkuk kaca tersebut.

Mama Sofia yang melihat hal itu hanya bisa tertawa lepas bersama Arumi, menikmati pemandangan langka di mana seorang Renard Wijaya bertekuk lutut pada kelezatan makanan rumah.

Suara tawa kedua wanita itu bergaung renyah, berpadu dengan dengkuran halus Si Oyen yang kini berpindah posisi ke dekat kaki Renard, seolah tahu bahwa majikannya yang kaku itu sedang tidak berdaya.

Di bawah temaram sore yang hangat yang perlahan bergeser senja, benteng es yang dibangun Renard selama bertahun-tahun dengan penuh keangkuhan tampak semakin rapuh dan retak di berbagai sisi.

Sang Tuan Muda yang sedingin musim dingin kini harus mengakui dalam diam, bahwa ia sama sekali tak berdaya melawan manisnya puding cokelat buatan istrinya, dan terlebih lagi, ia tak berkutik menghadapi tatapan mata seorang gadis yang perlahan namun pasti, mulai mengubah arti kata 'rumah' bagi dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!