NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjamuan Ular

Gerbang besi raksasa Istana Draken menjulang tinggi dengan ukiran naga hitam yang seolah menatap rendah setiap pendatang. Kuda-kuda penarik kereta Valerius mendengus kasar saat berhenti tepat di pelataran pualam yang sangat mengkilap.

Puluhan ksatria elit keluarga Draken menodongkan tombak mereka ke arah kereta dengan tangan yang bergetar hebat. Mereka sama sekali tidak percaya melihat lambang kereta yang seharusnya sudah hancur di perbatasan itu kini kembali utuh.

Nyonya Karat yang masih menyamar sebagai kusir menatap para ksatria itu dengan pandangan merendahkan dari balik topengnya. Ia turun perlahan dan membuka pintu kabin kereta kayu berlapis beludru merah tersebut dengan sangat hormat.

Valerius melangkah keluar, ujung sepatu botnya menginjak lantai pualam istana dengan keanggunan seorang dewa kematian. Angin malam ibu kota berhembus pelan, menerbangkan ujung jubah sutranya yang sengaja ia buat sedikit robek dan kotor.

"Kalian sungguh berani menodongkan senjata tumpul itu pada tuan muda kalian sendiri," ucap Valerius pelan. Suaranya terdengar sangat tenang, namun hawa dingin yang menyertainya langsung membekukan darah para penjaga tersebut.

Komandan penjaga istana menelan ludah dengan susah payah, ujung tombaknya seketika turun menyentuh lantai karena ketakutan. "T-Tuan Muda Valerius... Anda benar-benar masih hidup setelah dibuang ke wilayah perbatasan itu?"

Valerius tidak membalas pertanyaan bodoh itu, ia hanya memberikan isyarat pelan dengan jemarinya kepada Baron Kaelos. Kaelos dan seratus prajurit perbatasannya langsung berbaris rapi membentuk formasi pelindung di belakang punggung sang majikan.

"Tunggu di luar sini, biarkan aku sendiri yang menyapa kakakku tercinta di dalam ruang perjamuannya," perintah Valerius. Ia melangkah menaiki puluhan anak tangga marmer putih yang mengarah langsung ke pintu utama aula istana.

Tidak ada satu pun ksatria emas yang berani melangkah maju untuk menghalangi jalan pemuda pucat tersebut. Aura intimidasi dari skill 'Mata Penilai Iblis' yang Valerius pancarkan secara pasif telah meremukkan nyali mereka berkeping-keping.

Di balik pintu kayu oak raksasa yang tertutup rapat, terdengar alunan musik harpa yang sangat merdu dan menenangkan. Suara tawa renyah para bangsawan dan dentingan gelas kristal bergema, menandakan sebuah pesta perayaan yang sangat mewah.

Valerius tersenyum sinis, merasakan betapa palsu dan menjijikkannya kemegahan yang sedang berlangsung di balik pintu tersebut. Ia menendang kedua daun pintu kayu oak itu dengan kekuatan fisik penuh hingga terbuka membentur dinding pualam.

Suara dentuman keras seketika menghentikan alunan musik harpa dan mematikan seluruh tawa di dalam ruangan itu. Ratusan pasang mata bangsawan tingkat tinggi langsung menoleh tajam ke arah ambang pintu dengan ekspresi terkejut luar biasa.

Aula perjamuan itu dihiasi oleh puluhan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Meja-meja panjang dipenuhi oleh hidangan daging panggang termewah, anggur merah langka, dan buah-buahan dari benua seberang.

Di ujung ruangan, duduk di atas kursi kebesaran berlapis emas, Aldrich van Draken mematung dengan mulut setengah terbuka. Gelas kristal berisi anggur merah di tangannya bergetar hebat, sebelum akhirnya terlepas dan pecah berkeping-keping di lantai.

Cairan anggur merah itu tumpah menggenang, terlihat persis seperti genangan darah segar yang mengalir dari bawah kursinya. Wajah arogan Aldrich yang sedari tadi berseri-seri kini berubah menjadi sepucat mayat yang baru saja digali dari kuburan.

"M-Mustahil..." bisik Aldrich dengan suara parau yang hampir tak terdengar, matanya terbelalak menatap sosok di ambang pintu. "Kau seharusnya sudah hancur menjadi kotoran monster di dasar lembah beracun itu!"

Valerius melangkah masuk ke dalam aula, membiarkan semua orang melihat penampilannya yang terlihat sangat menyedihkan. Pakaian sutranya kotor oleh noda lumpur dan sisa darah palsu, sementara wajahnya sengaja ia buat terlihat sangat lelah dan trauma.

"Apakah ini caramu menyambut kepulangan adik kandungmu sendiri, Kakakku sayang?" tanya Valerius dengan nada suara yang bergetar sedih. Skill 'Lidah Berbisa' miliknya mulai bekerja, menaburkan sihir empati palsu ke dalam pikiran setiap bangsawan yang hadir.

Para anggota Dewan Bangsawan yang duduk di meja kehormatan mulai berbisik-bisik ngeri melihat kondisi pangeran kedua tersebut. Mereka selalu mengira Valerius telah mati karena penyakit mematikan sesuai dengan pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh Aldrich.

"Pangeran Valerius masih hidup? Bukankah Duke Draken mengumumkan bahwa ia telah dikremasi bulan lalu?" bisik seorang Duke tua.

"Lihat luka di lengannya, dia terlihat seperti baru saja merangkak keluar dari neraka pertempuran," sahut seorang Marquess di sebelahnya.

Aldrich mendengar bisikan-bisikan keraguan itu, kepanikannya seketika meledak menjadi amarah yang sama sekali tak terkendali. Ia berdiri dari kursi emasnya, menunjuk Valerius dengan jari telunjuk yang gemetar hebat karena rasa takut.

"Pengawal! Tangkap penyusup itu sekarang juga! Dia adalah iblis penipu yang menggunakan wajah adikku!" teriak Aldrich kalap.

Beberapa ksatria aula ragu-ragu mencabut pedang mereka, melangkah maju untuk mendekati Valerius dengan postur bertahan. Namun Valerius sama sekali tidak mundur atau menunjukkan postur perlawanan fisik sedikit pun.

Ia justru menjatuhkan dirinya berlutut di atas karpet merah, terbatuk pelan hingga mengeluarkan sedikit darah dari sela bibirnya. "Apakah belum cukup kau meracuni minumanku, membuangku ke lembah monster, dan mengirim pembunuh bayaran untukku, Aldrich?"

Pertanyaan retoris yang diucapkan dengan nada putus asa itu bagaikan petir yang menyambar tepat di tengah aula perjamuan. Suasana ruangan yang semula hanya dipenuhi bisikan kini berubah menjadi keheningan absolut yang sangat mencekam dan mematikan.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!