NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: tamat
Genre:Pembantu / Single Mom / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”

Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.

Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan Pagi

Celoteh riang si kecil Aidar mengisi ruang tengah rumah mbk Asih, disusul gelak tawa kakak-kakaknya. Aidar dengan semangat memantul-mantulkan bokongnya saat Raka menabuhinya ala tabuhan kuda lumping membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

Setiap akhir pekan, Danu dan Raka memang selalu menginap di rumah budenya, sekedar melepas rindu pada adik kesayangan mereka. Tawa anak-anak itu masih menggema sampai kepanikan terjadi saat Roy datang dan secara tiba-tiba mengambil Aidar dari pangkuan Danu.  

Danu yang tidak siap langsung berlari mengejar sembari berteriak. “Adik mau dibawa kemana, Yah?!”

Sontak suara serak Danu mengejutkan mbak Asih yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Wanita paruh baya itu pun turut berlari tanpa memperdulikan tempe yang sedang digorengnya. 

“Roy!” teriak mbak Asih. “Mau kamu bawa kemana Aidar!”  

Roy seolah tuli, ia terus berjalan keluar membawa Aidar yang menangis histeris. 

“Apa maksud kamu kaya gini?!” hardik mbak Asih seraya menarik lengan Roy. 

Laki-laki itu melengos sembari mengeratkan gendongannya pada Aidar yang terus berontak minta diturunkan. 

“Aku mau bawa anak aku pergi, apa salah?” sahut Roy.  

“Tapi, nggak kaya gini caranya!” balas mbak Asih. lalu mengambil paksa Aidar dari gendongan Roy. 

Tarik-menarik pun terjadi, Roy tetap kekeh tak mau melepaskan Aidar sedangkan mbak Asih tidak tega bocah gembul itu di bawa paksa membuat Aidar semakin histeris ketakutan. 

Mas Dwi—suami mbak Asih, yang baru mengetahui kejadian itu setelah mendapat laporan dari Danu segera berlari menengahi. 

Laki-laki dengan badan gemuk itu dengan terpaksa menaikkan nada suaranya, lalu mengambil Aidar dari dekapan Roy saat laki-laki egois itu lengah.

“Berhenti! Apa-apaan kalian ini? Kalian tidak sadar Aidar sampai ketakutan?!” bentaknya dengan napas terengah. “Kembali ke rumah, kita bicara baik-baik.” lanjutnya kemudian berbalik ke dalam rumah dengan Aidar di gendongannya. 

Setelah memberikan Aidar pada Danu dan memintanya membawa ke kamar, mas Dwi kembali ke ruang tamu untuk berbicara dengan Roy.  

Tarikan napas berembus kasar dari bibir hitam mas Dwi, laki-laki yang berusia hampir setengah abad itu mendecih pelan saat mendudukkan bokongnya di kepala meja. “Kamu kenapa, Roy? Pagi-pagi sudah bikin gaduh.”

Roy mendengus kesal, tatapannya nyalang. “Aku mau ambil anakku, apa tidak boleh?” 

“Siapa yang tidak memperbolehkan? Silahkan kalau mau kamu bawa, tapi nggak begini caranya,” ujar mas dwi, kemudian mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya. 

“Kamu itu ‘kan menitipkan Aidar dengan baik-baik, kalau mau ambil ya harus dengan cara baik, ndak main asal paksa kaya orang mau nyulik,” lanjut mas Dwi. 

“Sekarang aku ngomong baik-baik, mbak,mas, aku mau bawa Aidar pergi!” sahut Roy. 

Mas Dwi menghisap rokok di jarinya, mengepulkan asap tipis ke udara. “Apa alasan kamu mau ambil Aidar?” 

“Apa perlu alasan, lo, mas? Orang itu anakku!” tukas Roy.

Senyum samar melengkung di sudut bibir mas Dwi,  tatapannya mengarah pada mbak Asih yang nampak terbelalak dengan jawaban dari Roy. Ia kemudian terdiam sejenak sembari menghisap kembali rokok di jarinya. 

“Kalau memang kaya gitu, silahkan saja. Kamu orang tuanya memang sudah seharusnya Aidar jadi tanggung jawab kamu,” sarkas Mas Dwi,

Mbak Asih semakin terbelalak, tangannya menyubit paham mas Dwi sembari memprotes. “Mas!” 

Mas Dwi yang menyadari kegelisahan sang istri, menepuk pelan punggung tangannya seraya mengode dengan kedipan mata. 

Roy yang merasa mendapat izin lekas berteriak memanggil Danu untuk mengantarkan Aidar kembali gendongannya. “Danu, bawa sini Aidar sekalian semua keperluannya. Susu, semua baju ganti sama diapersnya.” 

Mbak Asih terhenyak seketika saat mendengar perintah Roy. Mata wanita yang rambutnya mulai beruban itu mendelik, jari telunjuknya mengacung tajam ke wajah Roy. “Enak saja! Kalau mau bawa Aidar, modal sendiri. Kamu pikir semua keperluan Aidar Ana yang beli?! Denger, ya Roy. Aidar itu banyak alergi terutama susu sapi, dia bisa masuk rumah sakit kalau sampai kamu salah kasih susu. Susunya harus yang soya dan diapersnya pun harus merk ini yang warna putih, kalau ndak bisa ruam bokong sama selangkangannya.” 

Roy menelan ludah kasar, dari awal dia memang tidak pernah tau kebutuhan sang putra karena Ana yang selalu mencukupinya. Baru saja Roy mau bersuara, Mas Dwi lebih dulu menengahi.

“Kamu sedang ada masalah sama, Ana?” 

Laki-laki patriaki itu mendengus kesal, wajahnya tertunduk sesaat sebelum kembali mendongak angkuh. “Sudah beberapa hari Ana selalu mengabaikan pesanku, Mas. Aku coba telepon juga nggak di angkat. Aku nggak tau salahku apa, dia tiba-tiba diemin aku begini.” 

“Ana itu ndak mungkin diem kalo ndak ada sebabnya, Roy. Dan kalo sampe dia milih diem … itu berarti kesalahan kamu fatal,” terang mas Dwi. 

“Aku cuma minta bantu ongkos buat kerja ke Jakarta, Mas. Tapi, dia langsung marah-marah dan diemin aku begini,” dusta Roy. 

Mbak Asih yang mendengar ucapan Roy tertawa sumbang, wanita itu jelas paham bagaimana sifat adik perempuan satu-satunya. Dengan nada sedikit mencibir, mbak Asih menyahut seraya melipat tangannya di depan dada. “Yakin cuma karena itu? Bukan karena kamu diem-diem jual motor dia?” 

“Motor itu aku jual juga untuk bayar utang yang Ana tinggalkan, Mbak. Bukan tak pake seneng-seneng sendiri!” Semakin licin mulut Roy berdusta, makin lebar pula tawa mbak Asih. 

“Roy … Roy. Kamu itu kok mau coba-coba bohongin aku,” sahut wanita itu.

“Aku nggak bohong, mbak. Motor itu—” 

“Sudah,” sergah mas Dwi. “Yang sudah ndak ada, ndak usah dibahas lagi. Kamu kalo memang niat mau kerja ke Jakarta, nanti aku bantu bilang ke Ana,” sergah mas Dwi. 

“Iya, Mas.” Roy menjawab dengan binar bahagia di matanya. 

Laki-laki bertubuh gempal itu beranjak dari duduknya, lalu menekankan ujung rokoknya ke asbak kaca. “Sudah sekarang sarapan dulu di belakang sana. Untuk Aidar biar dulu di sini, bukan kami nggak percaya sama kamu. Tapi, kamu kan harus kerja repot nanti kalau sambil urus Aidar.” 

Roy mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah mas dwi yang mulai meninggalkan ruang tamu menuju ruang makan. 

Mbak Asih yang tak habis pikir dengan ucapan sang suami, menatap sinis. Bibirnya berkedut-kedut menahan sejuta umpatan. Ia kemudian meraih ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat kemudian mengirimnya ke nomor tujuan. 

“Kita perlu bicara.”

Bersambung

1
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
❤️❤️❤️❤️
Muhammad Arifin
ojok goblok Nompo Roy....
awas 👊🏻
Muhammad Arifin
saran ya .... jgn masukkan unsur agama jika jln ceritanya begini terkesan ana murahan.apalagi ana memakai jilbab, stigma orang berjilbab JD buruk.
Anna: Terima kasih sarannya, Kak.
Tapi mohon maaf, saya tidak setuju Anda mengatakan stigma orang berhijab jadi buruk hanya karena penggambaran tokoh Ana. Banyak kok penggambaran cerita wanita muslimah kelakuan bejat, bahkan di dunia nyata contohnya juga ada.
Tapi, apapun pendapat Anda, terima kasih sudah sudi mampir di karya sederhana saya, dan semoga Anda membaca hingga selesai, siapa tau pola pikir Anda tentang Ana sedikit berubah. 🙏
total 1 replies
Muhammad Arifin
semangat kak buat terus menulis 🔥🔥🔥
Anna: Terima kasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
tuti raniati
Terimakasih Thor ceritanya sangat bagus, perjuangan seorang ibu bagi anak-anaknya yang penuh pengorbanan menyentuh sekali membacanya, sukses selalu Thor teruslah berkarya
Nurgusnawati Nunung
ceritanya bagusss
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah.. bagus ceritanya..
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
Anna: Amin, mkasih banyak kak.
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
Bagus ya jalan ceritanya... Author the beast
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
untung mertuanya baik..
Anna: lebih ke mengerti keadaan.
total 1 replies
Moch Sholeh
dahh,ngk tau lah Thor mau komen apa,, tapi yg pasti ini cerita* TOP MARKOTOP* semangat terus berkarya 👍
Anna: Makasih suport nya, Kak. 🫶
total 1 replies
Linceu thea
jeng jeng siapa kamu sampai ga setuju woy 🤣🤣🤣
Anna: Nyonya Huang. 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
siapa yang Ndak setujuuu.....
Anna: Yang pasti bukan Andi.🤭
total 1 replies
Linceu thea
😍😍 nah lho akhirnya
Anna: ketemu juga 🤭
total 1 replies
Mul Yanto
lanjut Kak Ana 💪 semangat
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
CallmeArin
habis kmana aja kak, lama banget ngilangnya. udah jamuran aku nunggu😭🤣
Anna: Amin, makasih kakak-kakak yang baik 🫶
total 4 replies
Kustri
oalaaah ternyata bp tiri... hla pantes sayang cm pura"
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?
Mul Yanto
cerita nya bagus dan menarik
Siti Musyarofah
sampe lupa jln ceritanya Thor
Anna: Kakak, mohon maaf. karya ini memang saya revisi total dari bab 1, jadi ada sedikit perubahan. 🙏
total 1 replies
CallmeArin
akhirnya setelah sekian purnama
Anna: doa kan ya kak, semoga revisi yang satu nya bisa cepet beres, biar setiap up karya bisa crazy up. 🙏🙏🫶
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!