“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan Pagi
Celoteh riang si kecil Aidar mengisi ruang tengah rumah mbk Asih, disusul gelak tawa kakak-kakaknya. Aidar dengan semangat memantul-mantulkan bokongnya saat Raka menabuhinya ala tabuhan kuda lumping membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
Setiap akhir pekan, Danu dan Raka memang selalu menginap di rumah budenya, sekedar melepas rindu pada adik kesayangan mereka. Tawa anak-anak itu masih menggema sampai kepanikan terjadi saat Roy datang dan secara tiba-tiba mengambil Aidar dari pangkuan Danu.
Danu yang tidak siap langsung berlari mengejar sembari berteriak. “Adik mau dibawa kemana, Yah?!”
Sontak suara serak Danu mengejutkan mbak Asih yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Wanita paruh baya itu pun turut berlari tanpa memperdulikan tempe yang sedang digorengnya.
“Roy!” teriak mbak Asih. “Mau kamu bawa kemana Aidar!”
Roy seolah tuli, ia terus berjalan keluar membawa Aidar yang menangis histeris.
“Apa maksud kamu kaya gini?!” hardik mbak Asih seraya menarik lengan Roy.
Laki-laki itu melengos sembari mengeratkan gendongannya pada Aidar yang terus berontak minta diturunkan.
“Aku mau bawa anak aku pergi, apa salah?” sahut Roy.
“Tapi, nggak kaya gini caranya!” balas mbak Asih. lalu mengambil paksa Aidar dari gendongan Roy.
Tarik-menarik pun terjadi, Roy tetap kekeh tak mau melepaskan Aidar sedangkan mbak Asih tidak tega bocah gembul itu di bawa paksa membuat Aidar semakin histeris ketakutan.
Mas Dwi—suami mbak Asih, yang baru mengetahui kejadian itu setelah mendapat laporan dari Danu segera berlari menengahi.
Laki-laki dengan badan gemuk itu dengan terpaksa menaikkan nada suaranya, lalu mengambil Aidar dari dekapan Roy saat laki-laki egois itu lengah.
“Berhenti! Apa-apaan kalian ini? Kalian tidak sadar Aidar sampai ketakutan?!” bentaknya dengan napas terengah. “Kembali ke rumah, kita bicara baik-baik.” lanjutnya kemudian berbalik ke dalam rumah dengan Aidar di gendongannya.
Setelah memberikan Aidar pada Danu dan memintanya membawa ke kamar, mas Dwi kembali ke ruang tamu untuk berbicara dengan Roy.
Tarikan napas berembus kasar dari bibir hitam mas Dwi, laki-laki yang berusia hampir setengah abad itu mendecih pelan saat mendudukkan bokongnya di kepala meja. “Kamu kenapa, Roy? Pagi-pagi sudah bikin gaduh.”
Roy mendengus kesal, tatapannya nyalang. “Aku mau ambil anakku, apa tidak boleh?”
“Siapa yang tidak memperbolehkan? Silahkan kalau mau kamu bawa, tapi nggak begini caranya,” ujar mas dwi, kemudian mengambil sebatang rokok lalu menyulutnya.
“Kamu itu ‘kan menitipkan Aidar dengan baik-baik, kalau mau ambil ya harus dengan cara baik, ndak main asal paksa kaya orang mau nyulik,” lanjut mas Dwi.
“Sekarang aku ngomong baik-baik, mbak,mas, aku mau bawa Aidar pergi!” sahut Roy.
Mas Dwi menghisap rokok di jarinya, mengepulkan asap tipis ke udara. “Apa alasan kamu mau ambil Aidar?”
“Apa perlu alasan, lo, mas? Orang itu anakku!” tukas Roy.
Senyum samar melengkung di sudut bibir mas Dwi, tatapannya mengarah pada mbak Asih yang nampak terbelalak dengan jawaban dari Roy. Ia kemudian terdiam sejenak sembari menghisap kembali rokok di jarinya.
“Kalau memang kaya gitu, silahkan saja. Kamu orang tuanya memang sudah seharusnya Aidar jadi tanggung jawab kamu,” sarkas Mas Dwi,
Mbak Asih semakin terbelalak, tangannya menyubit paham mas Dwi sembari memprotes. “Mas!”
Mas Dwi yang menyadari kegelisahan sang istri, menepuk pelan punggung tangannya seraya mengode dengan kedipan mata.
Roy yang merasa mendapat izin lekas berteriak memanggil Danu untuk mengantarkan Aidar kembali gendongannya. “Danu, bawa sini Aidar sekalian semua keperluannya. Susu, semua baju ganti sama diapersnya.”
Mbak Asih terhenyak seketika saat mendengar perintah Roy. Mata wanita yang rambutnya mulai beruban itu mendelik, jari telunjuknya mengacung tajam ke wajah Roy. “Enak saja! Kalau mau bawa Aidar, modal sendiri. Kamu pikir semua keperluan Aidar Ana yang beli?! Denger, ya Roy. Aidar itu banyak alergi terutama susu sapi, dia bisa masuk rumah sakit kalau sampai kamu salah kasih susu. Susunya harus yang soya dan diapersnya pun harus merk ini yang warna putih, kalau ndak bisa ruam bokong sama selangkangannya.”
Roy menelan ludah kasar, dari awal dia memang tidak pernah tau kebutuhan sang putra karena Ana yang selalu mencukupinya. Baru saja Roy mau bersuara, Mas Dwi lebih dulu menengahi.
“Kamu sedang ada masalah sama, Ana?”
Laki-laki patriaki itu mendengus kesal, wajahnya tertunduk sesaat sebelum kembali mendongak angkuh. “Sudah beberapa hari Ana selalu mengabaikan pesanku, Mas. Aku coba telepon juga nggak di angkat. Aku nggak tau salahku apa, dia tiba-tiba diemin aku begini.”
“Ana itu ndak mungkin diem kalo ndak ada sebabnya, Roy. Dan kalo sampe dia milih diem … itu berarti kesalahan kamu fatal,” terang mas Dwi.
“Aku cuma minta bantu ongkos buat kerja ke Jakarta, Mas. Tapi, dia langsung marah-marah dan diemin aku begini,” dusta Roy.
Mbak Asih yang mendengar ucapan Roy tertawa sumbang, wanita itu jelas paham bagaimana sifat adik perempuan satu-satunya. Dengan nada sedikit mencibir, mbak Asih menyahut seraya melipat tangannya di depan dada. “Yakin cuma karena itu? Bukan karena kamu diem-diem jual motor dia?”
“Motor itu aku jual juga untuk bayar utang yang Ana tinggalkan, Mbak. Bukan tak pake seneng-seneng sendiri!” Semakin licin mulut Roy berdusta, makin lebar pula tawa mbak Asih.
“Roy … Roy. Kamu itu kok mau coba-coba bohongin aku,” sahut wanita itu.
“Aku nggak bohong, mbak. Motor itu—”
“Sudah,” sergah mas Dwi. “Yang sudah ndak ada, ndak usah dibahas lagi. Kamu kalo memang niat mau kerja ke Jakarta, nanti aku bantu bilang ke Ana,” sergah mas Dwi.
“Iya, Mas.” Roy menjawab dengan binar bahagia di matanya.
Laki-laki bertubuh gempal itu beranjak dari duduknya, lalu menekankan ujung rokoknya ke asbak kaca. “Sudah sekarang sarapan dulu di belakang sana. Untuk Aidar biar dulu di sini, bukan kami nggak percaya sama kamu. Tapi, kamu kan harus kerja repot nanti kalau sambil urus Aidar.”
Roy mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah mas dwi yang mulai meninggalkan ruang tamu menuju ruang makan.
Mbak Asih yang tak habis pikir dengan ucapan sang suami, menatap sinis. Bibirnya berkedut-kedut menahan sejuta umpatan. Ia kemudian meraih ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat kemudian mengirimnya ke nomor tujuan.
“Kita perlu bicara.”
Bersambung
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?