Di latar belakangi suasana awal terbentuknya penduduk Nusantara. Di mana terjadi konflik kepentingan antara kaum pendatang dari utara dengan penduduk yang telah terlebih dahulu tinggal di wilayah kepulauan Hindia.
Tidak sampai di situ, persaingan dan intrik meraih kekuasaan mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara ketika itu, terutama sejak Raja mereka Hyang Parikesit mengangkat Petruk menjadi Perdana Menteri.
Banyak pejabat dan cendikiawan yang mempertanyakan kebijakan Sang Raja. Mereka menganggap penunjukkan Petruk menjadi Perdana Menteri melanggar aturan, karena tidak melalui kompromi terlebih dahulu.
Terlebih lagi, selama menjadi Perdana Menteri, Petruk terkadang membuat peraturan yang dianggap aneh. Akibatnya penentangan terhadap penunjukkan dirinya, semakin menjadi-jadi.
Konflik antar pendukung semakin meruncing disertai adu siasat untuk menghancurkan lawan membuat suasana bertambah ruyam.
Apakah Petruk dapat mempertahankan jabatannya? Mari kita ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rimau Melayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan
Di angkatnya Mpu Salya atau Ki Bagong sebagai petinggi kerajaan, menambah lagi tokoh pejabat yang berasal dari Padepokan Punakawan.
Sebelum Ki Bagong, sudah ada Ki Gareng yang menjabat sebagai Wali Negeri bagian Nusantara, kemudian Ki Sabdo Alam sebagai Wali Negeri bagian Jawadwipa serta putra dari Ki Sabdo Alam yakni Ki Jayalaga sebagai Pimpinan Pasukan Bhayangkara. Dan tentunya Ki Petruk yang menjabat sebagai Perdana Menteri.
Fenomena ini ternyata membuat gerah sebuah lembaga pendidikan yang selama ini alumninya menjadi langganan dipilih sebagai pejabat tinggi di pemerintahan. Lembaga Pendidikan itu bernama Padepokan Kesatria yang usianya sudah hampir 200 tahun.
Dalam sejarahnya, Padepokan Kesatria didirikan sebagai tempat persiapan anak-anak keluarga istana yang akan menjalani pendidikan di luar negeri. Namun lama kelamaan lembaga ini menjadi tempat belajar anak-anak keluarga pejabat dan keluarga saudagar kaya.
Padepokan Kesatria merupakan sebuah lembaga pendidikan elite. Keluarga Istana dan Para Pangeran diwajibkan untuk masuk padepokan ini. Pangeran Hyang Jayanaga sebelum belajar ke Baylonia, juga di didik di sini.
Keadaan Padepokan Kesatria ini, tentunya sangat berbeda dengan Padepokan Punakawan yang sebagian besar siswanya berasal dari keluarga rakyat biasa. Mereka datang dari kalangan petani, nelayan dan pedagang kecil.
Padepokan Kesatria saat ini dipimpin Mpu Daksa yang merupakan paman dari Permaisuri Ratu Kirana. Karena melihat kemajuan Padepokan Punakawan yang luar biasa, melalui orang-orang kepercayaannya, Mpu Daksa berupaya menyelidiki seluk beluk sistem pendidikan saingannya tersebut.
Sebagian orang suruhan Mpu Daksa menyamar sebagai rakyat kebanyakan. Kemudian mereka mendaftarkan diri sebagai siswa di Padepokan Punakawan. Di padepokan mereka mengumpulkan berbagai informasi untuk nantinya dilaporkan kepada pimpinannya.
Ada lagi suruhan Mpu Daksa ini pergi ke pelosok negeri mencari alumni Padepokan Punakawan. Dengan diimingi harta dan kedudukan, para alumni ini diminta membongkar rahasia lembaga pendidikan yang dikelola Hyang Ismaya tersebut.
Dari hasil penyelidikannya setidaknya ada 2 hal sensitif yang terungkap, yakni Padepokan Punakawan diketahui mengajarkan Kapitayan yang merupakan ajaran baru, selain itu ajaran ini ditemukan perbedaan dengan kultur kepercayaan Bangsa Punt.
Sedangkan isu lainnya adalah menyangkut asal muasal pendiri Padepokan yang ternyata memiliki jalur kekerabatan dengan Bangsa Bunian.
Sebetulnya Mpu Daksa tidak mempersoalkan kedua hal itu, namun informasi ini kemudian digunakan bawahannya untuk merusak citra Padepokan Punakawan.
Sejak saat itu, beredar isu bahwa Padepokan Punakawan mengajarkan pelajaran yang bertentangan dengan kultur budaya setempat. Di katakan Padepokan ini berbahaya, karena membawa ajaran baru dan bisa merusak kepribadian bangsa.
Dan tidak kalah sadisnya, muncul isu bahwa Padepokan Punakawan dikelola oleh keturunan siluman. Para penyebar isu ini mengatakan, kondisi ini dapat menyesatkan siswa yang belajar di sana.
Gencarnya isu yang beredar itu, tentu saja merusak citra Padepokan Punakawan. Dan akibatnya, banyak siswa Bangsa Punt dipanggil pulang oleh orang tuanya.
Mendengar Padepokan tempat dia belajar diterpa berita miring, bukan main geramnya Ki Petruk. Apalagi setelah ia mengetahui isu negatif itu dihembuskan oleh pengelola Padepokan Kesatria yang merasa disaingi oleh Lembaga Pendidikan Punakawan.
Sebagai seorang Perdana Menteri, bisa saja dengan wewenangnya Ki Petruk membubarkan Padepokan Kesatria. Namun tentu akan sangat beresiko, karena alumni Padepokan itu pasti tidak akan terima dan bakal rame-rame memprotes Ki Petruk.
Melihat gelagat yang kurang baik itu, Ki Petruk memanggil adik seperguruannya Mpu Salya atau Ki Bagong untuk berdiskusi.
"Adinda Mpu Salya, apa sudah mendengar berita negatif terkait Padepokan kita?" tanya Ki Petruk memulai pembicaraan.
"Sudah Kanda, tapi biarkan saja, lama-lama akan reda juga" kata Ki Bagong tenang.
"Maksud dinda? kita biarkan saja orang merusak nama baik perguruan" kata Ki Petruk tidak mengerti.
"Isu yang beredar berasal dari orang yang panik, biasanya tidak akan bertahan lama" kata Ki Bagong lagi.
"Kita cukup menjelaskan fakta saja, bahwa kita tidak anti dengan budaya bangsa dan kita juga bukan padepokan yang menyesatkan" ujar Ki Bagong menambahkan.
"Bagaimana dengan Padepokan sekarang, apa sudah ada pengaruhnya?" tanya Ki Petruk.
"Awalnya memang banyak siswa yang mengundurkan diri, tapi setelah diberi pengertian kepada keluarganya, sekarang sudah banyak yang kembali ke padepokan" jawab Ki Bagon.
"Kita beri tahu ke keluarganya di Padepokan juga dipelajari seni dan budaya bangsa, adapun ajaran kapitayan bukan suatu kewajiban untuk diikuti" kata Ki Bagong lagi.
"Apalagi setelah mereka tahu, jasa Nyai Buyut Melur yang berhasil membebaskan Bangsa Punt dari serangan wabah" tambah Ki Bagong.
"Dan menariknya, justru saat ini banyak anak-anak dari keluarga Suku Utara yang belajar di Padepokan, mungkin karena melihat ada pengelola Padepokan yang menikahi wanita suku mereka" kata Ki Bagong senyum-senyum sendiri.
Ki Petruk hanya terdiam mendengar penjelasan adik seperguruannya itu. Masyarakat Mayapada memang harus tahu sejarah, betapa besarnya jasa Nyai Buyut Melur di masa lalu.
Lagi pula Nyai Buyut Melur bukan orang sembarangan, meski berasal dari negeri bunian, ia tidak pernah merugikan masyarakat. Apalagi Nyai Buyut Melur adalah selir Raja, menghina dirinya sama saja menghina keluarga kerajaan.
Selepas berdislusi dengan adik seperguruannya itu, Ki Petruk menghadap Tuan Raja Hyang Parikesit. Dia mengusulkan agar kisah Nyai Buyut Melur yang pernah menyelamatkan bangsa, dipelajari di semua padepokan.
Hyang Parikesit sangat mendukung usul Ki Petruk ini. Ditambah lagi, Nyai Buyut Melur masih terhitung nenek tirinya. Dan itu memuluskan rencana tersebut, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh kaum cendikia dan pengelola pendidikan.
Pertemuan ini dihadiri perwakilan dari berbagai lembaga pendidikan termasuk perwakilan dari Padepokan Kesatria dan Padepokan Punakawan. Hadir juga Putra Mahkota Pangeran Hyang Jayanaga dan Ketua Dewan Cendikia Datuk Kumbang Biru.
Dalam pertemuan itu, Raja mentitahkan agar jasa besar Nyai Buyut Melur diinformasikan kepada semua siswa di sekolah atau padepokan. Tujuan kebijakan ini agar generasi penerus bisa menghormati jasa para leluhurnya.
Mpu Daksa dan bawahannya yang juga ikut hadir di pertemuan ini hanya bisa terdiam, mereka tidak berani membantah perintah Raja. Apalagi alasan yang disampaikan sangat logis, sulit ditemukan celah kelemahannya.
Sejak saat itu, berita miring terkait asal muasal Nyai Buyut Melur sirna dengan sendirinya. Dan bukan itu saja, Padepokan Punakawan semakin harum namanya, dimana berduyun-duyung orang datang untuk menjadi siswa di sana.
Sementara Padepokan Kesatria mulai ditinggalkan. Banyak pejabat pemerintahan, tidak lagi tertarik mengirim anak-anaknya ke sana. Mereka lebih memilih Padepokan Punakawan sebagai tempat pendidikan keluarganya.
Situasi seperti ini, tentu membuat pengelola Padepokan Kesatria semakin benci kepada Ki Petruk. Mereka bertekad akan konsulidasi dengan para alumni Padepokan, mereka yakin Ki Petruk akan bisa mereka tumbangkan.
d tunggu novel selanjutnya kak
Ini Cerita kisah nyata bukan sejarah..
BTW author suka nonton wayang y:)
taunya datuk maringgi..
mereka saudaraan y..atau nama Marga y
dilanjut lagi ya kak, tetap semangat nulisnya.
aku udah kasih jempolnya, ya🙏
mampir dicerita aku
hati yang terluka sama aku menikahi pacar sahabat ku
jngan lupa mampir