Di dunia yang dikepung miliaran Monster ciptaan entitas purba Vitallion, kedudukan manusia ditentukan oleh seberapa agung Anima yang mereka panggil di Aula Kebangkitan.
Kael Ardyn, putra tunggal mendiang pahlawan militer, mendapati takdirnya hancur dalam semalam. Bukan makhluk Mitologi agung yang ia bangkitkan, melainkan Morthas (Sang Penuai Nyawa)—entitas Kelas Misterius berwujud Malaikat Maut yang terhapus dari sejarah ribuan tahun.
Dicap sebagai ancaman haram oleh Kerajaan Barat yang korup, Kael dijatuhi hukuman eksekusi mati. Diselamatkan di detik-detik terakhir oleh pendiri Guild Scar Horizon, Kael dilarikan ke alam liar di luar Dinding Peradaban.
Bersama persekutuan empat jiwa abnormal penguasa Anomali—Phoenix Api, Mammoth Purba, dan Kraken Kinetik—Kael menempa jiwanya untuk menguasai energi Kematian murni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERINGATAN DARI MORTHAS
BAB 25: PERINGATAN SANG PENUAI DAN BADAI YANG MENGANCAM
Kapten Gareth menggertakkan giginya rapat-rapat hingga rahang besinya berderit keras.
Dilema taktis di kepalanya menguap seketika, digantikan oleh ketegasan seorang komandan veteran yang telah memakan asam garam di kerasnya alam luar dinding.
Ia menoleh ke atas, mengunci pandangan pada sosok Elena yang melayang di balik kepakan sayap api.
"Elena! Buka celah jalan untukku sekarang!" teriak Kapten Gareth menggelegar, suaranya membelah gemuruh pertempuran.
"Siap, Kapten!" sahut Elena cepat.
Gadis berambut pirang itu tidak membuang waktu sekejap mata pun. Ia memutar kendali spiritualnya, mengalihkan fokus tembakan Anima Phoenix Pyrael lurus ke arah tumpukan puluhan Beast Peringkat Menengah yang menyumbat celah sayap kiri.
BOOOOM! BOOOOM! BOOOOM!
Rentetan bola api neraka menghantam tanah batu, menciptakan ledakan beruntun yang menggelegar. Puluhan Beast Peringkat Menengah di lorong sempit itu melayang dan hancur menjadi debu hitam, meretakkan barisan musuh dan melapangkan rute jalan secara instan.
"Sekarang!" jerit Elena dari udara.
WUUUSHHH!
Menggunakan celah jalan yang baru terbuka, Kapten Gareth memindahkan poros tumpuan kakinya.
Aura Emas dari Banteng Tanduk Baja meledak hebat, mendorong tubuh kekarnya melesat dalam kecepatan penuh. Sang Kapten menerobos kepungan musuh bagaikan peluru meriam yang membelah lautan monster, meluncur lurus menuju posisi dua Beast Peringkat Tinggi yang sedang ditahan oleh Hugo!
Dengan teralihkannya fokus Kapten Gareth dan tim Scar Horizon ke titik krusial, peta pertempuran di gerbang utama Volcania mendadak bergeser tajam.
Melihat bala bantuan bergerak makin agresif, Jenderal Veron yang berdiri di garis depan langsung mengambil kendali atas pasukannya.
"Prajurit Volcania! Bekerja samalah dengan pasukan Scar Horizon!" teriak Jenderal Veron dengan suara menggelegar penuh wibawa.
"Lindungi pergerakan mereka dan amankan garis pertahanan!"
"Siap, Jenderal!" seru ratusan prajurit Volcania secara serentak.
Kini, Jenderal Veron yang telah memulihkan pasokan jiwanya berkat pil tingkat tinggi dari Scar Horizon merasakan kekuatan tempurnya kembali ke puncak. Aura keemasan dari Serigala Zirah Besi miliknya berkobar beringas, memancarkan gelombang tekanan Ranah Emas yang menggentarkan tanah.
Tujuannya kini sudah bulat dan pasti: ia harus membantu Kapten Gareth menumbangkan sepasang Beast Peringkat Tinggi tersebut!
Dengan bersatunya dua petarung Ranah Emas di medan tempur, peta kekuatan yang tadinya timpang kini secara drastis berubah menjadi seimbang dan menjanjikan harapan baru.
Sementara itu, di jalur lintasan yang kian menyempit dari arah barat.
Kael dan Ren terus memacu kecepatan kaki mereka menembus sisa-sisa debu ngarai. Jarak mereka dengan titik ledakan kini hanya terpisah oleh beberapa ratus meter saja.
Tiba-tiba, di tengah langkah kakinya yang stabil, suara berat, dingin, dan gersang bergaung langsung di dalam relung batin Kael.
Manusia Fana... dengarkan aku.
Langkah Kael sempat tertahan sesaat. Raut wajahnya yang datar sedikit berkedip. Ia langsung menarik sebagian kesadarannya turun ke dalam dimensi Void.
Morthas...? Ada apa? tanya Kael dalam batinnya, nadanya tetap tenang namun waspada.
Di kedalaman kehampaan batin, Sang Penuai Nyawa yang terduduk di atas singgasana gulita perlahan membuka sepasang mata tak kasat matanya. Aura hitam di sekitarnya bergejolak tidak tenang.
Aku merasakan aura yang tidak asing sekaligus ganjil dari arah celah labirin di depan sana, ujar Morthas, getaran suaranya membawa hembusan hawa dingin yang merindingkan jiwa.
Bukan sekadar Beast liar... tapi sebuah esensi dari Kelas Misterius.
Kael tersentak hebat di dalam batinnya. Manik matanya melebar seketika.
Entitas Misterius?! batin Kael terhenyak. Maksudmu... Vitallion telah bangkit kembali?!
Bukan... jawab Morthas singkat dan dingin. Bukan Vitallion.
Kael merenung tajam di dalam ruang pikirannya. Sepanjang pengetahuan dan catatan sejarah yang ia pelajari dari Grand Master Alden, entitas Anima Kelas Misterius yang ada di dunia ini seharusnya hanya ada dua: Vitallion yang menciptakan ekosistem Beast tiga ratus tahun lalu, dan Morthas yang berdiri bersamanya sebagai rekan sejajar.
Lalu... jika itu bukan Vitallion, entitas mengerikan apa lagi yang sedang tertidur di dalam kedalaman labirin tersebut?
Lalu siapa, Morthas? Beri tahu aku! desak Kael, mencoba menggali informasi lebih dalam dari sang rekan.
Morthas diam sejenak. Tudung hitamnya bergoyang halus di dalam ruang Void sebelum ia akhirnya tertawa sinis, memutus perbincangan batin itu secara sepihak.
Hmph. Itu bukan urusanku, Bocah, cetus Morthas angkuh. Aku hanya memberimu peringatan. Jangan sampai jiwa wadahmu hancur sebelum kau sempat memenuhi janjimu padaku.
Wush! Jalur komunikasi batin terputus seketika, mengembalikan fokus penuh Kael ke dunia nyata.
Di sebelahnya, Ren yang berlari sejajar menyadari perubahan mendadak pada gestur dan ekspresi Kael. Pemuda berambut merah itu mengernyitkan keningnya heran.
"Kael? Kenapa kau terlihat gelisah?" tanya Ren bingung.
Kael menggelengkan kepalanya pelan, menyapu keraguan di dadanya dan kembali mengunci pandangannya lurus ke depan.
"Tidak ada apa-apa, Ren. Tetap fokus," jawab Kael datar, memilih menyimpan informasi sensitif tersebut untuk dirinya sendiri.
Di dalam benaknya, Kael tahu betul ia tidak bisa sembarangan membagikan kabar tentang keberadaan entitas Misterius ketiga ini sebelum bertemu dan mendiskusikannya langsung dengan Kapten Gareth.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan, hingga akhirnya jarak mereka benar-benar terkikis habis.
Di depan mata mereka, benteng Kerajaan Volcania yang megah kini terlihat jelas. Letupan asap hitam yang mengepul tinggi, dentuman bola api Pyrael, serta lolongan Beast Peringkat Tinggi menyergap indra pendengaran dan penglihatan mereka secara telak.
Namun, krisis tidak hanya terjadi di medan tempur luar.
Di balik kokohnya dinding benteng bagian dalam, ribuan warga sipil Kerajaan Volcania berada dalam cengkeraman kepanikan yang teramat sangat.
Anak-anak menangis histeris, sementara para orang tua saling berdesakan di sepanjang koridor evakuasi menuju zona utara.
Namun kemalangan mereka terkunci rapat. Dinding isolasi peradaban dan formasi pelindung wilayah membuat mereka tidak bisa melarikan diri keluar dari area kerajaan.
Tangisan histeris anak-anak dan raut cemas para orang tua memenuhi koridor evakuasi menuju zona utara. Pelarian mereka buntu, terkunci rapat oleh dinding formasi pelindung wilayah yang tak mungkin diterobos.
Satu-satunya hal yang membatasi nyawa mereka dari bantaian ribuan Beast ganas adalah gerbang utama yang saat ini sedang dihantam tanpa ampun oleh gelombang monster luar dinding!
Namun, di tengah cengkeraman ketakutan yang meremas dada, ribuan warga itu saling merapat dan memejamkan mata. Dalam bisikan napas yang tersengal, mereka terus berdoa dengan keyakinan penuh bahwa Jenderal Veron dan para prajurit yang tersisa sanggup mengatasi krisis Volcania ini.
Updete jam 19:00 ya teman teman,
Bisa 1 atau 2 bab.
Terimakasih selamat membaca