Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Tempat tugas
Rival diam seribu bahasa di dalam mobil. Mobilnya melaju kencang pulang ke rumahnya.
"Kenapa sih bang uring-uringan?" tanya Shila.
"Kalau kamu nggak nyaman sama Handoko kenapa malah menjauh dari Abang? Kamu Khan bisa berlindung di belakang Abang!"
"Maaf bang, tadi Shila sekalian menyuapi Abrian"
"Lain kali jangan di ulang!!" Shila mengangguk daripada membuat Rival tambah marah.
------
Arben dan Abrian sudah tidur pulas. Shila masuk ke dalam kamar dan mulai merebahkan diri.
"Kamu sudah benar-benar siap ikut Abang di tempat tugas yang baru?"
"Siap lah bang, kemanapun Abang pergi, Shila ikut Abang" jawab Shila.
"Sini Abang peluk, besok pagi-pagi kita ke makam Yara dulu sebelum berangkat. Abang tidak ingin membuatmu lelah karena perjalanan kesana sangat melelahkan"
***
"Abang harap kamu tidak cemburu dengan Yara" pinta Rival sambil mengusap kepala Shila.
"Insya Allah bang" jawabanya.
Rival menggendong Abrian melangkah menuju makam Yara. Rival berjongkok lalu menarik tangan Shila agar bersebelahan dengannya. Arben mengikuti papanya.
"Apa kabar sayang" suara Rival begitu sedih.
"Mas bawa Shila. Istri mas ke hadapanmu. Semoga disana kamu merestui kami. Maafin mas ya dek!" tangisnya mulai meleleh.
"Dek.. mas pamit. Jangan bilang mas nggak sayang, jangan bilang mas nggak cinta. Disini.. didalam dada ini mas simpan kuat semua kenangan tentangmu yang mas nggak akan pernah bisa lupa. Biar mas tidak selalu bisa menemui kamu lagi.. dalam doa tetap terselip namamu istriku. Pengen mas sesandingan karo Kowe selawase nanging jodo Gusti Allah Amung kala Niki mundhut Kowe. Mas ikhlas, mas ridho masio tah larane nyighar dada dek"
Shila menangis di makam Yara. Tidak kuat melihat kisah kasih suaminya dan Yara. Shila berdiri namun Rival meraih tangan Shila. Rival pun berdiri memeluk Shila dengan erat.
"Tapi kamu harus tau, hanya kamu Shila.. tempat Abang mencurahkan seluruh kasih sayang dan cinta ini. Selamanya.. hanya kamu yang akan Abang sayangi"
"Abaaangg... Bisakah Shila dapatkan cinta Abang"
"Bisa.. karena kamu nyawa Abang sekarang"
***
Rival dan Oka memberi hormat pada seluruh anggota kompi. Banyak anggota yang bersedih karena Rival adalah Komandan yang paling mengena dan berkesan di hati mereka.
"Selamat bertugas di tempat yang baru Danki. Semoga cepat mendapatkan momongan!" doa Pak Willy. Lalu pak Willy menyalami Oka yang juga bertugas mengikuti Rival sebagai Danton nya.
***
Rival memijat tengkuk Shila, sejak tadi istrinya itu mabuk laut.
"Isi kali bang" sapa Oka sambil menggendong Arben.
"Nggak lah" jelas saja Rival yakin sebab ia baru melakukan nya dua kali bersama Shila, yang pertama gagal, yang kedua entahlah tapi Rival yakin Shila tidak hamil setelah ia menghitung masa subur Shila.
"Sini bersandar di dada Abang. Kamu sudah nggak kuat berdiri"
Belum sampai Rival menutup mulutnya, Shila sudah muntah lagi.
Jangan sampai kamu hamil dek. Hamil itu berat, apalagi Abang sampai melihatmu melahirkan. Abang nggak akan kuat menghadapi untuk kesekian kalinya.
***
Shila sudah istirahat di dalam kamar. Rival keluar menemui Oka.
"Bagaimana bang?"
"Sudah tidur. Beberapa jam lagi kita baru sampai"
"Kasihan sekali istri Abang" ucap Oka.
"Istri Abang nggak ada yang nggak mabuk laut" jawab Rival sambil menghisap rokoknya.
"Bukannya Abang bukan perokok ya?"
"Iya, mulai aktif sejak Abang merasa kesepian waktu itu" senyumnya.
"Sekarang bang??" ledek Oka.
"Kamu tau sendiri lah nikmatnya punya istri" Rival memainkan alis nya.
"Jiiiiaaahh.. Abang" kesal Oka
***
Rival menginjakan kakinya di pelabuhan. Dadanya terasa sesak mengingat tempat pertemuan pertama kalinya dengan Yara. Dio memberi hormat pada Rival. Dio melihat wanita di samping Rival, wajahnya teduh dan lembut.. cantiknya sama dengan istri Danki terdahulu. Wanita itu sedang menggendong anak berumur sebelas bulan. Arben tidur dalam gendongan Lettu Made Oka, Arben manja dan dekat sekali dengan 'omnya' itu.
"Ini istri saya"
"Selamat sore ibu Danki" Dio menegakan badan.
"Selamat sore om" senyum Shila menjawab lembut.
Di kesatrian Batalyon Rival berdiri, hatinya begitu sakit mengenang setiap jejak cintanya dengan Yara.
"Astagfirullah hal adzim.." Rival menutup wajahnya. Badannya serasa terhuyung sangat ringan.
"Ijin Dan.. Danki baik-baik saja?" tanya seorang anak buah sigap menyangga cepat tubuh Rival.
"Tidak apa-apa. Danki hanya sedang teringat istrinya" jawab Shila sambil mengusap dada Rival.
"Almarhumah istri" Rival meralatnya.
"Abang siap??" tanya Shila.
"Siap dek.. Ayo masuk"
Satu persatu kondisi Batalyon itu Rival lihat, tidak ada yang berubah. Rival di antarkan ke rumahnya lebih dulu sebelum lapor datang ke Batalyon. Shila mendorong Abrian di stroller.
Rival masuk ke dalam rumah, tubuhnya langsung lemas duduk di sofa ruang tamu. Rival berusaha keras menahan air matanya.
"Ya Allah Ya Gusti, sakit sekali rasanya hati ini" isaknya tertahan.
"Kalau Abang tidak kuat lagi, menangis lah bang, agar perasaan Abang lega"
Rival menghambur memeluk Shila.
"Sakit sekali Abang kehilangan Yara" tangisnya menjadi-jadi. Shila terdiam, wajahnya pun sendu ikut berurai air mata.
"Shila juga istri Abang" suara Shila serak, hampir Rival tidak bisa mendengar nya. Shila ambruk di pelukan Rival.
"Maafkan Abang yang masih selalu mengingatnya, Maafkan sikap Abang yang keterlaluan ini" Shila sadar, tapi ia sangat syok dengan semua ini.
"Bang.. ini Arben.....!!" Oka melihat situasi tidak pas di hadapannya.
"Ijin bang..Sebaiknya Abang bisa membagi perasaan dengan adil. Kasihan istri Abang" Oka menidurkan Arben di sofa lalu pergi meninggalkan Rival dan Shila.
"Ya Allah... tolong bukalah mata hatiku. Aku punya istri yang harus aku jaga. Suami macam apa aku ini" teriaknya kuat karena hatinya benar-benar penuh dengan beban.
Rival menghapus air matanya tak melepaskan pelukannya untuk Shila, betapa berdosa nya ia saat ini membuat istrinya terluka karena perasaan nya untuk Yara belum bisa hilang.
"Shila harus bagaimana agar Abang merasa lega?" tanya Shila yang juga merasakan sesak melihat suaminya begitu mencintai almarhumah istrinya.
"Tolong jangan tinggalkan Abang dalam keadaan apapun. Bersabarlah saat Abang menata luka hati ini. Kamu tetap ada di hati Abang walau belum sepenuhnya kamu rasakan cinta Abang. Abang mohon.." tatap Rival nanar
"Shila akan sabar menunggu Abang"
"Terima kasih sayang.. Abang janji kamu pelabuhan terakhir Abang. Akan Abang jaga kamu juga cinta kita, jiwa raga Abang taruhannya untuk menjadikan kamu segalanya di hati Abang"
--------
"Lapor.. pada hari ini, Senin ../../.. Kapten Rivaldi Alfario siap melaksanakan tugas di Batalyon....., laporan selesai"
"Selamat datang Kapten. Selamat bertugas" ucap Danyon Letkol Susilo.
--------
"Anak-anak bisa tidur nyenyak dek?" tanya Rival sambil melepas seragam nya.
"Bisa bang" jawab Shila datar.
"Masih kecewa sama Abang ya?" tanya Rival sadar diri.
"Nggak bang. Shila sudah baik-baik saja"
"Sini.. sekarang giliran mu tidur nyenyak sama Abang" Rival mencium pipi Shila lalu mengajaknya ke atas ranjang untuk tidur.
.
.