*Harta Tahta dan Wanita*
Prekuel dari novel 'Kutumbalkan Tubuhku'
Laras tidak pernah menduga, kalau semua kekayaan yang dia nikmati selama ini, didapat dengan cara paling laknat.
Sang suami tidak pernah mau bercerita banyak tentang pekerjaanya, walau dipaksa.
Hingga suatu malam...
Dengan mata dan kepalanya sendiri, Laras melihat sang suami tercinta masuk ke dalam satu-satunya kamar, yang sangat terlarang bagi semua penghuni rumah. Termasuk dirinya, tentu. Tubuh Laras langsung bergetar hebat, ketika dia berhasil mencuri lihat isi didalamnya, melalui lubang kunci.
Dan sejak malam itu, Laras bisa menebak apa yang telah dilakukan oleh suaminya untuk mendapatkan semua kemewahan.
Keadaan semakin rumit, saat Laras mengetahui kalau di dalam rahimnya telah tumbuh benih cinta. Dia tidak mau kejadian lalu terulang, lagi. Cukup satu kali saja.
Laras tidak akan rela, kalau sang calon jabang bayi yang masih sucinya, ikut menanggung dosa. Lalu, langkah seperti apa yang akhirnya akan diambil oleh Laras?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si_Ro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HTW 10
Hampir satu jam, Laras berada di dalam kamar mandi. Masih tidak tahu kapan sang suami akan pulang, membuatnya tambah tidak bersemangat. Berharap dengan berendam di dalam bathtub beraroma lavender, suasana hatinya bisa sedikit membaik.
Klek
Begitu keluar dari kamar mandi, sarapan yang Laras pesan sebelumnya, sudah ada di atas meja nakas. Tapi bukannya nampan yang Laras dekati, melainkan gawai yang tergeletak di atas ranjang.
“Ck! Kenapa Mas Tyo belum kasih kabar ya?” gumam Laras.
Dengan masih menggunakan bathrobe, Laras malah merebahkan diri pada kasur empuknya. Meski semalam dia kurang tidur, tapi hingga saat ini, matanya tidak merasakan kantuk. Lalu tangannya mulai meraba dada, seolah ada sesuatu yang mengganjal.
“Dan kenapa perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak? Apa di sana, Mas Tyo baik-baik saja?” batin Laras.
Mulai merasa pengap karena gorden dan jendela kamarnya masih tertutup sejak tadi, akhirnya Laras memaksakan tubuhnya untuk bangkit. Namun saat tirai mulai terbuka, dia melihat bayangan seluet tubuh yang sangat mirip dengan suaminya.
“Mas Tyo? Apa tadi itu benar-benar Mas Tyo?” ucap Laras, lirih.
Melupakan sarapan, Laras buru-buru memakai baju dan keluar kamar. Dia ingin memastikan, kalau apa yang baru saja dia lihat, tidaklah salah. Dan dengan penuh keyakinan, Laras berjalan cepat. Bahkan langkahnya hampir bisa disebut dengan lari kecil.
“Apa diantara kalian, ada yang melihat Bi Mira?” Tanya Laras, pada dua wanita pegawai rumah yang sedang membersihkan ruangan bawah.
Sebelum menjawab, dua pegawai itu saling melempar tatap. keduanya sama-sama menunggu, salah satu dari mereka untuk bersuara.
“Sepertinya sedang ada di rumah belakang, Nyonya.”
Jawab pegawai yang lebih tua.
“Rumah belakang?” ulang Laras.
“Iya, rumah belakang. Rumah yang khusus disediakan oleh Tuan Bram untuk para pekerja rumah ini, Nyonya.”
“Apa aku boleh ke sana?” Tanya Laras, polos.
Terlihat sekali, kalau dua pegawai itu sedang menahan tawa karena mendengar pertanyaan Laras.
“Kenapa? Apa tidak boleh?”
“Nyonya adalah istri dari Tuan Bram. Tentu Nyonya bebas untuk kemana saja, tanpa perlu meminta izin. Apalagi izin pada kami, yang hanya pembantu rumah tangga. Tuan bisa marah, kalau sampai mendengar hal ini, Nyonya.”
“Hehee… benarkah?” Laras menunduk malu. “Kalau begitu, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian. Aku akan mencari Bi Mira, di rumah belakang.”
“Silahkan, Nyonya.”
Seraya menunduk dan sedikit mundur, dua pegawai wanita itu pun memberikan jalan pada Laras.
-
Setelah melewati taman, sampailah Laras di depan pintu rumah belakang. Satu-satunya tempat yang belum pernah di datangi selama tinggal bersama Tyo.
Bangunan sederhana berlantai dua, cukup besar untuk bisa menampung semua pegawai rumah, termasuk sopir dan tukang kebun. Dan tentu berada terpisah dari rumah utama, tempat tinggal Laras dan Tyo.
Laras mengurungkan niat untuk mengetuk, saat telinganya menangkap suara orang yang sedang mengobrol, meski samar. Perlahan dia langsung mendorong daun pintu yang sudah terbuka sedikit.
“Itu suara Bi Mira,” celetuk Laras , pelan.
Kakinya makin semangat mengayun, mendekati sumber suara.
“Tunggu! Apa itu suara Paman Agus? Kenapa Paman Agus ada di rumah? Apa itu berarti, Mas Tyo juga sudah pulang?” batin Laras.
Tinggal tiga anak tangga lagi yang harus dia pijak, telinga Laras malah mendengar suara Agus dengan jelas. Hatinya berdegup senang, tapi juga merasa heran.
“Kalau Paman Agus sudah pulang, kenapa Mas Tyo tidak terlihat. Apa Paman pulang sendiri?” Laras kembali bertanya pada dirinya.
-
“Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Tuan Bram, Pak?” Tanya Bi Mira.
“Bapak belum tahu, Bu. Bapak sangat ingin membantu, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bapak tidak mau gegabah lagi. Salah-salah, nanti Tuan Bram malah makin tersiksa.”
Percakapan suami istri itu harus terhenti, saat salah satu pintu kamar terbuka. Menampilkan wajah Tyo yang sedang meringis, menahan sakit yang dia derita. Luka yang terdapat di pipi dan lengan bagian atas, terlihat mulai membiru.
Bi Mira dan Agus bangkit dari duduk.
“Apa Tuan Bram membutuhkan sesuatu?” Tanya Bi Mira.
“Iya, saya mau minta….”
Belum sempat Tyo mengutarakan keinginannya, dia harus dibuat terkejut dengan kehadiran seseorang di anak tangga terakhir. Dan dari ujung matanya, Tyo bisa memastikan kalau itu adalah Laras, istrinya. Sayangnya dia tidak bisa melakukan apapun, apalagi untuk bersembunyi. Sudah terlambat.
“Ajeng?” gumam Tyo.
Agus dan Bi Mira mengikuti arah pandang Tyo. Mata keduanya ikut terbelalak, dengan kedatangan Laras yang tidak terduga.
“Ajeng, Mas bisa….”
Lagi-lagi ucapan Tyo harus terhenti. Jika tadi harus terhenti karena kaget melihat Laras, kali ini harus terhenti karena Laras yang sudah keburu memeluknya dengan begitu erat.
“Hiks.. kenapa Mas Tyo tidak bilang, kalau sudah pulang? Laras kangen,” ucap Laras terbata. Memaksakan diri untuk bersuara, diantara tangis dan isakan.
Setelah mendapat kode dari Tyo, Agus langsung menarik tangan Bi Mira untuk pergi meninggalkan kedua majikannya. Dia tidak mau menjadi pengganggu, dua insan yang sedang melepas rindu.
-
“Mas tidak apa-apa, Ajeng. Ini hanya luka ringan,” ucap Tyo, entah sudah yang keberapa kali.
Saat ini, Tyo sedang duduk di pinggiran ranjang. Di depannya ada Laras yang sedang mengoleskan obat, dengan mulut yang terus menggerutu.
Setelah berhenti menangis di rumah belakang, Tyo membiarkan Laras menyeret dirinya untuk kembali ke rumah utama, tanpa kata. Tyo bisa melihat kekhawatiran di mata istrinya, dengan begitu jelas. Dan itulah kenapa, dia sama sekali tidak marah mendapat perlakuan yang sedikit kasar dari Laras.
Berulang kali sang istri mempertanyakan alasan di balik luka-luka yang di dapat oleh Tyo. Dan Tyo hanya kembali mampu memberikan jawaban yang sama.
“Benar, Mas Tyo cuma terjatuh?” Tanya Laras, sekali lagi.
“Benar Ajeng. Mas cuma terjatuh, dan terkena ranting pohon di dekat proyek pembangunan sekolah. Mas tidak pulang ke rumah utama, karena takut kamu akan khawatir, kalau melihat Mas seperti ini.”
“Lalu, apa Mas pikir sekarang Laras tidak khawatir?” sungut Laras.
Tyo meraih tubuh Laras, dan menariknya ke dalam pelukan. “Mas minta maaf,” bisiknya lembut.
Dari ucapan suaminya, Laras bisa merasakan penyesalan yang mendalam.
“Hiks.. Mas jahat!”
“Iya, Mas jahat. Mas memang jahat, bahkan sangat jahat. Dan Mas minta maaf,” ucap Tyo sembari membelai punggung istrinya yang kembali menangis.
By Si_Ro
*
Hai reader…
Jakarta memasuki masa PSBB.
Dimanapun kita berada, jaga kesehatan dan ikuti aturan pemerintah.
**
Ayo dukung dan berikan POIN sebanyak-banyaknya untuk novel ‘Ha Tan Wa’, supaya novel baru ini bisa masuk rank.
Untuk orang pemberi POIN terbanyak akan mendapatkan :
Give Away menarik yang khusus bertuliskan ‘Ha Tan Wa’
Author akan follow akun mangatoon pemenang, untuk chat pribadi menanyakan alamat pengiriman Give Away.
Waktu pengumpulan POIN selama 3 bulan, yaitu sampai tanggal 30 November 2020. Masih lama kan?
Dan untuk berapa jumlah orang yang akan menjadi pemenang, masih dalam pertimbangan. Bisa 3 orang, 5 orang, atau malah 10 orang.
Jadi ayo kumpulkan POIN yang banyak, lalu sumbangkan untuk novel terbaru Si_Ro. OK?
Terima kasih.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.
apa anaknya laras bakal jadi jodohnya sekar ya🤔🤔
trus tyo terbebas dari iblis itu saat pembangunan jembatan itu ya thor 😲😲
pdahal mampir kesini krna abis baca Serena, ,penasaran sm kisah tentang sekar
terpaksa menunggu deh
udah up nya dikit dikit malah bersambung lagi 🤦