NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Kanza manyun maksimal, merasakan detak jantung Hanan yang tenang di punggungnya.

Meski bibirnya masih mengerucut, ia akhirnya bersandar juga di dada bidang Hanan, membiarkan rasa hangat itu sedikit melunturkan sisa-sisa kekesalannya pada "si kambing kampus" tersebut.

"Kanza percaya sama Mas... Tapi Kanza tetep waspada. Karena yang dijaga bukan cuma hati Mas, tapi juga ketenangan hidup Kanza sebagai istri sah yang suka ngupil di dapur ini," gumamnya, masih sempat-sempatnya menyelipkan pengakuan absurd di tengah momen romantis.

Hanan tertawa makin keras, getaran dadanya terasa sampai ke punggung Kanza.

"Satu-satunya istri di dunia ini yang bisa ngupil sambil nyindir cewek lain pakai teori skripsi... Ya cuma kamu, Kanza."

Malam itu, setelah membereskan dapur dan menyelesaikan drama bumbu asmara serta "serangan" pesan singkat, Hanan dan Kanza memilih untuk bersantai di ruang tengah.

Televisi sudah menyala, dan Kanza dengan penuh semangat memilih film yang katanya bergenre romantis meskipun tujuannya jelas: memonopoli perhatian suaminya 100%.

Kanza duduk bersandar di lengan Hanan, memeluk bantal kecil erat-erat. Setelah memilih drama Korea yang sedang trending, ia menoleh sekilas ke arah suaminya dengan tatapan penuh intrik.

“Mas, kita nonton yang romantis-romantis gitu ya... Yang nggak ada tokoh mahasiswi modusnya,” ujarnya sambil memelankan volume televisi, seolah kalimatnya jauh lebih penting daripada dialog pembukaan aktor di layar.

Hanan Arkan menghela napas pendek, menahan senyum gemas.

“Kanza, itu lagi? Kan sudah Mas bilang berkali-kali, tidak ada apa-apa.”

Kanza hanya menanggapinya dengan mendesah panjang dan memanyunkan bibir hingga terlihat seperti bebek yang sedang merajuk.

Tak sampai lima menit film berjalan, radar detektifnya sudah mulai bekerja kembali.

“Mas, liat tuh tokoh ceweknya,” katanya sambil menunjuk layar dengan dagu.

“Awalnya kelihatan polos dan lugu, ya kan? Tapi biasanya yang modelan begitu tuh yang modus duluan. Pura-pura nggak ngerti tugas, nanti minta ditemani lembur skripsi di kafe yang remang-remang. Klise banget!”

Hanan menoleh perlahan, menatap istrinya dengan ekspresi heran yang lembut.

“Kanza, ini kita sedang menonton film atau kamu lagi menyusun studi kasus untuk disertasi?”

Kanza menegakkan duduknya, tampak lebih serius daripada saat ia mengerjakan ujian kampus.

“Kanza tuh punya teori ilmiah, Mas. Cewek modus itu biasanya muncul dalam tiga bentuk evolusi. Pertama, suka nanya hal nggak penting di jam-jam rawan, kayak jam sembilan malam ke atas. Kedua, selalu bilang ‘terima kasih ya Mas’ pakai emoji senyum yang matanya bentuk hati. Dan ketiga...”

Kanza menatap Hanan dengan sorot mata tajam tapi kocak.

“...suka pura-pura nunduk malu-malu kucing pas ketemu di kampus. Padahal ngeliriknya tuh udah setajam sniper!”

Hanan tertawa kecil, tak bisa menahan kekaguman pada daya imajinasi istrinya yang liar namun menghibur.

“Teori dari universitas mana itu, Kanza?”

Kanza menyandarkan diri lagi di bahu suaminya, merasa menang secara intelektual.

“Hasil observasi Kanza dan Tasya, Mas. Data lapangan valid, akurat, dan sangat terpercaya,” ucapnya dengan nada bangga yang luar biasa.

Hanan menggeleng pelan, lalu mengusap puncak kepala Kanza dengan penuh kasih. “Kamu ini ya... Lucunya nggak habis-habis. Ada saja jalannya buat bikin Mas tertawa.”

Kanza hanya terkekeh pelan, lalu kembali fokus menonton meskipun matanya masih terlihat penuh selidik terhadap karakter perempuan di film tersebut.

Seolah-olah setiap tokoh wanita bisa saja punya misi tersembunyi seperti yang ia curigai dari sosok Zahira.

Meski tingkah Kanza terkesan berlebihan dan absurd, bagi Hanan Arkan, semua itu adalah bukti nyata bahwa istrinya sangat menjaga kedaulatan cinta mereka.

Rumah yang mungkin tak selalu tenang karena ocehan Kanza, namun selalu terasa sangat hidup, hangat, dan tentu saja... penuh bumbu asmara yang sah.

Cahaya dari layar televisi berpendar di ruang tengah yang remang, menyinari wajah Kanza yang masih terlihat sangat waspada.

Meskipun film drama Korea itu menyuguhkan pemandangan musim gugur yang indah, pikiran Kanza tetap tertuju pada "analisis intelijen" terkait perilaku mahasiswi yang menurutnya mencurigakan.

Hanan Arkan hanya bisa pasrah. Tangannya yang melingkar di bahu Kanza sesekali mengusap lengan istrinya, berusaha menurunkan tensi "detektif" yang sedang membara dalam diri wanita itu.

“Tapi Mas,” Kanza tiba-tiba bersuara lagi, memecah keheningan yang baru tercipta dua menit.

“Kalau dipikir-pikir, Zahira itu masuk kategori evolusi kedua menuju ketiga. Mas sadar nggak, kalau dia ngomong sama Mas, suaranya suka mendadak berubah jadi lebih tipis tiga bar di bawah nada normal?”

Hanan menutup matanya sejenak, mengulas senyum sabar yang amat sangat dalam.

“Kanza, suara orang itu dipengaruhi anatomi tenggorokan, bukan niat jahat. Mas benar-benar tidak memperhatikan sampai sedetail itu.”

“Nah! Itulah celahnya!” seru Kanza sambil menunjuk hidung Hanan dengan gemas.

“Laki-laki itu seringnya clueless. Dikira cuma debu yang masuk mata, padahal itu serangan fajar dari lawan! Untung Mas punya Kanza yang filternya sekelas saringan berlapis baja.”

Hanan akhirnya menarik Kanza ke dalam pelukan yang lebih erat, menyembunyikan wajahnya di puncak kepala istrinya yang masih dicepol asal-asalan.

Bau sampo yang khas dari rambut Kanza seolah menjadi aroma terapi yang menetralisir lelahnya hari itu.

“Iya, iya. Mas beruntung punya filter se-protektif kamu,” gumam Hanan, suaranya terdengar tulus dan menenangkan.

“Sekarang, bisakah filter ini berhenti bekerja sebentar? Mas cuma mau nonton film ini sampai habis sama kamu, tanpa ada Zahira, tanpa ada teori skripsi, dan tanpa ada 'ekspedisi' hidung yang tadi sore.”

Kanza mendongak, menatap dagu kokoh suaminya dari bawah. Matanya yang tadi tajam kini melunak, berubah menjadi tatapan manja yang hanya ditujukan untuk Hanan.

“Oke. Filter non-aktif selama satu jam ke depan. Tapi kalau ada 'Ting!' lagi di HP Mas, filternya langsung auto-update ke versi terbaru ya!” ancam Kanza sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Hanan.

Hanan tertawa pelan, getarannya memberikan rasa aman yang tak tergantikan bagi Kanza. Ia tahu, di balik segala kecurigaan absurd dan ocehan panjang istrinya, ada rasa sayang yang begitu besar dan murni.

Kanza bukan hanya sekadar menjaga Hanan, ia sedang menjaga kebahagiaan mereka yang unik dan penuh tawa.

Malam semakin larut. Di layar televisi, tokoh utamanya sedang berpelukan di bawah pohon maple, sementara di ruang tengah itu, Hanan dan Kanza menikmati drama nyata mereka sendiri sebuah kisah tentang dosen yang tenang dan istrinya yang ajaib, yang selalu berhasil membuat rumah mereka menjadi tempat paling berwarna di seluruh semesta.

~~~NEXT~~~

Salam Hangat Dari Penuliss....

1
Feyfey98
LANJUTTTTT👍👍
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!