[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 10. Let's Play The Game
Setelah melaksanakan sholat Isya, sekarang Zahra sudah siap berkutit di depan buku untuk mengerjakan tugas yang di berikan Pak Aan tadi. Malam ini, gadis itu tidak mengunjungi tempat kerja Raihan karena Zahra sudah bertekad untuk belajar lebih rajin agar kepintarannya bisa sedikit bertambah.
Zahra mengeluarkan beberapa buku dalam tas dengan senyum semangatnya, serasa tak ada beban dalam hidupnya. Buku bersampul merah ia keluarkan dengan buku paket tebal yang menjadi temannya. Zahra mulai mengerjakan tugas essay yang di berikan Pak Aan, kurang dari 60 menit Zahra sudah menyelesaikan tugasnya.
"Selesai ...," ujarnya bernafas lega.
"Eh, aku belum telfon kak Rai. Kak Rai nyariin aku enggak yah? Yaiyalah nyariin aku kan adiknya satu-satunya." Zahra bermonolog sendiri hingga ia meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh darinya.
Zahra men-dial nomor seseorang hingga terdengar suara di seberang sana.
"Assalam ..."
"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, coba jangan di ulangi lagi!"
Ucapan salam Zahra terpotong saat mendengar suara asing di seberang sana Zahra menjauhkan ponselnya dan melihat nama seseorang yang ia telfon dengan jelas, dan ternyata ia tidak salah telfon, ia benar-benar menelfon Raihan.
"Sejak kapan operatornya cowok?" gumam Zahra pada dirinya sendiri.
Zahra bahkan tidak sadar ada kalimat yang janggal yang di ucapkan orang di seberang sana, hingga Zahra tersadar dan kembali mendekatkan ponsel ke wajahnya. "HEH! INI TELFON KAK RAI!! AWAS YAH KAMU. NYURI!" bentak Zahra dengan nada tinggi seperti memperingatkan seseorang.
Tak ada sahutan di seberang sana, hingga 30 detik setelahnya. "Heh! kalo ngomong tuh di jaga!!" ketus seseorang di seberang sana.
Zahra terkejut mendengar nada ketus itu, tidak mau kalah Zahra pun membalasnya, tak mau berhenti sebelum ia mendengar suara yang ingin di dengarnya.
"Aku mau jaga omongan aku kayak gimana? Omongan aku di ikat gitu biar nggak kabur?"
"Eh bocah, ngeselin lu yak. Gue remek-remek baru tau rasa lo."
"Emang ini siapa sih? Orang jelek pasti!!"
"Wahh, cari gara-gara nih bocah mah gua!"
"Wleek Zahra nggak takut."
"Dek?"
"Kamu nyamar jadi kak Rai?"
"Ini kakak, Zahra."
"Kak, hape kakak udah di balikin ama tuh penculik?"
"Hm, Ada apa?"
"Zahra enggak nyusulin kak Rai soalnya Zahra mau belajar."
"Bagus dong, selamat belajar adeknya Kak Rai."
Tuutt ... tuutt ...
Setelah Raihan mengucapkan itu Zahra memutus telfonnya secara sepihak. Dan mulai melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Zahra tersenyum riang karena telah menyelesaikan satu tugasnya, gadis itu merogoh tasnya kembali mengambil buku yang lain. Buku seorang pemuda yang seenaknya menyuruh Zahra mengerjakan tugas.
Zahra menarik nafas pelan dan menghembuskannya. Zahra sedikit tenang mungkin menyalin jawabannya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Gadis itu hanya akan menyalin kan! tidak perlu berfikir lagi. Masa bodoh jika Pak Aan tau bahwa jawaban mereka berdua sama, karena Zahra akan mengatakan alasannya dengan jujur.
Mata Zahra seketika membulat kaget, wajahnya yang tenang kini berubah. Jika saja Pemuda itu ada di sini Zahra pasti akan menelan nya hidup-hidup.
Bagaimana tidak?
Sampul bukunya bersih dan terbungkus rapi. Tidak seperti kedua sahabatnya, tapi isinya? Zahra membolak-balik buku di depannya dengan geram, mencari apa saja yang telah ditulis pemuda menyebalkan itu.
Saat Zahra membuka halaman terakhir hasilnya nihil, tak ada secercah tinta pulpen di sana, halaman bukunya kosong seperti buku baru. Padahal, ini sudah memasuki semester 2 kelas 11 bagaimana bisa pemuda itu tidak menulis selama 6 bulan?
"Sekalian apanya? Buku kalian berdua itu kosong nggak ada tulisannya sama skali. Lo mau bocah pendek kayak dia mati konyol cuman gara-gara nulis catatan?"
Tiba-tiba terlintas di pikirannya, apa yang di katakan Verrel saat kedua sahabatnya meletakkan buku di mejanya.
Zahra menggeram kesal mengingat kejadian itu, Verrel memarahi kedua sahabatnya padahal dia pun sama. Sekarang, apa yang akan di lakukannya, menyalin semua tugas yang di berikan pak Aan selama ini?
Bahkan, buku tugas Zahra hampir penuh karena menyalin buku tugas Audy, dan sekarang ia dengan terpaksa menyalin kembali di buku yang berbeda.
Zahra menghembuskan nafas berat. "Andai aja aku tidak melakukan hal konyol itu, mungkin sekarang aku tidak perlu membuang-buang tenaga untuk menyalin semua tugas nya."
Dan percayalah Zahra merutuki dirinya sendiri. Sebenarnya, Zahra tidak ingin menulis tugas selain tugas tadi siang yang di berikan pak Aan. Tapi, manusia kurang ekspresi itu pasti akan mengancamnya kembali.
####
Di tempat lain tepatnya di Dyarel Cafe, Raihan dan Dika. Dua orang pemuda yang sekarang tengah sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing.
Tetapi, konsentrasi mereka buyar karena deringan ponsel milik Raihan yang terpaksa di angkat oleh Dika, karena Raihan sedang mengantarkan pesanan salah satu pengunjung cafe.
Wajah Dika yang tenang, setenang seseorang yang sedang memperhatikan keindahan senja. Berubah ketika telinganya memekik kaget, mendengar suara cempreng milik gadis yang menelfon teman kerjanya.
Dika sudah tau tentang adik Raihan. Tetapi, Dika belum pernah melihat rupanya, karena ada-ada saja penghalang untuk bertemu dengannya.
Tapi hari ini, mendengar suara cempreng milik Zahra. Dika bergidik ngeri, bicara lewat telepon saja gadis kecil itu udah membuat Dika meringis, apalagi bertemu secara langsung.
"Adek lo rese' banget sih, pengen gue cekik," geram Dika.
"Gue bunuh lo duluan sebelum lo berani nyentuh Adek gue," ancam Raihan tanpa mengalihkan pandangannya.
Dika meringis mendengar ancaman Raihan yang terdengar serius. "Adeknya rese' kakaknya nyeremin udah paket komplit," cibir Dika setengah bergumam.
####
2 jam berlalu ...
Sekarang sudah pukul 23.00. Raihan sudah pulang dari restoran tempat kerjanya. Saat Raihan membuka pintu kamar Zahra, Raihan tersenyum hangat karena mendapati Zahra yang tertidur dengan tangan kanan yang masih memegang pulpen.
Raihan menghampiri Zahra dan mengelus puncak kepalanya. "Dek ... kamu pasti kelelahan karena kelamaan belajar yah? Sampai-sampai kamu ketiduran seperti ini." Raihan mengucapkan itu dengan lembut sambil menatap Zahra yang tertidur pulas diatas lipatan tangannya.
Raihan menggendong Zahra dengan hati-hati dan meletakkan di atas kasur, tak lupa menarik selimut sampai leher untuk menutupi tubuh kecil adiknya.
Setelah memindahkan Zahra, kini Raihan beralih membereskan buku yang berserakan di meja belajar Zahra.
Setelah merasa selesai, Raihan pun keluar dari kamar Zahra dengan keadaan mata yang hampir terpejam. Tubuhnya benar-benar lelah bekerja seharian, tetapi sebagian lelahnya hilang ketika melihat wajah tenang adiknya saat tertidur.
####
Di tempat lain jam 23.30. Tiga pemuda yang tengah bersantai menikmati secangkir kopi di depannya.
Hening!
Tidak ada yang membuka suaranya, hanya suara kendaraan yang berlalu lalang yang mereka dengar. Cafe yang mereka tempati adalah cafe milik keluarga Deon Denandhra.
Cafe ini buka 24 jam, karena letaknya yang strategis memungkinkan para pelanggan mereka tidak ada habisnya. Bahkan, sekarangpun sudah larut malam tetapi meja-meja di Cafe itu masih terlihat ramai.
Deon berdecak sebal. "Rel lo beruntung banget sih tugas lo ada yang kerjain!" desis Deon tidak terima.
Ini nih tanda-tanda iri!
Verrel tersenyum miring. "Makanya lo cari juga dong bocah kayak Zahra," ujar Verrel dengan santainya.
Deon melongo mendengar jawaban Santai Verrel. "Gue bisa aja nyuruh cewek manapun buat ngerjain tugas gue, tapi nggak ada yang kayak Zahra men semua cewek di skolah kita centil-centil. Bisa-bisa gue sesak nafas dekat ma mereka," curhat Deon.
Daniel hanya diam sambil sekali-kali menyeruput white coffe yang di pesannya.
"Kan ada Audy," sahut Verrel santai. Walaupun Verrel tau, Audy bukan gadis bodoh yang mau di perlakukan seperti itu. Verrel tau jelas siapa Audy yang sebenarnya.
"Uhukkkk!" Daniel keselek minumannya sendiri mendengar ucapan Verrel.
Deon menatap Verrel berbinar " Ok! besok gue bakal coba," jawab Deon yakin.
Daniel yang melihat itu hanya menggeleng miris. Tak ingin menegur Deon Seakan-akan Daniel sudah tau apa yang akan terjadi besok. Daniel menatap ke arah Verrel yang membuang muka ke arah lain. Mungkin saja pemuda itu sedang menahan tawa.
Daniel mengecek arloji yang sudah menunjukkan pukul dini hari. "Gue balik duluan yah!" pamit Daniel sambil berdiri dari duduknya.
Deon ikut berdiri dan menengadahkan tangan nya. "Bayar?" titah Deon.
Verrel dan Daniel saling tatap bingung. Bagaimana bisa mereka bertemu dan bersahabat dengan orang pelit seperti Deon. Bahkan, jika ada 20 orang yang tidak membayar sekalipun, cafe-nya tidak akan bangkrut.
Verrel dan Daniel tidak heran lagi dengan sifat pelit Deon. Makanya kedua pemuda itu harus berpikir dua kali, jika ingin nongkrong di cafe milik tuan muda Denandhra itu.
Verrel bangkit dari duduknya dengan muka datar khasnya, mengeluarkan selembar uang merah setelah merogoh saku celananya. Hanya membayar White coffe yang di pesannya tidak akan membuatnya miskin.
Deon tersenyum sumringah dan mengibas-ngibaskan selembar uang merah yang di dapatnya dari Verrel. "Gitu dong bisnis tetap bisnis," ujar Deon dengan senyum sumringahnya.
Daniel memutar bola matanya jengah. "Bilang aja lo pelit, dasar orang kaya rasa miskin." Sumpah serapah Daniel sebelum meninggalkan Deon dan Verrel yang terkekeh akan apa yang di ucapkannya.
"BAPERAN LO NIEL," teriak Deon kepada Daniel, sebelum Daniel benar-benar melangkah keluar dari cafe-nya.
"Yon gue balik duluan, " pamit Verrel dengan Ber-tos ala pria dengan Deon.
####
"Hoamm ... Udah jam 5," gumamnya, sebelum matanya membola saat mendapati dirinya tengah tidur di ranjang Doraemon miliknya.
Zahra beringsut bangun dari tidurnya dan mendapati mejanya yang tertata rapi, buku-bukunya yang berantakan semalam kini tersusun rapi.
Deg!
Perasaan Zahra tidak enak. Bagaimana jika kak Rai mengecek buku yang aku tulis semalam?
Bagaimana jika kak Rai membaca nama Verrel di sampul buku itu? Mungkin itu yang ada di pikiran Zahra saat ini.
Baru saja Zahra ingin beranjak ke kamar Raihan untuk meminta maaf akan hal itu, dan mengatakan hal yang sejujurnya. Zahra tidak ingin menyembunyikan apapun Dari kakaknya lagi.
Raihan sudah masuk terlebih dahulu ke kamar Zahra dengan wajahnya yang tenang, membuat Zahra bernafas lega." Sepertinya Kak Rai tidak tau," batin Zahra lega.
####
Zahra berjalan menyusuri koridor yang nampak mulai ramai. Banyak sorot mata yang berbeda-beda yang mengiringi langkah gadis itu.
Tapi, Zahra berusaha tenang seakan-akan tak terganggu. Zahra tidak tau jika berita tentangnya yang di minta mengikuti kemauan Verrel selama sebulan sudah menyebar seantero STB dalam waktu semalaman. Dan hal itu membuat siswi-siswi yang tidak menyukainya semakin banyak saja.
Zahra berjalan dengan kondisi padangan lurus ke depan dan langkah kaki secepat mungkin. Zahra tidak ingin mengulangi kesalahannya, bagaimana jika Zahra menabrak orang tapi orang itu tak sebaik Farhan kakak kelasnya. Bisa-bisa masalahnya semakin banyak saja.
"Selamat pagi Ra," sapa Farhan yang tengah mensejajarkan langkahnya dengan Zahra.
"Selamat pagi juga kak," balas Zahra menoleh sekilas dan kembali fokus menatap kedepan.
"Guys Farhan Deket banget sama cewek itu," pekik salah satu siswi di samping mereka.
"Wahh gue jadi curiga ama tuh orang," pekik yang lainnya .
"Sama gue juga," imbuh yang lainnya.
Farhan merasa risih mendengar ocehan-ocehan para siswi di sepanjang koridor. Apalagi yang jadi bahan utamanya adalah Zahra.
Gadis yang berusaha tenang dengan senyum tipisnya, tapi jelas terlihat dari matanya yang bernetra coklat gelap, menyorot rasa muak dan lelah akan hal-hal yang di laluinya.
Farhan tersenyum tipis dan berusaha mencairkan kecanggungan di antara mereka. "Ra, jangan lupa ke ruang OSIS jam istirahat nanti," ujar Farhan dengan nada bersahabat.
Zahra tersenyum seketika mendengar apa yang di katakan Farhan, kenapa ia bisa sampai melupakan hal sepenting itu! sekarang salah satu keinginannya untuk memasuki organisasi di sekolahnya sebentar lagi terwujud.
Farhan yang melihat perubahan ekspresi Zahra pun ikut bahagia, ia tidak menyangka jika gadis itu akan merasa bahagia hanya karena hal-hal kecil yang di dapatkannya.
Zahra mendongak menatap lurus Farhan dengan senyum yang terpancar di bibirnya. "Ya udah kak, nanti aku ke ruang OSIS," ujar Zahra semangat dan langsung berlari meninggalkan Farhan yang mematung di tempatnya.
Setelah kepergian Zahra, Farhan menyimpulkan senyum terbaiknya. Merasa aneh pada jantungnya yang kini berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya. Dan Farhan tidak tahu itu, apa mungkin sekarang Farhan Zafran Radeya seorang pemuda tampan yang belum pernah mengenal cinta kini merasakannya sendiri.
Walaupun, Farhan tidak yakin dengan perasaannya. Tapi, Farhan suka dengan apa yang di rasakannya sekarang. Satu hal yang Farhan tau,.melihat senyum yang terpancar oleh gadis kecil seperti Zahra membuat Farhan tak dapat menyangkal bahwa perutnya seperti di terbangi banyak kupu-kupu.
Farhan menatap punggung kecil Zahra yang kian menjauh. "Gue belum yakin seutuhnya dengan perasaan gue Ra, tapi jika ia. Gue bersyukur karena sepertinya lo orang yang tepat," gumamnya.
Selama ini, Farhan tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Berbagai rasa berkecamuk dalam dirinya, kini sekarang sudah ada nama yang akan mengisi hati kosongnya tidak cepat namun pasti.
Farhan tak pernah berani jatuh cinta sebelumnya, karena menurutnya cinta itu pembodohan. Banyak orang bodoh gara-gara cinta. Dan sekarang Farhan akan merasakan hal yang sama, dengan cepat setelah hadirnya Zahra di kehidupannya.
####
Seorang pemuda menyeringai saat tidak sengaja pandanganya jatuh pada Farhan yang tengah tersenyum setelah seorang gadis berlari meninggalkannya.
"Gue nggak nyangka selera lo gadis seperti Zahra, Han. Let's play the game dude ...," sinis pemuda itu sebelum beranjak dari tempatnya.