NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Cintamanis / CEO / Tamat
Popularitas:5.9M
Nilai: 5
Nama Author: el nurmala

Seorang anak yang mana kehadirannya tidak dikehendaki oleh ayahnya sendiri hanya karena ia terlahir sebagai anak perempuan.

Meydina namanya. Seorang anak yang semasa kecilnya tidak dianggap keberadaannya, kini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang sederhana.
Pekerjaannya mempertemukan Meydina dengan seorang pria tampan dan gagah bernama Maliek Putra Bramasta yang merupakan atasannya.

Bagaimana kelanjutan hubungan mereka bila ternyata Meydina dan Maliek ada ikatan saudara?

Bagaimana pula kehidupan Meydina setelah ia disia-siakan?

Apakah hubungan ayah dan putrinya itu akan membaik seiring berjalanya waktu?

--------------

Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat, dan kejadian yang serupa, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan yang tak diharapkan

Happy reading....

Tiingg... Pintu lift terbuka.

Meydina segera melihat kearah jam tangannya saat di lihatnya Riky berjalan memasuki pintu ruangan CEO. Diam-diam ia bersyukur dalam hati karena waktu menunjukkan memang belum saatnya memulai pekerjaan.

Hari ini Maliek datang sangat pagi.

Tak lama kemudian, datanglah Alya. Raut wajahnya berubah senang saat mengetahui pria yang tidak di lihatnya beberapa hari ini, sudah ada di ruangannya.

Tululut... tululut...

☎️ " Ya, hallo!" Meydina segera mengangkat sambungan telepon dari bagian resepsionis.

☎️ "...................."

☎️ "Oh, iya. Tolong disuruh langsung ke ruangan pak Maliek aja."

☎️ ".................."

☎️ "Makasih ya, Dila," ucapnya mengakhiri.

"Siapa tamu Maliek?" tanya Alya yang segera menghampiri meja Meydina.

"Pak Alvin," sahut Meydina singkat.

"Ini kesempatan gue." Batin Alya senang.

Tanpa bertanya lagi, sembil melenggok ia berlalu menuju ruangan CEO untuk memberi tahu.

Beberapa hari ini mereka sangat sibuk. Kesibukan yang nyatanya berbeda. Meydina yang sibuk dengan tugas-tugasnya, sedangkan Alya menyibukkan diri dengan ponselnya.

Selama tiga hari Maliek tidak datang ke kantor. Masalah yang sedang di hadapi anak perusahaannya mengharuskan ia dan asistennya berangkat ke luar negeri.

Alya yang merasa kesal karena Maliek tidak mengajaknya ikut serta, melampiaskannya pada Meydina. Tumpukan berkas yang ada di mejanya, di letakkan semuanya di atas meja sang asisten. Alhasil, Meydina sangat kewalahan dengan tugas barunya.

**

Tok.. tok..tok..

Dengan senyum mengembang di wajahnya, Alya masuk ke dalam ruangan Maliek.

"Ada apa?" Tanya Riky dengan ekspresi yang datar.

Tanpa memperdulikan pertanyaan Riky, ia berjalan menuju meja kerja Maliek. Langkahnya terhenti saat manik hitam sang CEO tiba-tiba menatapnya dengan sangat tajam.

Seolah mengerti isyarat dari kedua manik itu, ia pun berucap.

"Pak Alvin sedang menuju kesini."

Belum sempat ada yang berucap, seorang pria mengetuk pintu lalu menghampiri.

"Hai, Bro!" sapa Alvin.

Alya yang menoleh, terlihat membulatkan matanya.

"Waah, para cowok tajir ini ganteng-ganteng banget." Batin Alya. Matanya melirik Maliek dan Alvin bergantian.

"Duduk, Vin!" Maliek mempersilahkan.

Mereka bertiga duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.

Alya yang diminta untuk keluar, dengan berat hati melangkahkan kakinya sambil tersenyum masam.

Alvin yang melihat hal itu hanya memberikan senyuman manis di wajahnya.

**

"Kak, ini berkasnya sudah siap," ucap Mey sambil menghampiri meja Alya.

Alya tampak acuh dengan semua kertas yang ada di tangan Meydina.

"Dikasihkan sekarang apa nanti?" tanya Meydina. Melihat pintu ruangan CEO yang sedari tadi tertutup ia pun merasa ragu.

Namun Alya berpikir berbeda. Muncul ide mengerjai Meydina di benaknya.

"Loe aja deh yang kasih, sekarang!" tegasnya dan dijawab anggukan oleh sang asisten.

Alya tersenyum sinis saat dilihatnya punggung Meydina yang mengarah ke ruangan CEO. Akan sangat menyenangkan baginya bila nanti saat keluar dari ruangan itu, Mey memperlihatkan ekspresinya yang katakutan.

"Hmm, tau rasa loe!" gumamnya dengan nada sinis.

***

Meydina memutar gagang pintu perlahan-lahan. Setelah tadi beberapa kali ia mengetuk, namun tidak terdengar sedikitpun suara dari dalam.

"Permisi, Pak. Saya membawa berkas yang di pinta pak Riky," ucapnya sambil mengarahkan pandangan lurus ke lantai.

Ketiga orang yang berada dalam ruangan tersebut menoleh. Entah kenapa tiba-tiba atmosfir ruangan itu terasa mencekam bagi Meydina.

Tanpa ia sadari, ada sepasang manik yang berbinar sedang menatapnya. Tentu saja itu milik Maliek.

Saat tiba di kantor pagi ini, ia berharap bisa melihat wajah Meydina. Namun belum ada siapapun di ruangan itu ketika tirai penutup kaca dibukanya. Dengan perasaan kecewa ditutupnya kembali tirai tersebut. Dihembuskan nafasnya dengan kasar, saat jari tangannya mulai membuka beberapa file yanh terdapat dalam laptop miliknya.

"Masuklah!" pinta Maliek.

"Baik." Sahut Meydina.

Ia berjalan mendekati sofa.

Alvin yang merasa mengingat wajah gadis yang ada di hadapannya kini, memberikan tatapan yang sangat tajam.

"Eh, Kamu!" ucap Alvin sambil jarinya meraih dagu Meydina.

Meydina yang sedang membungkuk meletakkan berkas di atas meja, terkejut dengan sikap pria yang tepat sedang duduk di sampingnya.

Bukan hanya Meydina, Maliek dan Riky juga terkejut dengan sikap Alvin.

"Alvin, jaga sikap loe! ini masih di kantor, dan dia bawahan gue!" tegas Maliek.

"Gue tau, Maliek," sahut Alvin.

"Jadi loe karyawan disini?" tanyanya pada Meydina.

Meydina mengangguk pelan.

"Loe masih inget gue, kan?" tanyanya lagi dengan nada suara yang menekan.

"Ada urusan apa mereka? Kok Alvin terlihat sangat marah? Jangan-jangan gadis ini pernah jadi j****gnya Alvin. Aaargh, sial." Batin Maliek mulai menerka-nerka.

"Vin, kalau loe emang ada urusan sama dia, urus aja nanti. Sekarang selesaikan dulu kesepakatannya!" tegas Riky.

Alvin yang menyadari posisinya saat ini, mencoba mengendalikan diri. Hatinya seakan bergejolak karena memendam amarah pada gadis yang telah mempermalukan adiknya itu.

***

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Alya saat melihat wajah pucat Meydina yang baru tiba di ruangannya.

Hatinya bersorak, matanya berputar-putar, serta punggung yang bergerak-gerak karena tawa yang di tahan.

Tidak lama kemudian, Riky terlihat di pintu masuk ruang sekertaris.

"Meydina, kamu di panggil pak Alvin," ujar Riky.

Sontak lamunan Meydina membuyar, berganti dengan rasa was-was yang tak bisa di utarakan.

Riky berlalu menuju pintu lift. Sedangkan Meydina menarik kakinya menuju ruangan Maliek.

"Saya, Pak," ucapnya setibanya di ruangan tersebut.

Maliek yang kini terduduk di kursi kerjanya memberi isyarat dengan tangannya agar Meydina mendekat. Baru beberapa langkah ia terhenti.

Alvin datang menghampiri, sambil meneguk minumannya.

"Loe inget siapa gue?" tanyanya lagi.

Tentu saja Meydina mengingat pria itu. Memorinya mengulang kejadian beberapa hari yang lalu di pusat perbelanjaan.

Byurr...

Belum sempat Meydina menjawab, kepalanya sudah basah tersiram air.

Maliek yang melihat hal tersebut sangat terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.

"Alvin!!" bentak Maliek. Segera dihampirinya Meydina.

Sedangkan Alvin hanya menyeringai sinis.

"Loe beruntung disini nggak banyak orang, tapi pasti loe akan sama malunya dengan adik gue saat loe keluar dari ruangan ini," ucapnya datar.

"Apa maksud semua ini?" tanya Maliek dengan suara lantang.

"Bro, loe tau adik gue Amiera, kan?" ujar Alvin.

"Cewek ini, udah berani nyiram adik gue itu di depan umum, cuma karena dia jatuh kesandung kakinya Amiera," jelas Alvin.

"Namanya juga nggak sengaja," tambahnya lagi.

"Keterlaluan loe!" ucap Maliek yang berjalan melewati Alvin menuju ruangan pribadinya untuk mengambil handuk.

Meydina dengan air mata tertahan, menatap pria yang sedang duduk dihadapannya dengan perasaan kesal.

Lama kedua pasang mata itu saling menatap dengan kebencian.

Maliek datang membawa handuk, hendak mengeringkan rambut Meydina. Namun ditepis gadis itu. Dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Alvin, ia tersenyum mengejek.

"Cuma, loe bilang?" ucapnya dengan nada ketus.

"Apa loe nggak dengar ucapan gue, haah?"

"Atau emang loe b*go?" bentak Meydina.

Ia seakan tak perduli walau pria ini tamu atasannya.

Alvin yang mendengar ucapan Meydina terpancing emosinya.

Menyadari hal tersebut, cepat-cepat Mey melanjutkan ucapannya.

"Asal loe tau yaa, gue udah terima dihina dan di permalukan satu kali sama adik loe. Tapi, sorry. Gue nggak mau dipermalukan kedua kalinya."

"Gue emang miskin, tapi bukan berarti orang-orang seperti kalian bisa seenaknya ngehina orang lain," ucapnya, kali ini terdengar bergetar solah menahan tangisan.

1
Jenni Susi
baca ulang😄
Endang Sulistia
bagus ceritanya
Endang Sulistia
Alvin sama kayak ayahnya Evan...celup duluan sblm nikah
Endang Sulistia
anita udah rindu bnget Ama mas fahrinya ..
Endang Sulistia
Fahri suami dan ayah yg baik....
Endang Sulistia
baguslah dah bertindak si Salman...daripada diem diem aja..
Endang Sulistia
dasar pelit....
Endang Sulistia
kenapa si Anton g dimusnahkan Ama si Salman..kan jadi parasit sekarang...
Endang Sulistia
Salman dah tau ada ular di rumahnya masih aja g di usir...
Endang Sulistia
kenapa gak si usir si Lucy nya Salman bego....
Endang Sulistia
🤣🤣🤣👍👍👍
Endang Sulistia
kepedean...
Endang Sulistia
pak Bram sama namanya dengan nma ayahnya malik Thor...
Sri Ariyanti
good story
momtikita
Luar biasa banget ceritanya
Mugi
gabut nih,,baca ulang lg ahh
Airin Moo
aku suka cerita setiap babnya😍
baru nemu novel kayak gini biasanya setiap bab alur dan penulisannya seakan berada cerita in,,,semangat thor💪🏼💪🏼
kirim bungga sekobong❤️❤️
Vivo Smart
tapi nggak kamu sayangi sejak kecil padahal dia nggak salah apa-apa, padahal dia buah cinta mu dgn istrimu
Vivo Smart
tu tau
orang baru aja jadian lagi sayang sayangnya kok mau dipisahin 😁
Vivo Smart
(ada ya sahabat nggak tau sama adik sahabatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!