"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ketiga gadis itu berjalan beriringan keluar dari area dapur. Lilis membawa Dinda dan Nilam menuju sebuah pendopo kayu di sisi halaman, tak jauh dari tempat para pria yang masih asyik menyelesaikan pemasangan tarub.
"Kita duduk-duduk saja di sini," ucap Lilis pelan, mengambil tempat di tepian pendopo yang teduh. Dinda dan Nilam kompak mengangguk setuju.
Nilam menatap Lilis dengan binar kagum. "Mbak Lilis kalau dilihat-lihat tambah cantik, ya?" puji Nilam tulus tanpa maksud merayu.
Lilis hanya menanggapi pujian itu dengan senyuman kecil yang samar. Pandangannya kemudian beralih, mengunci lurus pada netra cokelat Dinda dengan rasa penasaran yang tak bisa lagi ditahan. "Oh ya, sebenarnya kau ini siapanya Mbok Ginem?"
"Aku anak dari sahabat lamanya Si Mbok," jawab Dinda yakin, dengan lancar menyuarakan kebohongan yang sudah disepakati bersama Mbok Ginem sebelumnya.
Lilis mengangguk-angguk paham, namun dahinya kembali berkerut. "Gadis kota yang terlihat kaya sepertimu... kenapa malah memilih datang dan tinggal di desa terpencil begini?" tanya Lilis lagi, benar-benar tidak paham.
"Iya, Dinda. Tinggal di desa ini tidak enak, serba susah," timpal Nilam ikut menyetujui.
Dinda seketika terdiam. Bagaimana bisa aku menjelaskannya pada kalian? Aku sendiri pun tidak tahu kekuatan apa yang membawaku terlempar sampai ke zaman kuno ini... batin Dinda berbisik getir.
"Aku... hanya ingin tinggal di sini saja untuk sementara waktu. Ada sesuatu hal yang terjadi di duniat—maksudku, di tempat asalku, yang tidak boleh diketahui oleh orang lain selain aku sendiri," jawab Dinda pelan.
Ia kemudian mengalihkan pembicaraan dengan menoleh ke arah pelataran, tempat para pria yang sedang memasang tarub. Lilis dan Nilam ikut terdiam, mengikuti arah pandang Dinda.
Satu-per-satu tenda bambu akhirnya selesai didirikan dengan kokoh. Para pria desa lantas menyudahi pekerjaan mereka untuk beristirahat. Tak lama kemudian, beberapa warga mengantarkan hidangan makan siang untuk para pekerja.
Di kejauhan, terlihat Wira berdiri tegak sembari menyeka keringat yang membasahi dahi dan lehernya dengan ujung kain.
"Kang Wira, ayo makan dulu!" ajak Jaka, seorang pemuda bertubuh tinggi agak kurus dengan kulit hitam manis khas pekerja ladang.
"Duluan saja, Jak," sahut Wira datar.
Jaka mengangguk, lalu melangkah lebih dulu untuk mengambil sepiring makanan. Tanpa sengaja, Jaka menoleh ke arah pendopo samping tempat ketiga gadis itu berdiri. Begitu matanya berserobok dengan salah satu dari mereka, Jaka menyunggingkan senyuman lembut dan memberikan anggukan kepala yang samar penuh arti.
Sontak saja, Dinda dan Lilis yang menangkap basah interaksi tersebut dibuat terkejut. Mereka berdua saling menoleh, mengernyitkan dahi heran, lalu serempak melirik ke arah Nilam yang kini wajahnya sudah bersemu merah merona mirip kepiting rebus.
"Nilam... tadi itu siapa, hm?" tanya Dinda penasaran, menyenggol pelan siku Nilam sembari tersenyum menggoda.
"A-ah... dia... dia Kang Jaka," cicit Nilam lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu.
"Apa kau memiliki hubungan khusus dengan Jaka?" Pertanyaan blak-blakan dari Lilis membuat Nilam mendongak kaget. Pipinya kian merona merah.
"Astaga, Nilam... Kau ini. Bagaimana dengan Vita? Setahuku, Vita juga sangat menyukai Jaka," kata Lilis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu, sekaligus menuntut penjelasan.
Nilam meremas ujung kain kembennya, terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, "Kata Kang Jaka, dia sama sekali tidak menyukai Vita. Makanya dia memilih menjalin hubungan denganku secara diam-diam."
"Baiklah, kalau begitu situasinya, itu bukan masalah lagi," ucap Lilis pada akhirnya, tidak ingin memperpanjang urusan asmara orang lain.
Namun, atensi ketiga gadis itu mendadak teralihkan sepenuhnya ketika sosok pria berkulit putih bersih melangkah tegap mendekati pendopo. Pria itu mengenakan baju hitam berbahan halus dengan celana yang dilapisi kain batik selutut. Rambut panjangnya terikat rapi setengah ke belakang. Penampilannya sangat tampan dan rapi, mencerminkan pesona seorang pelajar terhormat dari Kademangan.
"Mas Lintang! Ada apa ke sini?" tanya Lilis bingung melihat kedatangan kakaknya.
Lintang tidak menyahut pertanyaan adiknya. Sepasang matanya justru menatap lurus dan mengunci pandangan pada sosok Dinda.
"Siapa gerangan gadis cantik nan elok yang baru pertama kali kulihat ini?" tanya Lintang dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu puitis.
Mendengar pertanyaan yang dirasanya teramat berlebihan dan lebay itu, Dinda seketika merasa ingin muntah sekaligus tertawa terbahak-bahak di dalam hati.
Dih, geli banget! Hari gini masih ada yang merayu pakai gaya se-pujangga ini? batin Dinda menjerit kocak.
"Namaku Dinda," ucap Dinda singkat, sekuat tenaga menahan kedutan di bibirnya agar tidak menyemburkan tawa.
"Dinda... Sungguh nama yang indah, secantik pemiliknya..." puji Lintang lagi, melangkah setapak lebih dekat.
Namun, belum sempat Lintang melanjutkan kalimat rayuan berikutnya, sebuah suara berat yang teramat dingin dan sarat akan penekanan tiba-tiba menginterupsi dari arah belakang.
"Lintang Kusumo...!"
Suara sedingin es itu membuat atmosfer di sekitar pendopo mendadak mencekam. Lintang menoleh, diikuti oleh Dinda, Nilam, dan Lilis.
"Kangmas Wira...!" seru Lilis dengan binar mata yang seketika berubah cerah dan bahagia.
Gadis hitam manis itu langsung bangkit berdiri, melangkah cepat dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi. Kemudian, tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, Lilis langsung menghambur dan memeluk erat tubuh tegap Wira tepat di hadapan mata Dinda!
Dinda seketika mengerutkan dahinya, matanya melebar tak percaya melihat pemandangan di depannya. Di sisi lain, Wira sendiri terkejut bukan main. Tubuhnya menegang kaku menerima tindakan Lilis yang teramat lancang dan tidak tahu tempat tersebut.
Dinda menatap datar ke arah dua orang yang berpelukan itu. Dadanya mendadak terasa dihantam godam besar; ada rasa sesak dan panas yang tiba-tiba bergejolak hebat di dalam hatinya. Tanpa sadar, Dinda melangkah mundur perlahan, lalu dengan cepat memutar tubuhnya dan berbalik pergi. Gadis itu setengah berlari meninggalkan area pendopo dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
"Dinda, tunggu...! Kamu mau ke mana toh?!" teriak Nilam panik, mencoba memanggil Dinda yang terus menjauh.
Namun, Dinda tidak sudi berhenti. Rasa cemburu yang membakar hatinya membuat ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari sana.
Melihat Dinda kabur dengan wajah terluka, Wira seketika disergap kepanikan yang luar biasa. Amarahnya langsung memuncak.
"Lepaskan, Lis...!" ucap Wira tegas dengan suara membentak rendah. Dengan paksa dan kasar, ia menyentak kedua tangan Lilis hingga pautan gadis itu terlepas dari tubuhnya.
"Kamu ini apa-apaan, toh?! Main peluk-peluk saja tidak tahu aturan!" cecar Wira dengan napas memburu, matanya berkilat marah. "Tolong jaga batasanmu, Lilis! Di antara kita tidak ada hubungan apa pun, dan tidak akan pernah ada!"
Lilis tersentak, wajahnya seketika pias dan matanya berkaca-kaca menahan malu di depan kakaknya dan warga yang mulai berbisik.
Wira tidak memedulikan perasaan Lilis. Ia menoleh tajam pada Lintang yang berdiri tak jauh dari sana. "Lintang, beritahu adikmu ini agar tahu sopan santun. Demi hubungan persahabatan kita, jangan biarkan dia bertindak memalukan seperti ini lagi!" kata Wirandu dingin dengan nada mengancam.
Tanpa menunggu jawaban dari Lintang, Wira langsung berbalik dan melangkah cepat dengan langkah-langkah lebar, bergegas mengejar arah kepergian Dinda yang wujudnya kini sudah telanjur menghilang dari pandangan mata.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍