Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Pencarian Tekad
Di hari hari berikutnya Cakra terus keluar pada pagi hari dan siang hari berbicara pada Marisa. Mereka berdiskusi akan pandangan mereka tentang dunia masing masing. Cakra berbicara.
“Duniaku itu walau gak ada perang”
“Tapi malah lebih banyak orang orang yang kesulitan hidup”
Sedangkan Marisa.
“Duniaku itu penuh bahaya”
“Bahkan tidak diketahui apakah besok akan hidup atau mati”
Saat keluar Cakra memperhatikan orang orang yang menyisir mulai sepi, dia ingin memberitahu Marisa tapi mengurungkan niatnya.
“Umm aku ingin memberitahunya tapi…”
“Sepertinya perlu mereka benar benar hilang”
Cakra sekali sekali bertanya apakah Marisa sudah menentukan pilihannya.
“Bagaimana?”
“Apakah kau sudah menentukannya?”
Marisa menjawab.
“Aku masih ragu”
“Kau juga gak tau kan apakah kita bisa menandingi mereka dengan faksi ini?”
“Iya juga sih”
Cakra mengetes beberapa rune, dia menemukan sebuah rune yang mampu menjaga seseorang tetap terjaga. Beberapa rune yang memberikan pengurangan rasa sakit, dengan efek samping berupa hari setelahnya.
“Apakah aku perlu menyiapkan ini?”
“Aku masih belum menemukan benda langit di mimpiku untuk kujadikan landasan”
“Lubang hitam memang banyak di mimpiku masalahnya lubang hitam entah kenapa tak dianggap sebagai objek yang bisa ditiru”
“Sedangkan Bintang Neutron sangat langka, sebenarnya gak langka langka amat benda itu hampir gak bisa dirasakan karena diameternya terlalu kecil”
“Lebih mudah kalau aku tau posisi aslinya dimana”
Hari kembali malam lagi Cakra terbangun kembali di alam mimpi miliknya, masih mencoba mencari Bintang neutron. Dirinya memutari, sekali sekali dia melihat formasi dan melihat tangan ruang muncul di dunianya menghapus retakan ruang. Didalam mimpinya dia telah melayang sejauh milyaran tahun Cahaya dari bumi, tapi karena mimpinya ini hanya basis kesadaran dia bisa meringkas ruang perjalanannya asal dia memikirkan jaraknya.
“Ah ini lebih baik”
“Sampai lebih cepat…”
“Walau belum ketemu aku mulai berpikir tentang bagaimana ranah kedepannya”
“Setelah kubaca Bintang neutron cukup penting untuk alam semesta”
Cakra mempelajari banyak hal didalam dunia mimpi miliknya. Dirinya merasa intinya sudah mulai penuh.
“Ah gawat sedikit lagi persiapan akan dimulai”
“Sepertinya aku harus kembali ke bumi menilik koordinat contohnya”
Cakra kembali ke bumi, tapi saat dalam perjalanan dirinya merasa sudah saatnya untuk bangun. Saat bangun Cakra melihat Marisa yang menatapnya.
“Ah!!!!” Cakra kaget.
“Ada apa?”
“Soal pindah faksi aku ingin, tapi apakah kau punya cara untuk mengatasi rasa sakit?”
“Aku tak mau merusak dunia ini lebih jauh”
“Dan aku juga sadar kalau dirimu memiliki immunitas terhadap kontrol pikiran”
“Aku gak menyadari sih soal imunitas ini”
“Dari mana kau tau?” Cakra penasaran.
“Saat kau bisa mengingat tulisan itu aku merasa heran”
“Dan aku mencoba rune control padamu saat malam”
“Tapi rune itu malah berbelok seakan akan efeknya menabrak kaca”
“….”
“Sepertinya tenaga dunia yang kau katakan itu menganggap tenaga dalammu itu minyak”
“Karena itu gak bisa bercampur”
“Tapi bagaimana mungkin kau bisa menyerap?”
“Ya sudah kukatakan kan?”
“Aku mengosongkan inti tenaga dalamku untuk membuat nafasku bisa membawa tenaga alam kedalam tubuhku.
“Ah sudahlah aku akan masak terlebih dahulu”
“Ah baiklah”
Cakra ke dapur melihat beberapa bahan yang bisa dimasak.
“Hmmm bubur sepertinya bagus”
“Kuah dari kemarin malam juga masih sangat banyak”
*Kretak suara meregangkan tangan
“Saatnya memulai”
Mencuci beras
Memasukkan beras kedalam dandang
Takaran kuah dan berasnya 5/1
Beras hanya sedikit karena ini untuk bubur
Memasukkan semua bahan mengaduk dan menutup dandang, biarkan dengan api besar
Menunggu 30 menit.
Setelah melihat bubur tercampur makanan siap dihidangkan.
Setelah masak Cakra membawa dandang ke atas meja, Marisa yang sedang membaca terlihat duduk di kursi.
“Kau sepertinya bisa masak”
“Ya tentu saja, aku itu adalah orang yang sering naik gunung” Berkata dengan bangga.
“Dan udah pernah belajar cara memilih bahan dari alam liar”
“Bagaimana denganmu?”
“Umm” Marisa terlihat malu.
“Aku gak pernah memegang dapur”
“Jadi aku gak tau…”
“Ah sudahlan makan saja”
“Semoga saja kau suka” Cakra menyodorkan sebuah mangkuk.
“Terima kasih”
Marisa melihat bubur mencoba dengan semangat, dirinya terlihat makan dengan baik dan cukup senang. Cakra juga merasa cukup puas dengan kondisi campuran yang berhasil.
“Hmm kali ini lumayan”
Setelah makan Cakra beres beres peralatan setelah itu duduk, melanjutkan pembicaraannya lepada Marisa.
“Aku punya rune penghilang rasa sakit ini”
“Hanya saja efek sampingnya kau mungkin akan merasa panas”
“Panas ya…” Marisa terlihat melihat rune itu.
“Ini juga membantuku untuk sadar kan?”
“Ya”
“Tapi kau tau bagaimana cara menghancurkan circle milikmu?”
“Atau itu hanya tinggal dihancurkan saja?”
Marisa berpikir.
“Jenderal pernah mengajarkan ku teknik untuk menghancurkan circle seorang penyihir”
“Yaitu dengan memukul bagian area jantung”
“Dan efeknya?” Cakra penasaran.
“Sang penyihir akan mengalami timbal balik yang bisa sampai merenggut nyawa jikalau tak segera distabilkan”
“Menstabilkan bagaimana?”
“Kalau… dalam kasus kita energi tersebut perlu dikontrol untuk bisa stabil” Marisa mengatakan dengan ragu ragu.
“Oooh energi akan menjadi kacau”
“Sepertinya aku paham”
“Kalau begitu bersiaplah”
“Aku akan bersiap untuk membantumu membangkitkan inti tenaga dalammu”
Marisa bersiap dia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu karena merasa dirinya bau. Sementara Cakra mengukir rune yang dia siapkan di sebuah alas batu yang dia potong dengan parang. Saat sedang mengukir Cakra mendengar suara pertarungan di luar, Cakra mengintip.
“Hmm mereka?”
“Itu sepertinya beberapa ksatria”
“Mereka sedang bertarung melawan para praktisi”
Pertarungan berlangsung selama setengah jam, terlihat para knight berhasil mengusir para praktisi yang dimana mereka juga terluka parah dan pergi menuruni gunung. Marisa telah selesai berpakaian mengatakan ke Cakra dia telah siap untuk dimulai kapan saja.
“Apakah kau tau soal para knight?”
“Knight?”
“Ya, mereka terlihat bertarung melawan para praktisi yang mencarimu”
Marisa terlihat berpikir sejenak…
“Apakah dia adalah orang orangku…”
“Atau sang pangeran mengutus orangnya…”
“Para praktisi itu…”
“Mereka aslinya adalah perampok”
“Aku kurang yakin”
Cakra duduk.
“Baiklah mari kita coba”
“Duduk didepanku aku akan menjagamu”
“Tapi apakah suaranya akan keluar?”
“Aku mungkin berteriak”
Cakra mengangkat satu alisnya.
“Kurasa gak mungkin karena pintu gua ini telah kututup”
“Jadi harusnya suara akan terdorong kedalam”
“Baiklah”
Marisa duduk didepan Cakra mulai fokus, dirinya terlihat menekan seluruh mananya ke jantungnya. Ditangannya terlihat energi berwarna ungu, dirinya membuka mata dan langsung memukul area jantungnya. Didalam tubuhnya Circle tersebut mulai pecah satu persatu, Marisa saat itu merasakan panas yang bertahap. Cakra melihat Marisa mencoba fokus untuk dia memasukkan energinya. Tiba tiba Marissa mengeluarkan seperti serpihan kristal bersamaan dengan darah.
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...