Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Naga Langit
Mobil Rolls-Royce Phantom hitam itu melaju mulus membelah kabut pagi, mendaki jalanan pribadi yang melingkari Gunung Mata Air Naga.
Di kursi belakang, Maya Mahendra menatap keluar jendela dengan mata membelalak tak percaya. Gadis berusia enam belas tahun yang selama ini terbiasa melihat dinding apartemen kumuh dan gang sempit berbau pesing, kini disuguhi pemandangan hamparan awan dan hutan pinus yang asri.
"Kak... kita benar-benar akan tinggal di sini?" tanya Maya dengan suara gemetar, tangannya mencengkeram erat ujung jaket Arya. Di depan mereka, gerbang perunggu raksasa terbuka secara otomatis, memperlihatkan sebuah mahakarya arsitektur—Vila Naga Langit.
Vila itu berdiri megah di puncak gunung, memadukan desain modern minimalis dengan sentuhan oriental klasik. Kolam renang tanpa tepi seolah menyatu dengan awan, dan taman zen di sekelilingnya dipenuhi oleh bunga-bunga eksotis yang mekar sempurna.
"Mulai sekarang, ini adalah rumah kita," Arya tersenyum lembut, mengusap puncak kepala adiknya.
Begitu ia melangkah keluar dari mobil, mata Arya menyipit. Di bawah penglihatan Indra Surgawi-nya, ia bisa melihat helaian energi berwarna biru pucat merembes keluar dari tanah dan berkumpul di sekitar vila.
Urat Bumi Elemen Air tingkat rendah, batin Arya puas. Meski di Alam Atas ini bahkan tidak layak menjadi tempat pembuangan sampah sekte, untuk ukuran Bumi, ini adalah tanah suci. Energi Yin yang sejuk dari urat bumi ini sangat sempurna untuk merawat kaki Maya.
Su Mengxue, sang CEO Baicao Group, berdiri di samping mobil dengan sikap penuh hormat. "Tuan Lin, di dalam sudah tersedia sepuluh pelayan yang telah dilatih khusus untuk melayani kerahasiaan absolut, beserta koki pribadi bintang lima. Jika ada yang kurang—"
"Tarik semua pelayan itu," potong Arya datar. "Tinggalkan satu asisten wanita yang bisa dipercaya untuk membantu Maya. Aku tidak suka tempatku terlalu ramai."
"B-Baik, Tuan Lin! Saya akan segera mengaturnya!" Su Mengxue buru-buru mengangguk, mencatat setiap perkataan Arya layaknya sabda suci.
Setelah memastikan Maya nyaman di kamar utama seluas lapangan basket yang menghadap langsung ke lautan awan, Arya menatap Su Mengxue.
"Bagaimana dengan instruksiku mengenai aset Keluarga Wijaya?" tanya Sang Kaisar.
Wajah cantik Su Mengxue seketika menegang. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul di dahinya yang mulus. "T-Tuan Lin... mohon ampun. Proses pengambilalihan berjalan lancar di sektor bisnis farmasi dan kelab malam. Namun... ada masalah besar di Tambang Giok Utara."
Mata Arya mendingin. Suhu di teras vila itu seketika anjlok beberapa derajat, membuat Su Mengxue tanpa sadar memeluk lengannya sendiri. "Masalah?"
"Tambang Giok Utara adalah urat nadi kekayaan Keluarga Wijaya. Begitu berita kehancuran Wijaya menyebar subuh tadi, Keluarga Kusuma langsung mengerahkan ratusan petarung bersenjata untuk menduduki tambang tersebut," jelas Su Mengxue dengan suara bergetar.
"Patriark Kusuma, Hendra Kusuma, mengklaim bahwa tambang itu sekarang menjadi milik mereka. Saat manajer kami mencoba mengambil alih atas nama Anda... mereka mematahkan kedua kaki manajer kami dan membuangnya ke jurang."
Mendengar nama Keluarga Kusuma, sudut bibir Arya terangkat, membentuk senyum kejam yang pernah membuat triliunan iblis di Alam Atas gemetar ketakutan.
Keluarga Kusuma. Keluarga dari pemuda sombong bernama Kevin yang semalam mencoba menekannya di pelelangan. Sepertinya keluarga fana ini sangat merindukan kehancuran.
"Keluarga Kusuma menolak mundur meskipun kami sudah memperingatkan bahwa ini adalah kehendak Anda, Tuan Lin," tambah Su Mengxue penuh kecemasan. "Hendra Kusuma bahkan membawa Tetua Tamu mereka... seorang ahli bela diri puncak yang konon kebal terhadap peluru!"
"Ahli bela diri puncak fana?" Arya tertawa pelan. Tawa itu terdengar ringan, namun memancarkan Niat Membunuh yang sangat pekat hingga burung-burung di sekitar vila berjatuhan dari dahan karena serangan jantung.
"Siapkan mobil," perintah Arya sambil berjalan menuruni tangga teras. "Sepertinya ada beberapa anjing liar yang belum mengerti siapa penguasa sebenarnya di rantai makanan kota ini."
Sementara itu, di lereng berdebu Tambang Giok Utara.
Ratusan preman bayaran bertato berdiri siaga memegang parang dan senapan laras panjang. Di tengah area tambang, Hendra Kusuma duduk angkuh di atas sebuah kursi lipat, mengisap cerutu mahal. Di sampingnya, Kevin Kusuma tersenyum sinis melihat anggota Baicao Group yang babak belur diusir mundur.
"Tuan Besar, apakah tidak apa-apa kita menyinggung Paviliun Baicao? Kudengar ada eksistensi mengerikan di balik mereka yang memusnahkan Keluarga Wijaya," bisik seorang bawahan dengan cemas.
Hendra Kusuma menghembuskan asap cerutunya dan mendengus meremehkan.
"Omong kosong! Keluarga Wijaya pasti hancur karena konflik internal atau bahan peledak. Mana ada manusia yang bisa meratakan sebuah mansion sendirian?" Hendra meludah ke tanah berdebu. "Tambang ini menghasilkan ratusan miliar setiap bulannya. Siapa pun bocah bermarga Lin yang bersembunyi di balik rok Paviliun Baicao itu, jika dia berani menampakkan wajahnya di sini..."
Hendra menoleh ke arah seorang pria botak berotot kawat yang berdiri memejamkan mata di sampingnya, memancarkan aura tenaga dalam yang ganas.
"Tetua Baja kita akan meremukkan kepalanya seperti semangka busuk.